
Wisnu masuk ke ruang kerja Moly.
"Ada apa sekertaris Wisnu?" tanya Moly tanpa melihat wajahnya karena sibuk dengan pekerjaan di depannya.
"Apa ini kerjaan Anda buk Moly?"
"Apa maksudmu?" Moly balik bertanya pura pura tidak tahu arah pembicaraan Wisnu. Dia sudah menduga ada Wisnu akan menanyakan masuknya Ines bekerja.
"Kenapa aku tidak tahu mengenai masuknya Ines bekerja hari ini?" tanya bidan Wisnu, meski dia tahu Moly tahu apa yang di maksud.
Moly mengangkat wajahnya.
"Kenapa Anda menanyakan hal itu padaku? Bukannya Nona Ines memang seharusnya sudah masuk kerja dari lima hari yang lalu? Kau sendiri yang menghubunginya atas perintah tuan Rafa. Seharusnya dia mengikuti aturan yang berlaku di perusahaan ini. Tapi kau sendiri yang memberikan toleransi padanya karena keinginan Azham dan Azhar yang ingin selalu dekat dengannya." kata Moly panjang lebar.
Wisnu tak membalas perkataan Moly. Memang benar dia yang menghubungi ines Minggu lalu untuk mulai kerja atas perintah tuannya.Tapi karena keinginan anak anaknya yang ingin terus bersama dengan wanita yang kini telah menjadi istrinya itu membuatnya menunda masuk kerjanya Ines.
Dan hanya kaget saja saat melihat Ines masuk kerja hari ini tanpa sepengetahuannya. Seharusnya dia yang menghubungi Ines.
Ines juga tak memberi tahukan hal itu kepadanya tadi pagi sewaktu dia masih berada di rumah.
Kenapa pihak kantor menghubunginya tiba tiba seperti itu tanpa sepengetahuannya?
"Kenapa anda tanyakan hal itu?" Moly membuyarkan lamunannya.
"Seharusnya anda senang istrimu sudah masuk kerja. Sekantor denganmu. Kalian bisa pulang bersama biar semakin dekat." lanjut Moly kembali.
"Atau jangan jangan anda tidak suka dia bekerja? dan lebih suka mengurus rumah dan merawat anak anakmu, begitu yang anda mau?" cerca Moly dengan berbagai pertanyaan.
"Kalau memang iya, kenapa anda tidak katakan langsung padanya dan menyuruhnya pulang?"
Wisnu menatapnya dengan wajah mengernyit. Lalu langsung keluar tanpa menjawab pertanyaan pertanyaan Moly. Dia menuju ke ruangannya.
Moly senyum senyum menatap kepergiannya. Moly memang sengaja memberi kejutan untuk Wisnu mengenai masuknya Ines bekerja hari ini. Moly melakukan panggilan kerja hari ini pada Ines bukan tanpa alasan. Sengaja di lakukan untuk mendekatkan Wisnu dan Ines.
'
'
"Nona Ines, tolong antar berkas ini ke ruang Sekretaris Wisnu." perintah Mery yang merupakan staf sekretaris senior yang sudah lama bekerja di tempat itu. Mery mengenalnya sebagai sahabat istri pimpinan mereka. Tapi dia tidak mengatakan hal itu pada karyawan kantor.
Dahi Ines mengerut mendengar nama suaminya di sebut.
"Sekretaris Wisnu?" tanyanya kembali karena enggan melihat wajah pria itu.
"Iya..." jawab Mery kembali.
"Baik buk." jawab Ines sopan.
__ADS_1
Ines segera bangkit berdiri dan meraih laporan di depannya. Lalu melangkah menuju ke ruangan Wisnu setelah mendapat petunjuk dari seorang karyawan. "Bersikap baiklah padanya, karena orangnya sangat dingin dan pemarah." bisik karyawan itu padanya memperingatkan dirinya.
Begitu tiba di depan pintu kerja Wisnu, Ines mengetuk pintu tiga kali, lalu segera masuk.
Kemudian menutup pintu kembali.
Di dapatnya suaminya itu sedang berkutat dengan berkas di depannya. Ines menyapukan pandangannya ke seluruh ruang kerja sekretaris pribadi suami sahabatnya ini.
Lalu dia menatap kembali pada Wisnu.
"Selamat siang sekretaris Wisnu, saya kesini ingin mengantarkan berkas ini." katanya sopan.
Ines melangkah mendekati meja kerja dan meletakkan berkas itu di depan Wisnu.
Tak ada pergerakan dari Wisnu, dia fokus dengan pekerjaannya tak melirik sedikit pun pada Ines. Dan hal itu menimbulkan kekesalan di hati Ines.
"Gak di rumah, gak di kantor tetap menyebalkan. Cuek dan dingin." batin Ines menatap kesal padanya.
"Saya permisi." lanjutnya kembali.
Lalu segera berbalik melangkah menuju pintu.
"Apa aku sudah menyuruhmu untuk keluar?" suara Wisnu menghentikan gerakan Ines yang membuka pintu. Ines berbalik kembali menatap pada Wisnu yang masih terus dengan pekerjaannya.
"Lalu aku harus apa?" tanyanya.
Lima menit berlalu, 10 menit, dan masuk 20 menit Ines bertahan berdiri di tempatnya meski kakinya terasa mulai pegal. Apalagi berdiri dengan sepatu yang haknya sedikit tinggi.
Ines mulai mengumpat di dalam hati.
"Sepertinya dia sengaja mengerjai ku." batinnya mulai kesal. Sudah setengah jam berlalu tidak ada perintah untuknya. Wisnu tetap sibuk dengan pekerjaannya. Tak menoleh sedikitpun padanya, apalagi bicara memberi perintah. Tak ada juga menyuruhnya duduk di sofa. Dia di biarkan berdiri terus seperti patung.
"Maaf, sekertaris Wisnu. Jika masih ada yang harus ku kerjakan katakan saja. Aku juga punya pekerjaan di meja kerja ku! Katakan apa yang harus ku lakukan." kata Ines memberanikan diri bertanya.
Tak ada jawaban.
Ines kembali menengok jam tangannya.
Sudah sejam dia berdiri terus di abaikan seperti ini. Ingin rasanya dia berteriak dan marah terus mencakar wajah pria di depannya ini.
Terdengar ketukan di pintu.
Ines merasa senang. Dia berharap dengan kedatangan orang ini akan membuatnya di minta keluar.
Setelah ketukan ketiga, masuklah seorang wanita dengan pakaian yang sedikit terbuka pada dadanya. Roknya yang pendek dan terlalu ketat memperlihatkan bokong besarnya yang terpahat.
Wanita itu memperhatikan Ines dari atas hingga bawah. Melihat Ines yang berdiri sambil memegang pinggiran roknya dengan wajah keringatan dan menahan kekesalan yang mendalam.
__ADS_1
Ines juga melihat kepadanya, memperhatikan pakaiannya yang seperti kekurangan bahan. Dua kancing kemeja depannya terbuka, sehingga belahan dadanya terlihat. Sepertinya kancingnya memang sengaja di buka. Kedua gundukan yang super jumbo itu seakan mau tumpah. High heelsnya yang tingginya melebihi tingginya Monas.
Ines menatap tak suka kepadanya. Mungkinkah setiap hari Wisnu selalu melihat pemandangan indah seperti ini. Ines meliriknya masam dengan ekor mata, lalu melirik pada Wisnu yang melihat kepadanya dan juga pada wanita itu.
"Sekertaris Wisnu, bolehkah aku permisi sekarang?" katanya, karena tak suka dan merasa risih berada di ruang ini.
Tak ada tanggapan dari Wisnu. Wisnu hanya melihatnya sekilas.
Ines mengumpat dalam hati menahan geram.
"Selamat siang sekretaris Wisnu." sapa wanita itu tersenyum manis.
Wisnu membalas sapaannya.
Ines mengumpat kesal. Dirinya yang menyapa tadi tak di balas dan di abaikan. Jangankan di balas, melihat kepadanya pun tak ada.
Wanita itu mendekati Wisnu dengan langkah gemulai. Lenggang lenggok seperti layaknya penari yang sangat gemulai gerakannya.
Dia melihat Wisnu dengan lembut dan manis.
"Silahkan duduk." kata Wisnu.
"Aku lebih suka berdiri sekretaris Wisnu. Izinkan aku berdiri saja." kata wanita itu kembali masih dengan nada manis melebihi manisnya madu dan juga senyuman yang terus mengemban di wajah.
"Terserah anda saja." kata Wisnu.
Wanita itu meletakkan berkas di depan Wisnu dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga belahan buah dadanya terlihat.
Dan Wisnu melihat hal itu.
"Cih... menjijikan." Ines tak sadar mengumpat.
Wisnu dapat menangkap umpatannya itu, meski tak terlalu jelas. Dia juga dapat melihat tatapan tak suka Ines pada wanita itu
Ines berdoa semoga Azham dan Azhar tidak mengikuti jejak ayah mereka yang suka membuka mata melihat aurat wanita yang bukan muhrimnya.
Karena kesulitan menjabarkan isi laporan dalam berkas karena di batasi oleh meja kerja, sang wanita mendekati Wisnu. Meletakkan berkas di depan Wisnu. Lalu dia berdiri di dekat Wisnu dengan membungkuk sehingga semakin tampaklah gundukan jumbonya itu di dekat mata Wisnu.
Ines semakin kesal melihatnya. Ingin sekali dia berteriak memaki Wisnu. Mengabaikan dirinya yang berdiri terus menahan pegal, plus bonus melihat kedekatan mereka yang gratis.
Wanita itu mulai menjelaskan isi berkas itu dengan lembut dan sedikit manja. Wisnu mendengarkan dengan seksama. Matanya serius melihat ke arah berkas.Tapi setengah pikirannya pada Ines.
Karena tak tahan, Ines langsung keluar tanpa permisi. Terserahlah, setelah ini dirinya di pecat dia tak perduli. Lebih baik juga tinggal di rumah mengurus si kembar dari pada melihat kelakuan buruk Wisnu di kantor.
Bersambung.
Terimakasih yang masih setia dengan
__ADS_1
karya author π€ Tinggalkan jejak ya Kalau suka π