Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 232


__ADS_3

Mobil yang di naiki Ara berhenti di depan sebuah butik.


"Terimakasih pak!" ucap Ara pada sopir rumah pribadi yang di perintahkan Rafa untuk mengantarkannya.


"Sama sama nona muda!" kata sopir ramah.


Ara segera turun bersama Ines.


"Ra, Ngapain kita kesini?" tanya ines.


"Aku mau menemui kak Nesa! Yuk masuk...." ajak Ara menarik tangannya.


Di sela langkah, Ines membaca tulisan pada sebuah banner yang tertulis "Butik Azahra"


"Ra, ini butik lo ya, tuh namamu tertulis!" katanya menunjuk banner.


Ara menanggapi dengan senyuman sembari terus menarik tangan sahabatnya. Manajer butik dan dua orang staf menyapanya dengan sopan.


"Apa kak Nesa ada di dalam?"


"Ada nona muda, bu Nesa sudah menunggu anda sejak tadi." kata manager.


Ines mengarahkan pandangannya ke segala penjuru sudut ruangan. Dia menatap takjub interior butik yang begitu elegan. Ada lampu gantung cantik mewah dan beberapa pohon beringin menambah cantik ruangan. Beralas karpet dari persia, tangga kuningan dan beberapa lampu hias mewah dan juga kamar ganti.


Butik ini hanya khusus untuk baju pengantin,


terlihat dari gaun gaun pengantin mewah dan indah yang terpajang di setiap manekin.


Ara menuju sebuah ruangan yang berada di belakang, tempat untuk merancang busana.


"Kau sudah datang?" sapa Nesa melihat kedatangannya.


"Iya kak, aku baru saja sampai bersama temanku." Ara mendekat dan mencium tangan kakak iparnya.


Ines segera menyapa Nesa yang nampak sibuk dengan sebuah baju pengantin cantik dan mewah. Nesa memberi senyuman kepadanya.


"Apa tamunya sudah datang ?" tanya Ara.


"Sebentar lagi mereka akan datang, katanya sedang dalam perjalanan. Mereka memilih dua hasil rancangan mu, sala satunya yang ini, makanya kakak menyuruhmu datang. Siapa tahu calon pengantinnya masih ingin menambahkan sesuatu pada gaunnya," kata Nesa.


"Ini hasil rancangan mu Ra?" sela Ines yang merasa kaget mendengar perkataan Nesa.


Dia terpukau menatap gaun pengantin di depannya.


Ara mengangguk tersenyum.


"Kamu luar biasa Ra, Ini cantik banget tau ! gue kira lo hanya bisa membuat lukisan indah. Tapi ternyata lo bisa juga mendesain gaun busana pengantin?" Ines Kembali terperangah.


"Aku masih belajar dengan bimbingan kak Nesa." kata Ara tersenyum.


"Lo cocok jadi seorang seniman dan desainer Ra, karyamu sungguh luar biasa." ujar Ines kembali sambil memberikan dua jempolnya.


Ara kembali tersenyum.


Dia memeriksa setiap bagian dari gaun hasil rancangannya ini.


Nesa memanggil dua orang staf untuk membawa gaun hasil rancangan Ara dan juga tiga hasil rancangannya untuk di pajang ke depan beserta jas yang akan di kenakan calon pengantin pria, karena pemiliknya akan segera tiba.


Ara dan Ines mengikuti mereka.


"Ra, berapa harga sebuah gaun ini? Pasti mahal banget ya?"


"Kenapa, kau mau nikah juga?" kata Ara menatapnya dari samping."Tenang aja Nes, kalau lo dan Cindy menikah aku akan sediakan busana gaun pengantin gratis untuk kalian." lanjutnya seraya mencubit kedua pipi Ines.


"Benaran Ra? wah... jadi kepengen cepat nikah nih." ujar Ines tertawa.


Ara terkekeh mendengarnya.


Beberapa staf menyapa mereka dengan sopan.


"Hay Ra," sebuah sapaan dari samping mereka.


Keduanya segera menoleh.


"Sonya?" Ara terkejut.


Sonya mengurai senyum.


"Selamat malam Nyonya Rafa Ravendro Artawijaya." sapanya dengan sopan.


"Apa an sih Son, kau terlalu berlebihan. Biasa aja deh." Ara mendekat dan memeluknya. Keduanya saling berpelukan hangat.


"Udah lama ya kita gak ketemu, gimana kabar mu?" tanya Ara.


"Aku baik Ny. Artawijaya." jawab Sonya tersenyum lebar.


"Kamu nih...gak usah kayak gitu deh. Santai aja....!" kata Ara menatapnya tersenyum.


"Oh ya kenalin, temanku Ines !" Ara memperkenalkan Ines.


Ines memberikan senyuman kepadanya, begitu juga dengan Sonya, membalas senyumannya.


"Aku senang kita bisa bertemu lagi Son." ucap Ara.


"Kebetulan Ra, aku tadi sempat melihat kau turun dari mobil. Tapi karena aku masih punya urusan di toko sebelah jadi tidak menyapa langsung dirimu,"


"Oh gitu, terimakasih sudah datang menyambangi ku di sini. Aku harap hubungan silaturahmi kita tidak akan terputus!" kata Ara.


Sonya mengangguk tersenyum, merasa takjub dengan wanita muda ini, yang selalu rendah diri pada setiap orang.


6 orang pegawai butik nampak mendorong tiga buah manekin di tengah tengah ruangan. Tiga buah manekin yang terpasang gaun pengantin yang indah, mewah dan elegan.


"Cantiknya ....!" guman Sonya terpesona.


"Hasil rancangan Ara nih, dia yang mendesain gaun ini, termasuk jas untuk pengantin prianya." Ines kembali memuji.


"Benar Ra?" mata Sonya membulat seakan tidak percaya.


"Tentu saja." jawab Ines mewakili. Ara hanya tersenyum.


"Awalnya juga aku gak percaya Ara bisa mendesain gaun pengantin seindah ini, tapi kak Nesa membenarkan!" ujar Ines kembali.


"Wah, kamu sungguh luar biasa Ra, ini keren dan sangat cantik," puji Sonya kembali menatap setiap detail gaun pengantin ball gown putih dengan bentuk sweet heart pada bagian dada.


"Kau sudah seperti perancang busana terkenal dunia aja Ra!" sambungnya kembali.


Ara terkekeh mendengarnya"Kalian berdua terlalu berlebihan." melihat Ines dan Sonya bergantian.


Ponsel Sonya berdering.


"Bentar ya, gue angkat telepon dulu!" katanya pada Ara dan Ines sambil melangkah menjauh beberapa meter.


Semenit berlalu.


"Selamat datang nona Sophiana Widjaya!" ucap staf karyawan pada seorang tamu yang baru saja datang.


Wanita yang memang adalah Sophia itu berjalan masuk dengan sangat percaya diri. Lengan dan pinggulnya mengayun secara berlebihan, kepala dan bahu terangkat, pakaiannya yang sedikit ketat dan sedikit seksi. Hingga menarik perhatian beberapa pengunjung butik.


Sophia melenggang berjalan mendekati gaun pengantin pesanannya yang sedang di kelilingi oleh Ines dan Ara.


Dia sangat tahu itu adalah gaun pengantinnya yang akan di pakai pada pernikahannya bersama Dion.


"Hey cupu, jangan sentuh gaun ku dengan tangan kotormu itu," hardiknya keras melihat tangan Ara menyentuh taburan mutiara yang menempel pada gaun tersebut.


Dia melangkah cepat mendekat dan segera menepis tangan Ara kuat.


Ara terkejut. Dia memegang tangannya yang terasa sakit.


"Nanti kau merusaknya. Gaun ini sangat mahal tau?" menatap melotot pada Ara.


"Heh, apa apaan lo, datang datang langsung marah marah dan kasar pada orang," sentak Ines. Dia memegang tangan Sopiah kuat karena tidak terima kekasarannya pada Ara.


Sophia meringis sakit."Lepaskan tanganku," menarik kuat tangannya.


Dia menatap wajah Ara dan Ines bergantian.


"Kalian lagi? Aku ingat kalian. Kalian berdua yang ingin mencelakai ku di Mall kemarin?"


"Sembarang kalau ngomong! Siapa yang mau mencelakaimu? Bukannya sebaliknya?" timpal Ines ketus tak mau kalah.


"Sudah Nes, gak usah di ladenin!" Ara segera menarik tangan Ines menjauhkan mereka berdua. Tak ingin menjadi perhatian pengunjung.


Nesa datang mendekat pada mereka.


"Anda sudah datang nona Shopia ?" ucapnya tersenyum.


"Iya buk Nesa, aku baru tiba. Kedua wanita menyentuh gaun pengantinku. Aku tidak suka! Nanti kotor dan rusak."


Ines mengikuti ucapannya dengan mencibir dan bibir monyong.


Nesa tersenyum."Mereka pegawai ku nona. Oh ya, mana pasangan anda?"


"Kami datang secara terpisah, sebentar lagi kekasihku sampai," ujar Sophia seraya melirik dengan ekor mata pada Ara dan Ines.


Ines balas menatapnya sinis.


"Apa anda ingin mencobanya sekarang? Atau menunggu pasangan anda?"


"Aku akan mencobanya sekarang,"


"Baiklah, kalau begitu anda bisa memilih sebentar aksesoris yang cocok untuk gaun pengantin anda," kata Nesa, lalu berjalan mendekat pada Ara.


"Ra, kita keruangan mu," bisiknya.


"Baik kak." Ara mengangguk.


"Nona Sopiah, mari ikut saya!" ajak Nesa pada Sopiah.


Sophia mengikuti langkah Nesa sambil melirik tajam pada Ara dan Ines


"Halo Sopiah," sapa Sonya.


"Lo? Lo di sini?" ujar Sopiah kaget melihat keberadaan Sonya, keduanya saling menatap.


"Ya, kebetulan aku ke sini untuk menyapa temanku,"


"Teman? siapa?" dahi mengerut.


Sonya menoleh pada Ara, tapi tidak menyebut nama Ara.


"Lo sendiri ngapain di sini?" balik bertanya.

__ADS_1


"Oh ya ku lupa, kau akan menikah kan? aku dengar kau akan segera menikah dalam waktu dekat ini. Kau pasti kesini untuk membeli gaun pengantin. Aku ucapkan selamat." ujar Sonya kembali menatapnya tersenyum.


Sophia balik tersenyum dengan amgkuh dan sombong, lalu melangkah kembali mengikuti Nesa.


"Son, apa kau mengenal nenek lampir itu?" bisik Ines.


Dahi Sonya mengerut.


"Iya, aku mengenalnya! Tapi nggak begitu akrab sih, hanya kenal aja karena orang tua kami saling mengenal, memangnya ada apa Nes. Kamu kok nyebut dia begitu ?"


"Nggak ada apa Son, ayo ikut kami." ajak Ara menarik tangan Ines supaya tidak bicara lagi mengenai Sophia pada Sonya.


"Kemana?"


"Udah, ikut saja...."


Ara melangkah cepat menyusul Nesa dan shopia.


Tibalah mereka di depan sebuah pintu yang bertuliskan Azahra.


Nesa segera membuka pintu ruangan.


"Silahkan masuk nona Sopiah!"


Sophia tercengang melihat isi dalamnya ruangan ini, luas cantik mewah dan sangat elegan. Di dalamnya banyak terpajang aksesoris pengantin dalam bentuk mahkota, sanggul, kalung, gelang, cincin, hiasan rambut yang terbuat dari emas, mutiara dan berlian yang terpanjang dalam satu lemari kaca baca besar.


Bukan hanya aksesoris pengantin, tapi juga beberapa set perhiasan yang terbuat dari emas, mutiara dan berlian yang di panjang dalam satu tempat terbuat dari lemari kaca yang bertuliskan koleksi Azahra.


Selain itu ada juga tas tas dan sepatu, sendal branded terkenal yang terpajang dalam lemari kaca, yang semuanya produk keluaran terbaru.


"Sangat cantik dan elegan," desis Sophia terpukau melihat produk branded yang harganya setinggi langit sesuai dengan jenis dan kualitasnya yang indah dan mewah.


"Semua koleksi anda sangat indah dan cantik bu Nesa."


"Ini bukan punyaku nona Sophia, tapi pemilik butik ini," kata Nesa tersenyum.


"Silahkan di pilih aksesoris yang sesuai dengan gaun pengantin anda," kata Nesa kembali.


Ara, Ines dan Sonya segera masuk.


"Wah, indahnya..." ucap ines dan Sonya hampir bersamaan. Keduanya terpukau melihat kilauan emas mutiara dan berlian yang tampak menyala yang terpasang dalam setiap manekin.


"Ra, ini semua koleksimu ya?" Ines berbisik. melihat tulisan Azahra di setiap koleksi barang-barang mewah tersebut.


Ara mengangguk tersenyum.


"Hebat lo Ra , top marko top buat lo !" puji Ines kembali. Sonya juga kagum dengan wanita muda ini.


"Terus kemana pemilik butik ini bu Nesa?" tanya Sophia lagi seraya mengamati koleksi perhiasan emas dan berlian.


"Dia jarang datang ke sini, orangnya sibuk !" jawab Nesa seandanya.


"Apa aku pernah melihatnya?"


"Tentu saja, kau pernah hadir dalam launching beberapa produk terbarunya di Mall AZ'FA beberapa bulan lalu. Kau datang bersama ibumu saat itu," kata Nesa.


Dahi Sophia tampak berkerut karena mengingat sesuatu.


"Oh ya aku ingat, apa dia yang menjadi model ambassador produk produknya itu?" Sophia ingat saat di ajak ibunya menghadiri launching produk dari teman mamanya yang bernama Rahmia, sekaligus perkenalan dari pemilik produk produk tersebut yang selama ini tidak pernah menampakkan dirinya dan hanya di kelola Rahmia dan molly di bawah naungan perusahaan RA Group. Dan dia sangat kagum dan terpukau setelah melihat wajah sang pemilik koleksi produk produk mewah dan glamor tersebut. Yang dari sudut pandangnya adalah wanita cantik dan cerdas.


"Kau benar nona Sophia!" Nesa membenarkan.


"Cih.... pemiliknya ada di belakang mu nenek sihir!" cibir Ines menatapnya sinis. Ara Segera menutup mulutnya, untung saja Sophia tidak mendengar ucapannya.


Setelah memilih beberapa saat dan mendapat aksesoris gaun pernikahan, satu set perhiasan, sepatu dan tas yang cocok dengan gaun pengantinnya bernilai fantastis, Sophia segera keluar, di ikuti Nesa.


Ara, sonya dan Ines juga ikut keluar menyusul mereka. Bertepatan dengan masuknya Cindy dan Dion. Shopia langsung tersenyum senang melihat kedatangan Dion.


"Sayang, akhirnya kau datang juga," serunya seraya melangkah cepat mendekati Dion.


Cindy segera menarik tangannya dari pegangan tangan Dion.


Baik Ara, Sonya, dan Ines terkejut melihat reaksi yang ditujukan Sophia pada Dion.


Sonya bergelayut manja di lengan Dion, memamerkan kekasihnya dan kemesraan mereka.


Dion melihat Ara di depannya. Dia menatap Ara tanpa berkedip. Tak menyangka bertemu Ara di sini.


"Cindy...!" seru Ines pada Cindy, dia langsung berlari mendekat dan langsung memeluk sahabatnya itu. Keduanya saling berpelukan.


Ara juga melangkah dan memeluk dirinya.


Ketiga sahabat karib itu saling berpelukan senang.


Dion melepaskan pegangan Sophia pada lengannya. Membuat gadis itu mendengus kesal, karena niatnya ingin pamer kemesraan pada semua orang yang ada di situ. Tapi sikap Dion selalu membuatnya emosi karena selalu menolak bermesraan di depan orang banyak.


Dahi Sophia mengerut penuh tanya melihat kedekatan Cindy dengan Ara dan Ines kedua wanita yang tidak disukainya.


Apa mereka saling mengenal? batinnya memperhatikan ketiganya yang terlihat akrab.


Beberapa saat kemudian dia segera melihat pada Nesa.


"Bu Nesa, ini calon suamiku. Karena kekasihku sudah datang maka aku akan mencoba gaunku sekarang." katanya pada Nesa dengan bangga.


Perkataannya membuat Ara , Ines dan Sonya terbelalak.


"Baik nona Sophia! Mari ikuti kami, kita ke ruang ganti." Nesa segera memberi isyarat pada dua stafnya untuk membawa Sophia ke ruang ganti, beserta gaun pengantinnya.


Cindy mengangguk lemah.


"Iya, dengan wanita tadi, namanya Sophia. Dia adalah calon istri kak Dion!" kata Cindy menatapi kedua sahabatnya bergantian. Dia tahu kedua temannya merasa sangat terkejut.


"Aku gak nyangka kalau Sophia memesan baju pengantin pernikahan di butik mu Ra," ujarnya menatap Ara.


"Aku juga gak tahu Cin, kalau dia calon istri kak Dion. Kak Nesa nggak kasih tahu aku," ucap Ara melirik pada Dion yang masih menatapnya.


Cindy mendekat pada Dion.


"Kakak juga harus mencoba jas pengantin kakak!" katanya dengan suara lemah.


Dion membuang nafas kasar. Dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu Ara di sini, Bahkan Sophia memesan baju pengantin mereka di butik wanita yang di cintainya ini.


Dion berbalik hendak melangkah pergi, tapi Cindy segera menahan lengannya.


"Kak, cobalah dulu jas pengantinnya!"


"Gak perlu Cin, kakak mau balik ke kantor!"


"Tapi Sophia sementara mencoba gaun pengantinnya. Kakak juga harus mencobanya. Ayolah, aku tidak ingin tante Dinda marah." bisik Cindy memelas.


Dion menatapnya tajam.


"Aku mohon kak!" pinta Cindy kembali dengan masih memelas karena dia sudah berjanji pada Dinda akan membuat Dion mencoba dan memakai jas pengantinnya bersama Sophia.


Dion membuang nafas kasar, dia berbalik


dan pandangannya malah kembali terarah pada Ara yang tepat berada di depannya.


"Selamat ya Dion, kau akan menikah. Aku tidak menyangka kalau Sophia adalah calon istrimu. Aku memang sudah mendengar kabar kalau dia akan menikah, tapi aku tidak tahu laki laki yang menjadi calon suaminya adalah kau." ucap Sonya menatap tersenyum padanya.


Dion kembali membuang nafas berat. Dia juga tidak menyangka akan bertemu Sonya di sini, wanita yang dulu dijodohkan dengannya tapi di tolak.


Dahi Sonya mengerut membaca ekspresi wajah Dion yang aneh."Sepertinya Dion tidak suka dengan pernikahan ini. Dan sepertinya dia belum bisa melupakan Ara dan masih mencintai wanita milik tuan Ravendro." batinnya seraya memperhatikan wajah Dion yang menatap terus pada Ara.


"Ya tuhan, wanita judes itu adalah calon istri kak Dion? Dia wanita angkuh dan sombong, nggak cocok sama kak Dion ...!" kata Ines menyela, menatap Dion dengan wajah masam.


Ara segera menutup mulutnya.


Ines melepas tangan Ara dari mulutnya.


"Aku benar kok Ra, dia angkuh dan sombong."


"Nes... jangan ngomong gitu ah, nanti di dengar wanita calon istrinya kak Dion!" Ara kembali membekap mulutnya.


"Biar aja si mak lampir dengar aku nggak takut sama dia." ujar Ines agak keras dan kesal.


"Nes, nggak boleh gitu. Itu artinya kamu nggak menghormati kak Dion. Dia wanita pilihan kak Dion, kekasihnya, calon istrinya. Kita harus menghargainya pilihan kak Dion. Kamu gak boleh ngomong buruk gitu sama orang, dosa tau... udah diam, jangan ngomong lagi," bisik Ara kembali padanya, karena suara ines yang keras khawatir akan di dengar Sophia dari ruang ganti.


Dion segera melangkah ke sebelah menjauh dari mereka.


"Cin, gak salah tuh, wanita itu calon suaminya kak Dion? Aku gak setuju deh kak Dion nikah sama dia, masih banyak wanita baik dan sopan di luar sana daripada di nenek lampir itu !"


"Ineeeess.....!" Ara menatapnya tajam.


Ines merungut kesal, sedangkan Cindy mendesah sedih dalam hati mendengar ucapannya.


Ara segera mengambil jas pengantin Dion, lalu berjalan mendekatinya.


"Kak Dion !" panggilnya pelan dengan suara rendah, dia menatapi punggung lelaki ini.


Dion segera membalikkan tubuhnya. Ara tersenyum padanya.


"Ini jas pengantin kakak, kakak juga harus mencobanya, biar bisa tahu apa jasnya udah pas dan nyaman di tubuh kakak," kata Ara seraya menyodorkan pakaian itu ke tangan dion."Cobalah!"


"Selamat ya, kakak akan menikah. Aku doakan yang terbaik untuk pernikahan kakak. Semoga semuanya lancar sampai waktunya tiba, Dan rumah tangganya langgeng selamanya." ucap Ara kembali.


Dion tak menerimanya, dia terus menatap Ara tak bergeming, menatap mata teduh, wajah cantik dan manis yang kembali membuat jantungnya berdegup kencang saat ini, wajah yang kembali membuat hatinya sakit, tapi jujur sangat dirindukan. Wajah manis yang saat ini sedang tersenyum padanya, yang berbicara sangat lembut padanya, mulut mungil yang mendoakan kebaikan pernikahannya. Membuatnya dadanya sesak dan hatinya sakit.


Dion mendesah sedih dan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kak." panggil Ara kembali karena Dion tak mengindahkan panggilannya, dia segera berjalan di depan Dion.


"Mari aku antar kakak ke ruang ganti." katanya seraya tersenyum, dia segera menarik tangan Dion menuju ke ruang ganti untuk pria.


Dion kaget, tapi menurut tanpa membantah. membiarkan pegangan tangan Ara di tangannya dan mengikuti langkah wanita muda ini.


Cindy, Ines dan Sonya saling berpandangan melihat Dion seperti orang yang patuh.


"Cin, kemari lah, temani kami di dalam," kata Ara melambaikan tangannya pada Cindy.


Cindy sedikit kelabakan, lalu segera melangkah menuju ruang ganti. Dia mengerti maksud ucapan Ara ikut mengajak dirinya kedalam, karena dia adik Dion.


"Cin, kalian kan kakak beradik, tolong buka kancing kemeja kak Dion ya? Sepertinya kak Dion tidak mau memakai jas ini."


"Baik Ra, aku ngerti." Dia mendekati Dion dan melepaskan dasi Dion.


Dion segera menahan tangan Cindy.


"Aku mohon kak, diam dan menurut lah." bisik Cindy memelas. Melanjutkan membuka dasi, lalu melepas kancing jas kantor kakak sepupunya satu persatu.


Dion diam tak banyak komentar lagi. Matanya kembali menatapi Ara.

__ADS_1


"Maaf kak, melakukan ini padamu!" kata Ara.


"Kak, aku boleh nanya sesuatu nggak? apakah Sophia wanita yang kakak katakan padaku saat kita naik bianglala dulu? Wanita yang kakak cintai dan ingin kakak jadikan istri dan ibu dari anak anak kakak! Apakah dia orangnya ?"


"Bukan Ra, tapi ka....!" kata Cindy, tapi omongannya terhenti.


"Cindy ...!" sentak Dion memotong ucapannya. Seraya membungkam mulut Cindy.


Ara terkejut, kaget dengan suaranya yang keras.


"Ra, maaf. Aku tidak bermaksud berkata keras tadi! Maafkan aku," ucap Dion merasa bersalah dengan sentakannya yang membuat Ara kaget.


Ara menelan ludahnya.


"Aku yang seharusnya minta maaf karena menanyakan hal itu, maaf....!"


Cindy selesai memakaikan jas.


"Kakak semakin gagah dengan jas pengantin ini," ujarnya tersenyum seraya menatapi Dion.


"Cindy benar, dan sekarang tinggal celananya di pakai, setelah itu kak Dion tolong keluar! Biar kak Nesa bisa lihat bersamaan dengan gaunnya Sophia," kata Ara, lalu segera keluar dari ruang ganti.


"Cepat kakak pakai celananya, terus keluar ya? aku tunggu di luar." kata Cindy.


"Ini udah pas Cin, berarti celananya juga, gak perlu mencobanya lagi," ujar Dion seraya membuka kancing jas.


Cindy Segera menahan tangannya.


"Jangan di buka dong kak, kakak harus mencoba celananya juga. Aku mohon, sebentar saja! Setelah itu aku akan mengambil foto kalian berdua terus ku kirim sama tante Dinda!"


"Kamu nggak perlu turutin semua perkataan mama," kata Dion, dan kembali membuka kancing jas.


"Ya ampun kak, kenapa sih keras kepala sekali? Nggak lama kok makainya, ini juga tinggal celananya doang di pakai." Cindy menatapnya kesal.


Dia mengancing kembali dua kenop jas Dion yang terbuka.


"Udah Cind, aku mau pulang, aku capek mau istirahat, aku juga belum makan. Ayo kita pulang sekarang, kau juga masih harus memasak makanan untukku!"


"Makanya cepat dong pakai setelan jasanya biar kita segera pulang. Tinggal celana doang, cepatan." kata Cindy.


"Nggak perlu! Aku malas makainya!" Dion bersikeras tidak mau.


Cindy mendengus kesal.


"Kalau kakak nggak mau buka celananya, biar aku saja yang buka." Cindy bergerak cepat, segera melepas gesper ikat pinggang Dion.


Dion terkejut.


"Kamu ngapain Cindy? Gak usah!"


"Mau buka celana kakak! Kakak menyebalkan amat tau nggak," ujar Cindy menatapnya kesal terus membuka gesper ikat pinggang.


"Kakak pakai dalaman kan?" tanyanya kembali menarik rets celana ke bawah, Terus celana Dion hingga melorot ke bawah. Terlihat bokser pendek Dion.


"Lepas sepatunya!" kata Cindy kesulitan melepas celana karena tersangkut pada sepatu."Ya ampun, kayak anak kecil saja!" umpat Cindy. Dia mulai keringatan karena pusing dan merasa mual akibat terlalu banyak bergerak.


Dia mendongak ke atas menatap tajam dan kesal.


"Udah, biar aku saja." kata Dion melihat keringat banyak di wajah Cindy.


"Kalian ngapain?" terdengar suara keras dari pintu. Keduanya terkejut dan segera melihat ke pintu.


Sophia yang masuk tanpa mereka sadari. Gadis itu terkejut melihat mereka berdua yang tampak sibuk membuka celana Dion juga posisi keduanya. Cindy Yang duduk jongkok di depan kaki Dion dan sedang melepas celana Dion. Dan tangan Dion memegang kepala Cindy yang berada tepat di depan bagian pribadinya.


"Apa yang kalian lakukan?" sentak Sophia kembali dengan wajah memerah menahan amarah. Matanya menatap Cindy Yang masih berada di bawah Dion, dan celana Dion telah melorot ke bawah, tinggal memakai bokser pendek. Posisi ini membuatnya berpikir kotor.


"Sophia....!" Cindy segera berdiri. Dan Dion segera menarik celananya dan di kunci.


"Apa yang ingin kalian lakukan? kenapa kau berada di bawah Dion?"


Cindy terkejut langsung dia segera berjalan mundur.


Dia mengerti dengan pertanyaan Sophia.


"I- ini gak seperti yang kamu pikirkan Sophia! Kamu jangan berpikir buruk! Aku dan kak Dion......!" dyia kelabakan dan gugup.


Plak .......


Satu tamparan mendarat keras di pipinya.


Cindy meringis. Tubuhnya membentur dinding. Dia segera memegang pipinya yang sakit.


Sementara Dion terkejut dengan apa yang di lakukan Sophia. Dia tidak bisa mencegah karena tamparan Sophia yang cepat.


Sophia hendak menampar lagi, tapi di hentikan Dion.


"Apa yang kamu lakukan Sophia? Kenapa kau menampar Cindy?" sentak Dion menarik tangannya kuat.


"Kamu masih ingin bertanya kenapa aku menamparnya?" Sophia balik membentaknya.


"Memangnya apa yang di lakukan Cindy, hah?"


"Kau masih ingin bertanya juga? Untuk apa dia berada di bawah kakimu dan melepas celana mu dengan terburu-buru? Wanita tidak tahu diri, tidak tahu malu! Cih....dasar wanita rendah! kau pikir aku buta tidak melihat apa yang dia lakukan? Justru aku bertanya pada kalian berdua, apa yang ingin kalian dengan posisi seperti itu? Kenapa tangannya berada di bagian pribadi mu? Kenapa dia membuka celana mu? Apa yang ingin kalian lakukan?" teriak Sophia keras dengan emosi yang meluap-luap. Dia mendorong kuat tubuh Dion.


"Kami tidak tidak melakukan apapun Sophia!" Dion menatapnya tajam.


Cindy segera mendekat dan memegang tangan Sophia.


"Sophia, kamu salah paham, sungguh. Tidak ada yang kami lakukan Sophia. Aku tadi hanya ingin membuka celananya untuk......!"


Plak...satu tamparan kembali melayang di pipinya, sebelum penjelasannya selesai, lebih keras dari sebelumnya. Dan lagi lagi Dion tidak bisa mencegah.


Cindy terjatuh karena tubuhnya lemah. Dia meringis kesakitan, memegang pipi sebelahnya. Air matanya yang menggembung meleleh jatuh.


"Sophia, cukup! Kau benar-benar keterlaluan!" teriak Dion menarik tubuh Sophia dan mendorongnya kuat kebelakang hampir jatuh.


Lalu mengangkat tubuh Cindy berdiri dan memeluk dengan satu tangannya.


Sophia tidak mengindahkan teriakkan Dion Dia menatap Cindy tajam. Kemarahannya semakin menjadi melihat kedekatan mereka.


"Untuk apa kau membuka celana Dion?" dia tertawa sinis."Kamu benar benar wanita rendah! Kamu ingin penggoda Dion? Kau ingin menggoda kakakmu sendiri? Kalian ingin berbuat mesum? Hah?" menatap keduanya bergantian.


Dion dan Cindy terkejut mendengar ucapannya.


Sophia kembali melayangkan tangannya, hendak menampar Cindy, tapi Dion cepat menahan tangannya dan mencekalnya kuat. Sophia meringis.


"Hentikan Sophia. Hentikan!" wajahnya merah menahan Amarah menatapi Sophia. Dia mendorong tubuh Sophia hingga membentur pintu.


"Kau benar benar sudah sangat keterlaluan, beraninya kamu menampar Cindy tanpa mendengarkan penjelasannya. Dan Kau sudah sangat keterlaluan menuduh kami yang nggak-nggak! Semua yang kau pikirkan dan juga kau lihat tidak benar! Keluar kau dari sini!" sentaknya keras menahan emosi. Matanya yang menyala menyorot tajam menatap Sophia.


"Keluar kau !" sentak Dion kembali seraya menunjuk pintu.


Sophia mendengus geram."Beraninya kau memperlakukan aku kasar Dion? selama ini tidak ada yang pernah memperlakukan aku kasar dan mempermalukan diriku seperti ini! Dan kau bahkan lebih membela dan berpihak padanya? Baiklah, aku akan keluar!" teriak Sophia keras dengan emosi.


Dia berbalik dan hendak membuka pintu, tapi Cindy cepat mendekat dan menahan tangannya.


"Sophia, jangan seperti ini, jangan keluar! Apa yang kamu lihat itu tidak benar, aku mohon percayalah, kamu salah paham. Sungguh kamu salah paham Sophia. Kami tidak melakukan apapun atau ingin melakukan apapun! Tolong kamu dengar dulu penjelasan ku." katanya memelas.


"Menyingkir kau, wanita rendah. Jangan sentuh aku dengan tubuh kotor mu." Sophia menyentakkan tangan keras.


"Jaga ucapan mu Sophia!" sentak Dion kembali.


Amarah Sophia semakin memuncak mendengar sentakan itu. Lebih lagi Dion lebih berpihak pada Cindy.


Dia mendengus geram dan menarik handle pintu. Tapi Cindy kembali memeluk lengannya.


"Aku mohon jangan keluar Sophia, terserah kamu ingin mengatakan aku apa, aku terima. Tapi tolong jangan keluar dengan keadaan seperti ini. Di luar banyak pengunjung, aku tidak ingin mereka melihat dirimu dalam keadaan seperti ini, aku mohon. Tenangkan dirimu. Apa yang kau lihat tidak benar, aku berani bersumpah atas nama Allah!" Cindy segera memegang kedua bahunya, lalu menghadapkan tubuh Sophia kepadanya.


"Dengarkan penjelasan ku. Benar aku tadi ingin membuka celana kak Dion. Karena kak Dion tidak mau mengganti celananya. Dia sama sekali tidak mau mencoba baju pengantinnya, aku memaksanya agar mau mencoba. Hanya tinggal memakai celana, tapi kak Dion tetap keras kepala tidak memakainya, makanya aku memaksa membukanya. Dan bertepatan dengan masuknya dirimu! Hanya itu yang terjadi sebenarnya, sungguh! Percayalah padaku. Kamu sendiri tahu kan kak Dion tidak mau melakukan fitting baju pengantin? Sangat sulit untuk mengajaknya ke sini, bahkan meski Om Ray dan tante Dinda yang meminta, dia tidak akan menurut ! Dan aku berusaha untuk membantu kalian, sungguh aku tidak punya niat apapun!" ucap Cindy terbata bata, kedua ujung matanya basah. Sesak dan sakit yang dia rasakan saat ini.


"Tante Dinda juga meminta bantuan padaku. Setelah kalian memakai pakaian pengantin, tante meminta ku untuk mengambil foto gambar kalian dan di kirimkan padanya. Makanya aku memaksa kak Dion untuk memakai setelan jasnya. Sungguh aku dan kak Dion nggak melakukan apapun percayalah."


Sophia tertegun mendengar ucapan Cindy, Memang di akui sangat sulit mengajak Dion


ke tempat ini bahkan meski orang tuanya yang meminta. Dan dia sangat senang melihat Dion akhirnya datang ke butik ini untuk melakukan fitting baju pengantin dengan bantuan Cindy.


Sophia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan untuk meredakan amarah dan menenangkan hatinya yang panas.


Cindy tersenyum melihat perubahan pada wajahnya yang sudah kembali normal, amarah tidak terlihat lagi.


"Kamu sangat cantik dengan gaun ini Sophia, sungguh. Dan kak Dion juga sangat tampan dengan jas pengantinnya, kalian berdua sangat cocok dan serasi. Aku sangat berharap pernikahan kalian lancar sampai waktunya,"


Sophia menelan ludahnya, lalu dia menatapi Dion yang memang di akui semakin gagah dengan jas pengantinnya ini.


Dion membuang pandangannya ke arah lain, tak mau bertatapan dengan Sophia.


Cindy mendekati Dion. Dia menatap wajah kakaknya yang masih di liputi kemarahan.


"Kak aku mohon, gantilah celana mu! Setelah itu keluarlah, jangan keras kepala, biar semuanya cepat selesai dan kita akan pulang! Aku akan keluar terlebih dahulu untuk memastikan keadaan di sana! Cepatlah ganti celananya biar, aku mohon kak." Cindy memegang tangan Dion, menatap dengan sedih, lalu dia segera keluar.


Tinggallah Sophia dan Dion di kamar ganti.


Perlahan Sophia mendekat pada Dion yang masih diam mematung membelakanginya.


"Dion, aku tidak bermaksud berpikiran buruk kepadamu dan Cindy. Mengertilah dengan apa yang kurasakan saat melihat calon suamiku berdua dengan wanita lain dengan posisi seperti itu," ucapnya pelan dan hati hati.


Dion berbalik dengan cepat."Wanita lain katamu? Cindy bukan orang lain Sophia, dia adikku! Aku tidak menyangka kau akan menuduhnya seburuk itu! Kau tidak berpikir bagaimana perasaannya dengan tuduhan kotor mu itu? Sekarang keluarlah, aku ingin mengganti celana ku," kata Dion menatapnya tajam dengan menahan amarahnya, lalu segera berbalik membelakangi Sophia.


"Keluarlah cepat..," sentaknya.


Sophia memaki kesal dalam hati, tapi dia tidak ingin membuat lelaki ini semakin marah padanya, karena memang apa yang di tuduhkan nya pada Dion dan Cindy sudah sangat keterlaluan, dia tidak melihat sesuatu yang buruk di antara mereka. Di tambah lagi dia menampar Cindy yang membuat Dion semakin emosi dan marah besar kepadanya.


"Baiklah sayang, aku akan keluar! Kau juga cepatlah keluar," ucap sophia manis, menatap punggungnya dengan kesal, lalu segera keluar dari ruangan itu dan menutup pintu kembali. Dia melihat Ara, Sonya dan Nesa nampak sedang berbincang duduk di sofa. Di sofa sebelah Ines dan Cindy duduk berdua juga sedang memperbincangkan sesuatu, semuanya tampak santai seolah tidak terjadi sesuatu. Keadaan butik nampak sudah sunyi, tak ada lagi pengunjung lain kecuali mereka.


Tentu saja, karena Nesa segera memulangkan semula pengunjung atas perintah Ara setelah mendengar keributan di kamar ganti, sebelum semuanya heboh dan di ketahui oleh para pengunjung. Suara keras Sophia yang terdengar sampai keluar membuat mereka terkejut. Mereka menduga terjadi pertengkaran di dalam. Untuk itu Ara segera meminta butik di tutup dengan permintaan maaf pada pengunjung.


"Nona Sophia, kau sudah keluar? Bagaimana dengan calon suamimu, apa dia sudah berganti pakaian?" seru Nesa melihat dirinya.


Nesa segera bangkit berdiri.


Sophia memasang wajah senyum, dia sangat lega melihat keadaan butik yang sunyi. Dia berharap tidak ada yang mendengar dan mengetahui apa yang terjadi di antara di antara mereka di ruang ganti. Dia melihat mereka tampak asik mengobrol.


Belum sempat Sophia menjawab perkataan Nesa, Dion keluar dari ruang ganti dengan sudah memakai jas pengantinnya berwarna hitam. Mereka semua mengalihkan pandangannya pada Dion.


"Wah kak Dion sangat gagah dan tampan." Seru Ines terpukau.


Ara dan Sonya menatapnya tersenyum, begitu juga dengan Cindy. Meras lega akhirnya Dion memakai setelan baju pengantinnya.


Nesa segera memeriksa secara detail pakaian mereka, mengoreksi setiap bagian dari lekuk tubuh keduanya, mungkin saja masih ada yang harus di tambahkan atau di kurangi. Dan juga meminta tanggapan Sophia apa masih ada hiasan yang harus di tambahkan untuk gaun pengantin wanita.


Sementara Cindy, secara diam-diam mengambil foto keduanya dan mengirimkan pada Dinda. Dia menatap wajah Dion yang semakin tampan dan berkharisma dengan setelan jas pengantinnya. Dia tersenyum, tapi hatinya menangis. Berulang kali dia mengusap perutnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2