
...Happy Reading...
"Apa yang kalian bicarakan?" Rafa memecah kecanggungan di antara mereka.
Ara kaget."Maksud kakak?" katanya tidak mengerti, menengadah ke atas melihat sekilas wajah Rafa, lalu menurunkan kembali pandangannya ke dada Rafa.
"Kau dan Rizal, suara tawa kalian sampai menarik perhatian orang-orang." menjawab kebingungan Ara.
"Itu__" Ara gugup.
Melihat Ara yang menunduk, Rafa memegang dagu wanita itu dan mengangkat ke atas. Ara kaget. Keduanya bertatap mata.
"Kalau sedang berbicara dengan seseorang, biasakan untuk melihat wajah lawan bicaramu." kata Rafa kemudian.
Ara menelan ludah pahitnya. Menatap sesaat kakak iparnya lalu menunduk kembali, tapi Rafa kembali menahan dagunya."Kau ini bandel sekali __!"
Ara merasa canggung."Maaf kak, aku tidak bermaksud tidak sopan. Aku hanya___" ucapannya terpotong.
"Apa yang kalian bicarakan?" Rafa memotong ucapannya karena dia sudah tau kelanjutan kalimat Ara.
"Itu menyangkut hal pribadi dokter Rizal." jawab Ara pelan.
"Hal pribadi?" Rafa melepaskan pegangan di dagu Ara.
Ara mengangguk, kembali menunduk.
"Mengenai apa? Angkat kepalamu! Kau ini pembangkang sekali." kembali membawa wajah Ara melihat ke wajahnya. Keduanya kembali saling bertatapan.
Ara merasa takut melihat kekesalan di wajah Rafa.
"Apa perutmu masih sakit?" tanya Rafa. Dia teringat dengan perut Ara yang sakit karena datang bulan.
Ara kaget mendengar pertanyaan itu. Dia tidak menyangka Rafa tahu dengan perutnya yang sakit karena menstruasi. Perlahan dia menggelengkan kepalanya.
"Udah mendingan. Rasa sakitnya berkurang setelah minum obat dari dokter Rizal." jawab Ara.
"Syukurlah." ucap Rafa lega. Matanya menangakap beberapa tanda di leher Ara yang berwarna merah. Sebagian sudah berwarna keunguan. Tersembunyi di balik rambut keriting. Tapi masih bisa terlihat jika di lihat dekat begini. Tangannya reflek mengurai rambut Ara ke depan menutupi tanda tanda itu.
Ara kaget.
"Biarkan rambutmu tetap seperti ini. Dan nanti pakailah pakailah syal. Tanda tanda merah di lehermu terlihat." ujar Rafa kemudian.
Hah? Ara terbelalak. Gerakan tubuh terhenti. Dia kelabakan, segera memegang rambut keritingnya dengan terburu-buru. Mengurai ke depan dan samping leher kiri kanannya. Dia tidak menyangka tanda itu terlihat oleh Rafa.
Ara menunduk malu.
Rafa tersenyum tipis.
"Tanda apa itu?" jahil, pura pura tidak tahu.
Ara kembali kaget mendengar pertanyaan itu.
"Aku sedang bertanya tanda apa itu?" tanya Rafa kembali.
"I itu...di gigit nyamuk." jawab Ara salah tingkah dan gugup. Terpaksa berbohong. Tidak mungkin dia mengatakan hasil perbuatan Raka. Dia benar benar malu pada Rafa, juga kesal pada Raka kenapa membuat tanda sebanyak itu, dan di bagian tubuhnya yang terbuka malah.
Rafa kembali tersenyum kecil melihat wajah merah merona."Sepertinya nyamuknya gede dan sangat suka darahmu." kembali menggoda untuk menghilangkan kecanggungan Ara.
Ara semakin gugup dan menunduk. Tanpa sadar wajahnya menekan di dada Rafa.
"Apa benar perbuatan nyamuk nakal?" bisik Rafa kembali di telinga Ara.
__ADS_1
Ara membuang nafas kasar.
"Kak, aku mohon jangan bertanya lagi tentang tanda itu." katanya memelas.
Rafa kembali tersenyum.
"Aku hanya bertanya apa benar karena ulah nyamuk nakal? Karena begitu banyak dan terukir indah di lehermu."
"Sudah dong kak, jangan membahas tanda itu lagi, aku malu." kata Ara semakin malu sembari mengangkat wajahnya. Alhasil hidung dan bibir mereka saling menyentuh kuat karena saat ini Rafa sedang menunduk melihat kepadanya. Mata Ara melongo membulat sempurna. Keduanya mata mereka saling menatap beberapa saat. Hingga akhirnya Ara kembali membawa wajahnya ke bawah setelah sadar diri. Jantungnya berdegup kencang, hati tidak tenang dan takut. Dia menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Kenapa dia bisa ceroboh sehingga mencium bibir Rafa meski tidak sengaja.
Dari atas Rafa menatapnya. Dia tahu apa yang di rasakan Ara saat ini. Sama seperti yang dia rasakan oleh hatinya saat ini, tapi dia berusaha setenang mungkin. Dia sendiri tidak menyangka sentuhan bibir itu akan terjadi walau tidak sengaja. Untuk menghilangkan kecanggungan di antara keduanya, dan rasa takut adik iparnya ini, dia kembali membawa tubuh Ara bergerak menari mengikuti alunan musik. Dia memegang lembut jemari Ara yang tampak gemetar. Ternyata gadis ini memang takut kepadanya.
"Sepertinya para pelayan di rumah tidak becus bekerja. Mereka tidak membersihkan rumah dengan benar. Nyamuk nyamuk masuk ke rumah, bersarang dan berkembang biak, tumbuh besar hingga menggigit lehermu." ucap Rafa.
Ara kembali melongo mendengar perkataan itu. Dia kesal kenapa Rafa masih tetap membahas tanda tanda di lehernya. Dan pelayan rumah yang jadi sasaran."Kenapa pelayan yang di salahkan? ini kan perbuatan kak Raka." batinnya.
Dia melihat wajah Rafa.
"Ini bukan salah pelayan. Mereka bekerja dengan baik kok, gak ada nyamuk di rumah. Kakak jangan menyalahkan pelayan, karena ini bukan di gigit nyamuk, tapi perbuatan kak Raka." Ara langsung berterus terang karena tidak ingin para pelayan terkena dampak buruk dari perbuatan suaminya.
"Perbuatan Raka?" tanya Rafa.
Ara mengangguk cepat"Iya __kak Raka kelewat batas mencium ku dan __" ucapannya terhenti karena menyadari keceplosan bicara mengenai hal pribadinya dengan Raka. Mata dan mulutnya terbuka karena terkejut.
"Ya ampun." segera menutup mulutnya dengan tangan. Dia menunduk menyembunyikan rasa malunya.
Rafa tersenyum lebar. Betapa jujur, baik dan polosnya wanita ini hingga berterus terang demi menyelamatkan para pelayan rumah.
"Dan apa Ara? Angkat kepalamu tatap aku dan lanjutkan ucapan mu."
"Sudah dong kak, jangan membahasnya lagi. Aku malu." ucap Ara memelas seraya menutup wajahnya yang semakin merah merona.
Rafa kembali tersenyum. Tak ingin menggoda lagi. Perlahan dia memeluk punggung dan kepala Ara.
Rafa terus memeluk belum ingin melepas. Pelukan hangat seperti ini pernah di lakukannya pada seseorang yang sangat dia cintai tapi tak bisa dimiliki. Dan selamanya tidak akan bisa di miliki.
Sementara Ara, meski takut dan deg degan, dia merasa aneh dengan pelukan pria dingin ini. Pelukan ini terasa Hangat dan melindungi. Tiba tiba dia teringat dengan luka luka di tubuh Rafa.
"Kakak ipar," panggilnya pelan.
Rafa membuka kedua matanya yang terpejam. Menikmati aroma wangi rambut Ara."Ada apa?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu."
"Akan ku jawab, tapi melihat lah ke padaku, tatap mata ku." kata Rafa karena Ara terus menghindari tatapan matanya karena masih malu.
Ara menelan ludah dengan syarat itu. Perlahan membawa wajahnya melihat wajah Rafa.
"Kenapa kau harus malu? Aku kakak iparmu, kakak dari suamimu. Katakan, apa yang ingin kau tanyakan?" Rafa menatap dalam-dalam mata teduh menenangkan ini.
"Bagaimana lukanya? Apa kakak sudah minum obat?" tanya Ara. Dia teringat dengan kertas permintaannya pada Rafa. Meminta Rafa untuk rutin minum obat agar lukanya cepat sembuh.
Wajah Rafa mengernyit mendengar pertanyaan itu. Di kiranya Ara mau menanyakan hal lain. Rafa tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan.
"Syukurlah, semoga luka kakak cepat pulih." kata Ara lega.
"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" tanya Rafa kembali. Mengingat isi permintaan Ara yang lain selain memintanya meminum obat, yaitu tentang mempekerjakan Sita kembali.
Ara terdiam. Sebenarnya dia juga ingin menanyakan pesan permintaannya mengenai Sita. Tapi dia tidak berani. Takut menimbulkan kemarahan Rafa. Perlahan dia menggeleng.
"Hanya itu yang ingin ku tanyakan," katanya kemudian.
__ADS_1
Rafa sudah menebak kalau Ara tidak akan mengungkit tentang Sita dan Tidak berharap dia akan memenuhi permintaannya untuk mengembalikan Sita bekerja menjadi pelayan si kembar lagi.
Sudah waktunya bertukar pasangan. Rafa segera memegang sala satu tangan Ara ke atas, lalu memutar tubuh gadis itu. Tubuh Ara bergerak memutar beralih pada pasangan dansa berikutnya.
Tapi dengan gerakan cepat Rafa meraih kembali pinggangnya setelah melihat pasangan dansa Ara selanjutnya. Laki laki bule pasangan Nesa, yang sejak tadi melirik lirik nakal pada Ara secara sembunyi sembunyi dan di tangkap oleh mata elangnya.
Rizal dan Raka bingung dengan sikap Rafa.
"Kak__" Raka memberikan isyarat padanya untuk berganti pasangan. Rizal juga menatapnya.
Ara sendiri tersentak ketikan merasakan pinggangnya di raih kuat oleh Rafa hingga tubuhnya kembali menempel pada kakak iparnya ini. Dia menatap wajah Rafa dengan
penuh tanya dan was-was.
"Apa aku melakukan kesalahan?" gumamnya dalam hati melihat tatapan tajam dan sinis Rafa. Ara jadi takut.
Rafa menatap wajah Ara yang terlihat takut dan tegang."Jangan dekat-dekat dengan pria itu." bisiknya dengan menekan, tegas.
Ara bingung, hendak menanyakan alasan tapi Rafa cepat memotong ucapannya.
"Jangan membantah dan jangan bertanya," kata Rafa kembali tegas
Ara langsung terdiam sambil mengigit bibirnya.
Rafa segera memberi isyarat pada MC untuk menghentikan music. Lagu berhenti, para tamu yang melakukan tarian dansa kembali ke tempatnya setelah mendengar perkataan MC.
Raka dan Rizal mendekat.
Rafa segera melepaskan pegangannya pada pinggang Ara dan menyerahkan tangan Ara pada Raka."Jaga istrimu dengan baik." katanya kemudian.
Raka terkejut mendengar perintah kakaknya. Dia segera memeluk Ara.
"Ada apa bos?" tanya Rizal penasaran.
Rafa tak menjawab, tapi menoleh pada Nesa.
"Jauhi dia, jangan berhubungan lagi dengannya." titahnya tegas.
Wajah Nesa mengernyit.
"Kenapa? Memangnya ada apa dengan Steve ?" Nesa memandang pada teman bulenya yang sedang menuju tempat duduknya.
"Aku tak perlu menjelaskannya. Pokoknya kakak jangan berhubungan lagi dengannya." kata Rafa dan segera melangkah meninggalkan mereka yang kebingungan. Dia memberi isyarat pada Wisnu yang langsung di tanggapi Wisnu dengan cepat. Wisnu memberi isyarat pada MC untuk menutup acara dan mempersilahkan tamu tamu untuk kembali.
"Kenapa sih dia. Ada ada aja." keluh Nesa kesal.
"Kak Nesa, kalau Rafa berkata begitu berarti ada yang tidak baik dengan temanmu itu." kata Rizal.
Raka menatap Rizal, dia mengerti maksud perkataan dokter itu. Dia semakin memeluk erat tubuh Ara, khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
Nesa menoleh kembali pada Steve. Memperhatikan pria bule itu dengan cermat.
"Mungkin Rafa menangkap ada yang tidak baik pada pria itu. Bersikaplah biasa, dan seolah tidak apa apa. Tapi kakak tetap harus waspada dan hati-hati padanya." sambung Rizal kembali.
Rizal sangat tahu watak dan karakter Rafa. Jika bosnya berkata seperti itu, berarti dia mengetahui ada sesuatu yang tidak baik.
"Sayang, kita ke kamar saja." kata Raka pada Ara.
"Kak Nesa juga, istirahatlah. Patuhi apa yang di katakan kak Rafa tadi. Aku juga tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kakak." sambung Raka pada Nesa.
"Ada baiknya begitu, kalian istirahat saja. Para tamu juga sudah mau pulang. Lihatlah mereka sedang berpamitan pada Rafa." kata Rizal menoleh pada Rafa yang mengalami teman-teman bisnisnya yang berpamitan pulang. Tampak Wisnu dan petugas keamanan berdiri di samping kiri kanan dan belakang Rafa, menjaga bosnya itu dengan ketat.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa dukungannya ya....