Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 176


__ADS_3

Begitu turun dari ojek, Ara langsung di sambut Dion.


"Makasih ya mang?" menyerahkan helm dan ongkosnya.


"Ya non," jawab Saleh. Lalu segera berlalu.


"Hay Ra...." sapa Dion yang sejak tadi menunggu kedatangannya.


"Kak dion,"


"Udah baca pesan group belum?"


"Aku belum buka Hp ku. Ada informasi apa?" tanya Ara sambil mengambil handphonenya di tas.


"Jadwal kursus Jepang di batalkan." ujar Dion seraya memperhatikan wajah Ara yang di lihatnya lain.


Ara membaca pesan yang masuk di group.


Bukan hanya jadwal kursus Bahasa Jpg yang di batalkan tapi juga bahasa Arab.


"Kok bisa berbarengan begini ya kak?" ujar Ara dengan dahi berkerut.


"Mungkin para dosen sibuk." jawab Dion kembali, dia juga merasa heran.


"Ra ? kamu baik baik saja? Wajahmu kelihatan pucat, ada lingkaran hitam juga di bawah matamu."


"Aku kurang tidur semalam," Ara melihat di kamera HP mata panda nya yang memang memenuhi bawah matanya.


"Kenapa? Ada tugas yang kamu kerjakan ?"


"Nggak ada, hanya insomnia aja." kata Ara sambil memalingkan wajahnya ke arah lain menghindari tatapan mata Dion yang terus menatap wajahnya.


"Tapi matamu juga bengkak Ra, sepertinya kamu banyak menangis semalam."


"Ah nggak kak," jawab Ara tersenyum kelabakan.


"Ada apa? Ayo ngomong sama aku?" Dion cemas.


"Nggak ada apa-apa kok, benaran." kilah Ara


Dion membuang nafas berat karena Ara tak mau jujur dan terbuka padanya.


"Berarti kita libur hari ini. Kalau gitu aku langsung pulang aja. Soalnya masih ada urusan." kata Ara.


"Kalau gitu ayo..." Dion menarik tangannya. Tangan itu hangat di rasakan.


"Tubuhmu juga hangat Ra, kamu nggak


sehat?" mengajak ke mobilnya. Membuka pintu mobil.


"Masuklah...."


Ara kaget. "Kita mau kemana kak?"


"Udah masuk saja, ayolah." pinta Dion memaksa.


Ragu ragu Ara segera masuk. Dion juga masuk. Kemudian segera menjalankan mobilnya.


"Maaf kak, kita kemana?" khawatir jika nanti ada yang melihat dan akan di laporkan pada kakak iparnya, Rafa.


"Katamu kamu punya urusan kan? katakan apa urusanmu, aku akan mengantarmu. Dari pada aku keluyuran nggak jelas." ujar Dion tersenyum menoleh padanya."Kamu mau kemana ?"


Ara diam berpikir sesaat, lebih baik dia harus segera ke yayasannya saja, biar bisa cepat balik untuk datang ke pesta kakak iparnya. Tapi dia harus membeli sesuatu untuk hadiah pernikahan Rafa dan Levina.


"Atau nggak usah saja ya? Kan kakak ipar mau minta sesuatu di kertas permintaannya, anggap saja itu sebagai hadiahnya," batinnya.

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan kak Levina? Aku juga harus memberi hadiah untuknya. Kak Levina suka hadiah apa? Kak levina seorang model, nggak bisa hanya kasih hadiah yang murah, itu akan membuatnya tersinggung. Mama juga pasti nggak akan suka. Tapi aku nggak punya uang banyak untuk membeli barang mewah." batin Ara dengan wajah mengerut. Bertarung dengan pikirannya sendiri.


"Kamu lagi mikirin apa?" sela Dion memperhatikannya yang melamun memikirkan sesuatu.


"Bukan apa apa kak,"


"Ayolah bicaralah, Siapa tahu aku bisa bantu."


"Nggak ada, aku hanya bingung aja mau kasih hadiah apa buat pernikahan kakak ipar ku sama calon istrinya."


Dahi Dion mengerut.


"Mana aja yang penting ikhlas memberinya, nggak perlu yang mewah." katanya.


"Kakak benar, tapi aku nggak enak hanya beri hadiah sembarang buat calon istrinya. Secara kan calon istrinya adalah seorang model terkenal." kata Ara dengan bibir mengerucut.


Dion menghentikan mobil di depan sebuah apotek.


"Kenapa berhenti di sini?" tanya Ara.


"Kamu tunggu bentar ya, kunci pintunya. Jangan di buka kalau ada yang ketuk." kata Dion. Lalu segera keluar melangkah menuju halaman apotik.


Dalam langkahnya dia bergumam sendiri.


"Ravendro akan menikah? Tapi kenapa pernikahannya tidak tersebar ke publik?" Dia tahu pengusaha besar itu menjalin hubungan dengan seorang model Levina seperti yang di beritakan di berbagai media. Entah itu benar atau tidak, karena tak ada klarifikasi dari Ravendro. Hanya Levina yang selalu mengumbar hubungan mereka ke awak media dan publik. Mereka juga tak terlihat tampil bersama selama ini.


Sementara di dalam mobil Ara masih pusing dengan hadiah untuk Levina.


"Mama pasti akan marah dan nggak terima jika aku kasih hadiah murah sama kak Levina," batinnya lagi.


Dia mengambil dompet mininya. Dompet yang hanya di gunakan untuk tempat berbagai kartu.


Lalu mengeluarkan kartu black card pemberian kakak iparnya.


"Apa aku pakai ini saja ya untuk beli hadiah kak Levina?" gumamnya.


Lamunannya buyar saat Dion datang. Dia menyimpan kembali dompet mininya.


Dion masuk dengan membawa obat dan air minum.


"Minumlah untuk menurunkan suhu tubuhmu, Oleskan krim ini di bawah mata untuk menghilangkan warna gelap mata panda mu."


"Seharusnya kakak nggak usah repot-repot kayak gini." ucap Ara merasa tidak enak hati.


"Nggak repot kok, ayo di minum. Apa kamu sudah sarapan tadi?"


"Sudah kak....!"


"Kalau begitu gitu minumlah."


"Terimakasih kak." Ara segera melakukan apa yang di perintah Dion. Minum obat. Dion kembali menjalankan mobil setelah Ara selesai minum obat.


******


Rafa dan Wisnu saat ini sedang berada di jalan untuk menemui seseorang yang penting. Pesan yang di kirim oleh anak buah Wisnu yang di tugaskan untuk menjaga dan mengawasi Ara membuat darah Rafa mendidih. Dia mengepalkan ke dua tangannya kuat. Isi pesan yang mengatakan Ara sedang bersama dengan seorang laki-laki berada dalam mobil.


Rafa sudah memperingatkan Ara untuk menjauhi dan jangan dekat-dekat dengan laki-laki itu, tapi ternyata Ara tidak mengindahkan perkataanya. Meski Rafa tahu Ara mengganggap hanya sekedar hubungan pertemanan saja, dia tetap tidak menyukai Ara dekat dengan laki laki itu juga laki laki lain.


Karena Rafa tahu, pewaris tunggal DRA group itu menyukai Ara, bahkan rela menyamar menjadi seorang mahasiswa hanya untuk bisa mendekati Ara.


Rafa semakin mengepalkan kedua tangannya kuat, rahang kokohnya mengeras menahan Amarah.


Lampu merah membuat semua kenderaan berhenti. Dan itu membuat kekesalan Rafa semakin bertambah.


"Kemana mereka Wisnu? Kemana laki laki itu membawa Ara pergi?" teriak Rafa.

__ADS_1


Wisnu tak menjawab, pandangannya teralihkan pada toko yang di sebrang. Secara tidak sengaja matanya melihat nona mudanya sedang masuk ke dalam mobil.


"Aku sedang bicara denganmu Wisnu, apa kau tuli ?" meninju kursi Wisnu keras.


"Tuan, nona muda ... " ucap Wisnu pelan masih terus menatap ke seberang.


"Ada apa dengan Ara? Apa yang terjadi dengannya?" cemas.


Wisnu menunjuk perlahan ke seberang.


Rafa mengikuti gerakan jarinya. Rafa melongo.


"Ara? bukankah itu Ara wisnu ?"


"Iya tuan."


"Ara...." darahnya kembali mendidih melihat Ara bersama laki laki di dalam mobil. Rafa kembali meninju kuat kaca mobil.


"Kejar mereka Wisnu, cepat putar balik mobilnya." melihat mobil Ara bergerak ke jalan raya.


"Masih lampu merah tuan."


"Cepat terobos sebelum mereka menghilang."


"Di depan kita ada mobil tuan."


"Tabrak saja mereka." sentaknya keras.


"Kita akan berurusan dengan para petugas hukum tuan."


"Apa yang kamu khawatirkan? Kita punya banyak orang di kepolisian, cepatlah sebelum laki laki itu membawa Ara kabur semakin jauh," berteriak marah.


Wisnu membuang nafas berat.


"Kendalikan diri anda tuan." batinnya.


Wisnu segera menjalankan mobil, untung saja sudah lampu hijau. Dia cepat menyisip di antara mobil sambil membunyikan klakson berulangkali dan cepat memutar mobil ke jalur sebelah.


"Cepat kejar dan cari mobil mereka." semakin gelisah


"Tenangkan diri anda tuan."


"Bagaimana aku bisa tenang, melihat Ara bersama laki laki brengsek itu." katanya gusar dan geram.


"Aku sengaja menelpon pihak kampus untuk membatalkan jadwal kursus hari ini agar dia tidak datang ke kampus dan segera pergi ke rumah orang tuanya. Tapi kenapa dia malah pergi bersama laki laki itu? hah ?" semakin geram.


Wisnu memilih diam tak menjawab, karena dia pun tidak tahu kemana pewaris DRA group itu membawa nona mudanya pergi.


"Kau sudah menemukan mereka ?"


"Sepertinya kita kehilangan mobil nona tuan."


"Payah kau Wisnu." meninju kursi Wisnu keras.


"Marahlah saya sesuka hati anda tuan. Asal jangan menyuruh berbuat hal konyol lagi, saya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada anda," batin Wisnu.


"Anda harus percaya pada nona muda. Sebaiknya kita kembali saja ke tujuan kita. Tujuan kita juga sangat penting untuk kelancaran pernikahan anda bersama nona muda." kata Wisnu.


Rafa mengusap wajahnya kasar. Amarahnya perlahan mereda setelah mendengar perkataan Wisnu. Benar yang di katakan Wisnu.


"Putar balik mobilnya, kita segera temui mereka! Perintahkan orang mu untuk terus mengawasi Ara dan laporkan apa saja yang di lakukan bersama bajingan itu."


"Baik tuan."


*****

__ADS_1


__ADS_2