Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 34


__ADS_3

...Happy Reading....


Rafa langsung menuju kamar hotel presidential suite miliknya yang berada di lantai paling atas, dia segera membuka jasnya dan melemparnya asal, kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, memejamkan mata, menutup wajahnya dengan bantal. Berbagai pikiran yang berkecamuk di kepalanya membuat dadanya sesak. Entah apa, hanya dia yang tau.


Tidak lama kemudian.


"Tuan, di lobby lomba si kembar sudah berakhir. Nona muda sedang menunggu jemputan."


"Suru sopir kita mengantar mereka." Terdengar suara dari balik bantal.


"Baik tuan." Wisnu segera menelepon seseorang. Lalu dia mendekat ke arah balkon, memandang ke bawah ke arah nona mudanya dengan si kembar menggunakan teleskop mini.


Hp berdering, tertera nama Levina. Wisnu menatap sinis dan mengabaikannya. Menoleh ke arah ranjang, dilihatnya tuannya belum bergerak sama sekali dari posisinya.


Tidak berapa lama muncul beberapa pesan.


Wisnu mendengus kesal.


"Dasar wanita materialistis, Kau pikir tuanku mesin pencetak uangmu? Wanita tidak tahu malu." Wisnu memaki kesal lagi.


"Kalau ingin memaki, harus di depan orangnya." kata Rafa yang tiba tiba sudah berdiri di belakangnya. Dia mengambil teleskop mini, lalu melihat ke bawah.


Wisnu kaget.


"Baik tuan, saya pasti akan memastikan


hal itu!" ucap Wisnu reflek.


"Apa dia meminta uang lagi?" tanya Rafa seraya fokus melihat ke bawah.


"Iya tuan."


"Untuk terakhir kali kirimkan saja, setelah itu blokir kartu kreditnya."


"Baik tuan." jawab Wisnu tersenyum senang.


"Apa mereka sudah pergi?" tidak melihat Ara dan kedua keponakannya.


"Sudah tuan."


"Ambilkan jas ku."


Wisnu segera melaksanakan perintah tuannya, dan memakaikan ke tubuh tuannya


"Kita ke kantor pusat!" seru Rafa kembali sambil memakai kacamatanya


"Baik tuan."


Mereka segera keluar.


.

__ADS_1


.


Ara duduk di lobby restoran yang terdapat di hotel. Sesekali ia membuang nafas berat melirik ke segala arah dengan bibir mengerucut. Di sedang menunggu seseorang. Calon donatur yayasannya, yaitu direktur perusahaan cabang DRA Group. Cindy berkata cadon itu ada di hotel ini menghadiri undangan opening hotel AZ'FA. Setelah acara selesai dia akan menemui Ara di restoran itu melalui sekretarisnya.


Sudah 30 menit Ara menunggu, hingga akhirnya mendapat pesan yang membuatnya berdiri meninggalkan tempat itu.


Dia segera mencari lift untuk membawanya ke bawah, menunggu sesaat hingga pintu lift terbuka dia segera masuk tanpa melihat pengunjung yang berada di dalam. Tak di sadari dia masuk lift pemilik hotel ini.


Panggilan masuk di HP nya.


"Kamu di mana Ra___."


"Aku lagi di lift, aku akan segera ke


sana." Ara merendahkan nada suaranya khawatir membuat pengguna lift di belakangnya terganggu.


"Cin, tolong kirimkan lokasi perusahaannya ya?"


"Baik Ra, aku akan share lokasinya."


"Terimakasih, Assalamualaikum." segera mematikan ponselnya dan memasukkan benda tipis itu ke dalam tasnya.


Lift semakin turun ke bawah.


Beberapa detik ponselnya berbunyi kembali, ia segera mengambil dari dalam tasnya, melihat siapa yang menelepon membuatnya tersenyum.


"Cintaku dunia akhirat"


Raka, suaminya.


"Assalamualaikum kak Raka." dengan suara lembut dan rendah ucapnya.


"Waalaikumsalam sayang! Apa lombanya sudah selesai?" suara Raka dari seberang.


"Iya kak, sudah selesai! Si kembar sudah kembali ke rumah di antar sama sopir perusahaan kak Rafa, aku sudah menghubungi pak Sam! Oya kak, aku belum bisa pulang sama si kembar, aku izin ya masih ada urusan yang sangat penting"


"Baik sayang, kamu hati hati di luar!"


"Iya kak, kakak juga, jaga diri jangan terlalu capek, jangan telat makan dan jangan lupa minum obatnya."


"Siap dokter manisku, perintah di laksanakan!"


Ara tertawa kecil.


Tiba tiba lift berhenti dan bergetar kuat membuatnya kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh, sepasang tangan kekar langsung memegang menahan pundaknya sebelum ia jatuh.


Ara terkejut di antara kemacetan lift dan pegangan orang itu. Dia hanya sedikit menengok kebelakang melihat orang yang menolongnya tadi, tanpa melihat jelas


"Terimakasih tuan" katanya pelan.


Sedikit takut dan cemas.

__ADS_1


Laki laki yang sudah menolongnya itu tak menjawab.


Lift kembali bergerak turun dengan normal.


"Sayang, kamu gak apa-apa?" terdengar suara Raka dari seberang


"Sayang, jawab sayang!" khawatir.


Ara menyadari ponselnya masih tersambung dengan Raka.


"Maaf kak, tadi liftnya berhenti, tapi sudah jalan kembali, aku gak apa-apa."


"Kakak jadi khawatir kepadamu! Kamu di mana sekarang, kakak akan ke sana." Raka panik.


"Udah gak apa-apa kak, aku baik baik saja, kakak gak usah cemas, benar!"


"Baiklah sayang, kalau ada apa-apa segera hubungi aku, aku merindukanmu sayang, sangat merindukanmu!"


"Apa an sih, baru aja berpisah tadi pagi!" ucap Ara malu malu.


Raka terkekeh dari seberang.


"Aku merindukan bibirmu sayang."


"Ih kakak, mulai lagi mesumnya! udah ah, aku tutup teleponnya! Aku mencintai kakak, assalamualaikum!"


"Aku juga mencintaimu sayang, sangat mencintaimu, Waalaikumsalam sayang" jawab Raka. Telepon di matikan.


Ara tersenyum melihat layar ponselnya yang latarnya gambar dia dan suaminya,


"Aku juga sangat mencintaimu kak, sangat mencintaimu melebihi apa pun di dunia" gumamnya pelan tanpa menyadari dua pria yang memperhatikan dirinya sejak tadi.


Ara mengecup Wajah suaminya di ponsel.


"Semoga Allah selalu melimpahimu kesehatan dan perlindungan ke mana pun kaki mu melangkah!" gumamnya kembali terharu bahagia, lalu segera memasukan benda pintarnya ke dalam tas.


Semua ucapan dan pergerakannya itu tak luput dari perhatian seseorang, yaitu Rafa yang memperhatikannya dengan diam dari balik kacamatanya sejak Ara masuk ke dalam lift tadi dan tidak di sadari Ara.


Ara juga tidak mengenal dirinya karena Ara belum pernah melihat wajahnya dan juga Wisnu.


Rafa tersenyum terharu mendengar kata cinta adik iparnya ini pada Raka, adiknya. Dia ikut senang melihat kebahagiaan kedua adiknya ini.


Rafa dan Wisnu sendiri kaget saat Ara tiba tiba masuk dengan terburu-buru dan berdiri di depan mereka setelah mengucap


kata " Permisi " tanpa melihat pengguna lift. Ara tidak sadar salah masuk lift, karena lift ini hanya khusus untuknya dan tamu yang sangat penting.


Untuk pertama kalinya Rafa melihat secara jelas dan sangat dekat wajah dan keseluruhan adik iparnya ini, dia tersenyum penuh arti.


Lift berhenti dan pintu terbuka, Ara segera keluar dan melangkah cepat terburu-buru meninggalkan kakak iparnya yang belum di kenalnya.


"Kenapa dia belum kembali bersama si kembar? sedang apa dia sini ?" batin Rafa menatap tubuh Ara yang berlari lari kecil.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2