Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 249


__ADS_3

Gedung RA Group.


Rafa di sambut dengan penuh suka cita oleh para direktur dan karyawannya. Mereka ikut senang dan bahagia serta memberi ucapan selamat dan mendoakan yang terbaik buat kehamilan istrinya.


Juga mengucapkan terimakasih atas kenaikan gaji mereka.Terlebih khusus berterimakasih kepada istrinya karena berkat dirinya gaji mereka naik berlipat ganda, mereka sangat bersyukur dan mendoakan kehamilan Ara sehat dan lancar sampai persalinan nanti, dan menjadi anak anak yang sholeh sholehah pintar cerdas dan bermanfaat untuk orang lain.


Tapi yang menjadi pertanyaan mereka, siapa istri bos sekaligus pimpinan mereka ini?


Mereka menyerbu Moly dengan berbagai pertanyaan.


Moly tutup mulut dan menghindar. Dia hanya mengatakan kalau mereka mengenal istri dari bosnya itu.


Pernyataannya itu malah membuat mereka semakin penasaran dan kembali mendesak dirinya untuk mengatakan secara jelas siapa istri pimpinan mereka itu.


Kecuali Meri, staf sekretaris yang mengetahui tentang Ara, istri pimpinannya.Tapi dia menutup mulutnya rapat karena tidak ingin mencari masalah lagi yang akan membuatnya di pecat. Hanya saja dia heran kenapa Ara menyembunyikan status dirinya sebagai istri Presdir?


Akibat dari unggahan mereka di berbagai media sosial membuat kehamilan Ara viral dan tersebar ke berbagai pihak. Bukan hanya di kalangan para pebisnis tanah air dan luar negeri yang berhubungan dengan Rafa, tetapi juga di kalangan para artis tanah air.


Banyak dari mereka yang belum mengetahui Rafa sudah menikah tentu terkejut melihat unggahan mereka, terutama dari Rafa.


Dan kini, Ruang kantor di penuhi banyak kiriman buket bunga yang bertuliskan ucapan selamat dan doa yang baik dari berbagai pihak. Termasuk dari pemimpin negeri ini, para pejabat pejabat penting negri ini, orang orang berkuasa dan juga orang orang penting lainnya yang berhubungan baik dengan Rafa.


Semua buket bunga dari mereka di letakkan Moly di ruang kerja bosnya.


Ada juga beberapa pihak mengirimkan karangan bunga.


Ponselnya di penuhi pesan masuk yang mengirimkan doa dan ucapan. Bahkan ponsel Wisnu dan Moly juga.


Rafa tersenyum sambil menatapi istrinya yang sedang melakukan shalat Dhuha. Baru saja dia meninggalkan istrinya tapi kini dia rindu lagi.


Rafa tadi bersikeras mengajak istrinya untuk ikut ke kantor, karena dia tidak mau meninggalkan Ara dan jauh jauh dari istrinya. Tapi Ara menolak, akhirnya dia mengalah.


Tapi sebelum ke kantor dia meninggalkan banyak pesan untuk Ara.


"Kamu di kamar aja, jangan keluar, jangan melakukan apapun, berbaring saja... jangan capek lelah dan berpikir sesuatu yang membuat stress."


Pesan tersebut juga di sampaikan pada seluruh pelayan dan semua penghuni rumah untuk menjaga istrinya dengan baik.


Rafa kembali tersenyum melihat istrinya yang sementara melakukan zikir.


"Sayangku, Bidadari Surgaku...hatimu hanya di penuhi kebaikan. Tak ada sedikitpun keburukan yang ada pada hati, pikiran dan jiwamu. Dalam hidup kau hanya melakukan kebaikan. Dan seumur hidupku, aku tidak pernah melihat wanita lembut sebaik dan setulus dirimu! Sungguh aku sangat mengagumimu. Sayangku, kekasih hatiku dunia dan akhirat." ucapnya terharu dengan mata berkaca-kaca.


Wisnu dan Moly yang mendengar ucapannya ikut terhanyut dalam keharuan. karena mereka pun merasa baru pertama kali bertemu wanita sebaik Ara.


Ponsel Wisnu bergetar.


Dengan gerakan cepat dia segera mengangkat teleponnya. Beberapa saat kemudian di matikan.


Dia mendekat sedikit pada tuannya.


"Tuan, hadiahnya sudah sampai di rumah utama."


Rafa tersenyum mendengar laporannya. Lalu kembali menatap ke layar ponselnya.


Rumah utama.


Pintu kamar Ara di ketuk, saat itu dia sedang membaca Alquran dan baru saja selesai melakukan shalat Dhuha. Dia di temani Sita yang di perintahkan Rafa untuk menjaganya, karena Sita pelayan yang sangat dekat dengan dirinya.


Sita segera membuka pintu.


Masuklah pak Sam sambil membawa dua paper bag mewah.


Sudah pasti isinya pun sesuatu yang sangat mewah.


Ara segera mengakhiri bacaan tadarus nya melihat kedatangannya.


"Nona muda." Sam menundukkan kepalanya sesaat.


"Ada apa pak Sam?" Ara segera bangkit seraya melihat paper bag di tangan kepala pelayan itu.


"Ada kiriman paket untuk anda!"


"Paket?" dahi Ara mengerut.


"Dari siapa?" tanyanya kembali.


"Dari tuan Rafa nona!"


"Dari kakak ipar? apa itu?"


"Saya tidak tahu nona, silahkan anda membukanya sendiri, saya tidak berani melihatnya!"


Sam segera menyerahkan kedua benda itu yang langsung di terima Ara.

__ADS_1


Ara duduk di pinggir ranjang. Sam segera pamit keluar. Sita mendekat pada Ara ikut melihat paper bag.


Ara membuka salah satu paper bag yang berisi sebuket bunga Segar, Wangi dan Indah, juga kata kata cinta romantis yang tertulis dalam sebuah kartu.


Ara tersenyum simpul membacanya, wajahnya merah merona. Berulangkali dia mencium Aroma wangi dari bunga tersebut sampai puas.


Rafa ikut tersenyum bahagia melihatnya dari layar ponselnya. Ingin sekali dia mencium wajah yang terlihat malu malu dan merona menggemaskan itu.


Setelah puas menikmati Aroma wangi segar dari buket bunga tersebut, Ara segera memberikannya pada Sita


"Mbak, tolong bunganya letakkan di vas kaca berisi air, biar bunganya gak layu dan mati."


"Baik nona." Sita segera menelpon pak Sam untuk membawakan apa yang di minta nona mudanya.


Ara segera membuka paper bag yang satunya.


Berisi empat kotak yang indah. Dari bentuknya, Ara dapat memastikan ke empat kotak ini adalah kotak perhiasan. Ara mengeluarkan ke empatnya dan di letakkan di atas ranjang. Lalu di bukannya satu persatu. Di dalamnya terdapat empat set perhiasan. Dua set perhiasan emas dan dua berlian.


Dahinya mengerut melihat ke empat kotak perhiasan tersebut. Jari jemarinya menyentuh lembut semua perhiasan perhiasan itu, dia tersenyum kecil.


"Wah indah banget non...," ucap Sita terpukau dengan mata melongo melihat perhiasan perhiasan tersebut.


"Sangat indah dan mewah non... harganya pasti setinggi langit. Tuan Rafa benar benar suami romantis, tuan benar benar sangat mencintai nona. Ini pasti hadiah atas kehamilan nona, semuanya ada empat, sama seperti jumlah calon bayi nona dan tuan Rafa." ucap Sita kembali.


"Non, boleh gak saya menyentuhnya?"


"Ya tentu boleh dong mbak..." ucap Ara tersenyum. Dia bangkit berdiri


"Nona mau kemana?" Sita menahan dirinya.


"Aku mau mengambil ponselku mbak."


"Biar saya saja yang ambil, nona duduk saja." Sita segera melangkah cepat mengambil ponsel Ara di meja rias.


Lalu balik dan menyerahkan pada nona mudanya.


"Mbak Sita tidak perlu repot-repot begitu. Aku masih bisa melakukannya kok. Aku kan gak kenapa kenapa..?"


"Saya tidak ingin nona capek dan lelah. Nona jangan terlalu banyak bergerak, kalau nona perlu sesuatu bilang saja ke saya, inilah kegunaan saya di ruangan ini nona, tugas saya melayani dan menemani nona."


Ara membuang nafas panjang seraya geleng geleng kepala mendengar ucapannya.


Lalu beralih ke ponselnya mencari kontak Suaminya.Tapi dia ragu untuk menghubungi. Dia batal menekan nomor suaminya.


"Tuan Rafa pasti akan menerima telepon dari nona meski tuan sedang kerja. Malah tuan pasti senang mendapat telepon dari nona."


"Tapi aku tidak ingin menanggungnya mbak."


"Kalau begitu nona coba telepon sekertaris Wisnu saja, tanyakan dulu padanya apa tuan Rafa sibuk atau tidak." Sita memberi saran.


Ara mengangguk pelan, lalu segera mencari kontak Wisnu dan menekannya. Tersambung.


"Assalamualaikum sekretaris Wisnu."


"Waalaikumsalam sayang." jawab Rafa dari seberang.


Ara kaget


"Kok kakak yang terima?"


"Wisnu lagi bersama ku sayang!"


"Kakak nggak kerja?"


"Kerja sayang, kerja mikirin kamu."


"Ihhh.. mulai lagi deh." dahi Ara mengernyit dengan wajah manyun, lalu senyum senyum kecil.


Rafa terkekeh sambil menatap wajah manyun istrinya.


"Apa aku mengganggu? aku sengaja menelpon melalui sekretaris Wisnu karena tidak ingin mengganggu kakak kerja."


"Sayang, aku kan sudah bilang sama kamu, kalau perlu sama aku, langsung hubungi aku saja, kecuali nomorku gak aktif atau gak sempat ku angkat barulah kau telpon Wisnu. Sekarang katakan, ada apa kau menghubungiku? apa kau merindukanku? bibirku? wajah ku dadaku.." Rafa mulai menggoda.


"Kakak ah..jangan ngomong gitu, gak malu apa di dengar sama orang lain? katanya lagi sama sekertaris Wisnu kan?"


Rafa tertawa kecil


"Sayang, Wisnu tuh buta dan tuli kalau kita lagi ngomong begini, dia seperti patung manekin diam berdiri tanpa nyawa. Sekarang katakan, ada apa kau menghubungiku? apa kau butuh sesuatu?"


"Kakak ngirimin hadiah ke aku?"


"Iya sayang, apa udah sampai?"

__ADS_1


"Udah kak, bunganya sangat indah dan wangi, kata kata romantisnya juga bikin aku melayang, kakak seperti seorang pujangga. Aku sangat suka keduanya."ucap Ara senyum malu-malu.


Rafa tersenyum lebar, hatinya senang mendegar pujian istrinya.


"Kak...."


"Hhmm ya..."


"Mengenai hadiah perhiasan,.apa nggak berlebihan? hadiahnya sangat indah dan mewah, aku sangat suka.Tapi.....!" ucapannya berhenti.


Rafa sudah tau kalau istrinya pasti akan menolak, karena tidak suka dengan barang-barang mewah. Yang bagi istrinya hanya akan menjadi pajangan tak berguna.


"Hadiah yang kakak belikan dari Eropa saja satu pun belum ku gunakan." Ara teringat dengan barang-barang branded yang di belikan Rafa beberapa bulan lalu di berbagai negara di Eropa, yang jumlahnya mencapai hampir 300 M, dari berbagai produk. Satu pun belum ada yang di pergunakan. Semuanya koleksi tersebut hanya terpanjang di lemari kaca, yang sebagian tersimpan di rumah utama sebagian lagi di simpan Moly di rumah pribadi.


"Itu belum seberapa sayang, di banding dengan begitu banyak kebahagiaan yang kau berikan padaku! akan kuberikan apa pun yang dapat menyenangkan hatimu."


"Seharusnya kakak tanyakan dulu apa yang membuat ku senang..."


"Aku udah tahu sayang... kesenangan dan kebahagiaan mu hanya terletak pada kebahagiaan hidup orang lain. Aku ingin kesenangan dan kebahagiaan yang kau rasakan dan nikmati sendiri sayang...."


"Tapi kakak....."


"Udah, jangan protes! atau kalau kau butuh sesuatu katakan saja....!"


"Benarkah?" Ara tersenyum sumringah, Rafa melihat hal itu.


"Iya sayang, apa yang kau inginkan...."


Ara senyum senyum memikirkan sesuatu.


"Aku akan mengatakannya setelah kakak pulang nanti...!"


"Kalau gitu akan pulang sekarang"


"Kakak kan lagi kerja, nanti aja kukatakan! kakak kerja dulu, aku gak mau mengganggu pekerjaan kakak, maaf ya... assalamualaikum!"


"Sayang, tunggu bentar."


"Apa lagi kak..."


"Mana kata kata cinta dan ciumannya..."


Wajah Ara langsung merah merona.


"Aku mencintai kakak, Cup..,"ucapnya lembut.


"Aku juga sangat mencintaimu sayang, Cup Cup Cup... waalaikumsalam sayang."


Telepon di matikan.


"Dasar buncin..." cibir Moly begitu telepon di matikan.


Rafa tersenyum lebar mendengar, seraya mengecup istrinya di wallpaper ponselnya


"Moly, aku tidak ingin apa apa lagi selain istriku. Aku benar-benar sangat bahagia dan bersyukur memilikinya, dia adalah anugerah yang sangat indah dan berharga yang Allah beri untukku! aku akan melakukan dan memberikan apapun yang dia inginkan." menatap ke dua pegawai nya satu persatu.


"Coba kalian berdua tebak, apa yang Ara inginkan dariku, kau duluan Wisnu...!" menunjuk Wisnu.


Wisnu langsung berdiri tegak


"Nona muda pasti akan meminta kepada anda agar menerima nona Ines di terima bekerja di perusahaan anda dan memberikan beasiswa untuk melanjutkan kuliah pendidikan S2." jawab Wisnu segera


"Dan kau Moly.." menujuk Moly.


"Donasi untuk biaya pengobatan dan operasi seorang gadis umur 15 tahun yang menderita penyakit tumor ganas pada perut." jawab Moly segera.


"Kebahagiaannya hanya terletak pada kebahagiaan orang lain. Istriku sayang, hatimu terbuat dari apa? kau begitu perduli pada penderitaan dan kesusahan orang lain. hatimu hanya di penuhi oleh kebaikan." Rafa menatap istrinya penuh cinta pada istrinya yang sedang menyimpan perhiasan di lemari kaca, bergabung dengan perhiasan lainnya yang sudah banyak menumpuk seperti pajangan di toko emas milik istrinya.


Karena setiap kali dia keluar negeri dan keluar daerah, dia akan membawakan buah tangan mewah untuk istrinya dari berbagai produk.


"Kau sudah mengatur tempat untuk dinner ku malam ini Moly?" menoleh pada Moly.


"Aku akan segera mempersiapkan segalanya bos."


"Segera lakukan, jangan sampai ada kekurangan. Dan kau Wisnu segera penuhi apa yang menjadi keinginan istriku, pergilah kalian berdua." kata Rafa kembali dengan gerakan punggung tangannya menolak kebelakang.


Moly dan Wisnu segera keluar setelah menundukkan kepala sesaat.


******


Terimakasih yang telah mampir dalam karya Rafa & Ara πŸ™πŸ˜˜


Mampir juga ya dalam karya kedua saya

__ADS_1


Arley & Ana πŸ™πŸ˜Š


__ADS_2