
Rafa menatapi kepada si kembar.
"Cio Cia, Daddy minta mulai sekarang jangan lagi menanyakan paman Raka. Paman sedang berada di tempat yang jauh."
"Terus kapan kembali?" tanya Cio dengan polosnya.
"Lama baru kembali. Mungkin saat Cio dan Cia udah besar. Sebelum paman kembali kalian harus melakukan apa yang telah kalian janjikan pada paman Raka, rajin belajar biar jadi anak pintar, rajin ibadah biar jadi anak yang sholeh dan sholehah. Masih ingat kan janjinya sama paman Raka ?" ujar Rafa pelan memberi penjelasan kepada anak anak itu.
"Ingat Daddy. Kami akan menepati janji kami pada paman Raka." jawab mereka bersamaan.
"Bagus, anak pintar. Dan jangan bertanya lagi tentang paman Raka ya? Nanti Nenek, Mama dan Ante Ara sedih."
"Kenapa semuanya bisa sedih seperti ini?" tanya Cia bingung melihat mama, Ara dan neneknya sedih.
"Karena nenek, mama dan ante Ara juga merindukan paman Raka sama seperti kalian. Faham maksud Daddy?" ujar Rafa kembali menatap mereka bergantian.
Si kembar mengangguk, mengerti.
"Kami tidak akan nanya nanya paman lagi. Kami nggak mau nenek, mama dan ante menangis lagi. Kami janji akan jadi anak baik dan pintar seperti yang paman Raka inginkan." ucap Cio menatap Maya Nesa dan Ara bergantian.
Rafa tersenyum.
"Bagus." dia mengusap kepala kedua anak itu bergantian. Nesa menatap kedua anaknya dengan haru dan juga rasa menyesal.
"Maafkan mama ya, tadi meneriaki kalian." ucapnya sambil tersenyum.
"Kami juga minta maaf karena selalu nanya paman Raka dan bikin mama marah." kata Cio menatap mamanya.
Nesa mengangguk sambil memegang kedua tangan anak anaknya. Dia tidak menyangka meski baru berusia 4,6 tahun, tapi anak anaknya sudah bisa memahami mana yang baik dan buruk. Dan semua itu berkat kasih sayang dan didikan Raka sejak mereka masih bayi, dan juga Ara yang telah hadir di kehidupan Raka ikut mengajari dan membimbing mereka dengan hal hal yang baik di saat dia mengabaikan anak anaknya dulu. Hatinya kembali nyesek mengenang adiknya itu.
Rafa menoleh pada Ara yang masih terisak kecil.
"Tenangkan dirimu. Kau harus kuat. Cio dan Cia juga sedih dan merindukan pamannya, kasihan mereka masih kecil belum terlalu mengerti apa-apa. Jangan tampakkan kesedihan kita di depan mereka." katanya pelan.
Ara menyapu air matanya.
"Mari kita nikmati makanan ini dengan rasa syukur, bukan dengan kesedihan." ujar Rafa menatap mereka satu persatu.
Sam segera mendekat dan menyiapkan makanan tuannya setelah mendapat isyarat dari Wisnu. Yang lainnya juga segera mengambil makanan sesuai keinginannya masing masing.
Si kembar membaca doa sebelum makan di bimbing oleh Nesa.
Hati Ara senang melihat perubahan yang baik pada kakak ipar perempuannya ini. Dia tersenyum melihat perlakuan baik Nesa pada si kembar.
"Makanlah." kata Rafa menatapnya. Rafa melihat dirinya hanya melihat pada Nesa dan Si kembar.
"I-iya kak.. " jawab Ara kaget mendengar perkataan itu. Ara menyapu sisa air matanya. Lalu memperhatikan makanan yang ada di depannya. Semua menu terlihat enak, tapi tak ada yang dapat menggoda selera makannya.
Ara mengambil susu dan menuangkan setengah ke gelas. Dia kembali kaget dengan ucapan Nesa.
"Berusahalah untuk makan walau hanya sedikit." kata Nesa kepadanya.
Ara mengangguk tersenyum. Hatinya senang karena Nesa peduli pada dirinya.
Semuanya menikmati makanannya dengan kesedihan di hati masing-masing. Hidup terus berjalan dan harus di lanjutkan tanpa berlarut terus dalam kesedihan. Merelakan yang telah pergi dengan ikhlas dan menerima dengan pasrah akan takdir Allah. Qadarullah.....
Ara minum susunya dua kali tegukan, lalu menoleh pada Rafa. Dia ingin menyampaikan sesuatu yang sudah di pikirkan sejak sebulan lalu, tapi belum di sampaikan karena Rafa sibuk.
"Kakak ipar...." ucapnya pelan dengan suara rendah. Rafa menoleh kepadanya seraya memasukkan sepotong sandwich ke mulut.
"Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku juga ingin menyampaikan pada Mama dan Kak Nesa." Sambung Ara kembali seraya melihat pada Maya, Rafa dan Nesa bergantian.
Maya dan Nesa melihat kepadanya mendengar perkataannya.
"Aku ingin meminta izin untuk kembali ke rumah orang tuaku. Aku sudah tidak berhak lagi tinggal di rumah ini mengingat Kak Raka sudah.......!"
"Kau tidak akan ke mana-mana. Tempat mu di sini selamanya." potong Rafa segera tahu arah ucapannya. Dia menatap wajah Ara.
Ara terdiam tak bicara mendengar perkataan yang tegas penuh tekanan.
Maya membuang nafas kasar. Dia memang ingin Ara pergi dari rumah ini karena Raka sudah tak ada lagi. Alasan lain, Ara juga tidak memiliki anak dari Raka.
Nesa yang sempat tertarik dengan penyampaian Ara kembali melanjutkan makan. Teringat kembali dalam benaknya perkataan Raka saat dia masih hidup. Raka mengatakan kepadanya untuk menerima dan menghargai Ara di rumah ini, juga menjaga Ara meski dia tidak ada. Mungkin permintaan Raka kepadanya sudah pertanda, kalau adiknya itu akan pergi selamanya.
Hati Nesa kembali pilu mengingat permintaan adik bungsunya itu. Dia tahu Raka sangat mencintai dan menjaga Ara. Hanya Ara wanita satu satunya yang mampu membuat almarhum adiknya itu merasakan cinta dan kebahagiaan dalam hidup.
"Apa yang di katakan Ara memang benar Rafa!" ucap Maya."Ara memang sudah tidak berhak lagi tinggal di ___!"
"Anak anak sedang bersama kita." potong Rafa segera sebelum mamanya mengungkit kematian Raka di depan Cio dan Cia.
"Keputusan ku sudah finally, Ara akan tetap tinggal di sini selamanya. Kalian jangan membahas hal ini lagi." titahnya tegas, menatap Maya Nesa dan Ara secara bergantian.
Lalu dia melihat ke Sam dan barisan pelayan.
"Layani Ara dengan baik di rumah ini seperti biasa. Tidak akan ada yang berubah!" titahnya lagi dengan tegas.
Sam dan para pelayan yang ada di ruang itu tersenyum. Hati lega karena sempat cemas status Ara di rumah ini setelah kematian Raka. Apalagi Maya tidak menyukai Ara. Sementara mereka menyukai Ara dan tidak ingin Ara pergi dari rumah ini. Tanpa di minta pun, mereka akan tetap melayani dan menghargai Ara dengan baik sama seperti Raka masih hidup.
Maya tidak bicara lagi setelah mendengar keputusan itu, meski hatinya tidak menerima.
"Dan kau, jangan membahas ini lagi. Anak anak sangat menyukai mu. Mereka akan semakin sedih dan kehilangan jika kau ikut pergi." kata Rafa menatap Ara.
Ara terdiam dan menunduk tak berani membalas tatapan itu.
"Memangnya Ante mau ke mana?" sela Cio yang mengerti sedikit arti kata pergi.
"Ante jangan pergi. Tunggu paman Raka kembali dulu, baru kita pergi sama sama. Aku sama kak Cio juga ikut." sambung CIA.
Cio mengangguk mendengar perkataan adiknya."Iya, Ante jangan pergi sama seperti paman Raka. Kami nggak mau Ante ke mana mana. Jangan tinggalkan kami. Kami sayang Ante. Kami janji gak akan nakal lagi." sambung Cio dengan wajah mendung.
__ADS_1
Ara mendesah sedih.
"Tidak ke mana mana sayang. Ante mu hanya ingin pergi ke kampung halamannya. Karena sudah lama Ante mu tidak mengunjungi rumah orang tuanya." jawab Rafa sambil tersenyum. "Ante akan tinggal di sini selamanya bersama kita."
"Janji ya gak akan pergi seperti paman Raka?" ucap Cio.
Ara terdiam beberapa saat. Bingung mau menjawab apa. Karena dia tahu Maya tidak menyukainya tinggal di rumah ini.
Sebuah sentuhan pada tangannya mengagetkannya. Dia melihat tangan Rafa menyentuh sala satu tangannya yang berada di atas pahanya. Ara seketika mengangkat wajahnya dan melihat Rafa yang sedang menatapnya. Berbicara lewat tatapan mata meminta dirinya untuk menjawab pertanyaan Cio dengan berjanji tidak akan pergi dari rumah dan meninggalkan si kembar.
Ara melihat pada Maya dan Nesa yang sedang menatapnya. Maya yang sudah dapat di pastikan tidak setuju dia di rumah ini. Nesa yang entah apa suka atau tidak.
Ara melihat pada si kembar, Dia tersenyum."Ante janji akan selalu bersama kalian, gak akan ninggalin kalian." jawabnya kemudian. Tidak berjanji mengatakan akan tinggal di sini. Cukup berjanji akan selalu bersama si kembar. Bersama si kembar tidak harus tinggal di rumah ini.
Si kembar tampak senang mendengar janjinya. Lalu melanjutkan makan.
Ara menelan ludah. Dia juga terlalu takut untuk membantah perintah Rafa.
Rafa melihat pada mereka semua, seraya menarik tangannya dari menyentuh tangan Ara,"Lanjut kan makan kalian."
Semuanya kembali melanjutkan makan.
Beberapa saat kemudian.
"Kakak ipar. Bolehkah aku mulai masuk kuliah lagi?" tanya Ara ragu ragu sembari melihat pada Rafa sekilas.
Rafa tak menjawab, hanya melihat sesaat lalu kembali meneruskan makannya.
"Kalau kau ingin memulai aktivitasmu jaga pergaulan mu di luar sana. Ingat statusmu yang sekarang, jangan sampai melakukan hal-hal yang akan membuat malu keluarga
ini." kata Maya memandangnya.
Ara menelan ludahnya."Iya Ma, aku mengerti." jawabnya pelan.
Wisnu mendekat setelah mendapat isyarat dari Rafa. Dia meletakkan dua paper bag di depan tuannya, lalu mengeluarkan isinya.
"Ini vitamin untuk tubuh. Minumlah rutin 2x sehari, pagi dan malam." ujar Rafa memperlihatkan vitamin dalam kemasan botol kepada mereka. Vitamin ini adalah produk barunya yang di luncurkan beberapa hari lalu.
Wisnu segera menyerahkan pada Maya, Nesa dan Ara sesuai instruksi tuannya, karena ketiga vitamin itu beda jenisnya sesuai kondisi tubuh masing-masing. Dan satu kantung paper bag vitamin untuk si kembar.
"Ayo Cia Cio, kalian harus segera bersiap
ke sekolah." ujar Nesa pada anak anaknya.
"Ma, hari ini kami ke sekolah sama ante Ara ya? Kami ingin di antar sama ante Ara. Udah lama kami nggak di antar ante ke sekolah." kata Cia sambil menoleh pada Ara.
"Boleh ya kak aku ngantar mereka?" pinta Ara menatap Nesa. Dia berharap Nesa mengizinkan. Karena dia juga sangat ingin mengantar si kembar ke sekolah seperti dulu.
Nesa menghela nafas.
"Baiklah, nanti pulang mama jemput kalian."
"Daddy akan mengantar kalian, sekalian Daddy mau ke kantor." kata Rafa sambil bangkit dari duduknya, dia pamit pada mamanya lalu segera melangkah ke depan di ikuti Wisnu.
"Ayo ante." ujar si kembar menarik tangan Ara.
"Tunggu sebentar, Ante ambil tas dulu." kata Ara sambil meraih tas ranselnya, lalu pamit pada mama mertuanya dan Nesa.
Mereka segera menyusul Rafa dan Wisnu yang sudah berada di depan.
"Paman Wisnu, aku mau duduk di depan." kata Cio.
"Baiklah tuan kecil." Wisnu segera membuka pintu depan mobil. Cio segera masuk, pintu di tutup kembali.
Wisnu membuka pintu untuk Ara di bangku ke dua."Silahkan nona muda." mempersilahkan Ara masuk.
Ara Melihat ke dalam. Sudah ada Rafa sibuk yang tampak serius menatap layar gadget di tangannya.
Cia segera masuk dan duduk di pangkuan Rafa tanpa peduli dengan kesibukan Daddy nya yang tengah bekerja.
"Ayo Ante." ajak Cia dari dalam mobil. Ara mengangguk dan segera masuk. Pintu di tutup kembali oleh Wisnu.
Untuk pertama kalinya Ara naik semobil dengan Rafa. Naik mobil mewah kantor kakak iparnya ini. Wisnu masuk dan segera menjalankan kendaraan mewah itu perlahan.
Dalam perjalanan.
Cia beralih ke pangkuan Ara. Ara meletakkan tasnya di kursi tengah mobil.
Cia duduk menghadap pada Ara dan menyentuh kacamata mata Ara, lalu melepasnya.
"Kenapa Ante masih pakai kacamatanya?"
"Ante suka." jawab Ara tersenyum.
"Tapi ini jelek."
"Bagus kok, karena di kasih sama Cio dan Cia." kata Ara sambil menyentuh gemes hidung bocah itu.
"Benar Ante suka?"
Ara mengangguk tersenyum.
"Ante udah cantik lagi sekarang, ante udah nggak jelek kayak Bety lafea lagi."
Ara tersenyum.
"Cia juga sangat cantik sayang." mencium pipi gadis kecil itu.
"Tapi ante lebih cantik dari Cia, benar kan Daddy?" kata Cia dengan wajah masam sambil menoleh pada Rafa. Meminta pendapat Rafa.
__ADS_1
Rafa yang sejak tadi sibuk dengan benda pintarnya membuang nafas panjang. Dia ikut mendengarkan percakapan Ara dan Cia. Rafa menoleh pada mereka berdua.
"Daddy, ante Ara cantik kan?" tanya Cia kembali dengan polosnya. Rafa memperhatikan mereka bergantian.
"Cia juga sangat manis sayang, Cia cantiknya unik dan ante Ara cantiknya alami." katanya menatap wajah cantik Ara yang tertunduk diam memegang pinggang Cia. Wajah itu kembali ke aslinya, cantik dan manis alami, rambut keriting yang sudah lurus kembali.Tanpa poni tebal, alis tebal dan kacamata tebal.
"Daddy tahu nggak? Kata teman teman aku di sekolah, ante Ara cantik banget sebelum jadi betty la fea. Mereka muji ante, bahkan ibu guru Cia juga! Cia mau cantik seperti ante Ara, gimana caranya?" kata bocah itu kembali dengan polosnya, sambil meraba raba kedua pipinya.
Rafa tersenyum tipis mendengar ucapannya.
"Nanti kalau Cia udah besar, Cia akan cantik seperti ante Ara." ucapnya menyentuh kepala bocah itu.
"Berarti Cia belum cantik sekarang?" Cia cemberut pada Rafa.
Ara tersenyum, dia memegang wajah ngambek gadis kecil ini.
"Cia sayang, Cia cantik kok. Cantik banget malah. Maksud Daddy, kalau Cia udah gede, Cia akan semakin cantik."
"Beneran? Ante gak bohong kan?"
"Ya nggak dong sayang, benaran, sumpah! Cia cantik banget. Tante nggak pernah bohong kan sama Cia dan kak Cio?"
Gadis kecil itu mengangguk senang. Ara mengecup kedua pipinya gemas.
"Cia juga pintar. Coba deh Cia lihat kacamata ante ada berapa kotak lensanya?" tanya Ara mengalihkan pembicaraan sekaligus memberi pertanyaan menguji perhitungan gadis kecil itu.
"Dua ante." jawab Cio dari depan, dia berbalik ke belakang.
"Pintar, ayo Cia jangan kalah sama kak Cio." Ara memberi semangat pada Cia.
"Terus di tambah sama mata ante jadi berapa? hayoo...." Ara menggerakkan bola matanya pada mereka berdua. Keduanya sibuk menghitung
"4 Ante " jawab Cia cepat
"Cantiknya ante pintar banget." Ara mencium hidung Cia gemas.
"Pertanyaannya ante rubah ya? dengar kan baik baik. Setelah angka 357 berapa?"
Kedua anak itu komat kamit sambil menghitung di jari mereka.
"Hayoo, siapa yang bisa ?"
"345678.....468 ante " jawab Cia cepat.
"Wah, Cia benar lagi. Cia hebat ! Ayo Cio jangan kalah sama adik, dengar lagi ya pertanyaannya? Huruf abjad ada berapa?"
"26 ante." jawab Cio lantang.
"Benar sekali."
"Salah, yang benar tuh 2 ante." sela Cia.
"Kok 2?" sahut Rafa yang dari tadi hanya diam mendengar.
"Iya Daddy, huruf abjad nya ada dua. Huruf abjad besar dan huruf abjad kecil." jawab Cia menatapi mereka satu persatu.
Cio tertawa. Rafa tertawa kecil dalam hati. Di depan Wisnu juga senyum senyum mendengar jawaban polos dan lucunya gadis kecil ini.
Cia cemberut karena di tertawai oleh mereka.
"Cia juga benar kok, tapi itu di lihat dari kapital nya sayang. Kalau kapital merupakan huruf besar dan Non kapital adalah huruf kecil. Nanti ante ajarin ya? Cia jangan cemberut lagi, nanti cantiknya hilang loh." Ara mencium kedua pipi Cia.
"Karena Cio dan Cia bisa jawab pertanyaan ante dengan benar, maka nanti malam ante bacain 2 dongeng cerita."
Kedua bocah itu langsung melonjak girang
"Benar Ante?"
Ara mengangguk tersenyum.
"Makasih Ante." Cia mencium kedua pipi Ara bergantian. Cio juga tak mau kalah, dia pindah kebelakang naik di pangkuan Ara dan ikut mencium Ara, mereka melonjak kegirangan.
Rafa terkejut melihat tubuh kurus Ara di duduki kedua ponakannya. Melonjak lonjak pada Paha dan perut Ara yang kecil dan kurus.
Rafa segera meraih tubuh kedua bocah itu bergantian. Cia dipangkunya, Cio duduk di antara mereka.
"Daddy, Cia mau duduk di pangkuan ante." ucap Cia cemberut.
"Duduk sama Daddy saja, Cio balik lagi ke depan, ayo...." perintah Rafa.
Cio menurut, dan segera pindah kembali ke depan meski tak suka dengan perintah itu.
"Kak, biarkan saja, nggak apa-apa mereka dipangkuan ku." ujar Ara menoleh pada Rafa.
"Wisnu pakaikan sabuk pengamannya Cio." perintah Rafa pada Wisnu tanpa perduli ucapan Ara.
"Baik tuan." Wisnu menepikan mobil, lalu melaksanakan apa yang di perintahkan tuannya, kemudian menjalankan mobil kembali.
Ara menarik nafasnya, tidak mengerti dengan larangan kakak iparnya ini.
Cia memilih diam di pangkuan Rafa, tapi skali kali jari jari tangannya itu nakal menyentuh dan menekan nekan lembut pipi Rafa. Memencet hidung Rafa, mengecup mata, pipi dan bibir Rafa. Sementara Rafa hanya diam membiarkannya.
Ara tersenyum melihat tingkah lucu keponakannya ini. Rafa menoleh tiba tiba ke arahnya karena merasa di perhatikan. Ara kaget, kelabakan. Buru buru memalingkan wajahnya ke depan sambil mengulum bibirnya.
Tak berapa lama, mobil memasuki halaman sala satu sekolah taman kanak-kanak popular dan bergengsi di kota itu. Wisnu turun dan membukakan pintu mobil. Anak anak segera menyalami Rafa dan Ara.
"Belajar yang baik ya, jangan nakal, dengarkan apa kata ibu guru." kata Ara memperbaiki pakaian mereka yang berantakan. Lalu mengecup kedua pipi bocah itu bergantian. Anak anak segera turun dan langsung di sambut oleh wali kelas mereka.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa dukung ya,, masukan ke favorit, beri kopi, rate bintang lima dan vote. Terimakasih π