Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 287


__ADS_3

Cindy menangis tersedu-sedu. Dia merasa sangat bersalah karena tidak percaya pada Dion. Cindy teringat pesan yang masuk tadi di kirimkan Dion. Dia segera membukanya. Pesan itu masuk sejam yang lalu.


"Cin...kakak kirimkan rekaman percakapan kakak dan Bela. Tadi dia menghubungi kakak. Kakak harap kau mau mendengarnya agar tidak ada kesalahpahaman di antara kita. Tolong dengarkan dan simak baik baik beberapa bagian dari percakapan kami. Dan percayalah. Ini bukan rekayasa, bukan kebohongan. Ini murni percakapan kakak dengannya. Kakak tidak membohongimu." pesan pertama Dion.


"Kakak menyayangimu." pesan kedua Dion.


"Cepat Cind buka...." kata Ines gak sabar.


Cindy segera membuka rekaman percakapan tersebut. Mereka mendengar dengan seksama dari awal dan sampai akhir percakapan Bela dan Dion.


"Dia yang benaran gila dan sinting. Udah bisa di masukkan ke rumah sakit jiwa. Ada gak sih wanita yang lebih rendah dan menjijikkan dari wanita ****** ini? Ya ampun, gatel amat ngajak mesum laki orang? kenapa gak ke tempat pelacuran aja sih? Ya tuhan, tempatkan iblis betina itu di neraka paling jahanam." umpat Ines geram.


"Hush, kok ngomongnya gitu? Gak baik mendoakan keburukan untuk orang lain. Biarkan Allah yang balas." kata Ara melototinya.


Ines hendak ngomong, tapi berhenti melihat Cindy yang tiba-tiba berdiri.


Cindy bangkit dari duduknya seraya menyapu air matanya. Tapi jatuh lagi.


Keduanya kaget.


"Kau kenapa Cind? Kamu mau kemana?"


"Aku mau pulang. Aku mau ketemu kak Dion. Aku mau minta maaf padanya. Aku benar-benar salah karena tidak mempercayainya. Aku marah marah, berteriak keras bahkan memaki dirinya. Aku benar-benar sangat berdosa padanya. Aku...!"


"Cindy___" sebuah panggilan dari arah samping mereka memotong ucapannya.


Ketiganya segera menoleh.


"Kak Dion...!" ucap Cindy terhenyak melihat Dion berdiri tidak jauh dari mereka.


"Kakak...." tangisnya pecah.


Dia melangkah cepat mendekati Dion. Air matanya semakin banyak mengalir. Begitu berhadapan, dia langsung memeluk Dion. Memeluk dengan segenap hati dan jiwanya. Meluapkan segala kesedihan dan rasa bersalahnya. Seharusnya dia percaya pada kakaknya yang selama ini tidak pernah berbohong dan menyakitinya.


"Maafkan aku. Maafkan aku karena tidak percaya pada kakak___" tangisannya semakin keras.


Dion membalas pelukannya. Perasaannya membuncah, sedih....air matanya jatuh.


Keduanya saling berpelukan.


Ara dan Ines segera berdiri. Mereka tersenyum saling berpandangan, ikut terharu dan senang.


"Kamu gak perlu minta maaf, kamu gak salah. Kakak yang seharusnya minta maaf karena nyakitin kamu!" Dion melepaskan pelukannya, memegang wajahnya, menyapu air matanya.


"Mari kita lupakan apa yang telah terjadi. Anggaplah itu adalah ujian yang mampir dalam rumah tangga kita untuk membuat hubungan kita semakin dekat dan lebih baik lagi ke depan. Membuat kita lebih terbuka dan saling percaya satu sama lain."


Cindy mengangguk dengan air mata yang masih mengalir.


"Kita jangan membahasnya lagi. Tolong berhentilah menangis. Kau sudah terlalu banyak menangis, nanti kau sakit." Dion kembali memeluknya. Mengecup ngecup puncak kepalanya.

__ADS_1


"Kakak sangat menyayangi mu Cin, kau juga tahu itu kan? Dari dulu kakak menyayangimu. Dan kini kau menjadi istriku, mengandung anak anak kakak, Kakak semakin menyayangimu. Kau bukan hanya istriku, tapi juga adikku. Bagaimana mungkin aku tega menyakitimu, itu tidak akan mungkin sayang! percayalah pada kakak."


Cindy kembali mengangguk dan semakin erat memeluk Dion.


Dion membuang nafas panjang, lega terasa kini di hatinya. Semua terasa plong. Tak ada lagi beban yang menghimpit dan menyesak di dada. Akhirnya permasalahan dalam rumah tangganya terselesaikan.


Perlahan Dion melepaskan pelukannya.


Dia menyapu sisa sisa air mata Cindy. Mengecup kening dan bibirnya sesaat. Lalu beralih mengelus perut Cindy dan di kecup berulang."Kakak sangat menyanyi kalian melebihi apapun di dunia ini."


Cindy tersenyum haru. Kedua tersenyum dan kembali berpelukan.


Ara dan Ines ikut ikutan tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Keduanya sangat senang akhirnya masalah selesai dan sahabatnya kembali bahagia.


Ara melihat suaminya yang sedang berjalan melewati mereka menuju ruang sebelah bersama Wisnu. Dia tersenyum terharu.


Lagi lagi semua masalah selesai berkat campur tangan suaminya dan juga Wisnu.


"Bentar ya Nes." pamitnya pada Ines.


Ara melangkah cepat menuju suaminya.


Setelah di depan suaminya. Dia menatap suaminya sambil tersenyum.


"Kakak...terimakasih... terima kasih untuk kesekian kalinya." katanya terharu dengan mata berkaca.


"Sayang, jangan sedih lagi!" Rafa mengangkat dan mengendong tubuh mungil itu.


"Apa sekarang kau senang?"


"Kakak masih menanyakan hal itu?" kata Ara balik bertanya. Dia tertawa kecil, lalu mengecup bibir suaminya.


Rafa Ikut tertawa dan membalas kecupannya.


Mereka saling kecup kecupan.


"Ah... sayang sebaiknya kita ke kamar ya?" bisik Rafa beberapa saat kemudian.


"Hah???"Ara terkejut mendengar bisikan itu. "Gak mau....kakak gak lihat apa ada orang di sini?"


"Sayang. Kamu sendiri yang datang menggodaku. Kau harus tanggung jawab." Rafa ngotot.


"Aku gak bermaksud begitu. Turunkan aku." Ara berontak dalam gendongannya.


"Pokoknya kamu harus tanggung jawab." kata Rafa kembali pura pura melangkah hendak ke kamar.


"Iiihhhh kakak, aku gak mau, turunkan aku." kata Ara mulai kesal menatapnya cemberut.


Rafa tertawa.

__ADS_1


Ines Cindy dan Dion menatap heran dan bingung pada mereka yang entah sedang memperdebatkan apa.


Tapi kemudian mereka mengabaikan urusan pasangan suami istri itu.


"Halo semua." sapa Moly yang baru saja datang bersama Rizal.


Rafa dan Ara segera mengalihkan pandangan pada mereka. Rafa segera melangkah mendekat dengan masih menggendong Ara meski wanita itu meminta untuk di turunkan.


Rizal dan Moly tidak datang sendiri. Tapi bersama dua anak kecil. Yang langsung tersenyum senang melihat Rafa.


"Paman!" panggil mereka kompak dan segera berlari ke arah Rafa.


Rafa segera menurunkan Ara.


"Halo Jagoan___" Rafa segera melangkah menyambut mereka dengan pelukan.


Kedua anak itu masuk ke pelukan Rafa.


Rizal dan Moly mendekati Ara dan saling cipika-cipiki. Mereka bergantian mengelus perut Ara.


"Bagaimana kabarmu cantik?" tanya Rizal


"Alhamdulillah baik dokter." kata Ara tersenyum.


"Bagaimana, apa kalian senang tinggal di sini?" tanya Rafa menyapu kepala anak anak itu.


"Senang Paman, kami udah pergi ke berbagai Playground." jawab Azham.


"Syukurlah, paman senang kalian betah di sini. Perkenalkan. Ini istri paman!" Rafa memegang bahu Ara.


"Halo bibi Ara, Aku Azham dan ini adikku Azhar!" Mereka segera menyalim dan mencium tangan Ara yang bengong dan bingung di tempatnya karena belum mengetahui siapa mereka.


Terlebih saat kedua anak itu memanggilnya dengan sebutan bibi.


"Halo nak." balasnya segera seraya mengulas senyum.


"Sayang, mereka anak anak Wisnu yang pernah ku ceritakan padamu." kata Rafa.


Ara terkejut dan kembali menatap keduanya. Sesaat kemudian dia tersenyum.


Dia segera memeluk kedua anak itu.


"Jadi ini Azham dan Azhar ya?" katanya kemudian. Dia melepaskan pelukannya, memegang wajah keduanya dengan lembut. Menatap sedih dan terharu.


Dia teringat kembali cerita suaminya tentang perjuangan dan pengorbanan Ayirin mengandung mereka saat koma, antara hidup dan mati hingga melahirkan mereka ke dunia ini. Dia menoleh sesaat pada Wisnu.


Lalu kembali memeluk hangat Azham dan Azhar dengan mata berkaca-kaca.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2