
Waktu menunjukkan pukul 21.00.
Ines masih menyempatkan diri mengantar Azham dan Azhar pulang ke rumah mereka.
Ines tak dapat menolak karena anak anak itu terus meminta.
Anak anak meminta turun dan masuk ke dalam rumah sambil menarik tangannya.
Terpaksa Ines ikut tak ingin anak anak itu kecewa. Sekalian juga ingin berkenalan dengan ibu Azham dan Azhar.
Ines masuk ke dalam rumah bergaya modern dengan interiornya yang elegan dan mewah berlantai dua.
Keadaan rumah tampak sepi.
Tak ada Rani menyambut kedatangan mereka. Rani pergi ke tempat tinggalnya yang dulu tadi sore karena menengok kerabatnya yang sakit.
"Silahkan duduk." kata Wisnu pada Ines yang sedang memperhatikan keadaan rumah.
"Iya." jawab Ines sedikit gugup.
Dia segera menjatuhkan bokongnya pelan pelan.
"Azham Azhar. Pergi ke kamar ganti pakaian dulu." perintahnya pada anak anak.
"Baik ayah. Kak Ines, kami ke kamar dulu. Kakak jangan ke mana mana." kata Azhar.
Ines menanggapi dengan anggukan kepala
dan senyuman.
Kedua bocah itu segera berlarian naik ke tangga menuju kamar mereka yang berada
di lantai dua. Mata Ines ikut naik ke atas mengikuti tubuh mereka.
"Mau minum apa?" tanya Wisnu.
"Eh... hmm?" Ines kaget. Buru buru mengarahkan wajahnya pada Wisnu.
"Tidak usah repot-repot sekretaris Wisnu.
Aku tidak ingin minum apapun." katanya segera.
"Kalau begitu duduklah sebentar, aku mau mandi dulu. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang."
"Aku tidak ingin merepotkan anda. Aku akan naik taksi saja. Aku akan menghubungi...."
"Sudah ku katakan aku akan mengantarmu!" Wisnu memotong ucapannya dengan tegas.
Ines tertegun mendengar ucapannya.
Dia diam tak bicara lagi.
Wisnu berbalik dan melangkah menuju tangga.
"Sekretaris Wisnu." panggil Ines tiba tiba.
Langkah Wisnu berhenti. Dia berbalik menatap Ines.
"Aku tidak melihat ibu Rani, mungkinkah beliau sudah tidur?" kata Ines sekaligus bertanya.
"Ibu sedang pulang kampung, mengunjungi kerabat kami yang sakit."
"Ohh...." Ines manggut manggut.
"Terus, ibunya Azham dan Azhar?" tanyanya kembali.
Wisnu terdiam mendengar pertanyaannya.
Matanya tak berkedip menatap Ines.
"Sepertinya dia belum tahu tentang Ayirin." Batinnya.
Sesaat kemudian dia berbalik dan kembali melanjutkan langkah menaiki tangga tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.
Ines menatapnya bingung dengan wajah mengernyit.
"Kenapa dia? Aku tanya ibunya Azham Azhar malah di diamin. Selalu seperti itu, susah ngomongnya kalau di tanyain sesuatu. Pelit amat bicaranya. Apa mesti gue bayar ya suaranya?" gumamnya sedikit kesal.
"Mungkin ibunya Azham dan Azhar ada di Amerika kali ya?" gumamnya kembali.
Ines kembali memperhatikan keadaan dalaman rumah. Tak ada foto yang terpajang di dinding. Termasuk foto keluarga.
Bingung mau melakukan apa, Ines membuka ponselnya. Mengecek pesan masuk dalam Group universitas dan fakultas. Ada pemberitahuan mengenai seputaran Wisuda yang tinggal beberapa hari lagi.
Beberapa saat kemudian Azhar dan Azham turun. Keduanya sudah berganti dengan pakaian tidur.
"Kak, ayo ke kamar kami." keduanya menarik tangan Ines yang kaget dengan apa mereka lakukan. Mau tidak mau Ines bangkit berdiri mengikuti tarikan tangan mereka dan naik tangga.
"Cepat kak." mereka menaiki tangga dengan terburu-buru.
"Ada apa sih? Pelan pelan jalannya nanti jatuh." kata Ines bingung sekaligus memperingatkan.
Mereka sampai di depan pintu kamar. Bersebalahan dengan kamar Wisnu. Ada dua kamar di lantai atas ini.
"Kakak di luar saja ya?" kata Ines ragu ragu untuk masuk. Dia menyapukan pandangannya pada dalaman ruang kamar yang cukup luas.
"Kok di luar? Ayo masuk." ajak Azham kembali.
__ADS_1
"Tapi kakak gak enak. Nanti ayah kalian marah gimana?" baru pertama kali datang ke rumah ini sudah berani masuk kamar. Gimana penilaian Wisnu kepadanya? Pasti akan di cap tamu gak sopan dan beretika.
"Ayah gak akan marah kok. Cepat masuk, kita akan nonton film."
"Nonton Film? Udah jam segini mau nonton film?"
"Iya, film favorit kami. Kita nonton bareng. Pasti lebih seru kalau kakak juga bergabung bersama kami. Ayo kak, temani kami." keduanya menarik tangan Ines hingga tubuh gadis itu masuk ke dalam.
Azham segera menutup pintu.
"Tapi ini sudah lat sayang. Waktunya kalian tidur. Coba lihat, ini sudah mau jam 10 malam. Udah masuk tengah malam!" kata Ines mengingatkan.
"Tapi kami belum ngantuk."
"Azham Azhar, seharusnya jam segini anak anak seusia kalian sudah tidur. Ngantuk atau tidak kalian tetap harus tidur. Filmnya nanti besok saja di lihat. Ayo sekarang naik ke tempat tidur." Ines menarik mereka ke atas tempat tidur.
Anak anak mengeluh dengan wajah cemberut seraya mengambil posisi tempat masing masing.
Ines menghela nafas pelan melihat raut wajah mereka.
"Sayang, kakak bukan melarang kalian nonton film. Tapi telat tidur akan membuat tubuh kalian tidak sehat dan dampaknya buruk bagi kesehatan. Kalau hanya nonton, masih ada waktu esok untuk melihatnya. Kalian juga libur kan? Masih banyak waktu yang luang esok." kata Ines kembali memberi pengertian seraya mengelus lengan keduanya.
"Iya kak." Azham dan Azhar masih terlihat cemberut
"Kakak hanya gak ingin kalian sakit. Begadang itu gak baik untuk kesehatan tubuh. Apalagi kalian tuh masih anak anak ! Sekarang tidur ya, besok siang kakak janji akan temani kalian nonton! Udah, jangan cemberut gitu dong, nanti cakepnya hilang." bujuk Ines tersenyum seraya mencubit hidung mereka.
"Benar kak? Apa kakak akan datang ke sini?"
Tanya keduanya dengan raut wajah senang.
"Iya, tapi harus izin dulu pada ayah dan ibu.
Apa mereka ngizinin kakak kesini atau tidak. Kakak nggak bisa sembarang datang ke sini meski kita adalah teman." kata Ines kembali.
"Ayah dan ibu pasti ngizinin kok! Kakak orang baik. Kata ayah, kami hanya bisa berteman dengan orang baik. Tapi kalau aku dan Azhar hanya akan berteman dengan orang yang kami sukai. Kami suka sama kakak. Kakak juga baik orangnya." kata Azham dengan semangat.
Ines jadi terharu mendengarnya.
"Terimakasih, kakak jadi tersanjung dan terharu. Kalian juga anak anak yang baik, kakak juga suka. Tapi walau pun begitu, tetap harus kasih tahu ayah dan ibu. Sekarang tidur ya? Sebelumnya berdoa dulu."
"Baiklah, tapi temani kami tidur sebentar ya kak?" pinta Azhar.
Ines mengangguk tersenyum
Azham dan Azhar segera membaca doa tidur.
Azham meletakkan bantal kepala di antara bantalnya dan Azhar.
"Kak Ines baring di sini, di tengah kami. Setelah kami tertidur baru kakak boleh pergi."
Ines tersenyum mengangguk. Ketiganya segera berbaring. Mereka memeluk Ines dari samping kiri dan kanan.
"Mungkin kebiasaan mereka saat tidur seperti ini ya? Meluk ibu mereka." batinnya.
Untuk mengantar tidur anak anak ini, Ines membacakan dongeng cerita Beruang dan Lebah. Si kembar sangat senang.
Mereka mendengarkan dengan serius. Ines juga menceritakan dengan semangat.
Meski kelopak matanya terasa berat karena
seharian ini dia belum memejamkan mata.
Masuk ke cerita ke dua Kancil dan Buaya, anak anak masih semangat dengan mata masih segar. Terdengar gelak tawa mereka mendengar tingkah lucu sang kancil. Sementara Ines sudah berulang kali menguap dengan matanya yang semakin memerah, bahkan sudah berair menahan kantuk yang menyerang.
Hingga akhirnya masuk ke cerita ke empat,
kelopak mata Azham dan Azhar mulai turun, dan perlahan-lahan tertutup.
Ines tersenyum, lega melihat mereka bergantian.
"Selamat tidur, semoga mimpi indah." ucapnya pelan membelai rambut anak anak di selingi kecupan. Tapi kini dia susah bergerak karena terjebak dalam pelukan mereka.
Ingin memaksa keluar dari pelukan, khawatir akan membuat anak anak terbangun. Ines menunggu sejenak sampai anak anak itu benar benar terlelap, baru dia akan turun ranjang dan pulang.
Mata Ines semakin terasa berat. Dia sangat mengantuk dan juga lelah. Berulangkali dia menguap. Hingga akhirnya perlahan-lahan dia pun tertidur. Karena matanya sudah menuntut haknya tak mau lagi di ajak kompromi.
Waktu menunjukkan pukul 23.00 wib.
Wisnu yang memperhatikan mereka sejak tadi dari kamarnya lewat kamera cctv, segera keluar dan masuk ke kamar anak anak dengan pelan. Dia menatap tak bergeming ke tiga tubuh yang tampak tertidur nyenyak dengan wajah tenang dan damai saling berpelukan.
Dia menatap wajah Ines.
"Apakah benar wanita muda ini yang di kirimkan tuhan untuk menjadi ibu sambung anak anakku? Apakah gadis ini yang di kirimkan Ayirin untuk menjadi ibu bagi anak anak kami?" batinnya. Wanita muda yang masih berumur 22 tahun, berasal dari keluarga sederhana, periang, supel dan ramah. Putus dari pacarnya dua bulan lalu karena tidak tahan dengan sikap buruk pacarnya. Wisnu tahu kehidupan dan kepribadian Ines karena dia sudah menelusurinya.
Selama ini dia bertahan menduda demi anak anaknya. Menutup mata dan tidak membuka hati pada segala keindahan dunia yang berusaha menggoda dan menawarkan kehangatan dan kenikmatan dunia. Dia tidak mau sembrono mencarikan wanita untuk menjadi ibu sambung anak anaknya hanya demi kesenangan semata.
Janjinya kepada Ayirin untuk menjaga anak anak mereka dengan baik, memberikan keceriaan dan kebahagian pada anak anak malang yang tidak pernah merasakan cinta dan kasih sayang seorang ibu.
Tapi desakan ibunya yang terus menerus kepadanya untuk segera melamar Ines. Ditambah dengan perintah tuannya untuk segera menikahi gadis ini secepatnya.
Baginya ini terlalu cepat. Meski dia sudah mengenali Ines sebagai sahabat Nona mudanya.
Wisnu kembali menatap serius pada Ines. Apakah yang terlihat oleh matanya adalah benar? Kebenaran tentang ketulusan Ines pada anak anaknya, seperti yang ada di hadapannya sekarang ini? bagaimana jika kedekatan yang terpampang di matanya hanyalah sebuah kepura-puraan? Hal ini membebani pikirannya dan menimbulkan keraguan.
"Ibu yakin nak, Ines tulus pada anak anakmu. Dia tidak berpura pura. Dia masuk dalam kriteria pilihan anak anakmu untuk menjadi ibu mereka. Sifatnya yang keibuan, lembut dan menyayangi anak-anak. Mungkin itu yang di rasakan Azhar dan Azham sehingga mereka langsung suka pada Ines sejak pertemuan pertama." kata Rani kepadanya, dan entah sudah berapa kali ibunya mengatakan hal itu.
Wisnu membuang nafas panjang. Perlahan dia mendekat ke tempat tidur. Sesaat memperhatikan wajah polos anak anaknya yang tampak tertidur tenang sambil memeluk tubuh mungil di tengah mereka. Wisnu tersenyum tipis, lalu menutupkan selimut ke tubuh mereka.
__ADS_1
Mematikan lampu ruang, menyisakan lampu duduk di nakas, kemudian segera keluar.
Dia dan anak buahnya akan turun lagi malam ini sebelum subuh datang. Untuk mendampingi tuannya. Tapi sebelumnya dia akan ke markas terlebih dahulu untuk mempersiapkan anak buahnya.
.
.
Sementara di atas tempat tidur yang berantakan, terlihat dua anak manusia beda jenis kelamin. Baru selesai menuntaskan pergumulan percintaan setelah ujian yang menerpa rumah tangga mereka. Keduanya tampak lelah, mandi keringat dengan tubuh yang polos. Sang wanita tampak tertidur nyenyak dalam pelukan sang pria yang merupakan suaminya. Keduanya tampak bahagia.
Dion memeluk tubuh Cindy tak mau lepas. Takut dia akan menjauh lagi darinya seperti kemarin. Setelah permasalahan yang menguji ikatan suci pernikahan mereka, membuatnya lebih berhati-hati untuk berhubungan dan dekat dengan siapa pun, terutama terhadap perempuan.
Semua memang kesalahannya, karena sikapnya yang terlalu mengikuti kata hatinya untuk perduli pada orang lain tanpa berpikir hal tersebut menyakiti hati istrinya dan membuat dapat menyebabkan masalah dalam rumah tangga mereka.
Hanya saja dia merasa kecewa akan sikap Cindy yang menyingkapi permasalahan rumah tangga mereka dengan merelakan dirinya pada wanita lain. Pasrah dan ikhlas melepaskan dirinya untuk di miliki wanita lain.
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Kenapa kau berpikir aku masih mencari cinta pengganti Ara? Kenapa kau mau merelakan diriku pada wanita lain? Hatiku sakit tahu nggak?" ucapnya pelan suara rendah.
"Tahukah kau, seiring masa bahagia yang kita lalui bersama setelah pernikahan yang kita jalani beberapa hari kemarin, Aku mulai membuka hatiku untuk belajar mencintaimu. Cinta seorang lelaki pada seorang wanita, cinta seorang suami pada istrinya. Aku pun berharap kau belajar untuk mencintaiku. Kita akan sama membuka hati untuk dapat saling mencintai satu sama lain! Rasa yang sudah ada di hati kita, rasa cinta, rasa takut kehilangan, dan cemburu. Hanya saja kita belum yakin dengan perasaan itu. Karena masih berbaur dengan rasa sayang kita sebagai kakak dan adik!"
"Maafkan aku kak, aku pikir kakak masih mencari cinta pengganti Ara." kata Cindy dengan mata terpejam. Dia mendengar perkataan Dion di antara setengah tidurnya.
Dion terkejut mendengar ucapannya. Karena dia tahu Cindy sedang tidur. "Kamu gak tidur?"
"Tidur. Tapi belaian kakak di rambut ku, juga usapan di wajahku membuat ku terbangun." kata Cindy kembali sambil menengadah keatas.
"Yang sesungguhnya hatiku sakit saat mengatakan aku ikhlas merelakan kakak kepada wanita lain." katanya sendu.
"Bagaimana nanti nasib anak anakku tanpa ayahnya?" keluhnya lagi.
Dion terdiam mendengar pengakuan isi hatinya. Perlahan di menurunkan wajahnya mengecup bibir Cindy.
"Kau pikir kakak setega itu? Sudah menghamili dirimu, menikahi mu dan masih ingin mencari wanita lain? Bahkan tidak terbesit dalam pikiran kakak hal itu. Gak mungkin Cind, kakak gak segila itu. Apalagi kamu sedang hamil anakku! Meski kita menikah tanpa rasa cinta, bukan berarti kakak akan meninggalkanmu dan mencari cinta pada wanita lain! Kau jangan lagi berpikir seperti itu."
Cindy mengangguk lemah.
Dion kembali memeluknya, mengecup keningnya.
"Hanya kamu dan anak anak kita yang ada di dalam hati dan hidup kakak. Kakak janji akan selalu membahagiakan kalian selamanya. Percayalah pada kakak. Kau dengar itu?"
Cindy kembali mengangguk. Haru dan bahagia.
"Sekarang jawab dengar jujur, apa kau sudah mencintai kakak sebagai suamimu?" tanya Dion.
"Gak tahu, yang jelas aku gak suka kakak dekat dekat sama wanita lain. Awas saja kalau burung ini masih di sentuh sama wanita lain. Akan ku potong dan ku cincang, ku buat perkedel dan aku kasih makan ke kakak." kata Cindy geram seraya memegang kuat milik Dion yang mengeras yang sedari tadi menelusup di sela kedua pahanya.
Dion mengeram sakit sambil tertawa kecil melihat kekesalan di wajah Cindy.
"Cindy, kau menggoda kakak ya?" Mengecup kasar bibir Cindy.
"Menggoda? Aku sedang memperingatkan kakak." kata Cindy kembali dengan suara meninggi dan semakin menjepit kuat dalam genggamannya. Masih kesal membayangkan tangan Bela berusaha menyentuh kepunyaan Dion.
Si empunya kembali meringis.
"Cind, dari pada kau pegang begitu mending masukin gih, kan enak sayang."
"Kakak yang enak, aku sakit. Cukup ah, gak bosan apa? Sebaiknya kita tidur. Aku lelah dan mengantuk." kata Cindy menggerutu.
Dia segera membelakangi Dion sebelum suaminya ini naik lagi ke atas tubuhnya. Lalu memberi pembatas guling di antara mereka.
Dion malah membuangnya dengan kesal. Dia segera memeluk dari belakang, mengangkat satu kaki Cindy ke atas dan langsung masuk dari belakang.
"Aaaaaaaaa, kakaaaaak..." pekik Cindy merasakan perih lagi karena serangan tiba-tiba. Untung saja mereka sedang berada di apartemen Dion, jadi tak ada yang mendengar teriakkan kerasnya.
Dion tergelak mendengar teriakannya.
"Ini yang terakhir sayang, tahan ya? Setelah itu kita tidur." katanya di sela gerakannya. Tangannya ikut bergerak pada dada Cindy dengan lembut. Dan bibirnya bergerak liar pada tengkuk dan punggung Cindy.
Saat ini yang di rasakan hanya satu, yaitu 'BAHAGIA'
.
.
Sama halnya dengan Dion dan Cindy. Rafa dan Ara pun baru saja mengakhiri permainan cinta mereka di atas ranjang dengan tubuh bermandikan peluh.
Rafa memeluk tubuh polos istrinya dari belakang karena posisi Ara membelakanginya. Seakan tak mau lepas sedikit pun dari tubuh istrinya. Rafa masih terus mencicipi tengkuk dan punggung wangi istrinya yang saat ini sudah tertidur pulas. Sementara tangannya tak mau lepas dari buah kesukaannya yang semakin kencang, dan bertambah besar ukurannya. Dia bermain lembut mengingat kedua benda itu mengalami pembengkakan karena pengaruh kehamilan Ara. Sesekali tangan nakal itu mengelus lembut perut Ara. Seolah membelai anak anaknya yang belum tertidur karena ulah nakal dirinya.
Rafa sangat rindu tubuh ini karena semalam tidak bisa di milikinya karena masih di ambil alih oleh kedua keponakannya yang tidak mau lepas dari istrinya.
Tubuh Ara seperti candu baginya yang tak ingin di lepas dan ingin terus di cicipi setiap incinya.
Terus menyentuh tubuh Ara membuat hasratnya bangkit lagi. Rafa tidak tidak dapat menahan hasrat birahinya. Tubuh polos itu di balik terlentang, terus di tindih pelan pelan. Dan untuk kesekian kalinya dia bermain lembut lagi karena tidak ingin menganggu tidur nyenyak Ara dan tak ingin menyakiti anak anaknya yang mungkin saat ini sedang mengumpat dirinya karena terus menganggu dan memasuki ibu mereka yang sedang tertidur lelap.
"Sayangku, cintaku. Terimakasih untuk semuanya." ucpanya bahagia di akhir permainannya. Di susul kecupan manis di bibir dan kening. Masih dengan nafas memburu cepat, tubuh bermandi peluh dia segera bangun. Membersihkan ****** ***** miliknya yang berada di area sensitif dengan tissue. Setelah itu di selimutinya tubuh polos banyak tanda merah dan keunguan hasil karya bibirnya ini. Lalu dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Waktu menunjukkan pukul setengah tiga pagi.
"Sayang, tidurlah dengan nyenyak. Mimpikan aku dalam tidurmu. Aku keluar dulu sebentar. Aku akan segera kembali." bisiknya lembut, mengecup kening istrinya sesaat lalu segera keluar. Dia di sambut Wisnu yang sudah menunggunya sejak tadi di depan pintu bersama Narsih dan Sita.
"Tolong jaga istriku dengan baik." pesannya.
"Baik tuan." ucap Narsih dan Sita bersamaan seraya menunduk.
Rafa segera melangkah turun kebawa menggunakan tangga ketimbang menggunakan lift. Karena tujuan di buatnya benda berjalan itu hanya untuk Ara yang saat itu sudah menjadi istri Raka.
...Bersambung....
__ADS_1
Sudah hampir 3000 kata, author jeda dulu karena masih mau melanjutkan pesanan kue lebaran orang. Tinggalkan jejak bagi yang suka karya author. Terimakasih untuk para reader yang masih setia menunggu kelanjutannya ππ