Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 216


__ADS_3

Suara panggilan telepon yang berulang membangun kan Ara dari tidurnya.


Perlahan dia membuka matanya, dia menggeliat sangat malas dan belum menyadari berada di atas tubuh suaminya, dia terus memeluk mendekap erat membenamkan wajahnya di dada suaminya.


"Sayang, bangunlah." bisik Rafa di atas kepalanya.


"Angkat dulu teleponnya." sambung Rafa Kembali.


Rafa mengelus ngelus punggung nya lembut.


Ara membuka matanya perlahan merasakan sentuhan itu, dia mencium aroma wangi tubuh suaminya yang sangat dekat dengan hidung nya, dengan segera dia mengangkat wajahnya dan terkejut setelah sadar berada di atas tubuh suaminya.


Dia mengangkat kepalanya dan menatap wajah suaminya yang sedang terpejam.


"Lihatlah siapa yang menelepon sayang." kata Rafa kembali sambil menekan ke dua matanya.


"Kenapa aku bisa ada di atas tubuh kakak?"


"Kamu sendiri yang naik kan?" Rafa Membuka matanya perlahan, mengecup kening istrinya.


"Masa sih?"


"Lah ini buktinya, kamu lagi di atas tubuhku kan sayang ?"


Ara memandangi suaminya dengan tatapan penuh tanya.


"Bukannya hal seperti ini sudah biasa bagimu? suka peluk dan cium tubuh aku saat kamu tidur." ucap Rafa tersenyum di dalam hati.


Ara menatap suaminya dengan bibir mengerucut .


Dia segera menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh suaminya, dia merasakan tubuhnya lemah tak bertenaga, pegal pegal seperti baru melakukan olahraga berat.


"Atau jangan-jangan kamu sangat merindukan aku ya? sampai tidur di atas tubuhku?"


ucap Rafa kembali menggodanya sambil


memeluk tubuh istrinya dari belakang, karena posisi Ari membelakanginya.


Ara tak menjawab, dia mengeluh sambil memijat mijat batang lehernya.


"Ada apa dengan tubuhku? kenapa rasanya gak enak begini?" gumannya kembali.


Rafa pura pura tak mendengarnya .


"Kau kenapa sayang? apa kamu sakit ?" meraba raba kening istrinya.


"Nggak tahu kak, tubuhku rasanya lemas dan


pegal ! aku malas bergerak."


"Emangnya semalam kamu ngapain?"


"Nggak ada, hanya ngajarin si kembar beberapa surah pendek dan bacain dongeng, setelah itu aku tidur karena sangat lelah dan mengantuk."


"Aku bantu pijitin ya?" kata Rafa tersenyum


"Gak usah ah, kakak pasti mau macam-macam lagi."


Rafa terkekeh


Dia semakin memeluk erat tubuh istrinya dan mengecup tengkuk istrinya, lalu punggung istrinya yang terbuka karena pakaian tidurnya yang seksi.


Satu tangannya meraba raba lembut leher dan tulang selangka istrinya.


Tubuh Ara merinding merasakan sentuhan suaminya, dia langsung menahan tangan suaminya yang mulai nakal menjalar ke dadanya.


Rafa tersenyum kecil, melanjutkan kecupannya di punggung dan tengkuk .


"Jangan dong kak, tubuhku sakit." ucap Ara merasakan geli.


"Aku merindukan mu sayang, sudah lama kita tidak bercumbu dan bercinta." bisik Rafa di telinganya, hingga membuat Ara bergidik geli.


"Sudah sangat lama kau mengabaikanku.


Aku sangat butuh sentuhan dan kehangatan tubuhmu." bisik Rafa kembali sambil mengecup belakang telinga dan daun telinga istrinya.


Ara mendesah tertahan.


Dan dia semakin mendesah merasakan remasan di dadanya.


"Kakak..!"


"Aku sangat ingin sayang, aku butuh dirimu. Bolehkah? aku sangat tersiksa." bisik Rafa Kembali, dia menekan miliknya yang


mengeras di bokong istrinya.


Membuat jantung Ara berdebar kencang.


Tangan Rafa terus meremas dan memilin pucuk istirnya.


Dia segera membalikkan tubuh istrinya menghadap ke atas lalu di tindihnya.


Mata istrinya terpejam menikmati belaian


dan sentuhan tangannya dengan nafas yang memburu cepat.


Rafa tersenyum, dia sangat berharap istrinya tidak akan menolaknya lagi.


Merasa tak ada penolakan, Rafa langsung m****t bibir istrinya.


Terdengar desahan lembut dari mulut Ara di antara, tanpa sadar dia terbuai dan mulai membalas ciuman suaminya. Keduanya saling berperang lidah.


Membuat gairah seksual Rafa bertambah. Tangannya menjalar turun kebawah, menyentuh lembut bagian sensitif istrinya dan bermain main di sana.


Ara mendesah mendesah dan mengerang.


"Akh kakak..."


Rafa semakin m*****t bibirnya, sambil melepaskan semua pakaian istrinya


hingga yang terdalam.


Lalu ia melepaskan boxernya tanpa berhenti menciumi bibir istrinya, dia segera memasukkan kedua kakinya di kedua paha istirnya, dan melebarkan kedua paha istrinya.


Ara tersentak merasakan milik suaminya yang menekan nekan masuk kedalam miliknya,


dia segera tersadar dan kaget setelah melihat tubuhnya sudah tidak memakai pakaian sama sekali.


"Kak... " melepaskan ciumannya.


Keduanya saling bertatapan dengan nafas memburu cepat.


Rafa mengecup kening dan bibirnya sesaat.


"Aku butuh sayang, jangan lagi menolak ku." ucap Rafa pelan memelas dan langsung menghentak masuk kuat miliknya .


Ara menjerit tertahan mendapat serangan tiba-tiba, Rafa cepat membungkam jeritannya dengan mulutnya, dan mulai memacu perlahan.


Ara mengerang nikmat, Rafa semakin bergairah mendengar erangan nya. Dia semakin bersemangat mempercepat gerakannya. membuat Ara mendesah desah meremas kuat rambut dan punggungnya

__ADS_1


"Akh kakak ...".


Rafa mengecup kening istrinya, menatap lembut wajah istrinya yang terpejam sambil terus memacu cepat, membuat Ara semakin mengerang.


Rafa kembali menciumi bibirnya dengan rakus, tangan yang satunya terus meremas dan memijit pucuk buah istrinya.


Dia tidak melewatkan satupun untuk membuat istrinya merasakan kenikmatan.


Rafa semakin menambah laju gerakannya,


Ara mengerang kuat, tubuhnya menegang dan bergetar hebat. Dia mencapai batas klimaks.


Dia memeluk kuat leher suaminya, sesuatu di rasakan keluar dari dalam miliknya yang membuatnya mengerang kuat dengan tubuh bergetar, Rafa cepat membungkam mulutnya. Dia tersenyum senang melihat istrinya orgasme.


"Kakak...


"Ya sayang, apa yang kau rasakan, apakah itu sesuatu yang indah dan nikmat ?"


Ara mengangguk dengan mata terpejam dengan air mata mengalir di kedua ujung matanya.


"Sayang, kenapa kau menangis? apa kau menyesal melakukannya ?" tanya Rafa yang melihat Air matanya.


"Nggak kak .." kata Ara sambil menggeleng.


"Terima kasih sayang." mengecup kening istrinya sambil terus memacu tubuh bawahnya.


"Sayang, Apa kau pernah merasakan kenikmatan seperti ini dulu bersama Raka?" tanya Rafa kembali mencari tahu di antara ketidak sadaran istrinya.


Ara menggeleng tanpa sadar.


Rafa kembali m*****i pucuk buah istrinya bergantian membuat Ara kembali mengerang nikmat, dia meremas-remas rambut dan punggung suaminya, menciumi leher suaminya membuat Rafa mengerang. Dia membalas dengan menggigit gigit kecil leher dan pucuk buah istirnya.


" Akhhh..Ara kembali mengerang. Rafa membungkam mulutnya, Air matanya kembali mengalir di kedua ujung matanya.


"Kenapa kau tidak merasakan kenikmatan seperti ini pada Raka ?" bertanya lagi untuk memancing Istrinya, karena dia ingin mencari tahu penyebab mereka tidak pernah melakukan hubungan suami-istri.


Rafa semakin memacu cepat, di sela sela pertanyaannya, Ara Kembali mengerang kuat


"Kakak..aku mau keluar lagi." berkata dengan polosnya .


"Jangan di tahan sayang.. keluarkan." mengecup kening istrinya.


"Sayang.. kenapa Raka tidak menyentuhmu." ucapnya ikut merasakan batas yang sementara menjalar di seluruh tubuhnya, dia semakin menghentak kuat dan cepat.


Ara Kembali mengerang


"Kak Raka sakit." ucapnya tanpa sadar, di susul dengan erangan kuat dari mulutnya, tubuh bergetar hebat bersamaan dengan Rafa yang juga mengerang dan mengejang kuat mencapai pelepasan.


Keduanya berpelukan erat merasakan kenikmatan percintaan mereka untuk pertama kalinya secara suka sama suka.


Rafa mengecup kuat bibir istrinya, dia sangat bahagia akhirnya mendapatkan tubuh istrinya tanpa paksaan.


Keduanya tersengal sengal dengan nafas memburu cepat.


Rafa kembali memeluk tubuh istrinya. Tubuh mereka mereka bermandi peluh.


"Raka Sakit ?" batin Rafa.


Dia tahu istrinya tanpa sadar mengatakan hal itu, karena sebelumnya Ara bersikeras tidak mau mengatakan alasan dia dan Raka tidak pernah berhubungan intim selama menikah.


"Jadi penyebabnya karena Raka sakit? tapi Raka sakit apa ?" batin Rafa kembali.


Rafa mengecup kening istrinya, menyapu keringat di wajah istrinya, lalu memeluk tubuh istrinya, meletakkan kepalanya di lengannya.


Dia menatap tersenyum bahagia.


Ara membuka matanya sesaat melihat suaminya. Lalu dia memejamkan kembali matanya.


"Maafkan aku kak, baru bisa melayani kakak sekarang, maaf baru bisa menjalankan kewajiban ku pada kakak." ucapnya lirih dan sendu.


Rafa mengecup bibirnya, keningnya, pipinya bergantian.


"Tidak apa apa sayang, aku tidak apa-apa, sungguh. Yang penting sekarang kau sudah bisa menerima ku, aku sangat senang dan bahagia sekali ! terimakasih sayang." memeluk erat tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Kak, aku mau ke kamar mandi, ini sudah jam berapa? kenapa alarm belum berbunyi?"


"Jam 8 pagi sayang." melihat jam.


"Hah ?" Ara terbelalak.


"Jam 8 pagi?" ulangnya kembali terkejut.


"Jadi ini sudah pagi?"


"Iya sayang."


"Ya ampun, berarti aku gak shalat subuh?" Ara cepat bangun. Tubuhnya di rasakan semakin sakit dan lemas.


"Kok kakak gak bangunin aku sih?"


"Aku takut bangunin kamu sayang, kamu kan lagi marah sama aku. Ntar kamu tambah marah sama aku. Dan alarm kamu sudah berbunyi, tapi kamunya aja tertidur nyenyak gak kebangun."


"Ya ampun kak, seharusnya bangunin aku dong." menatap cemberut dan kesal pada suaminya.


"Terus kakak shalat subuh apa nggak?"


"Shalat dong sayang." tersenyum.


"Ih kakak, kenapa nggak bangunin aku sih?" semakin kesal.


Rafa tertawa kecil melihat kekesalannya .


Dia langsung mengecup gemas pipi kanan Istrinya dengan cepat.


Ara mendengus kesal.


Dia menarik sprei menutupi tubuhnya untuk ke kamar mandi. Dia merasakan perih di bawah sana saat hendak melangkah.


Rafa segera turun dan mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi.


Mereka mandi bersama di sertai desahan dan erangan, entah sudah berapa kali mereka mencapai batas klimaks dan pelepasan.


Rafa terus menyerang Istrinya tanpa ampun dengan mencoba berbagai gaya yang sudah di pelajarinya.


"Cukup dong kak, milikku sakit. Aku juga sangat lapar." Ara merengek rengek menangis di pangkuan suaminya. Saat ini mereka duduk di dalam buth up, dan Rafa memangkunya.


"Sedikit lagi sayang." Rafa cepat menyelesaikan permainannya yang entah sudah ke berapa kali, hingga akhirnya terdengar erangan keras dari mulutnya. Dia memeluk kuat tubuh istrinya dari belakang dengan nafas memburu cepat.


"Kakak, aku lapar." rengek Ara kembali.


"Baik sayang, kita bersih bersih sekarang." Rafa segera mengangkat tubuh istrinya, mereka mandi sejenak membersihkan diri.


Rafa memakaikan sabun dan sampo ke tubuh istirnya, menyikat giginya, kemudian menyusul dirinya. Beberapa saat kemudian keduanya segera keluar dari kamar mandi dengan Ara masih dalam gendongannya.


Ara kaget sekaligus senang melihat sudah ada makanan di dalam kamar.


Rafa mendudukan Istrinya di meja rias, menyapu rambut basahnya dengan handuk, lalu mengeringkan rambut istrinya dengan hair dryer, dipakaikan vitamin rambut di bumbui kecupan kecupan lembut.


Tak lupa dia memakaikan minyak telon dan handbody ke tubuh istrinya.

__ADS_1


Lalu memakaikan pakaian istirnya.


Ara segera turun dari kursi, tapi Rafa cepat mengangkat tubuhnya dan dibawahnya ke sofa.


Ara segera menyantap makanan dengan cepat .


"Pelan pelan sayang, nanti kamu tersedak." ucap Rafa melap makanan yang belepotan di bibir istirnya.


"Kakak nggak makan?"


"Aku dah kenyang makan dirimu sejak tadi."


"Ih kakak..." menatap dengan wajah manyun.


Rafa tersenyum kecil .


"Makanlah yang banyak, habis itu kita main lagi." sambung Rafa kembali.


Ara terbelalak.


"Nggak, aku nggak mau.." Ara cepat berdiri dan menjauh.


Rafa tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan Istri kecilnya.


"Duduk dan diamlah. Nanti tersedak." dia segera bangkit meraih tubuh istrinya lalu mendudukkannya dalam pangkuannya, menyuap kan irisan buah apel ke mulut istrinya, di susul kecupan lembut di pipi.


"Kakak nggak kerja?" Ara ikut menyuapkan makanan ke mulut suaminya.


"Nggak sayang, hari ini aku mau istrahat full di rumah untuk ngerjain kamu."


Ara mendesis kesal, Rafa terkekeh.


Lalu memeluk tubuh istrinya.


"Aku mau menemani kamu sayang, seminggu aku pergi meninggalkanmu, aku sangat rindu padamu." mengecup tangan istrinya yang memasukkan makanan ke mulutnya.


Ara kembali menyuapinya, mereka suap suapan, terakhir Rafa meminumkan susu dan vitamin pada istrinya.


Lalu menggendong tubuh istrinya ke tempat tidur.


Ara terkejut..


"Ngapain kita ke sini? kakak... aku gak mau."


berontak.


Rafa menahan tubuhnya kuat, lalu membaringkannya dan di peluk kuat.


"Aku masih punya beberapa gaya baru yang harus kita coba sayang." bisik Rafa di telinganya.


Ara menjerit jerit melepaskan diri .


"Aku gak mau, aku dah gak mampu lagi kak, lain kali saja, milikku sakit." memelas mau menangis.


Rafa tertawa kecil di dalam hati, dia mengecup kening istrinya lembut.


"Baiklah sayang, nanti saja kita coba. Sekarang diamlah jangan bergerak nanti kau akan membangunkannya."


Ara langsung angguk angguk mengerti dan membenamkan wajahnya di dada suaminya.


Sebenarnya Rafa ingin mengajak istrinya berbicara mengenai penyakit Raka, tapi dia khawatir akan membuat Ara sedih, dan malah bisa akan menimbulkan masalah lagi pada hubungan mereka berdua.


Tapi dia juga sangat ingin tahu penyakit apa yang di derita Raka.


"Sayang..." bisiknya lembut.


Hmmm...


"Terimakasih ya sudah mendampingi dan menjadi istri terbaik buat Raka, meski dia sakit dan tidak bisa memberimu nafkah batin, kau tetap setia mendampinginya dengan cinta dan kasih sayangmu yang tulus."


Ara mendesah sedih mengingat almarhum suaminya, Raka.


"Aku melakukannya karena aku sangat mencintainya. Cintaku tulus padanya, aku benar-benar sangat mencintai kak Raka,


jadi kakak gak perlu ngucapin terima kasih." jawab Ara serak.


Rafa mengecup keningnya.


"Terus, selama tujuh bulan menikah, apa saja yang kalian lakukan untuk menuntaskan hasrat birahi kalian? maksud aku, kalian kan sering bercumbu, sudah pasti kau dan Raka butuh pelepasan kan?"


Ara terdiam mendengar pertanyaan suaminya.


Ada kesedihan menyeruak di hatinya mengingat cara dia memuaskan alamarhum suaminya dalam ****.


"Gak usah di jawab kalau kau tidak bisa." kata Rafa mengelus punggungnya. Rafa dapat merasakan kalau saat ini istrinya sedang sedih.


"A aku melakukannya pada kak Raka sama seperti apa yang kulakukan pada kakak ipar saat mendapatkan pelepasan pertama kali di kamar mandi." jawab Ara kemudian dengan sendu.


"Aku hanya bisa melakukan itu pada kaka Raka, hanya beberapa kali selama kami menikah."


Rafa terkejut.


"Makanya aku sedih teringat pada kak Raka saat melakukannya pada kakak ipar waktu itu. Aku sangat sedih hanya bisa melakukan hal itu kepadanya saat dia butuh pelepasan, aku ingin membantunya dengan melakukan caraku, tapi kak Raka menolak." lanjut Ara kembali terisak kecil.


Rafa ingat kejadian dia marah saat Ara melakukan hal itu padanya di kamar mandi, di kiranya Ara mengingat Raka, ternyata hanya karena itu, karena Ara hanya bisa melakukan itu pada Raka dan membuatnya sedih. Dan dia malah marah besar pada Ara.


Rafa merutuki dirinya, merasa bersalah.


"Sayang, maafkan aku saat itu marah marah sama kamu." ucapnya pelan.


Ara hanya semakin menangis sambil geleng-geleng kepala.


Rafa semakin erat memeluknya


"Sayang, dan kau sendiri apa tidak merasa tersiksa karena tidak mendapatkan nafkah batin selama itu dari Raka?" tanyanya pelan pelan.


"Nggak, aku nggak butuh itu. Yang penting kak Raka ada bersamaku, itu sudah cukup bagiku. Aku gak butuh yang lainnya, tapi ternyata tuhan malah mengambilnya dariku." Ara semakin terisak mengingat alamarhum suaminya.


Rafa semakin memeluk erat Istrinya dengan sedih dan haru.


Ara mendongak ke atas menatap wajah suaminya.


"Kakak mau tahu alasan kenapa aku nggak mau nikah sama kakak dulu? dan juga gak mau kakak sentuh?" tanyanya kemudian.


Rafa mengangguk pelan, karena dia memang ingin tahu hal itu.


"Aku sangat mencintai kak Raka, dan aku sangat ingin memberikan mahkota kesucianku pada orang yang aku cintai, yaitu kak Raka suamiku. Tapi selama menikah, kami tidak pernah melakukannya karena penyakit yang dideritanya. Aku sangat sedih melihat kak Raka tersiksa karena tidak dapat menyalurkan hasratnya melalui hubungan intim percintaan. Aku hanya bisa membantu dia dengan cara yang seperti ku lakukan pada kakak ipar. Aku sebenarnya ingin membantunya tapi dia menolak. Dia juga sangat sedikit melihat aku tersiksa. Tapi ku katakan aku tidak apa-apa...aku katakan akan tetap mendampinginya hingga kami menua bersama. Aku tidak perduli dengan segala kekurangannya, aku hanya butuh dirinya, aku butuh dirinya di sisiku selamanya, tak butuh kenikmatan dalam bercinta. Tapi ternyata tuhan malah mengambilnya dariku. Dan sejak kematian kak Raka..aku bertekad tidak akan menikah lagi..aku tidak ingin merasakan kenikmatan bercinta yang tidak pernah di rasakan oleh kak Raka. Kak Raka tidak pernah merasakannya, maka aku pun berjanji pada diriku tidak akan merasakan hal itu. Aku juga tidak mau kesucianku di renggut oleh orang lain. Aku akan menjaganya untuk kak Raka hingga nanti tuhan akan mempertemukan kami kelak di kehidupan berikutnya. Makanya aku menolak menikah dengan kakak waktu itu. Tapi setelah melihat isi pesan permintaan kak Raka....." kata Ara menangis terisak isak, penjelasannya terhenti dengan ucapan Rafa.


"Maafkan aku sayang karena telah memaksamu tanpa tahu alasan dan penderitaanmu..." Rafa memotong ucapannya. Dia memeluk tubuh Ara erat sambil menangis.


"Dan aku malah merenggut kehormatanmu dengan paksa dan kejam karena amarah dan kecemburuanku. Seharusnya aku percaya padamu," Sambung Rafa kembali merasa sangat bersalah.


"Maafkan aku sayang."


Ara semakin menangis keras mengingat almarhum suaminya, Raka.


******


πŸ™πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2