
Sesampai di parkiran Ara segera menemui mang saleh. Dia meminta maaf karena tidak bisa pulang dengan taksinya karena akan di jemput suaminya. Tapi dia membayar jasa mang Saleh yang telah menunggu mereka selama hampir tiga jam. Mang saleh menolak tapi Ara memaksa sebagai ganti rugi waktu yang terbuang dari pria setengah baya itu.
"Makasih ya Non, mang pergi dulu." Saleh pamit.
"Iya mang, hati hati."
Saleh segera tancap gas untuk menjemput penumpang yang sejak tadi menghubunginya.
Lima menit berlalu, Rafa dan Wisnu datang.
Ara segera berjalan mendekati mobil suaminya. Ines dan Cindy mengikuti dari belakang.
"Sayang...." ucap Rafa begitu keluar dari mobil. Dia langsung memeluk Ara hangat. Mencurahi beberapa kecupan di wajah.Tak perduli adanya Ines dan Cindy, juga tatapan orang orang yang berada di parkiran.
Dia sudah tidak sabar untuk memeluk istrinya sejak dari perjalanan tadi.
"Kamu gak apa-apa? Apa kamu masih sedih?" menatap lekat wajah istrinya.
"Aku baik saja kak!" kata Ara mengulas senyuman merasa gak enak menjadi tatapan pengunjung Mall.
"Kak, aku akan mengajak Cindy dan Ines ke rumah." katanya kembali.
"Lakukan apa yang membuatmu senang sayang. Mari kita pulang." Rafa segera membuka pintu mobil depan untuknya.
Ara segera masuk dan duduk.
Rafa memasangkan sabuk pengamannya, di akhiri satu kecupan tiba tiba di bibir, membuat Ara kaget.
Rafa tersenyum dan kembali mengecup
bibir manyun mengerucut itu.
Seandainya gak ada Cindy dan Ines, sudah di lumatnya bibir mungil menggairahkan ini.
Dia segera melangkah berputar mengitari mobil dan masuk duduk di belakang kemudi.
Wisnu membukakan pintu untuk Ines dan Cindy di tempat duduk ke dua.
"Silahkan Nyonya muda Alkas.... Nona Ines." katanya kepada Cindy dan Ines.
Sedikit terkejut keduanya, lalu segera masuk beriringan. Duduk dan memasang sabuk pengaman. Tak di sangka akan naik mobil mewah pemilik RA Group.
Rafa segera menjalankan kendaraan mewahnya.
"Kak, sekretaris Wisnu?" tanya Ara karena Wisnu tak ikut.
"Dia akan naik mobil Florencia." kata Rafa memegang lembut jari jemari istrinya dan di kecup.
"Florencia?" Ara jadi lupa berpamitan pada wanita yang telah menolong dirinya dan Cindy.
__ADS_1
"Iya sayang, karena Wisnu masih harus mengerjakan sesuatu." kata Rafa tersenyum menoleh kepadanya.
Cindy dan Ines hanya diam menyaksikan kemesraan pasangan ini. Mereka sangat kagum juga iri dengan perlakuan romantis Rafa dan juga besarnya cinta Rafa pada sahabat mereka ini. Keduanya ikut bahagia dan senang melihat kebahagiaan sahabatnya itu.
Cindy jadi teringat Dion. Kakak sepupu sekaligus suaminya itu juga selalu melakukan hal romantis seperti itu padanya. Saat dia masih gadis dan juga setelah mereka menikah.
Cindy tersenyum mengingatnya.
Ines menggenggam tangannya, seolah mengerti apa yang di pikirkan Cindy. Dia berdoa semoga Cindy pun mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahannya bersama Dion.
Keduanya tersenyum saling berpegangan.
.
.
Sementara Wisnu?
Dengan menaiki mobil Florencia, dia menuju mobil hitam yang di tumpangi anak buahnya. Mobil tersebut berada tidak jauh dari pusat perbelanjaan.
Setelah turun, Wisnu langsung di sambut oleh ke empat anak buahnya dengan hormat.
Salah seorang di antara mereka membuka bagasi. Wisnu segera melihat ke dalam.
Dia tersenyum menyeringai menatap dua tubuh wanita yang tergeletak tak berdaya, entah pingsan atau sudah mati dengan keadaan memprihatinkan.
"Lempar tubuh mereka ke jalanan. Jangan sampai ada yang melihat. Buang di tempat di mana tidak akan ada orang menemukan mereka." perintahnya.
Wisnu segera masuk ke dalam mobil.
"Tugasmu untuk hari ini selesai. Pulang dan beristirahatlah. Pergilah bersama mereka. Aku pakai mobilmu." katanya pada Florencia. Lalu segera melarikan mobil Florencia dengan kecepatan tinggi menuju ke kantor polisi karena ingin mengurus sesuatu.
Florencia tersenyum senang mendengar perintah tuannya. Tak ada lagi tugas yang akan di kerjakan setelah ini. Dia akan punya waktu yang banyak untuk bersama anak kecilnya yang berumur 4 tahun. Sungguh dia sangat beruntung memiliki bos seperti Wisnu dan Rafa.
.
.
Rumah pribadi.
Cindy kaget saat dokter perempuan memeriksa kandungannya dengan menggunakan peralatan USG. Saat ini dia sedang berbaring di kamar tamu di temani Ara, Ines, sita dan bu Narsih. Dia sangat terharu dengan apa yang di lakukan Ara. Selama pemeriksaan, dia memegang terus sala satu tangan Ara dengan mata berkaca-kaca. Dia benar-benar tidak menyangka begitu pedulinya Ara pada dirinya setelah apa yang terjadi antara dirinya dengan Dion.
Kata dokter, janin dapat merasakan dampak dari emosi yang di rasakan ibu hamil.
Jadi dokter menyarankan pada Cindy jangan banyak menangis apalagi sampai depresi dan stress, karena itu akan memperburuk kondisi kesehatan janin.
Tapi Overall, semua baik baik saja kata dokter. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Hanya saja dokter meminta Cindy untuk lebih menjaga emosinya agar selalu stabil. Dokter memberikan beberapa resep obat untuknya.
Setelah memeriksa Cindy, dokter juga memeriksa kandungan Ara. Rafa segera duduk di dekat istrinya. Satu tangannya memegang tangan Ara, satunya lagi membelai rambut Ara dengan lembut.
__ADS_1
Dia memperhatikan alat USG yang di usap usapkan dokter pada perut istrinya. Dia juga mengikuti pandangan dokter yang melihat ke layar monitor komputer.
"Bagaimana dok? apa semuanya baik?"
"Alhamdulillah tuan, kandungan Nyonya baik. Janin jugae sehat."
"Ah...syukurlah." Rafa langsung mengecup kening istrinya. Dia sangat khawatir karena melihat istrinya tadi banyak menangis di ruangan universitasnya. Kini dia lega setelah dokter mengatakan semuanya baik baik saja.
Setelah shalat ashar, mereka duduk duduk ruang TV menikmati acara siraman qolbu sambil menikmati beberapa cemilan sehat.
Ara dan Ines perlahan lahan mengajak bicara Cindy mengenai permasalahan rumah tangga mereka.
"Cin, tadi kak Dion dan tante Dinda menelpon. Mereka menanyakan dirimu. Mereka sudah berulangkali menelepon. Mereka sangat mencemaskan dirimu. Terutama kak Dion." kata Ara pelan pelan untuk menjaga suasana hatinya.
Ara memegang ke dua tangannya, menatap lekat.
"Cind, aku tahu hatimu sangat hancur dan terluka saat ini. Kamu juga kecewa dan marah pada kak Dion. Semua wanita pasti akan merasakan sama seperti yang kau rasakan jika di khianati pasangannya, termasuk aku." lanjut Ara kembali.
"Tapi lepas dari itu semua, cobalah kau berpikir dan ingat tentang siapa kak Dion. Kau lebih tahu tentang dirinya, sikapnya, watak dan kepribadiannya. Karena selama ini kau dekat dengannya, kalian selalu bersama. Kau pun pasti tahu pergaulannya dengan perempuan dan siapa saja wanita wanita yang dekat dan berhubungan bebas dengannya selama ini." sambung Ara.
"Kau pernah mengatakan pada aku dan Ara, kalau kak Dion orang yang sangat dingin terhadap wanita. Dia susah jatuh cinta, mencintai dan tidak mudah untuk menyukai wanita. Dia pribadi yang tertutup, tidak pernah dekat dengan wanita selain kita bertiga. Kau juga bilang kak Dion tidak punya kekasih sampai dia menikah denganmu." lanjut Ines.
Cindy yang sejak tadi menunduk sedih mengangkat kepala dan menatap wajah kedua sahabatnya. Yang tersenyum padanya.
Ara memegang wajahnya, lalu menyapu air matanya.
"Kak Dion adalah sosok yang berpendidikan tinggi, cerdas, terhormat, dan selalu menjaga batasan pergaulannya dengan wanita. Coba kamu pikir, Apa kak Dion yang memiliki sifat dan karakter seperti itu akan tergoda oleh Bela? Menyukai dan mencintainya?" tanya Ara.
"Aku rasa tidak Cind." sambung Ara seraya geleng geleng kepala.
Ines juga mengiyakan perkataan Ara dengan anggukan kepala.
"Hal yang nggak mungkin kak Dion suka pada wanita siluman rendah tak punya rasa malu itu." katanya.
"Kau juga selalu bilang pada aku dan Ines,
Kak Dion sangat menyayangimu dan menganggap dirimu seperti adik kandungnya sendiri. Kami pun melihat hal itu. Betapa sayangnya kak Dion kepadamu. Masalahmu adalah masalahnya! Dengan begitu sayang dan pedulinya kak Dion kepadamu__apa dia akan setega itu menyakiti dirimu? Apalagi kau istrinya dan sedang hamil anaknya?" tanya Ara lagi.
"Gak mungkin, kak Dion gak akan sekejam itu padamu. Tega pun dia pasti nggak! Aku sangat yakin!" kata Ines menjawab pertanyaan Ara.
Cindy mendesah sedih mendengar pertanyaan dan jawaban kedua sahabatnya.
"Tanyakan kepada hatimu Cindy, apa kak Dion bisa melakukan hal rendah dan menjijikkan seperti itu?" kata Ara kembali semakin menatap dalam wajahnya yang semakin basah oleh air mata.
Cindy tak mampu membendung tangisannya. Dia menangis tersedu-sedu.
Ara dan Ines segera memeluknya.
...Bersambung....
__ADS_1
Dukung author ya π
Tinggalkan jejak π