Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 292


__ADS_3

Ketukan terdengar dari pintu. Pintu di buka, masuklah Wisnu. Ines menoleh padanya.


Wisnu melihat ke tempat tidur.


"Anak anak sedang di kamar mandi. Anda mau apa kesini?" masih kesal. Tapi kemudian wajahnya langsung berubah setelah sadar dengan pertanyaannya.


Ya tuhan, Kenapa aku harus bertanya begitu ? ini kan rumahnya, dan juga kamar anak anaknya, suka suka dia dong mau masuk kesini.


Ines kembali menekan jidatnya.


"Ini untukmu." kata Wisnu meletakkan dua paper bag di atas sofa.


Dahi Ines mengerut. Dia hendak bertanya tapi Wisnu segera melangkah keluar seraya menutup pintu.


Ines mendesis kesal. Lalu melangkah menuju sofa. Melihat isi paper bag pemberian sekretaris tampan ini, tapi sayang sudah ada yang punya.


Ines membuka sala satu paper bag berisi sepatu sneaker putih.


Paper bag kedua berisi pakaian wanita, yaitu blouse, celana jeans hitam, dan juga? Mata Ines terbelalak melihatnya. Sepasang pakaian dalam wanita, sesuai ukurannya.


"Apa dia yang mempersiapkan ini?" gumam Ines menatap tak bergeming cidi dan bra berwarna peach.


Dia tidak k menyangka Wisnu perduli padanya hingga sampai pada pakaian pribadinya.


Ines tersenyum malu melihat kedua benda yang sesuai ukuran miliknya ini.


Entah dari mana Wisnu bisa tahu ukuran miliknya.


Kalau di tanya, dia pun sangat mengharapkan pakaian ini. Karena pakaian yang melekat pada tubuhnya sudah dari kemarin siang di pakai dan belum di ganti.


"Apa dia mencium bau asam dari tubuh ku saat mengobati lukanya tadi? Sehingga menyiapkan pakaian ini untukku?" gumamnya kembali. Ines kembali senyum malu-malu sendiri.


Sementara di bawah Wisnu buru buru membersihkan tetesan darahnya pada tangga dan lantai sebelum anak anaknya turun dan melihat. Dia tidak menyangka Ines yang melihatnya dan membuat gadis itu berteriak ketakutan.


Hal seperti ini sudah terbiasa di alaminya jika mereka turun melakukan penyerangan.


Saat dia hanya tinggal sendiri, dia cuek dan santai dengan hal yang semacam ini. Tapi ada anak anaknya. Dia tidak ingin si kembar melihat darah itu.


Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Rafa.


Dia segera membalas pesan tuannya dengan kedua alis terpaut. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya mengepel.


.


.


Setelah mandi dan shalat subuh, si kembar membawa Ines ke dapur. Mereka meminta di buatkan nasi goreng. Ragu ragu Ines menuruti keinginan mereka. Tapi sebelumnya dia meminta izin pada Wisnu dari luar pintu kamarnya, Agar tidak di anggap terlalu lancang dan berani di rumah orang.


Mereka memasak sambil bercanda bersuka ria. Saling jahil menjahili. Hingga beberapa saat makanan itu matang dan Ines menyajikan di atas meja beserta susu, jus dan juga sandwich telur.


Mereka segera duduk mengelilingi meja makan yang kursinya ada empat. Wisnu turun dengan Style Smart Casual, tidak berdasi dan berjas seperti biasa. Karena Rafa, tuannya memberinya suatu perintah yang membuatnya stres untuk pertama kali.


Ines menatapnya terpukau dengan pakaian seperti itu, yang membuatnya semakin tampan dan keren. Ines buru buru mengalihkan pandangannya ke makanan setelah pria itu tiba di depannya.


Aroma wangi parfumnya yang segar terhirup oleh hidung Ines yang mancung ke dalam.Tapi meski hidungnya pesek, dia tetap cantik dan manis, begitu kata Ara dan Cindy agar dia percaya diri dengan bentuk hidungnya yang kurang beruntung. Ya..ya..dia tahu kedua sahabatnya itu hanya sekedar menghiburnya untuk tetap bersyukur dengan anugerah yang di berikan tuhan.


Wisnu segera duduk di dekatnya, meliriknya sekilas yang memakai pakaian yang di belinya lewat Florencia.


"Ayah tidak akan pergi ke kantor paman Rafa?" tanya Azham melihat pakaiannya yang beda.


"Tidak, hari ini ayah bebas dari pekerjaan. Jadi Hari ini ayah milik Azhar dan Azham. Sekarang katakan, Azham dan Azhar mau kemana?" Wisnu tersenyum menatap kedua anaknya bergantian yang tampak sumringah.


"Benarkah? yeeee..." kedua anak itu melonjak senang.


"Kak Ines, ikut kami ya? kita akan pergi ke bioskop. Kita nonton bareng bareng. Pasti seru deh, ya kak ya?" pinta Azhar menarik lengannya.


Ines ragu ragu untuk mengiyakan, karena harus pulang ke kost. Dia takut ibu kostnya akan marah karena semalam dia tidak pulang dan tidak meminta izin. Dia juga akan ke kampus pagi ini untuk menyelesaikan berkas Wisudanya.


"Azhar Azham, kak Ines...!"


"Kak Ines pasti akan ikut bersama kita. Dia tidak mungkin menolak. Sekarang mari kita sarapan." kata Wisnu memotong ucapan Ines.


"Yeee..." anak anak itu kembali bersorak gembira.


Ines terhenyak, dia menatap tajam Wisnu yang asal saja mengiyakan keinginan si kembar tanpa meminta persetujuannya.


Wisnu hanya melirik sekilas lalu mengambil makanan. Dia tahu apa yang ada di dalam pikiran Ines.


"Semua makanan ini kak Ines yang masak. Enak kan ayah?" kata Azhar.


Wisnu mencicipi nasi goreng, terasa enak di lidah. Dia mengangguk tersenyum pada Azhar. Dia gak menyangka gadis ini ternyata tau memasak.


Mereka sarapan seperti satu keluarga yang lengkap. Si kembar makan dengan lahap.


Sesekali keduanya bergantian menyuapi Ines ketimbang ayah mereka.


Sarapan pagi selesai.

__ADS_1


"Azham Azhar, ganti pakaian dulu. Setelah itu kita akan pergi. Ayo cepat...!" perintah Wisnu.


"Baik ayah." bocah-bocah patuh dan segera berlari menaiki tangga untuk ke kamar mereka.


Wisnu mengangkat piring kotor ke dapur.


Ines mengikutinya sambil membawa gelas kotor. Karena dia ingin meminta penjelasan mengenai keputusan Wisnu tentang keikutsertaannya bersama mereka tanpa bertanya dulu padanya.


Semua alat makan itu mereka letakkan pada Wastafel. Wisnu mulai mencucinya. Dia terbiasa melakukan hal ini, bahkan memasak untuk tuannya dan juga dirinya.


"Sekertaris Wisnu, kenapa anda tidak bertanya dulu padaku, langsung mengiyakan keinginan anak anak?" Ines mulai bertanya.


Wisnu tak menjawab, tetap fokus dengan kegiatan cuci piringnya.


"Seharusnya anda bertanya dulu padaku. Apa aku punya agenda hari ini atau tidak? Apakah aku punya pekerjaan penting hari ini?" kata Ines kembali menatapnya dari samping.


Wisnu tetap diam, menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal mencuci sendok.


Ines mulai kesal karena di diami lagi.


"Ya ampun...diam lagi tak menjawab." katanya kesal.


"Aku ingin pulang ke kost karena semalam tidak pulang. Ibu kost pasti marah kepadaku karena tidak izin kepadanya." Ines mencoba bersabar.


"Aku sedang bicara dengan anda sekertaris Wisnu." katanya agak keras karena terus di diami.


"Tolong anda carikan alasan kepada Azham dan Azhar untukku tidak bisa ikut dengan kalian! Aku juga mau ke kampus pagi ini untuk menyelesaikan berkas Wisudaku." kata Ines kembali.


"Tolong jelaskan pada mereka ya? Aku tidak ingin mereka kecewa." pintanya lagi.


Wisnu masih dengan sikapnya yang acuh.


Membuat Ines semakin kesal. Jangankan menjawab, menoleh sedikit kepadanya pun tidak. Sungguh tidak sopan sekali.


"Sekertaris Wisnu, kau dengar tidak aku bicara?" katanya dengan nada meninggi.


"Atau anda budeg ya?"


Tetap tak ada respon.


"Ihhhhh, manusia kutub menyebalkan." teriak Ines geram karena tak tahan lagi. ingin sekali di menggampar wajah tampan ini.


Ines menampung air pada telapak tangannya yang mengalir pada kran wastafel, lalu di percikan pada wajah Wisnu.


Sontak saja Wisnu kaget dan buru buru memejamkan mata. Lalu menekan ke dua matanya.


"Apa yang kau lakukan?" sentaknya keras seraya menarik kuat lengan Ines hingga tubuh Ines menempel pada tubuhnya. Mata mereka yang saling menatap tajam dengan kekesalan masing-masing.


"Kenapa? marah? Hah?" kata Ines balik menyentak keras. Padahal yang sebenarnya dia sangat takut dan gemetar menatap wajah sangar di depannya ini, tapi sekuatnya ditekan.


Dia menantang tatapan Wisnu sambil memajukan wajahnya hingga hidung bersentuhan. Tanpa berkedip menatap melotot tajam mata Wisnu dengan emosi.


"Manusia angkuh dan sombong." umpatnya keras.


Wisnu kaget mendengar ucapannya. Lebih kaget lagi melihat keberanian gadis ini yang berani menatap penuh emosi kepadanya.


Dia dapat melihat keseluruhan wajah manis yang berada sedikit di bawahnya. Meski kesal dan geram tapi terlihat manis dengan hidungnya yang pesek. Darah Wisnu berdesir bergejolak. Hatinya bergetar. Jantungnya berdebar menatapi setiap bagian wajah manis ini, terutama melihat benda kenyal merah alami yang tampak basah. Bahkan tubuhnya merinding merasakan hembusan nafas Ines pada wajahnya. Tanpa sadar Wisnu meneguk saliva kasar


Perlahan dia menarik mundur wajahnya karena tidak tahan berhadapan terlalu dekat tanpa celah seperti ini. Entah apa yang akan di lakukan jika dia tidak dapat mengendalikan dirinya.


"Aku tidak ingin membuat mereka kecewa.


Aku hanya ingin menyenangkan hati mereka sebelum mereka balik ke Amerika." katanya kemudian dengan suara rendah.


Wajah Ines langsung berubah mendengar ucapannya. Emosinya langsung surut seketika.


"Ba- balik ke Amerika?" suara rendah, nada sedih.


"Jadi, anak anak akan balik ke Amerika?" katanya kembali, menatap Wisnu. Entah kenapa hatinya sedih mendengar anak anak itu akan kembali ke Amerika. Bahkan hatinya langsung merasakan sesuatu yang hilang, tubuhnya terasa lemah.


Sejujurnya dia sangat suka dengan


anak anak itu, yang sudah di anggap seperti adik sendiri, keluarga sendiri. Apalagi kedua anak anak itu menyukainya, bahkan dapat di rasakan menyayanginya.


Ines kembali menatap mata Wisnu dengan sedih seraya menelan ludahnya yang terasa pahit.


Keduanya mengalihkan pandangan melihat anak anak itu datang menghampiri mereka.


Wisnu segera melepaskan pegangannya dan mundur.


"Kak Ines, Ayah... kami sudah siap. Ayo kita pergi." kata Azham dengan antusias. Keduanya menarik tangan Ines.


"Kak Ines akan ikut kami kan?"


Ines mengangguk tersenyum.


"Iya sayang, kita akan senang senang hari ini. Kemanapun Azhar dan Azham pergi, kakak akan ikut." katanya pelan menyapu kepala keduanya lembut.

__ADS_1


Anak anak itu kembali melonjak senang.


Mereka menarik tangan Ines.


Ines melangkah mengikuti tarikan tangan mereka sambil melirik sekilas pada Wisnu.


Wisnu membuang nafas panjang. Hati dan pikirannya membuncah sedih, juga lega menatap kepergian mereka. Lalu dia melangkah ke pintu samping. Menuju garasi mengeluarkan sala satu mobil mewahnya yang jarang sekali di gunakan.


Wisnu segera membukakan pintu untuk Ines dan anak anaknya.


"Azham Azhar masuk dulu, kak Ines mau menghubungi ibu kost kakak dulu." kata Ines.


"Kakak gak usah kost lagi. Sebaiknya kakak tinggal saja bersama kami, biar kita bisa sama sama terus. Main bareng, tidur bareng, makan bareng. Rumah ayah gede. Hanya kami yang tinggal di sini. Ayah juga selalu pergi bekerja bersama paman Rafa, jadi rumah ayah selalu kosong nggak ada yang tinggal. Boleh ya ayah kak Ines tinggal di sini?" kata Azham pada Ines sekaligus bertanya pada Wisnu. Raut wajah anak itu berharap ayahnya setuju.


Wisnu hendak menjawab, tapi keburu Ines bicara.


Ines tersenyum.


"Sayang, kak Ines juga punya rumah. Karena rumah kak Ines jauh dari kampus makanya kakak nge'kost. Setelah kak Ines selesai Wisuda, kakak akan tinggal lagi di rumah orang tua kakak. Tapi Kalian jangan khawatir, kakak akan selalu mengunjungi kalian." kata Ines tersenyum."Sekarang kalian masuk ya, kita akan segera pergi."


Anak anak itu menurut. Mereka segera masuk ke dalam mobil.


Ines segera mencari kontak ibu kostnya. Tapi sebelum dia menekan nomor ibu kostnya, Wisnu langsung menyambar ponselnya.


Sontak saja Ines kaget.


"Apa yang kau lakukan sekretaris Wisnu? kenapa kau mengambil ponselku? kembalikan." katanya kesal.


"Kau tidak perlu menghubungi ibu kostmu. Aku sudah meminta izin dirimu semalam. Kau juga tidak perlu pusing lagi dengan berkas Wisudamu, karena aku sudah mengurusnya. Sekarang masuklah." kata Wisnu.


Ines menatapnya masih dengan kesal. Tapi dia juga lega karena kedua urusannya yang membuat dirinya sangat pusing itu sudah terurus.


"Kenapa nggak ngomong dari tadi?" katanya ketus menatap sinis.


Lalu segera masuk, tapi lengannya di pegang Wisnu hingga dia batal masuk. Dia kaget melihat Wisnu sudah sangat dekat dengannya. Menekan tubuhnya di pintu mobil


"Satu lagi nona Ines, kalau kau ingin memanggilku, sebut saja namaku." kata Wisnu menatap netra Ines dalam dalam.


Dahi Ines mengerut


"Wisnu?"


"Ya begitu___." kata Wisnu.


"Tapi itu nggak sopan. Kau lebih tua dariku, bahkan sangat tua."


"Apa katamu? Aku sangat tua?" menatap tajam.


"Tentu saja. Kau pikir kamu masih muda? Kau tua seperti ayahku." kata Ines keras. Merasa sangat senang menjahili sekretaris menyebalkan ini.


"Sembarangan kalau ngomong. Kau pikir aku setua itu? Umurku baru 33 tahun, anak anakku pun baru berusia 12 tahun. Mana bisa kau menyamakan diriku dengan umur Ayahmu?" sentak Wisnu.


"Oohh, ku kira umur anda 48 tahun. Soalnya wajah anda tidak sesuai dengan angka umur anda. Anda kelihatan sudah seperti aki aki." kata Ines tertawa mengejek.


"Kau....?" Wisnu mengeram menahan emosi.


"Kenapa? Gak bisa terima kenyataan? Emang benar kok seperti itu." Ines langsung melototinya.


"Makanya wajah tuh harus selalu di hiasi dengan senyuman, terlebih lagi kepada orang yang sedang berbicara dengan anda, biar gak cepat tua dan keriput." kata Ines kembali masih tersenyum mengejek.


Wisnu kembali mengeram menahan amarah.


Dia memegang kuat lengan Ines. Membuat Ines meringis.


"Lepaskan tanganku, sakit tau! Apa Anda ingin membuat tanganku patah?" sentak Ines.


Perlahan Wisnu segera melepaskan pegangannya.


Ines mendorong tubuhnya mundur.


"Aku sudah memikirkan panggilan apa yang pas untuk anda dengan tidak mengurangi rasa sopan santun ku ke pada anda. Karena perbedaan umur kita 10 tahun di tambah lagi Azhar dan Azham memanggil ku kakak, maka aku akan memanggil Anda....Om Wisnu...Om Wisnu." kata Ines tersenyum.


Wisnu terkejut.


"Apa katamu? Om?" menatap kesal dan tajam.


"Ya iya....dari pada aku panggil aki....Aki Wisnu." kata Ines tertawa kecil seraya menjulurkan lidahnya mengejek. Lalu segera masuk dan menutup pintu dengan keras.


Wisnu masih terpaku di tempatnya.


"Om...? Apa aku sudah setua itu?" ucapnya merasa risih, tidak nyaman dengan sebutan itu.


"Sejak kapan aku kawin dengan tantenya hingga dia memanggilku Om?" tersenyum kesal. Lalu segera masuk ke dalam mobil.


Bersambung.


Tinggalkan jejak ya 😊

__ADS_1


Terimakasih πŸ™πŸ’—


__ADS_2