
...Happy Reading....
Rafa sibuk menyalami para tamu yang berpamitan pulang. Wisnu yang berada di belakangnya membisikkan sesuatu.
Dahi Rafa mengerut. Sedang berpikir.
"Semoga makin sukses tuan Ravendro, kami pamit dulu." ucap sala seorang tamu sambil menjabat tangan Rafa.
"Terimakasih pak Brotoseno, saya akan memikirkan kembali permintaan anda tadi." jawab Rafa.
"Terimakasih tuan Ravendro, suatu kehormatan bagi perusahaan kami bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan anda," kata pria yang bernama Brotoseno itu senang.
Rafa menepuk lengan pria paruh baya itu,
dan kembali menyalami tamu lainnya.
"Kak aku mau toilet?" bisik Ara pada Raka.
"Ayo ke kamar saja."
"Udah kebelet nih, gak nahan."
"Ya sudah pake toilet yang ada di ruangan ini saja."
Ara mengangguk, lalu melangkah cepat menuju toilet wanita. Raka juga melangkah cepat mengikutinya. Dia menunggu di luar setelah istrinya masuk ke dalam.
Selain buang air kecil, Ara juga mengganti pembalutnya. Di bilik sebelah ada pemakainya juga karena Ara mendengar ada suara telpon berdering, lalu terdengar percakapan.
Meskipun tidak jelas Ara dapat mendengar percakapan itu. Awalnya dia tidak perduli dan tetap fokus bersihkan dirinya.
Tapi makin lama, dia mendengar percakapan itu sedang membicarakan sesuatu yang tidak baik. Lebih terkejut lagi setelah menyadari suara itu suara laki laki. Sementara ini kan toilet wanita.
__ADS_1
Pelan dan hati hati Ara mendekatkan telinganya ke dinding pembatas. Dia ingin menyakinkan mengenai apa yang di dengarnya. Matanya membulat dengan mulut menganga, setelah mendengar rencana tidak baik. Segera dia menyelesaikan bersih bersihnya. Lalu perlahan-lahan keluar dengan jantung berdetak kencang.
Begitu sampai di pintu keluar, ia mendengar bunyi pintu bilik toilet yang di sebelahnya tadi di buka, di sertai bunyi siulan.
Ara menoleh sekilas, lalu melangkah cepat keluar.
"Sudah selesai?" tanya Raka.
Ara mengangguk."Ayo kak dia menarik tangan suaminya yang saat itu sedang bersandar di tembok.
"Pelan pelan jalannya sayang nanti kamu jatuh." kata Raka merasakan tarikan kuat dan melihat istrinya melangkah terburu buru.
Raka menarik tangan Ara untuk berhenti.
"Kamu kenapa? Terburu-buru buru begitu?"
Menatap wajah istrinya yang terlihat tegang dan tidak tenang.
Dia kembali menarik tangan Raka.
"Aku, perutku sakit kak, aku ingin segera kamar dan beristirahat." kata Ara berbohong sambil menoleh ke belakang.
Raka kebingungan, dia menoleh ke belakang. Tapi Ara menarik kuat tangannya dan melangkah cepat sembari memegang perutnya. Raka segera mengikuti langkah istrinya melihat wanitanya itu meringis kesakitan.
Ruangan ballroom sudah sepi, yang terlihat hanya para cleaning servis yang membersihkan ruangan.
Keduanya segera keluar dari ruangan itu. Saat menuju lift, telinga mereka menangkap suara orang yang berbicara keras seperti sedang marah. Langkah mereka terhenti .
Suara orang sedang marah, membentak dengan kata kata kasar. Lalu di susul suara jeritan lemah.
Keduanya saling berpandangan.
__ADS_1
"Kakak ..." bisik Ara pelan.
"Sss__!" Raka meletakkan jarinya di bibir.
Lalu mendekat kearah ruangan itu, ingin memastikan siapa yang berada di sana.
Tangannya memberi isyarat agar Ara tetap di tempatnya.
Raka mengintip pada kaca yang tertutup tirai. Membuka mata lebar ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam sana. Tapi tebalnya tirai tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi telinganya mendengar jelas suara orang yang sedang memohon minta pengampunan, suara perempuan.
"Maafkan kami tuan, maafkan kami, tolong jangan pukul kami lagi, jangan hukum kami."
"Aku mohon jangan hancurkan perusahaan ayahku."
"Kami akan melakukan apa saja, asal jangan hancurkan perusahaan ayah kami." suara gadis yang satunya .
"Cihh ...." terdengar umpatan sinis, di susul kata kata kasar. Raka terkejut mendengar suara itu. Karena tidak asing di telinganya.
Tiba tiba terdengar jeritan dari mulut ke dua perempuan di dalam sana. Ara yang berada di belakang suaminya terkejut dan deg degan. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam, apakah terjadi penyiksaan? gumamnya.
"Ayo sayang kita pergi."
"Tapi kak, bagaimana dengan wanita wanita itu?"
"Sebaiknya kita jangan ikut campur, kita beri tahu petugas keamanan saja."
"Tapi itu terlalu lama, bagaimana jika mereka keburu mati? Aku tidak bisa hanya diam saja. Kita harus berbuat sesuatu sebelum terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada mereka. Karena sepertinya orang orang yang menyiksa mereka sangat kejam." kata Ara panjang lebar sambil berbisik.
"Kakak tahu itu sayang, tapi bagaimana jika jumlah mereka banyak? dan kita hanya berdua."
Ara Diam terpaku, benar juga. Hanya mereka berdua. Orang orang di dalam sana pasti sangat jahat dan kuat. Dia pun ragu mengharapkan suaminya mampu menghadapi orang orang jahat di dalam sana dengan kondisi tubuh suaminya yang tidak sehat.
__ADS_1
Bersambung.