Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 199


__ADS_3

Setelah shalat subuh Ara mengunjungi makam Raka, suaminya. Air mata haru dan bahagia membanjiri kedua pipinya.


"Assalamualaikum kak, apa kabar? Maaf baru bisa mengunjungi mu sekarang. Tapi kau selalu ada di hatiku di setiap denyut nadiku, aku selalu merindukanmu. Beristirahatlah dengan tenang di alam keabadian. Kakak jangan menghawatirkan aku. Ada kakak ipar yang menjaga dan melindungi ku." batinnya dalam hati sambil memegang tangan kanan Rafa yang berada di sebelahnya. Dan satunya lagi menyentuh batu nisan Raka.


Rafa tidak tahu apa yang di bicarakan Ara dengan Raka melalui hati, dia ikut membalas menggenggam tangan istrinya.


"Raka, kakak akan menjaga Ara seperti pesan terakhirmu. Izinkan kakak untuk membahagiakannya. Kakak sudah menjadikan dia sebagai istri. Kakak janji akan menjaga dan membahagiakan dia selama hidup kakak untuk meneruskan tanggung jawab mu. Beristirahatlah dengan tenang di surgamu. Kamu akan selalu ada di hati kami." ucap Rafa memegang pusara adiknya.


Air mata Ara kembali tumpah ruah saat melihat kamar tidurnya bersama Raka sudah kosong tanpa ada isinya. Tak ada lagi foto foto mereka, pakaian mereka, barang barang mereka. Bahkan cat ruang itu sudah berubah warna. Maya sudah menyimpan semua kenangan Raka bersama dengan kenangan almarhum suaminya, Artawijaya, juga Revan suami Nesa dalam suatu ruangan yang ada di rumah ini.


Semua kenangan itu tersimpan dengan rapi.


Tapi Maya mengatakan kapan saja Ara bisa mengunjungi ruang itu.


Maya memeluknya dengan rasa bersalah.


"Maafkan mama menyuruhmu untuk tidak tinggal lagi di rumah ini. Mama tidak ingin kau meratapi terus kepergian Raka, hidup dalam kesedihan dengan segala bayang bayang dan kenangannya. Kamu masih muda nak, perjalanan hidup dan masa depanmu masih panjang. Kau berhak bahagia tanpa terus meratapi kematian Raka. Hiduplah bahagia bersama suamimu yang sekarang, Rafa


kakak ipar mu." ucap Maya ikut sedih.


Ara memandangi setiap sudut ruang kamarnya yang telah kosong. Mengingat kembali setiap kenangan indah yang selalu mereka lakukan bersama. Meski telah kosong, dia masih ingat letak tempat tidur, tempat shalat, sofa tempat mereka selalu bercengkrama, kamar mandi terkadang mereka selalu mandi bersama.


Ara memandangi dengan tersenyum sedih.


"Terimakasih sudah menjadi teman, kakak dan suami yang terbaik untukku, terimakasih untuk segala cinta, kasih sayang, kebahagiaan, kehangatan, perlindungan yang kakak berikan. Kakak akan selalu ada di dalam hatiku selamanya." ucapnya lirih sambil menyentuh cincin pernikahannya dengan Raka. Dia mengecupnya lembut.


Sebuah pelukan hangat dari belakang mengangetkannya.


"Sayang, ayo kita turun untuk sarapan." di susul dengan kecupan lembut di tengkuknya.


Ara membalikkan tubuhnya, mengangguk tersenyum, mengikuti tarikan tangan Rafa untuk keluar dari kamar ini.


Pintu di tutup kembali.


"Anteeee.....," si kembar berteriak girang melihat kedatangannya mendekat meja makan. Kedua anak itu berlarian menghambur memeluknya.


"Sayaaaang....," Ara berlutut menyambut kedatangan mereka dengan pelukan. Dia terharu dan mencium keduanya berulang ulang sampai puas.


Seperti biasa Cia minta di gendong.


"Cia udah besar, jangan lagi minta di gendong sama ante Ara." tegur Rafa.


"Gak apa-apa kak, aku masih mampu. Meja makannya tinggal dekat kok," ujar Ara sambil menggendong Cia.


Rafa membiarkan meski khawatir, karena mengingat keadaan istrinya yang lemah. Dia segera menggendong Cio membawanya ke meja makan. Bocah kecil itu mengecup pipinya, dan dia membalasnya dengan gemas.


Para pelayan menyapa mereka dengan sopan.


Juga pak Sam yang sangat senang melihat keberadaan Nona mudanya di rumah ini lagi.


"Selamat pagi Nona muda" ucapnya sopan.


"Selamat pagi pak Sam." jawab Ara tersenyum. Ara juga menyapa para pelayan yang lain. Semua pelayan tampak senang dengan kepulangan Ara ke rumah utama.


Semua orang yang ada di rumah ini menyambut kedatangannya dengan wajah penuh senyuman.


"Selamat pagi Nona muda." ucap Wisnu sopan seperti biasa.


"Selamat pagi sekretaris Wisnu." jawabnya tersenyum. Lalu menoleh pada Maya dan Nesa


"Selamat pagi Ma, selamat pagi kak."


"Selamat pagi, duduklah." balas Maya.


Sam menarik kursi untuknya. Wisnu menarik kursi untuk tuannya. Sarapan pagi di mulai dengan menu masing-masing.


"Mama menginginkan sesuatu dari kalian berdua." kata Maya melihat Rafa dan Ara bergantian.


"Mama ingin apa?" Rafa menoleh sebentar sambil memasukkan ikan salmon ke mulutnya.


Ara menatap ibu mertuanya sambil meminum susu. Juga penasaran apa yang di inginkan oleh ibu mertuanya ini.


"Mama ingin kalian pergi berbulan madu." kata Maya.


Ara tersedak mendengarnya, dia batuk batuk dan menekan dadanya.


"Sayang." Rafa gercep menepuk punggungnya pelan, memberinya air putih. Lalu menuntunnya mengatur pernafasannya keluar masuk dengan pelan.


"Kamu gak apa-apa?"


"Aku baik kak." Ara masih mengatur pernafasannya.


"Kalian sudah tiga bulan menikah, Buatlah rencana untuk berbulan madu. Mama ingin punya cucu dari kalian. Cio dan Cia sudah mulai tumbuh besar, mama ingin cucu bayi yang imut." Maya kembali meneruskan ucapannya setelah melihat Ara tenang. Dia tersenyum menatap Rafa dan Ara bergantian.


Ara menunduk, kedua pipinya merah merona.


"Kalian jangan menunda-nunda untuk punya anak. Ingat Rafa, kamu sudah tidak muda lagi. Seharusnya di umurmu yang sekarang ini kau sudah punya 2 anak." Maya menambahkan.


"Pasti Ma. Mama akan segera mendapatkannya, aku akan memberi mama cucu paling manis, imut dan tampan." ujar Rafa tersenyum kecil sambil melirik Ara yang terlihat kaget mendengar ucapannya, serta matanya yang membulat membesar menatapnya.


"Bagus, mama senang mendengarnya." ujar Maya tersenyum senang.


"Aku akan memberikan mama cucu empat sekaligus untuk kehamilan istriku yang pertama, ya sayang ya.... kamu jangan kalah sama kak Nesa." kata Rafa tersenyum menggoda pada istrinya.

__ADS_1


Ara terbelalak, matanya semakin membulat melihat suaminya. Dia semakin gugup dan malu.


Semuanya tersenyum mendengar perkataan Rafa.


"Ante, Cio sudah tau bela diri. Cio akan pukul orang orang yang jahat sama tante." Cio menyela.


Ara menatapnya tidak mengerti.


"Cio minta di masukan ke sekolah karate, dia ingin belajar ilmu bela diri. Katanya biar bisa lindungi kamu dari orang jahat, atas kejadian buruk yang menimpa kalian dulu." Nesa menjelaskan.


"Sayang ..." Ara terharu mendengarnya. Dia bangkit dari duduknya menuju pada Cio, mencium dan memeluk bocah itu dengan kasih sayang.


"Cio akan pukul orang yang jahat sama ante, Cia, nenek dan mama." timpal Cio kembali sambil memperagakan sedikit ilmu bela diri.


Ciaaat ciaat ciaaat...memukul mukul dan menendang.


Semuanya tertawa kecil melihat aksi lucunya, tapi mereka juga bangga.


"Cio pintar, Cio hebat. Ante bangga skali sama Cio yang punya keinginan untuk melindungi kita semua. Tapi sayang, tidak selamanya kekerasan di balas kekerasan. Begitu juga orang yang buruk pada kita tidak boleh di balas buruk, kalau kita membalasnya berarti kita.. .....?" Ara menatap keduanya bergantian


"Hayo apa? lupa ya apa yang paman Raka bilang dulu?"


"Kita sama jahatnya dengan mereka, kita sama buruknya dengan mereka." jawab Cio dan Cia kompak.


"Pintar kesayangan ante." Ara menjentikkan jarinya di depan kedua anak itu, lalu mencium kedua bocah-bocah dengan gemas.


"Sekarang siap siap ke sekolah, ante akan antar kalian. Boleh ya kak aku antar mereka?" menoleh pada Nesa.


"Yaah.." Nesa mengangguk.


Si kembar melonjak senang.


"Ante tidak akan pergi lagi kan? Ante akan tinggal di sini sama kita kan?" ujar Cia mimik sedih memeluk ara erat.


"Ante jangan pergi lagi." Cio ikut menyahut.


Ara terenyuh, dia kembali memeluk keduanya.


Dia menoleh pada Maya, berharap ibu mertuanya mengizinkan kembali dirinya untuk tinggal di sini.


"Sudah sudah, kalian bikin nenek sedih. Ante mu akan tinggal lagi di sini, dia tidak akan kemana-mana. Sekarang berangkatlah ke sekolah, nanti telat." ujar Maya


Ara sangat senang.


"Terimakasih Ma__"


Si kembar kembali melonjak gembira.


Ara segera memakaikan tas ke punggung mereka.


"Tunggulah di mobil, Daddy akan antar kalian." kata Rafa.


Mereka segera melangkah ke depan sambil bergandengan tangan.


"Ya tuhan, aku benar-benar sangat berdosa padanya. Dia sangat tulus kepada kita, tapi aku memperlakukannya buruk. Raka sayang, mama benar benar berdosa pada kalian berdua, maafkan mama nak." ucap Maya sedih memandangi kepergian Ara bersama cucunya.


Rafa bangkit dari duduknya. Mendekat pada mamanya, memegang kedua pundak mamanya."Mama sudah menyadari kesalahan mama, Raka pasti senang, Ara juga tidak pernah membenci mama. Jangan di pikirkan lagi kesalahan mama itu, nanti penyakit mama kambuh lagi." mengecup puncak kepala mamanya.


"Aku ke kantor dulu." pamitnya kemudian.


Lalu melangkah pergi menyusul Ara dan si kembar yang sudah menunggunya di dalam mobil, Wisnu membukakan pintu untuknya.


Tidak lama kemudian mobil mewah itu meninggalkan rumah megah Artawijaya.


Dalam perjalanan ke kantor setelah mengantar si kembar ke sekolah.


"Kemari." ujar Rafa memajukan kedua tangannya. Ara segera menggeser tempat duduknya mendekat dan masuk dalam pelukan suaminya. Rafa memeluknya dengan hangat, mencium keningnya berulang kali.


"Kak__" panggil Ara pelan sambil mengelus dada suaminya.


"Hmmm..." suara Rafa yang sedang mencium aroma wangi rambut istrinya dengan mata terpejam.


"Kakak memecat buk Meri ya, sala satu staf sekretaris di kantor perusahaan."


Kening Rafa terpaut mendengarnya. Dia membuka mata, melihat Wisnu dari kaca tengah mobil yang juga sedang melihat ke arahnya.


"Semalam aku tidak sengaja melihatnya di tempat servis HP. Dia sedang membersihkan tempat itu. Aku dengar dari para karyawan kantor, dia di pindahkan ke kantor cabang lima, tapi kenapa aku malah melihatnya kerja di situ sebagai Cleaning servis?" lanjut Ara kembali.


Rafa diam tak menjawab, masih asik dengan kegiatannya mencium rambut istrinya.


"Aku juga dengar dari para karyawan, kakak memecat beberapa karyawan hanya karena keadaan mood kakak tidak baik. Dan hal itu kakak lakukan saat aku pergi dari rumah."


Rafa Kembali membuang nafas panjang.


Ara mendongakkan kepalanya ke atas menatapnya menunggu jawaban .


"Kak ..." Ara menekan dagu Rafa pelan dengan jari telunjuk, karena tak ada jawaban.


"Kakak nggak dengar ya aku bicara? Kakak lagi mikir apa?"


Rafa menangkap jari telunjuknya dan menggigitnya kecil.


Auwwww__Ara meringis

__ADS_1


"Sakit kak." menarik telunjuknya dari mulut suaminya. Tapi Rafa menahannya dan kembali menggigitnya. Ara kembali menjerit, Rafa membungkam jeritannya dengan mulutnya, menciumnya beberapa saat.


Ara mendorong wajahnya. Karena sembarangan mencium tanpa perduli dengan keberadaan Wisnu. Dia segera menutup mulutnya dengan tangan.


"Jari ini sangat nakal dari semalam, aku menahannya untuk tidak memberi hukuman." ujar Rafa sambil kembali membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Kenapa kau mengisap jempol ku semalam?"


tanyanya kemudian.


"Aku haus sekali ingin minum." jawab Ara cemberut.


"Kenapa kau tidak meminta air?"


"Aku takut, kakak sedang marah sekali, aku menanyakan kedua sahabatku saja kakak mengacuhkan ku dan tidak menjawab."


Rafa kaget, dia memaki dirinya. Lagi lagi karena kemarahannya membuat istrinya menderita menahan kehausan.


"Kenapa kamu nggak ngomong?" berkata agak keras."Apa sampai kamu mati kehausan tetap tidak mau memberi tahu?"


Ara tersentak mendengar suara kerasnya.


Dia segera bangun dari pelukan Rafa dan menggeser mundur ke belakang. Duduk menunduk takut.


"Se- sekretaris Wisnu, aku turun di depan saja." ucapnya terbata bata.


Wisnu terkejut, langsung melirik tuannya dari kaca tengah.


Rafa mendengus kesal, kembali memaki diri sendiri. Lagi lagi dia membuat kesalahan yang membuat istrinya takut. Dia segera menormalkan suasana hatinya. Mengumpulkan nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan.


"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud berkata keras padamu. Aku hanya kesal pada diriku, karena kemarahan ku membuatmu menahan kehausan. Dengarkan aku, jangan lagi mengikuti perasaan takutmu saat kau menginginkan sesuatu. Meski aku sedang marah, kau harus tetap mengatakan apa yang kau inginkan. Jangan memendamnya hanya karena kau takut padaku. Mengerti? " ujarnya perlahan sambil mendekatkan tubuhnya di samping istrinya.


Ara diam tak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya.


"Kemari kan tubuhmu." kata Rafa kembali dengan nada rendah dan di lembut kan sambil membuka ke-dua tangannya.


Pelan pelan dan ragu, Ara merebahkan kepalanya di dada suaminya dan menekan wajahnya.


"Maafkan aku sayang, jika kau takut bicara padaku, katakan pada Wisnu." memeluk erat, mencium puncak kepala istrinya berulangkali.


Ara semakin menekan wajahnya, karena matanya sudah basah.


Beberapa saat kemudian.


"Kak, aku ingin turun di toko kue di sebelah lampu merah yang berada depan. Mang Saleh sudah menungguku di sana." ucap Ara serak.


"Kau turun di parkiran pribadi ku saja. Tidak akan ada yang melihatmu, karena di dalam hanya ada mobilku."


"Aku gak enak sama mang Saleh, kasihan dia sudah menungguku sejak tadi."


"Baiklah, Wisnu menepi lah di sebelah lampu merah." Rafa mengalah.


"Baik tuan."


Dari jauh sudah terlihat taksi Saleh sekitar 50 meter dari lampu merah. Wisnu menepi sekitar 10 meter di belakang saleh, lalu dia segera turun. Membuka sedikit pintu mobil setengah terbuka untuk Nona mudanya keluar.


"Aku turun kak." Ara menarik kepalanya dari dada Rafa. Rafa menangkup Wajahnya lembut. Menatap lekat, perlahan mendekatkan wajahnya mengecup kening dan bibir istrinya.


Ara segera meraih tasnya, untuk turun tapi Rafa kembali mencium bibirnya atas dan bawah.


"Kak ..."


"Seharian ini aku tidak akan ada di kantor, aku punya pekerjaan penting di luar. Aku tidak akan melihatmu seharian ini, jangan telat makan dan minum obatmu ya?"


Ara mengangguk pelan.


Rafa Kembali mencium bibirnya, lalu berhenti sesaat karena tidak ada balasan dari Ara.


"Aku tidak akan dapat mencium bibir ini seharian, apa kau tidak ingin membalasnya ?" menatap lekat mata Ara.


Ara menelan ludah. Dia meletakkan tasnya, lalu memegang wajah suaminya. Mendekatkan wajah keduanya, menautkan bibirnya pada bibir suaminya. Ciuman panjang dan dalam terjadi, saling membalas dengan lembut penuh kehangatan. Dan berhenti saat Ara mulai sulit bernafas. Keduanya tersengal menormalkan pernapasan.


Rafa menyapu sekitaran bibir istrinya. Memperbaiki kacamatanya, rambutnya lalu mengecup keningnya lembut. Ara segera turun, menuju taksi mang Saleh.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melongo terbuka lebar dengan keterkejutan yang luar biasa melihat mereka berciuman tadi.


Rafa membuang nafas kasar merasakan miliknya semakin menegang keras di bawah.


Sejak tadi miliknya itu menegang saat memeluk istrinya dari sekolah si kembar.


Dia menarik dan mengeluarkan nafas perlahan untuk menenangkan miliknya.


Tanpa sengaja tangannya menyentuh jas bagian dadanya yang basah.


Alisnya terangkat


"Apa ini Air mata Ara? Apakah dia menangis tadi?" mengingat istrinya menekan wajahnya tadi di dadanya .


"Ternyata dia menekan kesedihannya tadi?"


Rafa Kembali membuang nafas kasar, merasa bersalah. Wisnu segera menjalankan mobil setelah mendapat isyarat darinya.


...Bersambung....

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya


__ADS_2