
Di meja makan sudah duduk Maya, Nesa, si kembar dan Rizal.
Dokter muda itu biasa datang seperti tahun tahun sebelumnya di saat Rafa, Nesa dan Raka berulang tahun. Seisi rumah ini sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Bukan karena dia di percayakan mejadi kepala rumah sakit Rafa, tapi karena memang sejak SMA, dia Rafa dan Wisnu sudah berteman dekat.
Dan semalam dokter muda ini menginap di rumah ini.
Rafa datang di ikuti Wisnu dari belakang.
"Selamat pagi bos." seru Rizal melihat kedatangannya.
Dia menatap sinis pada Wisnu.
Wisnu pun sebaliknya menatapnya.
"Pagi." kata Rafa tanpa menatap wajahnya.
Dia segera duduk di kursi kebesarannya.
"Pagi ma, kak Nesa." sapanya pada mama dan dan kakaknya.
"Pagi nak." jawab Maya.
Nesa hanya menoleh sekilas tanpa menjawab.
"Ada apa dengan wajahmu Wisnu?
kenapa bisa sama seperti Rizal?" tanya Maya menatap wajah Wisnu yang memar membiru sama seperti Rizal.
"Saya terjatuh nyonya." jawab Wisnu kelabakan.
"Jatuh? Rizal juga berkata seperti itu tadi, apa kalian jatuh bersama sama ?"
Rizal melototi Wisnu karena ikut ikutan mengikuti jawabannya. Apa tidak ada jawaban lain? gerutunya kesal.
"Raka belum turun?" Rafa memotong pembicaraan mereka, menatap kursi Raka dan Ara yang masih kosong.
Pak Sam segera mendekat.
"Tadi saya sudah memanggil tuan dan nona muda untuk turun sarapan." jawabnya dengan menunduk.
"Kami di sini kak." tiba tiba terdengar suara dari arah samping, suara Raka yang baru saja turun bersama istrinya.
Mereka segera menoleh.
Mereka terperanjat melihat penampilan Ara.
Dengan kaca mata hitam tebal, rambut panjang keriting seperti supermi yang berantakan di gerai didepan dengan poni tebal di atas alis,
__ADS_1
keningnya juga di garis asal hitam tebal.
Memakai kaus oblong putih besar dan celana jeans panjang longgar.
Kecuali Nesa yang tidak merasa terkejut, karena dia sudah tahu. Malah dia yang menyiapkan kaca mata tebal dan pakaian itu atas permintaan anak anaknya.
Keduanya segera mendekat ke meja makan,
mereka segera duduk setelah menyapa penghuni meja makan.
"Adik ipar, kenapa kau berpenampilan seperti ini ?" Rizal membuka suara menatap tak bergeming pada Ara. Lucu di lihatnya.
Ara hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dokter muda itu.
Rafa melirik sekilas padanya yang duduk tepat di sampingnya itu.
"Kenapa dia berpenampilan cupu begitu?" batinnya ikut heran.
Lalu memberi isyarat pada Sam.
Kepala pelayan itu mengerti, dan segera mendekat. Mempersiapkan alat makan, meletakkan makanan di piring tuannya.
Cio dan Cia tertawa kecil melihat penampilan lucu Ara.
Cio mengacungkan kedua jempolnya pada Ara yang di sambut gadis itu dengan senyuman.
"Cio Cia, jangan berisik. Ayo cepat makan." kata Rafa yang memperhatikan ulah kedua bocah Itu pada Ara.
Nesa segera melototi keduanya.
Anak anak itu patuh dan segera menutup mulut.
Acara makan berlangsung, masing-masing asik menikmati makanannya tanpa bicara.
"Kau tidak perlu ke kantor hari ini." Rafa membuka suara, menatap Raka.
"Kenapa kak?" Raka menghentikan makannya.
"Hari ini dan untuk beberapa hari ke depan, kau tidak perlu masuk kantor. Karena pimpinan mu menambah cuti libur mu. Tadi dia menghubungi kakak."
Ara melonjak senang dan berdiri tanpa sadar mendengar ucapan Rafa
"Benarkah? syukurlah. Terimakasih kakak ipar, terima kasih." katanya tersenyum menatap Rafa. Sungguh dia sangat bahagia. Artinya suaminya bisa beristirahat total dalam beberapa hari ke depan.
Rafa balas menatapnya. Melihat ekspresi bahagia di wajahnya.
Semua menatap ke arahnya.
__ADS_1
Raka segera memegang tangan Ara untuk duduk kembali.
Ara jadi salah tingkah menyadari kelakuannya.
"Ma - maaf ...." ucapnya pelan sambil memperbaiki kaca matanya yang melorot.
"Kamu kenapa memakai kaca tebal itu?" tanya Maya yang tidak suka melihatnya.
"Berpenampilan cupu dan jelek begini, nanti kamu akan membuat Raka malu." lanjutnya kembali.
"Ma, ini kemauan si kembar di kertas permintaan mereka. Dan selama beberapa hari ke depan, mama akan melihat Ara berpenampilan seperti ini. Aku gak masalah dan gak merasa malu dia berpenampilan begini. Tolong mama jangan berkata buruk pada Ara." Raka cepat angkat bicara melihat reaksi yang tidak menyenangkan dari mamanya terhadap istrinya.
Maya terdiam mendengar penjelasan Raka.
"Oooh, jadi ini permintaan Cio dan Cia ya?" Rizal menoleh pada si kembar.
"Iya om dokter, jadi nenek jangan marah marah sama ante Ara." jawab Cia polos.
"Tapi Kenapa meminta hal itu? kenapa gak minta coklat, eskrim, boneka atau mobil mobilan?" tanya Raka yang ikut penasaran.
"Ante Ara kan udah cantik, kami ingin melihat ante Ara jelek seperti, siapa ya ka Cio?" Cia menoleh pada Cio karena lupa sesuatu.
"Seperti Betty la fea." kata Cio menyambung perkataan adiknya.
Rizal tertawa mendengar celoteh
anak anak itu. Raka pun ikut tertawa kecil .
"Kalian ini ada ada aja." katanya sambil geleng-geleng kepala memandang kedua ponakannya ini.
"Sudah sudah, kalian cepat berangkat sekolah , nanti telat." ucap Maya.
Kedua bocah itu segera turun dari kursinya.
Mereka menyalami Maya, Rafa, Rizal, Raka dan Ara bergantian, lalu berlari menuju pada Ucil sopir mereka.
Nesa bangkit dari duduknya.
"Mana kartu kredit kakak?" katanya pada Rafa.
Rafa telah menyita kartu kreditnya nya karena sikap buruknya yang mengabaikan Cio dan Cio.
Dan sebagai permintaan di hari ulang tahun Rafa, dia menulis meminta kartu kreditnya itu di kembalikan.
"Mari saya antar ke depan nona" kata Wisnu.
Nesa menoleh kearahnya, lalu segera melangkahkan kaki mengikuti sekretaris adiknya itu.
__ADS_1
******