Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 202


__ADS_3

Rafa cepat bangun dan menarik tubuh Tania keluar dari buth up dan mendorongnya kuat hingga jatuh terjungkal ke lantai.


Tania menjerit keras merasakan tubuhnya sakit membentur lantai. Rafa segera memakai bathrobe. Lalu mengambil ponsel menelepon Manager Resto dan juga Wisnu. Dia menatap tajam penuh kemarahan pada Tania.


"Sedang apa kau di sini? Kenapa kau bisa berada di kamarku? Hah." berteriak keras. Dia melempar kursi makan ke arah Tania.


Tania menjerit keras dan cepat menghindar dari lemparan benda itu. Terlambat sedikit saja dia bergerak, benda itu pasti mengenai dirinya. Dia tidak menyangka kalau Rafa bisa se kasar itu terhadap perempuan. Tujuannya datang menyelinap ke kamar Rafa ingin memberikan sentuhan kenikmatan malah gagal total. Ternyata Rafa tidak terpengaruh dengan tubuh indah seksinya. Malah menolak dan memperlakukannya kejam dan bengis.


Dia sengaja mengikuti Rafa secara diam-diam ke bali. Berharap Rafa butuh sentuhan wanita setelah lelah dengan pekerjaannya. Dan dia dengan sukarela akan memberi tubuhnya untuk menyenangkan pria tampan pujaan hatinya ini.


Tidak butuh waktu lama Wisnu dan Manager hotel tiba. Mereka sangat terkejut melihat keadaan di dalam kamar. Terutama melihat Tania yang hanya mengenakan bikini seksi.


"Tu tuan Ravendro, Ma_maafkan aku." ucap Tania terbata bata menggigil ketakutan dengan wajah pias.


"Beraninya kau menyentuh tubuhku dengan tangan kotor mu itu." sentak Rafa Kembali dengan keras menatap menyorot tajam. Rahangnya mengeras menahan amarah.


"Kau..." menunjuk kuat Manager restoran.


"Kenapa dia bisa berada di kamarku? Hah?" menatap tajam pada manager hotel yang juga berdiri ketakutan dengan wajah pucat.


Manager jatuh terduduk di lantai dengan tubuh gemetaran kedua tangan bersidekap di dada."Sa-saya benar benar tidak tahu tuan. Saya sudah memeriksa kamar ini sebelum ada menempatinya, tidak ada siapa siapa di sini." terbata bata.


"Lalu kenapa tikus ini bisa ada di kamarku, hah? Kenapa dia bisa sampai masuk di kamarku?' menunjuk kasar pada Tania yang masih tersungkur di lantai.


Tania tersentak mendengar ucapan itu. Darahnya mendidih karena di samakan dengan binatang. Tapi dia tidak berdaya.


"Tuan, saya benar benar tidak tahu." kata manager hotel kembali dengan ketakutan.


"Tuan Ravendro, dia tidak bersalah, aku yang masuk sendiri! Saat mereka mengantar makanan ke dalam, aku langsung menyelinap masuk." Tania menyahut dengan suara rendah menekan ketakutannya.


Wisnu mendekat berjongkok memegang tangan kanannya.


"Beraninya kau menyentuh tubuh tuanku yang berharga dengan tangan kotor mu itu. Dasar wanita menjijikkan." makinya menatap sinis, lalu memutar tangan Tania kuat hingga terdengar bunyi tulang patah.


Tania memekik keras merasakan kesakitan yang tiada tara. Sang manajer pun menjerit melihat apa yang di rasakan Tania, seolah-olah ikut merasakan kesakitan Tania.


"Kau ingin menggoda tuanku dengan tubuhmu yang hina dina ini? Kau ingin menyentuh tuanku dengan tubuh kotor mu ini?" ucap Wisnu kembali dengan sinis.


"Brengsek kau Wisnu." maki Tania. Dia mengangkat tangan kirinya menampar Wisnu mendengar penghinaan itu. Tapi Wisnu cepat menangkap tangannya dan di putar kuat hingga kembali terdengar tulang yang bergeser patah. Tania kembali menjerit dan memekik kesakitan.


Wisnu tersenyum menyeringai.


"Dan kau wanita rendah tidak punya harga diri, tidak punya rasa malu. Kenapa kau tidak membawa tubuh kotor mu ini ke tempat pelacuran dan memberikannya pada pria hidung belang?"


Tania mendengus kasar.


"Cih, munafik. Tuan mu itu munafik. Aku tahu dia butuh sentuhan dan kehangatan. Dia menikmati sentuhan ku tadi. Dia juga suka bermain dengan banyak perempuan di sembarang tempat. Kau pikir aku tidak melihat hal rendah yang di lakukan oleh tuanmu di toilet mall kemarin?" kata Tania sinis. Dia menatap Rafa.


"Kau melakukan hal tidak senonoh dengan seorang perempuan di tempat terbuka. Kau mengatakan tuan mu itu bersih dan berharga hah? Justru tuan mu itu manusia tidak beradab dan tidak bermoral." Tania menatap sinis pada Rafa dan Wisnu bergantian.


Plak.


Satu tamparan keras mendarat di bibir Tania. Wisnu membungkam mulut kotor yang berani merendahkan Tuannya. Tania kembali memekik. Darah mengalir di bibirnya yang pecah.


Sedangkan Rafa tertawa menyeringai mendengar ucapannya.


"Tania__Tania. Dengan melihat apa yang kulakukan di toilet kemarin, maka kau menyimpulkan diriku lelaki rendah?" berkata sinis."Lalu kau ingin menggunakan kesempatan itu untuk menggodaku dengan tubuh hina mu ini? Menyelinap masuk ke kamarku untuk menyentuh tubuhku? Dan kau pikir aku akan tertarik, tergoda dengan tubuh kotor mu itu? Cih!" umpat Rafa, lalu tertawa sinis.


"Aku memang sempat menikmati sentuhan mu tadi__kenapa? Karena saat itu aku sedang membayangkan wajah tubuh indah wanita ku, sentuhan lembutnya, kehangatan tubuhnya. Aku sedang mengkhayalkan malam panas menggairahkan yang kami lakukan semalam." katanya tersenyum bahagia membayangkan permainan indah Ara semalam.


Lalu tiba-tiba dia menatap sinis pada Tania."Tapi kau datang merusak lamunan indah ku dengan tangan dan tubuh kotor mu yang hina dina itu!" teriaknya keras seraya melempar vas bunga ke arah Tania hingga pecahan berkeping-keping dan mengenai tubuh Tania. Tania menjerit kesakitan akibat terkena pecahan vas.


"Kau ingin tahu siapa wanita yang bersamaku kemarin? Yang ku curahi banyak ciuman, ku peluk dengan cinta dan kasih sayang? Kau ingin mengetahuinya?" Rafa menatap Tania tajam. Dia mendekatkan mulutnya di depan wajah Tania seraya menjambak rambut wanita itu kasar."Wanita itu adalah Istriku__istriku tercinta!" menatap tajam.


Tania terbelalak.


"Wanita yang telah kunikahi tiga bulan yang lalu secara sah dalam pandangan hukum dan agama! Wanita sangat berharga dalam hidupku, melebihi apapun yang ku miliki di dunia ini. Wanita yang ku cintai melebihi diriku sendiri. Wanita yang ku jaga dengan sepenuh hati, segenap jiwa dan ragaku melebihi nyawaku sendiri! Hanya istriku yang berhak menyentuh tubuhku!" katanya menatap tajam menyeringai.


"Bukan wanita j***** seperti dirimu." sambung Rafa tersenyum sinis.


Tania kembali terbelalak mendengar kata Istri."Apa? Tidak mungkin." batin Tania tidak percaya dengan ucapan Rafa yang mengatakan dia telah menikah dan wanita itu adalah istrinya.


Tania menatapnya sinis.


"Aku tidak percaya, aku tahu kau sedang mengarang cerita untuk menutupi kebusukan dirimu. Aku tidak mudah kau bohongi Rafa. Kau lelaki munafik dan sama rendahnya dengan rekan rekan bisnis mu." kata Tania dengan bibir bergetar menekan ketakutan.


Hahaha. Rafa kembali tertawa mengejeknya. Lalu mengambil ponsel miliknya. Dia membuka galeri foto pernikahannya. Menutup wajah Ara dengan jari manisnya agar tidak di lihat oleh Tania.


"Kau lihat foto ini?" menatap sinis."Buka matamu lebar lebar__dan lihat juga cincin ini!" kata Rafa keras.


Tania kembali terbelalak melihat foto Rafa saat sedang ijab kabul dengan seorang wanita. Rafa mencium kening wanita itu. Terus wanita itu mencium tangannya. Serta buku nikah mereka yang sudah berjalan tiga bulan. Lalu matanya di arahkan pada cincin di jari manis Rafa bertuliskan RA. Tania melongo melihat bukti bukti pernikahan itu.


"Jadi benar Rafa sudah menikah? Tapi kenapa pernikahan itu tidak terhembus di publik? Dan siapa wanita yang telah menjadi istrinya itu? Wanita itu sepertinya di tutupi dari publik." batinnya.


"Kau pasti bertanya tanya siapa istriku?" ujar Rafa dapat membaca isi kepala Tania.


"Istriku adalah wanita lembut dan sederhana. Wanita yang hatinya hanya di penuhi oleh banyak kebaikan, cinta dan kasih sayang! Dia wanita yang sangat cantik dan anggun. Aku begitu tergila-gila padanya, mengaguminya di setiap detak jantung ku. Kau tahu Tania __Saking cantiknya istriku, aku tidak mau mengekspos dirinya pada publik. Karena aku tidak ingin wajah cantik serta tubuh indahnya di nikmati oleh mata para lelaki hidung belang! Karena tubuhnya sangat berharga bagiku, Hanya aku yang boleh menatap dan menikmati keindahan tubuhnya!" kata Rafa tersenyum manis mengkhayalkan wajah cantik dan tubuh indah Ara.


Lalu dia menatap tajam menyeringai pada Tania."Jadi mulai sekarang, jangan pernah muncul di hadapan ku, memperlihatkan wajah buruk mu, serta tubuh hinamu yang menjijikkan itu! Kali ini kau masih ku maafkan. Jangan pernah mengusik kehidupanku dan juga istriku, kau ingat itu baik baik Tania, kalau tidak, aku akan menghancurkan hidupmu." mengancam dengan jari menunjuk ke arah mata Tania.


Lalu dia menoleh pada manager hotel.


"Dan kau__buang tubuh wanita hina ini ke jalanan dengan keadaannya seperti ini. Cepat seret dia dari hadapan ku." sentak Rafa dengan tatapan tajam.


"Dan ingat baik baik, jangan ada lagi wanita rendah seperti ini datang mengganggu kenyamanan tamu dan pengunjung di restoran ku, kau dengar itu?" teriaknya keras.


"Baik tuan. Saya pastikan hal itu tidak akan terjadi lagi. Saya akan membuang tubuh wanita ini ke jalanan seperti perintah Anda." kata manager ketakutan. Dia segera berdiri dan mendekat pada Tania. Lalu menyeret tubuh Tania kasar yang hanya menggunakan lingerie. Dengan di bantu oleh dua penjaga keamanan restoran, mereka menyeret tubuh Tania keluar.


Tania menjerit jerit keras sambil memaki maki Rafa dan Wisnu. Dia tidak berdaya melawan karena tangan dan kakinya yang patah dan sakit.


"Lepaskan aku, bajingan lepaskan aku." berteriak teriak keras.


"Awas kalian. Aku tidak akan terima penghinaan ini__aku akan membalas mu Rafaaaaa. Bajingan kaliaaaan." teriaknya kasar sambil menjerit-jerit.


Penjaga keamanan segera membawa tubuhnya ke bawah, lalu melemparkannya ke jalanan.


Di kamar pribadinya, Rafa mengeram kasar. Dia melangkah menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya dan menggosok gosok kuat bagian tubuhnya yang di sentuh Tania tadi. Dia melakukan berulang ulang hingga kulit tubuhnya memerah. Dia merasa sangat bersalah pada Ara karena tidak dapat menjaga tubuhnya dengan baik dari sentuhan wanita lain. Rafa semakin cepat dan kuat menggosok dengan emosi yang meluap. Hingga kulit tubuhnya terluka. Darah mengalir di antara lelehan air yang jatuh ke bawah.


Terdengar ketukan dari luar.


"Tuan, Nona muda menelpon." terdengar suara Wisnu. Gerakan tangan Rafa terhenti, dadanya bergemuruh kuat dengan nafas memburu cepat. Wisnu segera masuk dan menyerahkan ponsel ke tangan tuannya.


Dia terkejut melihat bahu, dada dan perut tuannya terluka dan berdarah.


"Tuan ...apa yang anda lakukan."


"Maafkan saya, karena tidak dapat menjaga anda dengan baik." ucap Wisnu lirih merasa bersalah.


"Keluar lah, aku ingin bicara dengan istriku." kata Rafa pelan.


Wisnu menunduk, lalu segera keluar dari kamar mandi. Rafa segera mengangkat telepon setelah menenangkan hati dan pikirannya.


πŸ“ž"Assalamualaikum__" terdengar suara lembut istrinya dari seberang, membuat hati dan pikirannya tenang.


πŸ“ž"Waalaikumsalam sayang." jawabnya segera.


πŸ“ž"Maaf menghubungi kakak, Apa kakak sedang sibuk saat ini?" tanya Ara dari seberang.


πŸ“ž"Tidak sayang, aku sedang berada di kamar mandi dan sedang memikirkan mu." katanya tersenyum.


πŸ“ž"Ooh, kakak sedang mandi?"


πŸ“ž"Iya sayang."


πŸ“ž"Kak__!"


πŸ“ž"Hmmm...


πŸ“ž"Kakak baik baik saja? Suaranya kok lemas gak ada tenaganya. Apa kakak sakit?"


Rafa menghela nafas.Ternyata Ara dapat merasakan keadaan hatinya yang tidak baik.


πŸ“ž"Tidak sayang, aku baik baik saja. Aku hanya capek dan lelah karena baru selesai kerja. Di tambah lagi hatiku sesak karena sangat merindukanmu." katanya kembali sedikit menggoda agar Ara tidak cemas dengan nya.


πŸ“ž"Rindu? Kita kan baru berpisah beberapa jam lalu."


"Jangankan beberapa jam, sedetik pun aku tidak tahan berpisah dengan mu. Aku sangat merindukanmu."


"Udah ah, jangan menggodaku terus! Sebaiknya lanjutkan mandinya. Habis itu makan dan istirahat saja. Aku tidak ingin mengganggu lagi, Assalamualaikum."


πŸ“ž"Sayang, aku baik baik saja. Aku malah senang kau menghubungi ku. Katakan....ada apa kau meneleponku?"


Ara menghela nafas.


πŸ“ž"A-aku.....!" ragu ragu.


πŸ“ž"Ada apa sayang? Katakan saja!"


πŸ“ž"Aku ingin meminta izin pada kakak. Selepas kerja nanti, temanku Sonya yang duduk di depanku ingin meminta tolong untuk menemaninya."


πŸ“ž"Kemana?" tanya Rafa dengan wajah mengernyit. Dia segera melihat istrinya di layar CCTV. Wajah istrinya terlihat ragu ragu.


πŸ“ž"Menjenguk kakeknya yang sedang sakit. Aku sudah menolak tapi dia memaksaku, aku gak enak menolak. Boleh ya kak aku pergi dengannya?"


πŸ“ž"Sayang, aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk lagi padamu, sementara aku tidak berada di sana, tidak di dekatmu."

__ADS_1


πŸ“ž"Baiklah, aku ngerti. Aku tidak akan memaksa jika kakak tidak memberi izin. Sudah ya, kakak jaga kesehatan di sana, jangan telat makan, ***.....!"


πŸ“ž"Sayang ...." potong Rafa segera melihat ekspresi kecewa di wajah Ara.


πŸ“ž"Hmmm...."


πŸ“ž"Kamu gak kecewa kan?"


Ara membuang nafas panjang , dan itu terdengar di telinga Rafa .


πŸ“ž"Tidak. Aku ngerti kok kakak melarang ku! Tapi aku merasa gak enak pada Sonya. Sejak tadi dia memintaku terus. Meminta tolong sambil bermohon, dan katanya gak lama, hanya sejam saja. Aku merasa gak enak padanya."


πŸ“ž"Ya sudah, kalau begitu pergilah. Tapi jangan lama ya, harus cepat pulang dan jangan mampir kemana mana lagi. Hati hati perginya."


πŸ“ž"Iya kak, terimakasih. Kakak pulang jam berapa?" tersenyum senang, dan itu membuat Rafa ikut senang.


πŸ“ž"Apa kamu merindukan ku?" Rafa kembali menggoda.


Ara terdiam.


πŸ“ž"Sayang, kau mendengar ku?"


πŸ“ž"Iya, aku dengar."


πŸ“ž"Kalau kau tidak merindukan ku, aku tidak akan pulang. Aku akan tinggal di sini sampai kau merasa rindu padaku."


Ara cemberut.


πŸ“ž"Iya, aku merindukan kakak, cepat lah pulang." katanya kemudian dengan malu malu.


Rafa tersenyum melihat Ekspresi wajahnya.


"Baiklah sayang, aku juga sangat merindukan mu. Aku akan pulang jam 10 malam. Kamu baik baik di sana."


πŸ“ž"Iya_ kakak juga baik baik di sana."


πŸ“ž"Aku mencintaimu sayang!"


Ara terdiam, mau menjawab apa.


πŸ“ž"Sayang? Kenapa nggak di jawab?"


πŸ“ž"Aku sayang kakak, Assalamualaikum." jawab Ara lalu buru-buru mematikan panggilan.


Rafa tersenyum bahagia meski hanya mendapat balas seperti itu. Setidaknya Ara menyayanginya.


πŸ“ž"Waalaikumsalam sayang." jawabnya meski sambungan telepon telah terputus.


"Selangkah lagi, aku ingin mendengar kamu mengatakan Aku mencintaimu." gumam Rafa tersenyum bahagia.


"Aku tidak sabar mendengar hal itu dari mulutmu sayang, Cepatlah buka hatimu untukku." tersenyum kembali sehingga melupakan kemarahannya pada Tania.


.


.


"Nona Ara, kalau tak sibuk datang lah keruangan ku." pesan masuk dari buk Moly.


Ara bangkit dari duduknya.


"Kemana Ra?" tegur Sonya


"Ruangan bu Moly, beliau menyuruhku


ke sana."


"Ku kira bu Moly tidak berada di ruangan nya. Sejak apel pagi aku tidak melihat dia dan presdir." kata Sonya.


"Bu Moly sedang ada pekerjaan penting diluar tadi pagi. Dia baru balik ke kantor sewaktu istirahat tadi. Presdir sedang berada di bali mengunjungi cabang perusahaanya di sana dan juga meluncurkan produk barunya." kata Ara.


"Kok kamu tahu?" Sonya mengernyit.


"Pak frans yang ngomong tadi, waktu aku mengantar salinan laporan keuangan."


"Oohh... " bibir Sonya membulat.


Ara tersenyum dan segera beranjak pergi ke ruang kerja Moly. Dia mengetuk pintu sejenak, lalu masuk.


"Halo adik ipar yang cantik, kamu semakin cantik dan manis saja." sapa Rizal.


Ara sedikit terkejut melihat keberadaannya.


"Dokter di sini?"


"Iya sayang, kau melihatnya bukan?"


"Yahhh, dan juga kamu!" jawab Rizal masih dengan senyuman khasnya.


"Silahkan duduk Ra...." kata Moly.


"Iya bu, makasih."


"Ayo sini duduk di dekat ku." Rizal menepuk tempat kosong di dekatnya."Aku ingin memeriksa denyut nadimu."


"Untuk apa?"


"Kata Rafa kau sedang tidak sehat. Aku di minta ke sini untuk memeriksa kesehatan mu!" jelas Rizal.


Ara segera mengambil tempat di dekat Rizal.


Rizal menekan denyut nadi tangannya, normal. Memeriksa kedua matanya, sehat.


"Sekarang buka mulutmu! Aaaaa....!"


Ara membuka mulutnya. Rizal memperhatikan ruang dalam mulutnya di bantu senter kesehatan.


"Ada masalah dok?" tanya Ara


"Iya, pada bibir mu!" kata Rizal


Dahi Ara mengernyit.


"Ada apa dengan bibir ku?"


"Bibirmu tebal dan bengkak! Apa Rafa selalu mencium mu dengan kasar?"


Ara terkejut, wajahnya merah merona, dia jadi salah tingkah. Moly mencubit pinggang Rizal melihat ekspresi Ara.


"Aku rasa lebih ke ciuman ganas ya....!"


Ara masih terdiam tak menjawab, dia menunduk semakin malu.


"Kapan dia terakhir mencium mu?" tanya Rizal kembali.


"U -untuk apa dokter menanyakan itu?" tanya Ara bingung dan malu.


"Sudah, jawab saja. Ini termasuk dari bagian pemeriksaan ku! Kau tau kan bagaimana watak suamimu itu? Apa kau mau dia memarahi aku karena tidak melakukan pemeriksaan dengan baik?"


Mau tidak mau Ara menjawab pertanyaan Rizal."Tadi pagi Dok saat perjalanan menuju ke kantor." jawab Ara ragu ragu dan malu.


"Durasinya berapa lama?" tanya Rizal sambil mencatat sesuatu.


"Aku nggak tahu dok."


"Kok gak tahu? Kau bisa memperkirakan lamanya kalian Ciuman."


"Kakak ipar berhenti mencium ku saat aku kehabisan nafas, jadi aku tidak dapat memperkirakan lamanya." jawab Ara dengan polosnya.


Moly dan Rizal melongo saling berpandangan.


"Itu suamimu mencium mu atau ingin membunuhmu? Kau bisa mati kehabisan oksigen. Kurangajar suamimu itu." maki Rizal.


Moly meliriknya sinis.


"Cihh... bukannya kau juga begitu? Kalian sama saja." cibir Moly ketus.


Rizal terkekeh.


"Oke, pertanyaan terakhir, maaf ya ini sangat pribadi. Terakhir kalian berhubungan intim? Soalnya aku melihat tubuh mu lemah dan sedikit pucat."


Ara terhenyak, gugup.


"Tidak apa apa Ra, jawab saja." kata Rizal melihat keraguannya.


"A_aku dan kakak ipar ....." Ara geleng geleng kepala.


Rizal dan Moly melongo. Mengerti arti dari gerakan kepala geleng itu.


"Kalian belum melakukannya?" Rizal menatapnya sambil geleng-geleng kepala.


Ara mengangguk lemah.


Rizal dan Moly terkejut.


"Ya ampun Ra? Kalian nikah sudah tiga bulan tapi belum melakukan hal itu? Terus selama ini kalian ngapain? Hanya ciuman dan berpelukan?" tanya Moly.

__ADS_1


Ara mengangguk.


Moly dan Rizal kembali berpandangan.


"Kenapa? Apa alasannya? Apa Rafa tidak mau menyentuhmu?" tanya Rizal.


"Bukan, tapi aku yang belum siap."


"Kenapa kamu gak siap? Rafa juga tidak maksa kamu?"


"Kakak ipar mengerti diriku. Dia menunggu sampai aku siap." jawab Ara perlahan.


"Terus sampai kapan Ra suamimu akan menunggu? Apa dia tidak menuntut hal itu darimu?" Moly bertanya lagi.


"Selalu, tapi bagaimana lagi, aku belum siap." suara Ara serak.


Moly memegang kedua tangannya.


"Adikku sayang. Aku sudah bilang padamu kan, anggap aku kakakmu. Jika kau butuh teman untuk berkeluh kesah, kau bisa mempercayai aku."


"Apa kau tidak kasihan pada suamimu? Kau tahu dia akan sangat tersiksa bila hasratnya tidak tersalurkan. Laki laki itu hanya menatap wanita yang di cintainya saja, langsung tegang, apalagi sampai berpelukan dan berciuman! Pasti Rafa sangat butuh dan tersiksa. Apa kau tidak merasa bersalah dan berdosa padanya? Kau menyiksa batinnya sayang." kata Moly memberi pengertian.


"Ara, kalian sebagai perempuan mungkin bisa tahan, tapi kami para lelaki gak akan mampu. Kita bisa gila Ra jika terus terusan memendam hasrat birahi yang tidak tersalurkan." sambung Rizal menjelaskan panjang lebar dari segi dirinya sebagai laki laki.


Ara yang menunduk, isak kecil keluar dari mulutnya. Moly dan Rizal terkejut.


"Ara Sayang, maafkan kami ya, jika menyakiti hatimu! Kami begitu terkejut mendengar pengakuan mu. Tolong jangan sedih sayang. Rafa akan memarahi kami habis habisan jika dia tahu kami membuat mu menangis! Suamimu itu paling tidak tahan melihatmu mengeluarkan air mata!"


"Tidak kak, kalian tidak menyakiti aku. Ucapan kalian memang benar, aku juga merasakan hal itu. Rasa bersalah dan berdosa pada kak Rafa. Tapi bagaimana lagi? Aku tidak mau melakukan hal itu! Aku belum siap melakukan hal itu bersama kakak ipar." kata Ara sendu.


"Kenapa sayang? Kenapa kau tidak bisa melakukannya? Apa ada masalah dengan dirimu? Atau apa karena Raka? Kau belum sanggup melupakan kenangan indah yang kau lakukan bersama Raka? Kenangan indah saat kau berbulan madu dengan Raka? melakukan hubungan pribadi dengan Raka? Apa iya karena itu? Kau ingin milikmu hanya menjadi milik Raka selamanya? Cukup Raka saja yang menyentuhnya, apa begitu ?" tanya Moly ingin tahu.


Ara menggelengkan kepala.


"Bukan__!"


"Lalu apa sayang?" desak Moly.


"Aku tidak bisa mengatakannya. Cukup aku dan kak Raka saja yang tahu hal itu." jawab Ara di antara kesedihannya.


Terdengar ponsel Moly bergetar. Sebuah pesan masuk. Moly segera membaca.


"Tidak usah bertanya lagi, jangan memaksanya. Aku tidak tahan melihat dia menangis." pesan masuk dari Rafa.


Moly dan Rizal saling berpandangan membaca pesan itu.


"Baiklah Ra, kami tidak akan bertanya lagi."


Moly memegang tangannya sambil tersenyum.


"Sudah, jangan menangis lagi. Ayo hapus air matamu, nanti cantikmu hilang sayang." Rizal ikut menenangkan sambil me lap air mata Ara.


Ara segera menyapu air matanya. Secara tidak sengaja dia melihat sebuah undangan pernikahan. Dia meraih kertas itu, dan membacanya.


Rizal pura pura sibuk dengan ponselnya.


Moly juga sibuk dengan ponselnya.


"Apa ini undangan pernikahan kakak?" tanyanya seraya memperlihatkan undangan pada Moly.


"Iya Ra." Moly pura pura tersenyum.


"Jadi kakak akan menikah?" tanya Ara kembali agak terkejut.


"Tadinya Ra, tapi batal,"


"Batal kenapa?"


"Aku takut pada calon suamiku."


"Apa calon suami kakak jahat?"


"Tidak Ra, dia orang baik kok dan sayang kepadaku. Aku hanya menakutkan sesuatu!" jawab Moly.


Wajah Ara mengernyit heran mendengar alasan Moly.


"Menakutkan apa? Menikah itu indah. Apalagi menikah dengan orang yang kita cintai. Juga bernilai pahala."


"Iya aku tahu. Tapi aku belum siap!" jawab Moly agak ragu.


"Oh ya Ra... Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Dan ini mengenai ketakutan ku untuk pernikahan."


"Hal apa?"


"Kamu kan pernah menikah dengan Raka pasti tahulah dengan yang namanya malam pertama! Karena kamu dan Raka telah melaluinya. Dan kalian pasti sering melakukannya."


"Terus kakak ingin menanyakan apa?" tanya Ara penasaran.


Moly melirik Rizal.


"Ssst, nanti dia dengar, aku malu."


"Dok, bolehkah anda menerima telepon di sebelah sana? Aku ingin bicara sesuatu dengan Ara, aku malu mengatakan ada dirimu! Mengertilah ini sesuatu yang pribadi antara perempuan."


"Baiklah ..." Rizal segera bangkit berdiri sedikit menjauh dari mereka, pura pura membalas pesan yang masuk.


"Kakak ingin menanyakan apa?"


"Ra, sebenarnya ini hal yang sangat memalukan bagiku, ini bersifat pribadi. Aku malu bertanya pada orang lain, termasuk mama, jadi aku ingin bertanya saja padamu karena kita sudah berjanji untuk saling terbuka."


Ara mengangguk.


Molly memegang Ara.


"Aku mohon kamu langsung menjawabnya ya ...supaya aku tidak akan terbawa malu. Dan karena pertanyaan inilah yang membuat aku ingim membatalkan pernikahan ku!"


"Baik kak, aku akan menjawab sebisa mungkin yang aku tahu." kata Ara tanpa curiga.


"Ayo mendekat lah padaku! Aku malu di dengar oleh dokter Rizal."


Ara segera mendekat kan tubuhnya pada Moly. Dia menatap Moly dengan serius.


Rizal mencuri pandang melihat pada mereka.


"Ra, kamu kan pernah menikah dengan Raka, Pasti tau dong yang namanya malam pertama. Nah aku ingin tahu, bagaimana rasanya malam pertama? Apa sakit?" bisik Moly pura pura malu dan meringis.


Ara kaget mendengarnya


"_A aku tidak tahu ..." ucapnya reflek seraya mengalihkan tatapannya dari Moly.


Rizal terkejut mendengarnya, begitu juga dengan Rafa yang melihatnya dari kamera CCTV.


"Kok tidak tahu sih? Kamu gimana sih Ra! Aku serius nanya nya! Kamu gak usah malu. Aku janji ini hanya menjadi rahasia kita dan juga tuhan!" Moly memasang wajah cemberut.


Ara terdiam dan menunduk.


"Ra..ayolah, berbagilah sedikit rahasia malam pertama kalian agar aku bisa tahu bagaimana melayani suamiku nanti di malam pertama. Karena aku dengar malam pertama itu menegangkan dan menyiksa. Benar ya Ra? "


menatap mata Ara memelas agar Ara mau menjawab pertanyaannya.


"Kalau malam pertama kamu dan Raka bagaimana? Indah nggak? Raka gak kasar kan? Terus Raka mintanya berapa kali? 1, 2, 3 atau lima ronde Ra? Gak sakit kan Ra?" bisik Moly memasang wajah takut dan meringis.


Ara mendesah sedih. Kenangan indah malam pertama dengan Raka teringat kembali.


"A_aku tidak bisa menjawab. Aku tidak tahu! Maaf__ku ke toilet dulu sebentar, permisi..." bangkit berdiri dan buru buru melangkah.


"Oh iya Ra...nanti kita bicarakan lagi." kata Moly pura pura tidak mengetahui kesedihannya.


Ara melangkah cepat ke toilet. Duduk dan mengurung diri menangis. Tangisan yang di tekan kuat agar tidak terdengar keluar. Teringat kembali pernikahannya dengan Raka, malam pertama mereka dan juga kehidupan indah rumah tangga mereka selama tujuh bulan bersama.


Moly dan Rizal mendekat pelan pelan ke toilet.


"Bos, istri mu sedang menangis! Sepertinya perkiraan mu benar." kata Rizal yang saat ini sedang berbicara di telepon dengan Rafa dengan suara pelan.


"Kau dengar tadi apa yang Ara katakan secara refleks? Dia tidak tahu mengenai malam pertamanya dengan Raka. Artinya mereka tidak melakukannya. Sepertinya selama hidup bersama, berumahtangga selama 7 bulan belum pernah melakukan hubungan intim sebagai suami isteri. Aku merasa begitu." sambung Moly kembali.


"Jika itu memang benar, lalu apa alasan mereka tidak melakukannya?" Rizal melanjutkan dengan pertanyaan.


Rafa mendesah sedih dari seberang.


"Sayang, apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku? Kenapa kau tidak jujur padaku?" gumam Rafa sedih memandangi foto Ara di ponselnya yang satu.


Dia sengaja menyuruh Rizal dan Moly untuk melakukan sandiwara pertanyaan itu pada Ara. Untuk memastikan apa yang di rasakan pada milik istrinya semalam. Hanya Rizal dan Moly yang bisa membantunya, mengingat Ara dekat dan terbuka dengan mereka berdua.


"Rizal, apa dia masih menangis?"


"Ya bos, dia menekan kuat suaranya agar tidak terdengar."


"Kalian jangan bertanya lagi saat dia keluar."


"Siap bos, kau pulang jam berapa?"


"Aku ingin sekali pulang. Aku sangat rindu padanya.Tapi masih ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan sebelum aku keluar negeri! Jika pekerjaannya cepat selesai, aku akan balik malam ini."


"Baiklah, segeralah pulang jika sudah selesai. Aku tutup teleponnya, sepertinya Ara mau keluar dari toilet." Rizal segera mematikan telepon.

__ADS_1


Rafa membuang nafas berat. Dia menatap wajah Ara pada ponselnya. Apa kecurigaannya benar? Atau mungkin karena Ara sudah lama tidak melakukan hubungan suami-istri membuat milik Ara kembali rapat? batinnya penuh tanya.


...Bersambung....


__ADS_2