
Ara merasakan jari jemari itu terasa panas menyentuh punggungnya meski terhalang pakaiannya.
"Bangunlah....." ucap Rafa setelah beberapa saat.
Pelan pelan Ara mengangkat tubuhnya di bantu olehnya. Ara merasakan punggungnya sudah tidak sakit lagi, begitu juga dengan kepalanya.
Dia segera duduk di pinggir ranjang dengan kaki terjuntai ke bawah.
"Apa masih sakit ?" tanya Rafa memperhatikannya dari samping.
Ara menggelengkan kepalanya
"Gak lagi kak, terimakasih." jawabnya tanpa menoleh.
"Kenapa kau ceroboh sekali tidak memperhatikan arah belakangmu?" kata Rafa sedikit emosi.
Ara diam menunduk tidak menjawab.
Rafa memperhatikan tangan kirinya yang terkepal, dia meraih tangan itu dan membukanya.
Ehh ? Ara terperanjat, menoleh ke wajah Rafa.
"Ternyata obat obatan itu masih di pegang nya," batin Rafa. Dia menatap Ara sesaat, lalu mengambil benda-benda kecil itu dari tangan Ara. Kemudian bangkit mengambil botol air di nakas dan segera memasukan obat obatan itu ke dalam mulutnya sekaligus, di susul dengan air.
Ara melongo dengan apa yang dia lakukan.
"Padahal tadi susah sekali untuk membuatnya makan dan meminum obat, dan lihat sekarang....bahkan dia meminum sekaligus," kata Ara dalam hati tidak mengerti dengan jalan pemikiran kakak iparnya. Dia tersenyum
senang dan lega.
"Kau senang sekarang?" kata Rafa melihat senyuman itu. Ara kaget tidak menyadari kalau Rafa memperhatikannya.
Tapi kemudian matanya membulat melihat perut Rafa.
"Luka kakak berdarah lagi." Dia yang tidak sengaja melihat perban di perut Rafa yang telah berwarna merah, begitu juga perban yang berada di paha.
Sepertinya pergerakan cepat yang di lakukan Rafa tadi membuat lukanya berdarah. Ara panik dan segera berdiri.
"Duduklah, aku akan mengganti perban kakak." tanpa sadar menarik tangan Rafa dan mendudukkannya. Rafa patuh dengan perkataannya. Ara segera mengambil air bersih dan kotak obat, lalu berlutut di depan Rafa yang duduk di pinggir ranjang hanya memakai celana bokser ketat. Ara kembali merasa risih.
"Ambilkan handuk kecil di kamar mandi." kata Rafa memperhatikan dirinya.
Ara mengikuti perkataannya, berdiri dan mengambil apa yang di minta. Lalu segera berlutut kembali setelah menyerahkan handuk.
Rafa menutup kan handuk kecil itu pada milik pribadinya yang mengembang dari balik boksernya yang pendek dan ketat. Dia tahu Ara merasa risih akan hal itu. Ara sekilas melihatnya, kemudian kembali fokus pada luka.
Ara menaikan sedikit ujung celana bokser ke atas, lalu membuka perban perlahan lahan.
Luka yang menganga dengan darah yang keluar banyak membuat Ara menjerit tertahan, dia segera menutup mulutnya
"Biar aku saja." kata Rafa melihat ketakutannya.
"Biar aku saja, kakak diam saja, jangan bergerak, nanti darahnya akan semakin banyak keluar."
Ara mengatur nafasnya sesaat, menenangkan hatinya yang panik, meremas kedua tangannya di depan dada yang terlihat gemetar.
"Bismillah." ucapnya pelan.
Lalu mulai membersihkan luka itu pelan pelan.
Rafa meringis tertahan, tangannya meremas kuat seprei di samping kiri kanannya, menahan sakit.
Ara melihat itu, lalu menengadah keatas menatap wajah kakak iparnya yang juga menatapnya sambil menggigit bibir.
"Sedikit lagi kak, tahan ya?" bisik Ara pelan, seraya menyapu keringat di kening dan pelipis Rafa, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Pelan pelan, dia selesai menutupi luka pada bagian paha. Lalu dia segera berdiri, naik ke ranjang mengambil bantal.
"Berbaringlah, aku akan bersihkan luka di perut kakak dan mengganti perban."
Rafa membaringkan tubuhnya pelan pelan di bantu Ara memegang sebagian tubuh atasnya.
Lalu Ara segera duduk di pinggir ranjang, dia menatap wajah Rafa sejenak. Menyapu keringat yang membasahi wajah, lengan, leher, dada, hingga perut kakak iparnya. Perlahan mulai membuka perban yang menutupi luka di perut Rafa. Ara kembali terperangah melihat robekan luka yang menganga lebih besar dari luka paha.
Dia mendesah sedih .
"A apa yang terjadi dengan kakak? kenapa kakak bisa terluka begini?" kedua ujung matanya basah.
"Apa semalam waktu di kamar si kembar kakak memang sudah terluka begini?" tanyanya menatap pada Rafa.
Rafa tak menjawab, hanya ikut menatapnya.
"Kita ke rumah sakit ya kak? Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada kakak." kata Ara meminta. Mata Ara sudah berkaca-kaca.
Rafa hanya diam terus menatap wajahnya. Dia tidak menyangka keadaan dirinya yang terluka mendekatkan mereka. Karena dia tahu Ara sangat takut padanya. Tapi karena keadaannya seperti ini membuat gadis ini memberanikan diri dekat dengannya.
Ara segera membersihkan luka pelan pelan, di oleskan betadine dengan kapas, lalu segera di tutupi dengan kasa. Setengah jam berlalu, ke dua luka itu selesai di perban. Ara kembali meraih handuk dan menyapu peluh di wajah kakak iparnya yang di lihatnya tampak pucat, kedua mata itu di lihatnya sangat sayu, nafas memburu pelan, tubuhnya yang terasa dingin.
"Kenapa tubuh kakak sedingin ini ?" batin Ara cemas dan takut. Kedua matanya kembali basah, perasaannya mulai takut.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit ya? aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada kakak." mengajak kembali. Dia mengeluh sedih, ke-dua matanya semakin basah.
Rafa menatap wajahnya yang sembab.
"Aku tidak apa apa, jangan menangis." menyapu air mata Ara.
"Tapi aku takut, hanya kita berdua di sini, dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku telpon dokter Rizal ya? taku akan suru dia kemari." mulai terisak-isak.
Rafa tak menjawab, dia bergerak bangun. Ara segera membantunya, Rafa kembali duduk menyandarkan punggungnya pada bantal.
"Atau, aku akan hubungi kak Raka saja? aku akan meminta dia kesini."
"Aku sudah bilang jangan menghubungi siapapun! Sebaiknya kau segera kembali, pulanglah.."
Ara menyapu air matanya.
"Aku sudah katakan aku gak akan pulang meninggalkan kakak sendiri di sini. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada kakak? hingga detik ini sekretaris Wisnu belum kembali."
Ara memperhatikan wajah Rafa yang semakin pucat. "Wajah kakak sangat pucat, bahkan seluruh tubuh kakak juga." melihat tangan dan kuku Rafa yang memucat.
Dia semakin panik dan takut.
"Ada apa ini? tadi tidak seperti ini...hanya wajah kakak yang pucat, tapi ini malah seluruh tubuh kakak juga." memperhatikan seluruh tubuh Rafa.
Rafa diam, tatapannya semakin sayu dan samar melihat wajah Ara, tubuhnya semakin lemah.
"Ara ..." ucapnya pelan.
"Ya ..." Ara menatapnya.
Dia segera berlutut di samping Rafa. memegang wajah kakak iparnya, menyapu ke dua pipi itu lembut dengan ke dua ibu jarinya. Air matanya semakin banyak mengalir melihat perubahan wajah Rafa.
"Kita ke rumah sakit yaa? aku mohon, aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada kakak..." kembali menangis terisak.
"Ara..." panggil Rafa pelan
"Ya...." Ara menunduk menatapnya lekat, air matanya jatuh menetes di pipi Rafa.
Rafa berusaha mengangkat tangan kanannya menyapu lelehan bening di pipi Ara.
"Aku....." semakin lemah
Ara semakin kuat menangis
"Kakak ingin bilang apa?" Ara segera mendekatkan wajahnya lebih dekat untuk mendengarkan ucapan Rafa, sampai hidung mereka bersentuhan.
"Katakan, kakak ingin bilang apa..."
"Jangan menangis, aku paling tidak tahan melihat air matamu!" ucap Rafa sangat pelan dan hampir tidak bisa di dengar. Tapi Ara masih bisa mendengarnya.
Rafa kembali menyapu air mata Ara, membuat Ara semakin menangis dan terisak isak.
"Aku menangis karena aku takut kak, aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada kakak. Aku hubungi dokter Rizal ya?"
Kedua mata Rafa basah melihat air mata itu. Dia tidak menyangka Ara sangat mengkhawatirkannya bahkan takut, padahal Ara baru mengenalnya kemarin.
Rafa melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ara memeluk tubuh adik iparnya ini, lalu merebahkan wajahnya di dada Ara.
Ara membiarkan apa yang dia lakukan. Dia membelai rambut kakak iparnya lembut. Dua menit berlalu tak ada suara, Rafa semakin lemah.
Ara segera menangkup wajah Rafa, melihat mata Rafa terpejam.
"Kak, buka matamu, buka. Jangan tidur, tetaplah sadar kak...." menepuk lembut kedua pipi Rafa. Wajah tampan itu semakin pucat.
"Kakak...!" Ara kembali menangis melihat tak ada pergerakan dari Rafa.
"Kakak bangun, jangan seperti ini. Jangan diam saja, aku takut seperti ini, buka mata kakak." Ara mulai menangis.
"Ara.....!" panggil Rafa.
Ara tersenyum lega mendengar suara Rafa yang hampir tak terdengar.
"Ya kak..."
"A ku....A ku...!" semakin lemah
"Bicaralah, aku mendengarkan kakak." Ara mendekatkan telinganya di bibir Rafa.
"Kakak ingin bilang, katakan....!"
"A aku......!" Rafa berusaha membuka matanya, dan tersenyum melihat wajah cantik yang mulai samar dari penglihatannya. Dan terus menatap wajah itu sampai matanya tertutup.
"Kak...bangun, buka matamu."
Tak ada pergerakan dari Rafa.
Tangannya yang memeluk tubuh Ara jatuh terkulai ke bawah, seiring dengan wajahnya jatuh terkulai lemas di dada Ara.
Ara terkejut, perasaannya tidak enak.
__ADS_1
"Kakak kenapa? sadar kak.. bangun." menggoyang goyangkan tubuh Rafa, tapi tak ada jawaban dan pergerakan.
Ara panik dan semakin ketakutan.....
Dia segera membaringkan tubuh Rafa.
"Kakak bangun.... bangun kak, buka matamu...jangan diam seperti ini, bangun kak.." tetap tak ada pergerakan.
Tubuh Rafa diam tak bergerak, tubuhnya semakin pucat, bahkan membiru.
Hati Ara semakin tidak enak dan takut.
Ara membayangkan sesuatu yang buruk telah terjadi pada kakak iparnya.
Dia segera merebahkan kepalanya di dada kakak iparnya, tak ada detak jantung yang di dengar. Meletakkan jarinya di hidung Rafa, tak terasa hembusan nafas.
Ara semakin menjerit-jerit histeris.
"Tidak mungkin, tidak mungkin... bangun kak...bangun..." jeritnya keras.
"Kakaaaaak...huhuuuuu....!"memegang wajah Rafa.
"Bangun kak...bangun...jangan seperti ini....jangan bercanda kak...ini gak lucu... cepat bangun...aku takut." menggoyang goyangkan tubuh Rafa. Dia semakin ketakutan. Tetap tak ada pergerakan dari tubuh Rafa. Rafa tetap diam tak bergerak.
Ara Kembali menjerit-jerit histeris.
"Bangun kak.... banguuuun...."
"Apa yang harus ku katakan pada mama, kak Raka dan kak Nesa? aku takut menghadapi kemarahan mereka... cepat bangun kak...bangun...! huhuuuuuu..!" air matanya semakin deras mengalir, memeluk tubuh kakak iparnya yang membujur kaku.
Kembali tersadar. Segera dia mencari ponsel Rafa di tempat tidur, menggeledah dan menemukan benda itu di bawah bantal, dia menekan tombol atas hingga benda itu menyala. Tapi harus memasukkan kode pin untuk membukanya.
Ara semakin panik, berapa kode PINnya?
Iseng lagi Ara memasukan angka kelahiran nya ...terbuka. Ara segera mencari nomor kontak dokter Rizal.
Saat itu Rizal sedang berada di ruangan operasi, melakukan operasi ketiganya. Hp nya terus bergetar, mati, bergetar lagi. Dia sengaja tidak memberi nada karena sedang melakukan operasi.
Siapa sih? gerutu Rizal kesal. Dia mengisyaratkan pada suster untuk mengambil HP nya di kantong.
"Siapa ?" tanya nya.
Suster memperlihatkan layar hp.
Tertulis My Big bos ..!
Rizal segera meletakkan alat operasi yang di ada dalam genggamannya.
"Lanjutkan..." katanya pada dokter lain. Dia segera membersihkan tangannya di wastafel.
"Tidak biasanya bos menelepon ku begini. Ada apa?" gumamnya.
Dia meraih HP nya lalu menelepon kembali nomor Rafa.
"Halo bos ..."
"Dokter, huuuuu ..." ucap Ara dari seberang menangis keras.
Rizal terkejut karena bukan suara Rafa atau Wisnu di seberang.
Tapi suara seorang wanita.
"Dokter ini aku Ara."
"Ara? kenapa kamu yang menelpon dari hp
Rafa? dan kenapa kamu menangis begitu ?"
"Tolong dokter, tolong kakak ipar."
Rizal terkejut."Ada apa dengan Rafa ?" dahi mengerut.
Ara semakin keras menangis.
"Ara tenanglah, ceritakan ada apa?"
"Kakak ipar....kakak ipar dok ... aku merasakan dia sudak tidak bernafas, tubuhnya pucat dan membiru! Dia tidak bergerak, aku sudah berulangkali membangunkannya." kata Ara di sela sela tangisnya.
Rizal kembali terkejut
"Kalian di mana? apa di rumah utama?"
"Tidak dok, di apartemennya ! Tolong dok tolang lah kakak ipar. Aku takut, aku hanya sendiri di sini, sekretaris Wisnu tidak ada."
"Ara, kamu tenang yaa....aku akan segera ke sana. Ingat, jangan menghubungi siapa pun. Jangan mengangkat telepon dari siapapun selain Wisnu dan aku, oke? dan jangan membuka pintu sebelum aku atau Wisnu yang datang, kamu dengar?"
"Iya dokter, cepatlah datang, aku takut."
"Baik, aku akan segera ke sana." Rizal segera mematikan telepon.
__ADS_1
******
Dukung author ya, jangan lupa like, komennya dan votenya πππ