Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 231


__ADS_3

Rumah pribadi.


Setelah sampai di kamar, Rafa membaringkan istrinya di atas ranjang.


"Tidurlah sebentar sayang, aku akan segera membuatkan makanan untukmu! Kau pasti sangat lapar! Sabar ya?" menyentuh perut Ara.


Rafa mengecup kening istrinya lembut, lalu melepas jaket dan topinya. Shalat dzuhur sebentar. Setelah itu melangkah turun menuju dapur. Kemunculannya membuat Narsih, koki serta para pelayan terkejut.


Wisnu mengeluarkan mereka dari area itu. Rafa menuju pantry dengan memegang kertas bertuliskan resep bahan bahan siomay yang di dapatkan dari internet.


Narsih dan lainnya semakin terkejut. Untuk pertama kalinya tuan mereka melakukan hal ini.


"Sekretaris Wisnu, apa yang di lakukan tuan Rafa? Itu pekerjaan kami. Biarkan kami yang melakukannya." ucap Narsih mewakili semuanya dengan gelisah.


Mereka segera berlutut di depan Wisnu. Takut telah melakukan kesalahan.


"Sekretaris Wisnu, apa kami melakukan kesalahan? Apa tuan Rafa sudah tidak suka dengan makanan kami?" tanya Pram selaku kepala koki dengan cemas. Wajahnya tampak ketakutan, karena dia kepala koki yang bertanggung jawab menyiapkan semua makanan untuk majikannya.


"Sekretaris Wisnu, tolong hentikan tuan Rafa." pinta Narsih Kembali.


Wisnu menatap wajah mereka satu persatu.


"Kalian tidak bersalah. Berdirilah." katanya kemudian. Lalu menoleh pada tuannya yang sedang mencuci bahan bahan makanan di wastafel.


"Ini kemauan nona Ara! Nona muda ingin makan somay buatan tuan Rafa sendiri tanpa bantuan siapapun."


Hah ????


Semuanya tercengang mendengar perkataan Wisnu. Mata dan mulut mereka terbuka lebar.


Mereka saling berpandangan satu sama lain.


"Bubar kalian, kerjakan pekerjaan yang lain." titah Wisnu kembali.


Mereka segera meninggalkan Wisnu.


"Ini benar nyata? Bukan mimpi kan?" ucap sala satu pelayan seakan tidak percaya dengan apa yang di lakukan majikan mereka.


Tiba tiba dia mengaduh kesakitan karena merasakan sakit di lengannya yang di cubit kuat oleh teman seprofesinya.


Kesakitan itu meyakinkan dirinya kalau ini bukan mimpi tapi kenyataan.


"Tuan Rafa sangat mencintai nona muda. Untuk pertama kalinya tuan memasak. Bahkan tuan tidak pernah memasak untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang tuanya. Wah...nona muda benar benar hebat bisa membuat tuan Rafa patuh dan memenuhi keinginannya." ujar mereka tersenyum memuji Ara.


"Iya benar. Pertama kalinya dalam sejarah hidup tuan Rafa, turun ke dapur demi memasak makanan untuk istrinya tercinta! Nona Ara memang telah membuat tuan cinta mati dan tergila-gila padanya."


"Tuan Rafa so sweet banget. Begitu besar rasa cintanya kepada istrinya hingga mau melakukan apapun yang di minta oleh nona muda." Ucap mereka sambil berbisik-bisik takut di dengar oleh Wisnu.


Selama dua jam lebih berkutat di dapur di bantu panduan buku resep.


Tiga menu varian siomay telah selesai di buat. Siomay kacang, siomay kuah dan siomay ayam bengkuang.


Peluh nampak membasahi wajah Rafa, bahkan hampir seluruh tubuh kekarnya. Terlihat dari kausnya yang tampak basah.


Rafa tersenyum puas melihat hasil karyanya.


Segera dia berlari ke atas menuju kamar.


Di dapatnya Ara tertidur dengan mengenakan mukenanya.


Dahi Rafa mengerut melihatnya. Karena di tinggalkan tadi Ara sedang tertidur nyenyak. Dan kini tertidur kembali dengan memakai mukena.


Rafa menuju ruang ganti pakaian mengganti bajunya, lalu balik lagi ke kamar.


Perlahan dia naik ke atas ranjang, mengambil bantal kepala. Dan pelan pelan di letakkan di bawah kepala istrinya.


Ara terbangun, dia bergerak menggeliat sambil mengucek mata.


"Sayang, kau sudah bangun?"


Ara membuka matanya perlahan lahan.


"Kakak?" menatap wajah tampan di depannya yang terlihat samar.


"Iya sayang, ini aku!" Rafa tersenyum. Mencondongkan badannya ke depan, mendekati wajah Ara, lalu mengecup lembut bibir istrinya.


"Apa kau sempat bangun tadi?" Rafa mengelus lembut pipi mulus Ara.


Ara mengangguk pelan.


"Iya, aku shalat dzuhur. Kenapa kakak nggak bangunin aku begitu sampai tadi?"


"Kamu tertidur nyenyak sayang, aku tidak tega bangunin kamu!" kata Rafa seraya membaringkan tubuhnya di samping Ara. Berbaring miring menghadap pada istrinya.


Ara segera menghadapkan tubuhnya pada suaminya.


"Tapi tetap kakak harus bangunin aku dong!" katanya seraya meletakkan kepalanya di lengan suaminya.


Rafa mendaratkan kecupan di keningnya.


"Sebenarnya aku ingin turun tadi setelah shalat, tapi aku sedikit pusing dan lemah. Aku kembali ke tempat tidur, tak taunya malah tertidur lagi." kata Ara kembali.


Dia memperhatikan wajah Rafa yang basah oleh sisa sisa peluh. Di lap nya peluh itu dengan tangannya. Dia tersenyum kecil. Di ciumnya kening suaminya dalam dalam.


Aroma wangi keringat bercampur dengan bau rempah. Ara tersenyum kecil.


"Kakak sudah selesai memasak?"


Rafa mengangguk dan ikut tersenyum.


"Sekarang kamu makan. Kamu pasti sangat lapar. Ini sudah lewat jam makan siang." katanya lembut.


"Terima kasih ya, sudah mau memenuhi keinginanku." ucap Ara tersenyum manis. Dia memegang kedua pipi suaminya, mengelus lembut.


Lalu mendekat kan wajahnya mengecup kening dan bibir suaminya lembut. Di kecup dan di ciumnya berulang ulang.


Keanehan dirinya muncul lagi.


"Kenapa ya aku sangat suka dengan aroma tubuh kakak?" ucapnya sambil menyesap aroma tubuh Rafa. Lalu memasukan wajahnya ke dalam kaus suaminya. Dia menciumi dengan mengenduskan hidungnya dari leher dan ke dada suaminya.


Rafa membiarkan apa yang di lakukan istrinya.


Setelah puas menciumi tubuh bagian atas suaminya, Ara menyentuh lembut bibir suaminya.


"Aku juga sangat suka dengan bibir kakak! Terkadang jika aku sedang melamun, gak punya kerjaan, pikiran ku suka benda ini." menyentuh bibir Rafa. ucapnya dengan malu malu wajah merah merona


"Boleh nggak aku mengecupnya?" berbisik malu wajah merah merona.


Rafa tertawa kecil.


"Kenapa masih nanya sih sayang? tentu saja boleh dong. Tubuhku adalah milikmu, hanya milikmu. Hanya kamu yang berhak menyentuhnya kapan saja kamu mau! Kamu gak perlu izin dariku! Aku malah suka kamu menyentuhnya setiap saat!" tersenyum simpul menggoda.


Dia memegang sala satu tangan Ara.


"Seluruh bagian bagian dari tubuhku hanyalah milikmu sayang. Bukan hanya bibir. Ini juga hanya punyamu seorang." menyentuhkan


tangan Ara di bagian pribadi miliknya yang mengeras.


Ara kaget dan semakin tersipu malu, wajah semakin merah merona.


Rafa terkekeh, dia ******* bibir istrinya dengan gemas. Lalu melepaskan.


"Kecup lah sesukamu! Aku akan diam dan menikmatinya." bisik Rafa tersenyum seraya mengerucutkan bibirnya sedikit untuk di cium. Dia tahu Ara ingin mencium bibirnya karena sikap aneh lagi.


Ara tersenyum malu-malu, lalu mendekatkan bibirnya ke benda kenyal tebal, kemerahan dan seksi milik suaminya ini.


Di kecup dan ciumnya berulang kali dengan lembut dan hangat tanpa permainan lidah.


Rafa menelan salivanya menikmati permainan istrinya menggairahkan. Yang selalu membuat dirinya melayang dan mabuk kepayang. Ingin sekali dia membalas ciuman ini. Tapi khawatir akan tubuh Ara yang lemah karena belum makan.


Dia juga tahu apa yang di lakukan istrinya ini hanya karena sifat aneh Istrinya yang tidak ingin sampai ke hubungan intim, hanya sekedar ingin mencium bibir dan Aroma tubuhnya.


Setelah puas mengecup dan menciumi bibir suaminya, Ara segera menarik bibirnya.


Dia tersenyum menatap senang seraya meraba raba lembut benda kenyal itu.


"Sudah puas?" tanya Rafa tersenyum melihat kepuasan yang terpancar dari wajahnya. Sementara dia sendiri sangat tersiksa menahan hasratnya yang sudah sangat membuatnya menderita.


Ara mengangguk.


Rafa ikut tersenyum, dia mengecup kening istrinya penuh kasih sayang. Melihat wajah Ara yang pucat.


"Sayang, apa kau sakit? Wajahmu pucat."


"Nggak kak, mungkin karena aku belum makan! Aku mau makan sekarang."


"Ya sudah, sekarang kita keluar." Rafa Segera bangun. Dan juga membantu istrinya bangun.


Ara turun dari ranjang, melepaskan mukenanya dan memakai sendal rumah.


Rafa memperhatikan istrinya yang hanya memakai daster motif mickey mouse selutut lengan pendek berkancing di bagian tengah berwarna merah. Sangat cocok dengan usianya yang masih belia.


Kaki jenjangnya yang putih mulus bersih terlihat indah dan sempurna di matanya.


Dia tidak menyangka akan mendapatkan istri semuda ini yang umurnya terpaut cukup jauh darinya ,10 tahun lebih muda dengannya.


Rafa memeluk Ara dari belakang. Mendaratkan kecupan di tengkuk, bahu dan leher jenjang istrinya yang terekspos karena rambutnya yang di cepol.


Terlalu sulit baginya untuk melewatkan makhluk indah di depan matanya ini. Ingin terus baginya menikmati keindahan ini.


"Kak?" Ara kaget.


"Kau menggodaku sayang! Biarkan aku menyentuhnya sebentar." bisik Rafa lembut. Dengan sentuhan nakal menjalar di bagian dada dan paha Ara.


Ara memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya, mendesah tertahan. Dia sudah dapat memastikan apa yang ada dalam pikiran suaminya.


"Aku lapar, tubuhku lemah! Aku tidak punya tenaga." desahnya merasakan sentuhan yang sudah mulai liar di dalam sana.


"Jangan kak!" menahan kuat tangan suaminya.


" Aku tidak kuat lagi menahannya sayang!" bisik Rafa disela sela ciuman dan sentuhannya. Nafasnya yang tak beraturan karena gairahnya yang menggebu.


"Semalam kan udah! Subuh juga masih sempat!"


"Aku tidak akan puas dengan tubuhmu sayang. Kau selalu membuatku tegang. Aku menahannya dari mobil sejak tadi!" Rafa segera menekan tubuh Ara ke meja rias.

__ADS_1


Lalu melebarkan kedua kaki istrinya di bawah.


Secepatnya dia membuka resletingnya,


menurunkan ** Ara. Dan masuk hanya dalam satu kali hentakan yang di paksa kuat.


Ara meringis sakit. Menggigit bibir bawahnya.


Pegangan kuat di bibir meja. Dia hanya bisa pasrah dan diam. Rasa rasanya dia mau pingsan. Karena memang tubuhnya sangat lemas dan lapar. Bahkan kedua kakinya gemetaran saat ini, keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya


Rafa melakukannya dengan cepat. 15 menit terdengar erangan kuat dari mulutnya setelah mencapai puncak. Dia memeluk tubuh Ara kuat dari belakang. Mengecup dan menciumi punggung istrinya berulang. Tangannya sesekali bermain di perut dan dada istrinya.


Mereka terdiam beberapa saat. Hanya terdengar deru nafas yang memburu cepat.


Beberapa saat kemudian Rafa mengangkat tubuh Ara ke kamar mandi.


Dengan telaten dia memandikan Ara yang lemah seperti seorang ibu memandikan anaknya.


"Sayang, apa kamu marah padaku?" kaget melihat air mata yang mengalir di kedua ujung mata Ara. Dia juga terkejut melihat wajah Ara yang semakin pucat.


"Maaf sayang. Aku sungguh tidak mampu menahannya!" mengecup bibir Ara.


"Maaf ya sayang!" memeluk beberapa saat, lalu melepaskan.


Dia memegang wajah Ara.


"Apa kau marah padaku?"


Ara menggeleng lemah meski air matanya masih mengalir.


Rafa tersenyum terharu, merasa bersalah.


Dia mengecup kening istrinya penuh cinta


dan kasih sayang. Dia tahu Ara tidak akan bisa marah.


Segera dia menyelesaikan ritual mandi mereka. Kemudian mengangkat tubuh istrinya ke ruang ganti. Di dudukan di atas meja.


Melap rambut Ara yang basah. Lalu memakaikan telon, ke dada perut dan punggung, telapak tangan dan kaki. Lalu memakai kan pakaian Ara.


Dia sendiri segera memakai pakaiannya dengan cepat, menyisir rambutnya dan juga rambut Ara.


Ara segera turun dari meja.


"Ayo kak, aku sangat lapar!"


"Iya sayang, sekarang kita turun." Rafa segera mengangkat tubuh istrinya.


Ara terkejut. Sontan melingkarkan kedua tangannya di bahu suaminya.


"Turunkan aku Kak! Aku jalan saja."


"Tubuhmu lemah sayang."


"Aku masih mampu untuk berjalan."


"Nanti kau jatuh, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu." Rafa tak perduli.


"Kakak bisa pegangin aku! Turunkan dong kak, aku malu!" pinta Ara merengek.


"Kenapa harus malu, kamu istriku! Diam lah, jangan membantah. Atau mau di kamar terus?" kata Rafa menatapnya tajam.


Ara menatapnya cemberut.


Rafa tersenyum tipis, lalu mengecup bibir istrinya kuat. Kemudian melanjutkan langkah keluar dari kamar.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di meja makan. Di situ sudah berdiri Wisnu, Narsih, koki, dan para pelayan berjejer rapi.


Mereka langsung menunduk melihat kedatangan kedua majikannya.


Pelan pelan Rafa mendudukkan Ara.


"Sebentar sayang, aku akan ambilkan makanannya!" Lalu segera ke dapur dengan langkah panjang.


Ara tersenyum kepada mereka semua yang berada di situ, yang langsung di balas oleh mereka dengan sopan.


Mereka sangat menghargai dan sayang pada nona muda mereka ini.


"Mbak yeti, bagaimana pembangunan rumah orang tuanya?" tanya Ara pada sala seorang pelayan.


Wisnu bergerak memberi isyarat pada Yeti untuk maju.


Yeti maju selangkah dengan sopan.


"Dalam beberapa hari akan selesai nona muda! Alhamdulillah, semua berkat kemurahan hati anda dan tuan Rafa. Orang tua saya tidak kejatuhan air hujan lagi saat tidur, dan juga tidak kepanasan kena matahari. Terimakasih atas kebaikan anda nona muda." Yeti membungkukkan badannya berulang kali.


Ara mengangguk tersenyum.


"Syukurlah mbak! Nanti jika pembangunannya sudah selesai, mbak bisa pulang ke kampung buat nengokin orang tua! Mintalah izin sama buk Narsih selama seminggu."


Yeti tersenyum senang.


"Benarkah non? Nona muda terim kasih, terimakasih! Alhamdulillah." katanya dengan haru.


Ara mengangguk tersenyum.


Ara sangat memperhatikan kesejahteraan hidup semua para pelayan, para penjaga keamanan di rumah pribadi dan juga rumah utama. Dari segi sandang, pangan dan papan.


Berawal dari dia mendengar secara tidak sengaja pembicaraan sedih para pelayannya yang saling berbagi keluh dan kesah. Berkeluh mengenai biaya berobat orang tua dan juga operasi, keluhan pendidikan anak, keluhan tempat tinggal yang tidak layak dan juga keluhan keluhan lainnya.


Dan setelah di telusuri oleh Wisnu, ternyata sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga dengan status rendah dan tidak mampu.


Gaji yang mereka peroleh dari hasil kerja setiap bulan dikirim buat orang tua dan keluarga mereka, yang menggantungkan hidup pada mereka.


Oleh karena itu Ara, melalui pak Sam dan bu Narsih meminta pada mereka untuk menyampaikan segala keluhan beban hidup mereka kepadanya.


Mereka sangat bersyukur dan beruntung karena memiliki majikan yang sangat baik tanpa pandang bulu, rendah hati, suka berbagi dan peduli kepada mereka yang kekurangan dan kesusahan hidup.


Ara mengalihkan pandangannya pada suaminya yang datang membawa sebuah nampan berisi makanan.


Rafa segera meletakkan makanan kesukaan istrinya di atas meja, yang di tata indah dan rapi di atas piring dan baskom.


"Waah kakak hebat!" puji Ara terpukau melihat makanan favoritnya ini.


Rafa mengusap rambut Istrinya pelan.


"Spesial untukmu ratuku, semoga kamu suka dan puas dengan masakanku. Silahkan di nikmati." kata Rafa tersenyum dengan tubuh sedikit membungkuk, tangan satu di belakang pinggang dan yang satunya terbuka di depan mempersilahkan istrinya untuk makan.


Ara tertawa kecil.


Begitu juga dengan mereka yang berada di ruang makan ini. Tersenyum senyum melihat romantisnya tuan mereka kepada istrinya.


"Terimakasih kak." ucap Ara.


Rafa tersenyum senang melihat wajah istri nya ceria lagi. Dia segera duduk di samping Ara.


Ara segera mengambil mangkuk yang berisi siomay kuah, dia menghirup aroma wangi dari makanan ini dalam dalam.


"Wangi... sepertinya lezat !" menoleh pada suaminya sesaat.


"Makanlah sayang, aku tidak tau apakah ini enak dan sesuai dengan selera mu!"


"Pasti enak!" kata Ara yakin.


Dia mulai menyantap perlahan dengan merasa kuahnya terlebih dahulu.


"Mmmmm...tuh kan benar... enak banget!" ucap Ara sambil mengisap kedua bibirnya.


Lalu segera menyantap makanan itu dengan lahap.


Keringat nampak muncul di pelipisnya.


"Pelan pelan makannya sayang!" ucap Rafa seraya melap keringatnya.


Dalam 7 menit makanan berkuah itu habis tanpa sisa.


Rafa meminumkan air putih.


Ara segera meraih siomay kacang. Ini makanan yang paling dia suka, karena ada saus kacangnya.


Dia kembali makan dengan lahap tak perduli dengan tatapan mereka yang kaget dengan cara makannya yang sangat lahap tanpa jeda.


Makanan yang seharusnya untuk 4 orang di makannya sendiri.


Sesekali Rafa membersihkan bibirnya dari saus kacang dengan jari telunjuknya, lalu di hisapnya.


Dalam waktu 7 menit makanan itu ludes


tanpa sisa.


Rafa kembali memberinya air minum.


"Kakak, aku mau lagi!" menunjuk siomay ayam bengkuang.


"Sayang, apa kau masih mampu untuk memakannya? Kau sudah makan banyak. Nanti perutmu sakit." Rafa menegurnya karena khawatir.


"Aku belum kenyang kak, aku mau lagi." pinta Ara merengek.


"Nanti perutmu sakit sayang!" menyentuh perut Istrinya yang nampak membuncit.


Ara segera meraih makanan itu tak perduli dengan teguran suaminya. Baginya makanan ini sangat nikmat dan harus di habiskan.


Dia kembali menyantap makanan itu dengan nikmat dan lahap.


Semuanya menatapnya dengan tak bergeming. Nona muda mereka seperti orang yang tidak makan selama seminggu.


Rafa tertegun menatap istrinya. Dia tidak menyangka keinginan Ara untuk meminta makanan buatannya benar benar sangat di sukai Ara.


Buktinya Istrinya menghabiskannya tanpa perduli bagaimana rasanya.


Siomay ayam bengkuang pun habis dalam sekejap.


Ara berdiri sejenak untuk menjatuhkan makanan, sampai terdengar suara bunyi dari kerongkongannya pengaruh makanan yang jatuh ke perut. Dan menandakan dia sudah kenyang.


Para pelayan senyum senyum mendengar bunyi sendawanya.

__ADS_1


Ara tersenyum malu sambil menutupi


mulutnya dengan kedua tangannya, lalu dia duduk kembali.


Dia meraih piring yang tersisa saus kacang.


Lalu menyodorkan pada Rafa.


"Kak, aku mau lagi siomay bumbu kacangnya!" katanya meminta.


Rafa terbelalak "Mau lagi?"


Bukan hanya Rafa, tapi mereka semua


Ara mengangguk.


"Cukup sayang, kamu udah kekenyangan! Nanti perutmu sakit. Istirahat dulu sebentar, kamu udah nambah tiga kali dalam porsi yang banyak." kata Rafa seraya memegang kedua tangan Ara.


"Tapi aku masih pengen kak!" Ara cemberut.


Dia melap sisa saus bumbu kacang di piring dengan jari telunjuknya, lalu dijilatnya.


Rafa segera menahan tangannya, lalu melap jarinya dengan tisu.


"Buk Narsih, ambilkan lagi makanannya." perintahnya pada Narsih.


"Baik tuan." Narsih segera melangkah ke dapur, di ikuti pram kepala koki.


Narsih menuang makanan yang tinggal sedikit.


Pram mendekatinya.


"Buk Narsih, bolehkah aku mencicipi sedikit masakan tuan Rafa?" dia penasaran rasa masakan tuannya yang membuat Ara nambah terus.


"Beraninya kau Pram! Makanan itu di buat tuan khusus untuk nona muda." sentak Wisnu dari belakang mereka.


Wisnu mengikuti mereka dari belakang.


Pram dan Narsih terkejut.


Pram segera membungkuk dengan takut.


"Maafkan aku sekretaris Wisnu. Aku tidak bermaksud lancang. aku hanya ingin merasakan sedikit lezatnya masakan tuan. Biar nanti aku akan membuatnya untuk nona muda jika tuan Rafa memintanya." jawab Pram menjelaskan.


"Kelezatan makanan ini adalah resep pribadi tuan Rafa untuk istrinya. Dan tidak boleh di ketahui oleh orang lain. Hanya tuan yang boleh membuatnya untuk istrinya. Apa kau mengerti?" sentak Wisnu menatap tajam ke arahnya.


"Maafkan aku sekretaris Wisnu!" kata Pram kembali. Lalu segera beranjak melangkah Keluar dari dapur, setelah mendapat isyarat dari Wisnu.


"Sekertaris Wisnu, cicipi lah sedikit! Kau harus tau bagaimana rasanya masakan tuan. Setidaknya lakukan untuk kesehatan nona muda." kata Narsih.


Mata Wisnu memicing mendengar perkataan Narsih. Dia menangkap sesuatu yang tidak baik dari ucapan kepala pelayan ini.


Wisnu segera menerima sendok makan yang berisi sedikit kuah siomay dari Narsih, lalu di cicipi. Wajahnya langsung berubah kecut, karena merasakan keasinan.


Dia menatap wajah Narsih.


"Siomay ayam bengkuang rasanya hambar, dan siomay kacang juga kelebihan garam! Maaf sekretaris Wisnu, sayapun sudah mencicipinya tadi untuk memastikan rasanya demi kesehatan dan kebaikan nona muda. Karena saya tahu tuan tidak pernah memasak." kata Narsih.


"Tapi kenapa Nona Ara mengatakan semua makanan ini sangat lezat? Bahkan nona muda makan sangat lahap dan menghabiskan semuanya." ujar Wisnu bingung.


"Apakah tuan tidak mencicipinya saat memasak tadi? Apa dia tahu dengan rasa dari makanan yang di buatnya ini?" sambung Wisnu kembali.


"Mungkin nona sangat senang dan bahagia karena yang memasaknya adalah suaminya sendiri, jadi dia mengabaikan semua rasa itu. Tapi untung saja rasanya tidak terlalu asin sekali!" kata Narsih lagi. Lalu mengangkat nampan berisi siomay kacang.


Dia segera melangkah menuju ruang makan di ikuti Wisnu yang masih bingung.


Narsih meletakkan pelan pelan di depan Ara.


"Terimakasih buk!" kata Ara senang melihat makanan itu.


"Sama sama nona muda!" jawab Narsih sopan sambil tersenyum.


Ara mulai mencicipinya.


"Pelan pelan sayang, nanti tersedak!" kata Rafa. Dia tidak menyangka perut kecil istrinya mampu menampung makanan sebanyak ini.


"Ini sangat enak! Kakak gak makan?"


"Melihatmu makan selahap ini membuat ku kenyang sayang."


"Buka mulut kakak, aaaa...!" Ara menyuapkan ke mulut suaminya.


Rafa membuka mulutnya dan menerima suapan dari istrinya.


Wisnu dan Narsih memperhatikan wajah Rafa yang tidak berubah sama sekali.


"Ada apa dengan tuan? Apa ada masalah dengan lidahnya?" batin Wisnu.


Karena setahunya tuannya ini sangat selektif dalam soal cita rasa dari sebuah makanan dan sangat pemilih makanan. Tidak sembarangan makanan bisa masuk ke dalam perutnya.


Telpon di saku Wisnu berdering. Dia segera mengambilnya dan mengangkatnya.


"Selamat siang nyonya!" sapanya sopan pada Maya, si penelepon.


"Siang Wisnu. Aku ingin bicara dengan Rafa!" kata maya dari seberang.


"Sebentar nyonya!"


Dia mendekat pada tuan dan nona mudanya, menyodorkan ponsel yang langsung di terima Rafa.


"Dari Nyonya Maya tuan!" katanya sopan.


"Dari mama?" sahut Ara menghentikan makannya.


"Iya sayang." kata Rafa.


"Aku ingin bicara dengan mama!" mengambil ponsel dari tangan suaminya. Lalu meletakkan di telinganya.


"Assalamualaikum ma ...!" katanya tersenyum dengan wajah sumringah.


"Waalaikumsalam nak..."


"Mama kapan pulang, aku dah rindu sama mama. Bagaimana keadaan mama? Mama baik baik aja kan di sana? Mama makan teratur kan di sana? Apa mama tidur dengan baik?" rentetan pertanyaan karena terlalu semangat dan senang.


"Hey nak, kamu nanyanya satu satu dong." ujar Maya tertawa kecil dari seberang.


Rafa juga tersenyum dengan tingkahnya.


Dia mengelus lembut lengan istrinya.


"Alhamdulillah mama sehat di sini, seminggu lagi mama pulang, kalian baik baik kan di sana?"


"Alhamdulillah ma, kami baik baik semua! Mama tahu nggak, ternyata kak Rafa pintar sekali memasak. Aku lagi menikmati makanan buatan kakak! Masakannya enak dan lezat." katanya sangat antusias memuji masakan suaminya.


Rafa terkekeh mendengar pujiannya.


"Oh ya? wah mama nggak nyangka Rafa bisa memasak, soalnya yang mama tahu dia tidak pernah memasak selama hidupnya." kata Maya yang sedikit terkejut. Karena setahunya Rafa tidak tahu dan tidak pernah memasak sejak kecil.


"Justru kakak sangat jago ma, makanan yang di buatnya sangat enak! Nanti kalau mama pulang aku akan minta kakak untuk membuatkannya untuk mama."


"Iya nak. Mama akan kembali setelah urusan mama selesai!"


Rafa mengambil ponsel dari telinga istrinya.


"Aku masih ingin ngomong kak!" desis Ara.


"Habiskan makananmu, nanti keburu dingin. Aku ingin bicara dengan mama." menyentuh dagu istrinya.


Ara mengangguk dan segera melanjutkan makannya .


"Halo ma, ada apa ?"


"Mama hanya ingin menanyakan keadaan kalian, syukurlah kalian sehat semua! Tadi mama juga barusan ngomong sama Nesa dan si kembar!"


"Mama jaga kesehatan di sana! Jangan terlalu sibuk dengan urusannya. Obatnya jangan lupa di minun."


"Iya nak, mama tahu kok. Sudah dulu ya! Mama tutup teleponnya! Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam ma..."


"Waalaikumsalam ma ...!" sahut Ara juga.


Maya mematikan telepon. Saat ini dia sedang berada di Australia, sudah seminggu dia di sana mengurusi bisnis fashionnya.


10 menit kemudian Ara mengabiskan makanannya.


Dia sangat puas dan senang karena keinginan sudah terpenuhi.


"Kak, aku mau ke kamar."Ara bangkit dari duduknya.


"Iya sayang, kamu harus istirahat!" Rafa ikut bangkit. Dia segera memegang tangan Ara dan melangkah berjalan bersama.


"Mau naik lift atau tangga?"


"Tangga aja kak! Hitung hitung olahraga. Udah lama aku nggak ikut latihan kelas senam dan yoga."


"Tiap malam dan subuh kan kamu selalu olahraga sayang!" goda Rafa tersenyum.


Ara terkejut dengan mata membulat, mukanya berubah masam.


"Ihh...kakak, pikirannya mesum terus." katanya kesal dan malu.


Rafa tertawa terkekeh. Dengan cepat menyambar bibir Ara, di kecup.


"Ingat ya sayang, bayaran masakan ku!" bisik nya terus menggoda.


Ara semakin kesal dan cemberut. Dia menggigit lengan Rafa kuat. Lalu segera berlari menaiki tangga sambil tertawa kecil penuh kemenangan.


"Aku nggak janji tadi. Jadi gak boleh menuntut apa pun. Aku akan mebayar jasa kakak memasak pakai uang!" teriaknya agak keras.


"Sayang, awas kamu ya? Beraninya menggigit ku." teriak Rafa keras sambil memegang lengannya yang sakit.


"Aku gak mau uang, aku mau dirimu." dia segera berlari cepat menaiki tangga mengejar istrinya yang meledeknya dari atas.


...Bersambung....

__ADS_1


Happy reading jangan lupa like, komen dan votenya yaa ☺️☺️☺️🙏


__ADS_2