Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 229


__ADS_3

Setelah subuh, Cindy membuatkan sarapan pagi untuk Dion dari sisa bahan-bahan makanan yang di pakai sophia semalam.


Dion makan dengan sangat lahap bahkan nambah dua kali.


Cindy tersenyum senang melihatnya.


"Kakak makannya banyak banget. Seperti orang yang gak makan tiga hari saja." ucapnya tertawa kecil.


"Aku memang sangat lapar dan belum makan selama tiga hari. Kamu gak memasak untukku !" jawab Dion memasukkan makanan suapan terakhir. Wajahnya di penuhi bulir keringat.


Dahi Cindy mengerut.


"Masa sih kakak nggak makan selama tiga hari? nih buktinya kakak masih hidup ?!" celetuknya kembali.


"Aku banyak minum air putih, kalau pun makan hanya sesuap dua suap saja. Aku gak ***** sama makanan di luar, gak menggugah seleraku. Tapi kalau makanan yang kamu buat, aku gak bisa nahan untuk melahapnya, bahkan pengen nambah terus." Dion menatap.


"Aku heran sama diriku, sejak sebulan belakangan ini aku ketagihan terus sama masakanmu. Bahkan sewaktu di london kemaren, aku teringat terus sama nasi goreng buatan mu." katanya panjang lebar.


Cindy tertegun mendengarnya.


"Benarkah ?"


Dion mengangguk.


"Semalam kenapa kamu gak masak untukku ? padahal aku sangat kelaparan." katanya kembali.


Cindy mengeluh sedih, merasa kasihan.


"Semalam aku memang akan memasak untuk kakak, tapi Sophia datang. Dia pengen masak makanan buat calon suaminya, jadi aku serahkan saja sama dia."


"Tapi seharusnya kamu tetap masakin makanan buat aku. Aku gak berselera sama makanan yang di buatnya,"


"Aku udah kasih tau makanan kesukaan kakak, apa dia tidak membuatnya?"


"Gak, dia gak masak. Aku tahu semua makanan itu di pesannya dari restoran. Dan walaupun dia masak, aku tetap tidak akan bisa memakannya karena aku hanya berselera sama makanan yang kamu buat," Dion masih terus menatapnya.


Cindy kembali tertegun, hatinya terenyuh.


"Sepertinya kak Dion merasakan bawaan kehamilan ku juga." batinnya.


"Mungkinkah penyebab aku kehilangan selera makan karena selera makan ku sudah berpindah pada kak Dion?" batinnya kembali seraya menatap lekat pada Dion.


"Berarti kakak nggak makan semalam?" tanyanya kemudian.


"Bukan hanya semalam, tapi dari tiga hari yang lalu, aku udah bilang kan tadi ?" jawab Dion.


Cindy kaget dan kembali mendesah sedih.


Dion bangkit dari duduknya mendekat ke padanya.


Cindy ikut bangkit dan bersandar pada pinggiran meja.


Dia merasa canggung saat Dion sangat dekat dengannya.


Dion memegang kedua tangannya, menatap wajahnya dalam dalam.


"Cin, kakak nggak tahu apa yang kakak rasakan.


Kakak merasa ada yang aneh pada kakak !"


Dahi Cindy mengerut.


"Aneh bagaimana? emang apa yang kakak rasakan?"

__ADS_1


"Entahlah Cin, padahal kita sudah bersama sejak dulu, tapi apa yang kurasakan sekarang berbeda dengan yang dulu. Aku bukan hanya suka sekali dengan masakan mu. Tapi juga, sangat ingin dekat denganmj terus," kata Dion dengan wajah serius.


Cindy terkejut. Rasa haru menyeruak di hatinya.


"Bahkan saat kerja pun, aku selalu kepikiran sama kamu, aku merasa khawatir dan takut terjadi sesuatu yang buruk sama kamu !" lanjut Dion kembali dengan raut wajah bingung.


"Itu karena ikatan batin yang kuat antara kakak dan calon an ....!" ucapan Cindy terhenti. Dia langsung menutup mulutnya. Hampir saja keceplosan.


Dahi Dion mengerut menatapnya.


"Ikatan batin yang kuat apa maksudmu? ikatan batin aku dengan siapa ?"


Cindy kelabakan dan gugup, dia langsung tertawa kecil.


"Ah...hahahaha, tentu saja dengan aku. Kita sudah seperti saudara kandung bukan? aku pun merasakan hal sama seperti apa yang kakak rasakan. Akhir akhir ini aku kepengen banget peluk peluk. Mungkin karena kakak akan segera menikah makanya rasa seperti itu muncul di hati kita. Setelah kakak menikah kita tidak akan bersama, dekat dan tertawa, bersenda gurau seperti ini lagi," ujar cindy serak.


" Aku akan merasa kehilangan kakak nanti !" lanjutnya lagi dengan tersenyum sedih, matanya berkaca-kaca.


Tapi dia kemudian dia segera tertawa untuk menepis kesedihannya di depan Dion.


Dion melebarkan kedua tangannya


"Kau ingin sekali meluk aku kan? kemari lah !" ucapnya lirih, karena sesungguhnya dia pun merasakan seperti apa yang di rasakan Cindy.


Tangis Cindy bergemuruh di dalam dadanya .


Dia langsung memeluk Dion, merebahkan wajahnya di dadanya lelaki itu, terisak kecil.


Dion membelai lembut rambut dan punggungnya.


"Sejujurnya aku gak suka dengan pernikahan ini. Aku tidak punya alasan lain untuk menolaknya. Tapi kamu jangan khawatir, meski aku sudah menikah nanti, kita akan tetap dekat dan bersama seperti ini.Tidak akan ada yang berubah, kau tetap adikku dan aku adalah kakakmu. Kau bebas datang kesini kapan saja dan meminta apa pun padaku, kau dengar itu ?"


Cindy semakin menangis dan menekan wajahnya di dada kakaknya ini.


Dion mengecup puncak kepalanya.


Cindy menanggapi dengan anggukan.


Dion melepaskan pelukannya, dia memegangi wajah Cindy, menatap lekat.


"Aku sudah membelikan kamu apartemen yang baru di kawasan X ! Mulai sekarang kau akan tinggal di situ. Dan untuk apartemen mu yang lama, itu tetap milikmu. Aku sudah menariknya kembali dan mengembalikan biaya sewanya,"


Cindy terperanjat. Dia memegang ke dua tangan Dion di wajahnya.


"Itu gak perlu kak, aku gak butuh apartemen baru. Sebentar lagi aku wisuda, setelah itu aku kembali ke kotaku dan mencari pekerjaan di sana."


"Kamu tidak perlu mencari pekerjaan di sana. Setelah aku menggantikan papa nanti, aku akan merekrutmu kerja di perusahaan. Di samping kau kerja, kau juga bisa melanjutkan kuliah Pasca sarjana mu ! Masalah biayanya kau tidak perlu khawatir. Jadi tak ada alasan lagi bagimu untuk menolak !"


Cindy terdiam, terpikir sesuatu di kepalanya.


Kuliah Pascasarjana...ya.


Ini jalan keluar dari semua masalah kehamilan nya.


Mungkin dengan kuliah Pascasarjana adalah alasan yang tepat menjauh dari semua orang untuk menyembunyikan kehamilannya


Dia tersenyum senang mendapatkan jalan keluar untuk menyembunyikan kehamilannya.


"Baiklah, aku akan melanjutkan kuliahku. Tapi bukan di sini, aku akan melanjutkan kuliah S2 ku di kota lain. Aku ingin menambah pengalaman hidup yang baru, ingin menjelajahi dan wisata di kota baru, menambah wawasan ku tentang daerah lain, mendapatkan teman baru dan.......!"


"Aku setuju jika itu kemauanmu, yang penting kau kuliah," Potong Dion cepat.


"Tentukan dan teliti dengan baik universitas pilihanmu selanjutnya. Atau kalau kau ingin melanjutkan studi mu keluar negeri, aku akan selalu mendukung mu."

__ADS_1


"Gak ah, ngapain jauh jauh keluar negeri sementara pendidikan di negeri sendiri jauh lebih bagus dan memadai."


"Ya sudah, terserah kau saja, pilihan ada padamu ! sekarang aku mau ke kantor. Jangan lupa masakin lagi makan malam untuk ku nanti." kata Dion.


"Dan untuk sarapan pagi ini, terima kasih." Dion mengecup keningnya.


"Kakak jangan dulu ke kantor. Kakak harus melakukan fitting baju pengantin bersama Sophia pagi ini." Cindy salah tingkah dengan kecupan itu.


"Aku gak mau. Ngapain lagi sih harus melakukan fitting segala? kan kemarin sudah di ukur !" kata Dion kesal.


Dia segera melangkah meraih tas kerjanya di sofa.


Cindy mengikuti langkahnya.


"Itu harus kakak ..!" menarik lengan Dion hingga pemuda itu berhenti.


"Biar nggak ada kesalahan dalam baju pengantin kalian. Biar nanti saat waktunya tiba pakaian kalian pas di badan, nyaman di kenakan dan tidak sempit. Apalagi akhir akhir ini kakak banyak makan dalam porsi yang besar, sudah pasti berat badan kakak naik."


Cindy pura pura mengamati wajah Dion dan menekan nekan pelan pipinya.


"Lihat nih, pipi kakak aja mulai tembem, dan leher kakak juga nampak berisi, sepertinya BB kakak naik. Coba deh kakak ngukur berat badan, pasti jarumnya nambah ke kanan."


"Enak saja, maksud mu aku gendut ?" Dion mencubit hidungnya.


Cindy tertawa kecil.


"Pokoknya aku gak mau ikut kalian," berjalan melangkah.


"Ayolah kak, aku udah janji sama tante Dinda untuk membawa kakak ke butik."


"Kamu gak perlu ikutin kemauan mama !"


"Aku gak enak. Aku sudah keburu berjanji akan membawa kakak untuk menemani Sophia. Lagi pula kenapa kakak nggak suka bersama Sophia, dia tuh calon istri kakak. Bentar lagi kalian menikah dan akan hidup bersama, belajarlah untuk menerima dia !"


Dion terus melangkah keluar dan mengunci Apartemennya setelah Cindy ikut keluar.


Dion meraih tangannya di pegang berjalan menuju lift.


Cindy berhenti bicara memaksa karena adanya pengunjung lain dalam lift.


Hingga mereka tiba di parkiran.


"Kak, aku mohon !" pinta Cindy kembali.


Dion segera masuk ke dalam mobil.


Cindy menatapnya kesal dan ikut masuk ke dalam mobil.


Dion segera menjalankan mobil sport mewahnya ini.


"Kamu mau ikut aku ke kantor ?" tanya Dion menoleh sesaat kepadanya.


"Kita ke butik dong kak... sebentar saja! Sophia sudah menunggu kakak sejak tadi, ayolah...aku mohon." kembali memelas memegangi tangan Dion yang satunya.


Dion tak menjawab. Dia meraih tangan Cindy dan memegangnya, manautkan jari jemarinya di jemari Cindy dan tetap fokus menghadap ke depan.


Entah kenapa dia sangat ingin dekat terus dengan adiknya ini.


Tujuannya sekarang adalah membawa Cindy ke apartemennya yang baru.


Hunian yang lebih besar dan mewah milik adik sepupunya ini. Di belinya semalam dengan bantuan Toni.


Ini hal yang lebih penting baginya dari pada pergi ke kantor atau ke butik.

__ADS_1


******


☺️☺️


__ADS_2