
"Kak, aku ikut ya, aku akan tunggu di teras mesjid." kata Ara ketika Raka hendak turun,
dia menahan tangan suaminya.
Raka memegang lembut tangan istrinya.
"Kamu di sini saja sayang. Ada kak Rafa dan kak Nesa menjagamu, ada juga sekretaris Wisnu di sini. Kamu gak akan kenapa-kenapa." katanya dengan suara pelan.
"Tapi kak, aku.... " ucapan Ara menggantung karena di potong Nesa.
"Sudah Ra, Kamu di sini saja sama kita, kamu gak akan kenapa-kenapa di sini." sela Nesa.
"Kamu dengar sendiri kan sayang, mereka akan menjagamu. Ada aku saja mereka sangat menjagamu dengan baik, apalagi saat aku tidak bersamamu. Lagi pula aku kan hanya sebentar ke mesjid. Setelah sholat aku akan segera kembali." Raka menyapu lembut pipi istrinya sambil tersenyum.
Ara terdiam, sebenarnya bukan dia takut di tinggalkan di dalam mobil, tapi karena dia khawatir melihat wajah suaminya yang pucat lagi. Dan jika melihat keadaan suaminya seperti itu, dia sangat khawatir dan perasaannya juga tidak tenang.
Ara memegang kedua tangan suaminya dan menciumnya dengan lembut secara bergantian.
Raka tersenyum, menatap lekat wajah istrinya yang di lihatnya semakin cantik dan manis. Dia mencium kening istrinya dengan lembut beberapa detik, lalu memeluk tubuh mungil itu. Ara juga memeluk erat tubuh suaminya, mencium kepala, rambut dan juga mengecup bahu kokoh itu berulang ulang.
"Kakak baik baik ya di dalam, aku khawatir sama kakak, wajah kakak pucat lagi." bisik Ara pelan dengan suara serak.
Raka menyapu punggung istrinya lembut.
"Iya sayang, kamu jangan khawatir. Kakak akan segera kembali, tunggu kakak di sini." ucapnya pelan meyakinkan istrinya.
Ara mengangguk.
"Aku menyayangimu sayang."
"Aku juga sangat menyayangi kakak." balas Ara menyapu punggung suaminya mengecup kening dan bibir suaminya lembut.
Raka tersenyum terharu, dia kembali membalas kecupan manis istrinya.
"Sayangku, cintaku dunia dan akhirat !" ucap Raka lembut, lalu segera melepaskan pelukannya. Memegang kedua tangan istrinya dan tersenyum manis, Ara juga ikut tersenyum menatap lembut wajah suaminya.
__ADS_1
"Nanti keburu Qamat Raka, ayo turunlah," ujar Nesa mengingatkan waktu sholat yang sedikit lagi akan di mulai.
"Iya kak....aku akan turun." Raka melepaskan pegangannya.
Dia menatap ke depan ke arah kakaknya di depan."Kak, aku titip Ara ya, tolong jaga dia." menyentuh pundak kanan Rafa. Entah kenapa dia merasa khawatir meninggalkan istrinya.
"Iya, kamu Jangan khawatir.....kakak akan menjaganya." jawab Rafa mengangguk, seraya memegang tangan adiknya yang masih di atas pundaknya. Raka lega dan tenang mendengar ucapan kakaknya.
Rafa melihat wajah adiknya dari kaca tengah mobil."Apa kamu baik baik saja? Wajahmu pucat Raka !" serunya melihat wajah Raka yang terlihat pucat. Dia segera memalingkan kepalanya ke belakang, menatapi wajah adiknya.
"Gak apa apa kak, aku baik baik saja. Kakak jangan khawatir." jawab Raka tersenyum.
"Benaran kamu nggak apa-apa?" ujar Rafa kembali memegang kembali tangan adiknya yang masih di pundaknya.
"Iya kak, kakak jangan cemas ! Aku turun dulu, aku titip istriku pada kalian, tolong jaga dia dengan baik," ucapnya lagi menatap kedua kakaknya bergantian.
"Kamu ini selalu saja mengatakan itu. Kamu jangan khawatir, kami akan menjaganya dengan baik." kata Nesa. Dia tahu Ara adalah harta Raka yang sangat berharga dalam hidupnya.
"Terimakasih kak," ucap Raka memegang tangan kakak perempuannya ini. Lalu dia tersenyum kembali pada istrinya. Ara juga membalas senyumannya seraya menyentuh lembut kedua pipi suaminya.
"Sekretaris Wisnu, tolong tarik tanganku, aku kesulitan keluar karena terhimpit oleh wanita wanita cantik dan gendut ini," ujarnya di barengi tawa kecil.
Wisnu tersenyum. Ara juga hanya tersenyum.
Sedangkan Nesa melongo.
"Enak saja katain kakak gendut." ujarnya agak kesal. Raka tertawa kecil. "Bercanda kak, maaf!" katanya.
Ara tersenyum sambil memegang tangan suaminya untuk membantunya keluar, karena Raka berada di tengah ia dan Nesa.
Rafa ikut tersenyum memandangi mereka dari depan.
"Pelan pelan turunnya Raka !" katanya masih menengok ke belakang.
"Iya kak !" jawab Raka menoleh sekilas padanya. Wisnu segera memegang tangan kanannya tuan mudanya dan menariknya pelan.
__ADS_1
Kening Wisnu mengerut merasakan sesuatu,
tapi dia mengabaikannya dia mengabaikan apa yang dia rasakan.
"Sayang ...!" Raka melambaikan tangannya pada istrinya seraya tersenyum, lalu pada kedua kakaknya. Dia menatapi ketiga orang yang di cintainya itu bergantian.
"Cepat kembali ya kak!" balas Ara tersenyum .
"Iya sayang!" jawab Raka. Lalu segera berbalik melangkah menuju mesjid.
Dia memandangi suasana alam yang tampak terang indah seakan tersenyum menatapnya. Raka tersenyum tulus penuh rasa syukur menatap keindahan cakrawala, hatinya terasa tenang dan damai .
"Ya rabb, terima kasih sudah mengizinkan ku menikmati keindahan alam semesta
ciptaan mu ini." ucapnya penuh rasa syukur di dalam hati, dan terus melangkah di ikuti Wisnu dari belakang.
"Sekretaris Wisnu, cukup antar di sini saja, kembalilah ke mobil, aku akan segera masuk ke mesjid." katanya pada sekretaris setia kakaknya ini sambil tersenyum.
Wisnu menundukkan kepala, dan melangkah menjauh sedikit. Dia tetap ingin menjaga tuan mudanya dari dekat karena itu sudah tugasnya.
Apalagi melihat keadaan tuan mudanya yang sedang tidak sehat.
Raka mengambil air wudhu, lalu segera melangkah masuk mesjid dan mengambil tempat di saf depan yang masih kosong.
Untunglah dia karena masih sempat mengerjakan sholat sunah, karena setelah 30 detik berlalu, terdengar Iqamah dari Mu'adzin.
Para jamaah laki yang berada di saf depan memintanya untuk menjadi imam. Sholat fardhu yang berjumlah dua raka'at pun di mulai.
Raka membacakan setiap doa dengan fasih, dan sepenuh hati. Suaranya yang merdu mendayu terdengar menggema ke seluruh ruangan bahkan sampai keluar mesjid melalui alat loud speaker. Sesekali ia menangis terisak karena begitu menghayati kalam kalam ilahi.
Jamaah pun begitu menikmati suara merdunya yang menyesap di sanubari mereka meski harus berdiri agak lama.
Rafa, Ara, Nesa dan Wisnu merinding mendengar suara merdunya. Ada rasa haru di hati, serta rasa sesak yang menghimpit di dada mereka. Raka sudah terbiasa menjadi imam, bukan hanya di mesjid yang selalu ia singgahi, tapi juga di kantornya. Rekan rekan kerjanya selalu meminta ia memimpin sholat di musholla kantor. Sewaktu dari SD dia sudah terbiasa adzan di masjid, dan kadang mengimani teman temannya. Hingga sampai ia SMA dan kuliah pun selalu mengumandangkan azan, dan terkadang di minta oleh guru, dosen dan teman temannya untuk memimpin sholat dan khutbah Jum'at di mesjid. Karena mereka melihat dia yang tak pernah meninggalkan sholat lima waktu, juga pandai dan rajin mengaji dan sudah menghafal semua juz dalam kitab Al-Qur'an. Untuk itu teman temannya memberi gelar padanya "Raka anak sholeh."
*****
__ADS_1