Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 106


__ADS_3

"Di mana lo Ra? cepat lah." suara Ines dari seberang semakin membuat langkah Ara melaju cepat ke lantai atas universitas.


Dia tidak sempat membuka email dari kemarin sehingga tidak mengetahui ada pemberitahuan penting dari universitas dan group. Bahwa hari ini kepala yayasan akan memberikan reward kepada mahasiswa berprestasi yang memenangkan berbagai macam perlombaan di tingkat nasional.


Dalam perjalanan Ines dan Cindy menelponnya berulangkali.


"Aku gak bawa almamater Nes."


"Kamu tenang aja, aku udah pinjam sama yunior, cepatan sedikit."


Ara lega karena kedua sahabatnya itu selalu bisa di andalkan dalam situasi apapun.


Dengan nafas ngos-ngosan akhirnya Ara tiba juga di lantai atas dan segera menuju ruang auditorium. Di depan pintu masuk Ines dan Cindy menunggunya dengan cemas. Karena acaranya sudah di mulai. Rektor, wakil rektor, para dekan dan tamu undangan penting sudah berada di ruangan. Dan sekarang ini rektor sementara memberikan kata sambutan.


"Kemana sih gadis itu, lama banget, katanya udah di atas." ujar Cindy melongok ke sana kemari mencari keberadaan Ara. Ines juga melakukan hal yang sama.


Mereka belum melihat tanda-tanda kedatangan Ara. Mereka hanya melihat seorang gadis cupu mendekat ke arah mereka.


"Nes, Cin ini aku." Ara menepuk kedua bahu sahabatnya.


"What? lo Ara?" keduanya terkejut seraya menatap Ara cermat. Memperhatikan dari ujung kaki hingga kepala dengan mata membulat.


"Lo kenapa berpenampilan seperti ini? jelek amat tau nggak." kata Ines, lalu keduanya tertawa.


"Nanti gue ceritain, ayo masuk." Ara langsung menarik ke dua tangan mereka masuk kedalam. Dengan masih tertawa penuh keheranan Cindy dan Ines mengikuti tarikan tangan Ara. Mereka duduk di kursi belakang karena tinggal bagian tempat itu yang kosong.


Cindy segera memakaikan jas pada Ara.


Ara terharu."Thanks ya, untung ada kalian. Kalian memang selalu bisa di andalkan." Ara memegangi tangan kedua sahabatnya itu erat.


"Kami tahu kau lagi sibuk dengan hari ulang tahunmu." kata Cindy. Ines ikut mengangguk.


"Iya, aku gak sempat cek email ku, aku baru buka waktu di perjalanan." kata Ara.


"Sst diam. Pak rektor sedang bicara." kata Cindy berisik. Mereka segera melihat ke depan.


Di podium, rektor sedang menyampaikan arahnya. Dan untuk mempersingkat waktu mengingat sang pemilik sekaligus ketua yayasan mempunyai kesibukan penting lainnya, dia segera mengakhiri penyampaiannya.

__ADS_1


Selanjutnya pembacaan mahasiswa berprestasi. Mereka di undang maju ke depan untuk menerima reward berupa penghargaan dan bonus uang tunai dari pemilik yayasan karena telah mengharumkan nama universitas.


Mereka akan di panggil satu persatu sesuai dengan bidang prestasi yang telah di perlombakan, yaitu lomba akademik maupun non Akademik. Rasa haru dan bahagia menyelimuti hati Ara ketika namanya pertama di sebut sang MC untuk maju ke depan. Cindy dan Ines antusias menyemangatinya. Ara melangkah penuh semangat dan tak lupa mengucap banyak rasa syukur pada Allah.


Dia berdiri di depan sesuai instruksi MC. Matanya yang berkaca-kaca menatap ke depan


ke arah rektor, wakil rektor, para dekan, tamu undangan dan juga mahasiswa/i yang ikut hadir.


Mata Ara tiba tiba berhenti pada salah seorang tamu yang duduk di dekat Rektor. Dia semakin fokus melihat untuk meyakinkan penglihatannya salah atau tidak. Dan ternyata matanya masih sehat sehingga mengenali tamu itu dengan jelas.


"Kak Rafa?" gumamnya dengan wajah mengernyit, kaget.


"Kenapa kakak ipar ada di sini?" gumamnya lagi.


"Sepertinya dia tamu istimewa karena duduknya dekat pak Rektor." memperhatikan posisi duduk Rafa yang sedang duduk bersama rektor dan wakilnya.


Ara kelabakan dan segera memalingkan wajahnya ke arah lain ketika Rafa melihat ke arahnya.


Tamu yang memang Rafa itu mengetahui kalau Ara memperhatikannya sejak tadi. Melihat tatapan bingung Ara akan keberadaannya di acara ini. Dia dapat melihat hal itu dari raut wajah Ara yang penuh tanya. Rafa tersenyum tipis.


"Azahra Radya Almira, mahasiswi semester 5 pemenang lomba olimpiade bidang on-Mipa yang di selenggarakan oleh Dikti. Mahasiswi berprestasi berhasil memperoleh nilai tertinggi dalam olimpiade MIPA dan akan mengikuti olimpiade selanjutnya di tingkat internasional." Ucap MC membacakan prestasi Ara.


Terdengar tepukan tangan meriah dari para mahasiswa, dan juga hadirin yang berada di ruangan itu. Rafa juga ikut bertepuk tangan dengan bangga.


"Dengan hormat kami minta kesediaan bapak Rafa Ravendro Artawijaya sebagai pemilik sekaligus ketua yayasan universitas ini untuk memberikan penghargaan kepada putri terbaik mahasiswi di universitas ini, Nona Azahra Radya Almira." lanjut sang MC.


Rafa segera berdiri dan melangkah mendekati Ara. Kembali terdengar tepukan tangan dari para hadirin.


Sementara di tempatnya Ara tercengang mendengar kata sang MC


"Jadi kakak ipar pemilik universitas ini?" gumamnya pelan.


"Kamu benar sekali adik ipar." bisik Rafa tepat di depan wajahnya sambil tersenyum.


Ara kaget mendengar kata kata itu, dia tidak menyadari Rafa sudah berada tepat bahkan sangat dekat di depannya. Dia menatap wajah kakak iparnya itu dengan mata membulat.


"Kok aku nggak tahu? Kak Raka juga nggak pernah ngomong!" kata Ara tanpa sadar. Tapi untungnya suaranya rendah. Jadi tak ada yang mendengar.

__ADS_1


"Sekarang kau sudah tahu kan?" bisik Rafa kembali menatap netranya.


Ara menelan ludah dan mengulum bibirnya. Lalu melihat ke sebelah menghindari tatapan Rafa.


"Nona Azahra Radya Almira. Kau benar benar cerdas dan luar biasa. Selamat saya ucapkan pada anda atas prestasi yang kau dapatkan. Dan terimakasih atas apresiasi dan karya karyamu, yang telah mengharumkan universitas ini. Saya atas nama pribadi dan juga atas nama universitas sangat berterima kasih padamu." kata Rafa tersenyum.


"Sekali lagi selamat!" kata Rafa seraya menyodorkan tangan kanannya. Ara melihat sejenak wajah Rafa, lalu perlahan menyambut uluran tangan itu. Kembali terdengar tepukan tangan. Kamera menyorot pada mereka mengambil gambar.


"Terimakasih kakak ipar....! Eh... UPS!" Ara tidak sadar dengan yang dia katakan."Eh maksud saya, terimakasih pak Rafa Ravendro Artawijaya. Maaf saya tidak sadar menyebut begitu." katanya gugup dan panik keceplosan menyebut kakak ipar. Dia segera menarik tangannya dari genggaman Rafa. Untung saja hanya dia dan Rafa yang berada di situ.


Rafa mengangguk tersenyum."Sama sama."


Seorang mahasiswa pembawa baki piagam dan bonus mendekat setelah mendapat isyarat dari Rafa. Rafa mengambil medali, Lalu mendekati Ara. Dia melihat ke dua tangan Ara yang saling meremas di depan perutnya, tatapan mata ke bawah menghindari tatapannya."Kamu terlalu tegang Ara.... rileks, Jangan tegang." katanya pelan.


"I iya....!" Ara gugup, lalu segera mengangkat kelopak matanya menatap Rafa.


"Aku hanya ingin memakaikan medali penghargaan ini padamu. Jadi kau jangan takut!" kata Rafa. Karena dia tahu gadis ini terlalu takut padanya.


Ara semakin gugup. Dia segera mengangguk.


Rafa memperhatikan rambut keritingnya yang terurai lebar ke depan, sebagian menutupi ke dua pipinya. Rafa mengatur rambut itu dan menyalip kan di belakang telinga Ara, terus memperbaiki letak kaca mata Ara. Tentu saja Ara kaget, melongo dengan apa yang dia lakukan."Kak....!" ingin mundur, tapi bisikan Rafa menghentikannya.


"Diam....! Rambut mu berantakan. Kacamata mu miring." kata Rafa menatap tajam. Lalu segera mengalun medali itu ke leher Ara, menguncinya pelan pelan. Ara semakin gugup dan gelisah karena jarak mereka yang sangat dekat saat ini. Rafa masih mengaitkan pengikat medali. Tapi dia tidak bisa bergerak sedikit pun.


"Aku sangat bangga padamu gadis pintar." bisik Rafa di telinganya. Lalu segera menarik wajahnya dan mundur selangkah. Dia mengambil piagam dan emplop berisi bonus. Kemudian di serahkan pada Ara.


"Sekali lagi selamat untuk mu." kata Rafa.


Ara mengangguk tersenyum." Terimakasih." ucapnya pelan. Dia tersenyum haru melihat medali, piagam dan bonus di tangannya. Matanya kembali berkaca kaca. Rafa ikut bahagia melihat wajah senang dan bahagia adik iparnya ini. Sesuai arahan MC, Rafa dan Ara berfoto bersama untuk mengabadikan momen bahagia ini. Ara mengangkat semua hadiahnya dengan wajah sedih bahagia.


"Ayah...ibu. Ini untuk kalian!" kata Ara sedih dan hampir menangis. Ini bukan kali pertama dia mendapat penghargaan seperti ini, tapi tetap saja dia sedih dan teringat orang tuanya. Sedih karena bahagia. Di sebelahnya Rafa ikut terharu mendengar ucapannya.


Suara tepukan kembali menggema bersamaan dengan kilatan cahaya kamera.


Rafa segera kembali ke tempat duduk. Selanjutnya pemanggilan nama nama mahasiswa berikutnya.


Setelah penyerahan reward, acara selesai.

__ADS_1


Ara segera keluar dari ruangan auditorium bersama kedua sahabatnya. Ines dan Cindy ikut bahagia dengan prestasi dan penghargaan yang di dapatkan Ara. Mereka saling berpelukan bahagia.


*****


__ADS_2