Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 275


__ADS_3

Malam semakin larut.


Tinggallah Dion seorang diri yang menemani para tamu. Raymond dan Dinda sudah kembali karena masalah kesehatan Ray.


Dion duduk bersama teman teman relasinya.


Sebagian meneguk minuman beralkohol di temani wanita wanita cantik.


Sementara Dion hanya minum minuman dingin bersoda, karena dia tidak suka alkohol.


Mereka ngobrol di selingi gelak tawa yang memenuhi ruangan. Terdengar alunan lagu merdu dari dua orang artis.


Tiba tiba muncul seorang wanita cantik berpenampilan seksi berdiri di depan mereka.


Pandangan Dion dan lainnya langsung teralihkan pada si wanita. Mereka menatap bagian yang paling menarik dari tubuh wanita ini karena pakaiannya yang kekurangan bahan.


Tamu pria lain berisik dan saling memberi kode. Apakah ada yang mengenal atau kekasih dari wanita ini.


Sedangkan Dion terkejut begitu melihat dan mengenal si wanita.


"Bela?"


"Pak Dion? Apa anda mengenalnya? Atau dia adalah wanita anda?" bisik sala seorang dengan senyuman menggoda.


"Bukan. Dia tamu di rumah orang tua saya.


Dia temannya Dwi sepupu saya. Namanya Bela." kata Dion segera.


Wanita yang memang Bela itu langsung duduk di dekat Dion setelah menyingkirkan wanita yang duduk di dekat Dion yang bertugas menuang minuman dalam gelas mereka.


"Kak Dion, tolong aku." kata bela.


"Kau kenapa?" Dion menghirup bau alkohol dari mulut Bela.


Bela menatapnya dengan tatapan sayu.


Berada dekat dengan lelaki ini membuat jantungnya berdegup kencang seakan mau perang.


Meski tadi dia melihat sosok tampan Rafa yang melebihi tampannya Dion, tapi tetap Dion laki laki yang mengguncang perasaannya.


Bela menatap wajah Dion yang nyaris sempurna di matanya, alisnya yang tebal dengan manik matanya yang indah, hidung mancung, rahangnya yang tajam dan kokoh. Apalagi bibirnya yang tebal kemerahan membuatnya ingin sekali mencicipinya.


Belum lagi tubuhnya yang kekar berotot juga kotak kotak terlihat terpahat dari kemejanya yang pas di tubuhnya. Dion tidak lagi memakai jas.


Mata dan otak bela semakin kotor melihat dan membayangkan benda yang berada di bawah perut Dion. Dia benar-benar sangat menginginkan pria ini menemaninya malam ini.


Bela yang frustasi melihat tubuh Dion langsung menyambar minuman di depannya dan langsung meminumnya.


"Apa ini minuman beralkohol?" kaget.


Dion juga kaget melihatnya meminum minuman alkohol temannya.


"Aku pikir itu minuman soda." kata Bela pura pura.


Bela semakin pusing.


Dia menyadarkan kepalanya di lengan Dion


dan memeluk.


Dion kembali kaget.


Dia mendorong kepala bela tapi Bela


semakin memeluk kuat perutnya.


Dari jarak tidak terlalu jauh seseorang mengabadikan momen kedekatan mereka.

__ADS_1


"Aku sangat pusing kak, aku tidak mampu lagi untuk berjalan. Tolong bantu aku keluar dari sini dan pulang ke rumah. Aku tidak punya teman yang bisa ku mintai bantuan. Hanya kakak yang ku kenal." kata Bela.


Mengingat bela adalah teman Dwi, terpaksa Dion memenuhi keinginannya. Dion pamit pada mereka yang ada di situ. Lalu segera bangkit berdiri dan menarik tangan Bela. Memberi isyarat pada Toni dan asisten pribadi ayahnya untuk menghandle acara dan menemani para tamu.


Dion segera memapah tubuh bela keluar dari ballroom. Seandainya bukan karena temannya Dwi, dia akan membiarkan wanita ini. Lebih lagi Dwi menelpon dirinya menitipkan bela pada mereka sampai dia pulang dari bali minggu depan. Dion tidak menyangka kalau teman sepupunya ini peminum alkohol.


Bela memang seorang penyuka alkohol.


Tapi sekarang ini dia tidak mabuk.


Dia berpura-pura. Dia hanya minum setengah gelas tadi untuk membuat mulutnya berbau aroma alkohol dan dapat tercium oleh Dion.


"Kenapa kamu bisa mabuk begini Bel?"


"Aku terpaksa. Teman temanku memaksa diriku minum. Tapi hanya tiga gelas kok."


"Tiga gelas?" Dion tercengang.


"Dari pada mereka memaksa tiga botol? Ha-ha-ha." racau Bela.


"Seharusnya kamu menolak."


"Sudah, tapi mereka memaksa dengan meminumkan ke mulutku. Aku tidak berdaya. Mereka berdua, aku sendirian."


"Wangi___" ucap Bela menghirup wangi parfum pada leher dan dada Dion. Tangannya meraba-raba dada Dion. Terus berpindah ke wajah.


"Kak Dion tampan sekali..." racau Bela kembali.


Dion segera menjauhkan wajah Bela dan menahan tangannya yang nakal.


"Kita kemana? Aku tidak mau pulang ke rumah. Aku takut dan malu ketahuan Om dan tante Dinda dengan keadaan ku seperti ini. Tolong pesankan aku kamar. Aku mau tidur di hotel saja malam ini."


"Terserah kamu saja." Dion segera menghubungi manager hotel untuk menyiapkan kamar buat Bela..Dia harus segera mengurus wanita ini, setelah itu pulang ke rumah. Cindy pasti sudah menunggunya.


Pesan masuk dari manager hotel yang mengatakan nomor kamar untuk Bela.


"Ini kamarmu. Masuk dan tidurlah. Jangan keluyuran lagi."


"Baik kak, aku masuk dulu. Kakak pergilah. Terimakasih sudah mengantarku." kata Bela langsung masuk. Dia berjalan sempoyongan yang di buat buat menuju tempat tidur. Dalam jalannya dia membuka rets belakang gaunnya hingga melorot sedikit ke bawah.


Hingga buahnya yang besar terlihat keseluruhan.


Dion hendak menutup pintu, tapi batal melihat Bela tiba tiba jatuh terkapar di lantai.


Terdengar jeritan dari mulutnya.


Dion bergerak refleks melangkah cepat masuk mendekatinya yang meringis sakit.


"Bela, kamu tidak apa-apa?" Dion menepuk pipinya. Dia memaki melihat gundukan Bela


yang tak sengaja di lihatnya.


Dion segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia segera berdiri mengambil selimut di tutupi pada tubuh Cindy.


"Ayo bangun Bela, cepat berdiri."


"Panas___" Bela menyingkirkan selimut dari tubuhnya. Hingga auratnya kembali terbuka.


"Tolong bantu aku ke ranjang." pintanya.


Dion kembali mengumpat, tidak mungkin dia menaikan gaun Bela ke atas, karena itu akan membuat jari jarinya menyentuh kedua gundukan yang sangat besar itu. Belum lagi pakaian bawah Bela yang terlalu pendek membuat paha dan selangkangannya terlihat semua karena gaun tersingkap ke atas akibat dari pergerakannya.


Dion mengalihkan pandangannya dari gundukan itu dan segera menarik kedua lengan Bela untuk berdiri.


Begitu posisi mereka berdiri, Bela langsung menautkan kedua tangannya di leher Dion, lalu mengecup bibirnya.


"Manis___ Hhmp.."

__ADS_1


Dion kaget.


Dia melepaskan tangan Bela dari lehernya. Pelukan Bela semakin di perkuat sehingga tubuh mereka menempel.


Dion semakin kesal merasakan kedua gundukan Bela pada dadanya.


"Bibirmu sangat manis pak Dionel Alkas..aku suka aku suka...hahaha. Tubuhmu juga wangi." racau Bela kembali mengecup leher dan dada Dion sehingga meninggalkan tanda lipstik.


Seringai licik muncul di sudut bibirnya.


"Lepaskan Bela__" sentak Dion.


Bela hanya tertawa tawa mendengarnya.


Pelukan di perkuat.


Sembari memeluk Dion, dia bergerak berjalan mundur.


"Jangan di lepas, nanti aku jatuh lagi...peluk aku sampai ke tempat tidur." katanya melihat Dion berusaha melepaskan kedua tangannya.


Dalam pikirannya dia harus bisa membawa pria ini ke tempat tidur.


Paha belakangnya menabrak pinggir ranjang. Dia hilang keseimbangan hingga membuatnya keduanya jatuh di atas ranjang. Posisi Dion di atasnya menindih tubuhnya.


Bela segera menautkan kedua kakinya di belakang pinggang Dion. Dia kembali mengecup leher dan wajah Dion.


"Dionel Alkas, aku menyukaimu...ayo sayang. Kita habiskan malam ini, bercintalah denganku. Aku sangat menginginkanmu." bela menhan kontaknya, semakin liar mengecup Dion.


Sementara dari pintu yang sedikit terbuka terlihat dua orang berdiri mengendap ngendap dengan kamera di tangan.


"Kamu gila Bela, lepas." sentak Dion kasar dan emosi merasakan pergerakan satu tangan Bela yang liar tak terkendali menyentuh miliknya dan berusaha membuka rets celananya. Dia segera mencekal kuat tangan itu, di angkatnya ke atas.


Lalu dia melepas kuat tangan Bela di lehernya.


Di cekalnya kuat dengan tangan kanannya membuat Bela meringis sakit.


Satu tangan Dion melepas tautan kaki Bela di belakangnya, lalu secepatnya bangun berdiri.


"Dionel Alkas, jangan pergi. Temani aku sayang. Aku gerah, panas. Aku sangat butuh dirimu. Ayo kita bercinta." katanya masih terus pura pura meracau sambil menjamah sendiri dada dan bagian penting dari miliknya untuk merangsang Dion.


"Dasar Gila, sinting. Kau benar benar wanita rendah dan menjijikkan." maki Dion kasar. Dia tidak menyangka kalau Bela wanita rendah.


"Jangan pernah lagi kau menginjakkan kaki di rumahku." sentaknya keras menunjuk kuat pada Bela penuh emosi.


Lalu segera melangkah cepat keluar dari


ruang ini.


Bela menatap kepergiannya dengan senyuman menyeringai.


"Hahahaha..." lalu tertawa puas karena berhasil menjebak Dion.


Setelah Dion pergi, masuklah kyla dan Alin.


Mereka menyerahkan ponsel yang di gunakan mengambil gambar foto dirinya dan Dion.


Bela menatap foto foto itu dengan senyuman puas.


"Kalian mengambilnya dengan sangat Sempurna. Ini akan menjadi kejutan dan kado spesial untuk si dungu itu di hari bahagianya menjadi Nyonya Presdir. Ha-ha-ha.."


Dia segera mencari kontak Cindy dan mengirimkan foto foto itu.


"Rasakan kau dungu.Tidak lama lagi dirimu akan menjadi janda. Kau akan hancur Dan Dion akan menjadi milikku. Hahahaha."


Bersambung.


โ˜บ๏ธโ˜บ๏ธ๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2