Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 35


__ADS_3

Taksi yang di tumpangi Ara berhenti di sebuah gedung yang sangat besar dan tinggi.


Ara memandang takjub, baru saja dia meninggalkan gedung pencakar langit yang tinggi, sekarang dia melihat lagi gedung pencakar langit lebih tinggi dan besar.


Beberapa penjaga keamanan tampak berdiri siaga di sekitaran pintu masuk.


Ara mendekat sala seorang penjaga yang berjaga pas di depan pintu masuk.


"Permisi pak!"


"Ya nona, ada yang bisa saya bantu?"


"Apa benar ini gedung Ravend group ?"


"Benar, tapi sudah berubah menjadi RA Group, ada perlu apa nona kemari?"


"Begini pak, saya di minta oleh seseorang untuk datang ke alamat ini."


"Apa anda sudah membuat janji?"


"Iya, sekretaris dari kantor cabang 4 meminta saya untuk menemuinya di tempat ini."


"Kalau begitu coba nona masuk ke dalam dan temui bagian resepsionis."


"Terimakasih pak."


Ara segera masuk kedalam, menuju meja resepsionis.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya sang resepsionis sopan.


Ara menjelaskan maksud kedatangannya.


Sang resepsionis yang sedang mendengar ucapan Ara tiba-tiba membungkukkan tubuh sedikit, dan juga kedua rekannya.


Ara sejenak terdiam, lalu menoleh ke belakang. Bukan hanya resepsionis itu saja yang membungkukkan badan, tapi juga para staf keamanan yang berada di luar maupun di dalam ruangan. Sebagai rasa hormat kepada dua orang yang masuk memakai setelan jas hitam.


Ara hanya melihat sekilas, lalu kembali menatap pada resepsionis.


"Kalau boleh tau, siapa yang anda maksud?" tanya resepsionis setelah dua orang penting itu lewat.


"Sekretaris dari kantor cabang 4." jawab Ara


"Siapa nama anda?"


"Azahra Radya Almira."


"Tunggu sebentar mbak." sang resepsionis menelpon seseorang, lalu tidak lama dia berkata pada Ara.

__ADS_1


"Pimpinan dari kantor cabang 4 belum bisa bertemu dengan anda sekarang, karena sebentar lagi rapat akan di mulai"


"Apa saya bisa menunggu beliau?"


"Tentu bisa, tapi mungkin lama, bisa sampai setengah hari anda di sini, karena mereka akan mengikuti rapat penting bersama pimpinan perusahaan ini!"


"Gak apa-apa mbak, saya akan menunggu walaupun seharian, yang penting saya bisa bertemu dengan beliau." kata Ara menatap serius.


"Kalau begitu silahkan anda duduk di ruang tunggu! Silahkan!"


Ara segera menuju tempat yang di tunjuk oleh pegawai resepsionis. Dia menjatuhkan bokongnya di atas sofa. Dia sudah bertekad akan menunggu meskipun lama demi masa depan dan kehidupan anak anak panti.


Tidak jauh dari tempatnya duduk, sepasang mata memperhatikannya dirinya.


.


.


Para staf sekretaris dan juga staf keamanan yang menunggu di depan ruang meeting berjejer rapi, mereka menunduk hormat begitu Sang CEO pemilik RA Group masuk dengan gagahnya. Wisnu segera membuka pintu. Rafa langsung masuk.


Seketika orang-orang yang berada di ruangan itu berdiri dan menyambutnya dengan sopan.


Rafa segera duduk di kursi kebesarannya. Menatap wajah wajah di depannya dengan tatapan dingin. Mata menyorot tajam, menatap wajah wajah mereka satu persatu tanpa berkedip.


Peserta rapat yang terdiri dari direktur cabang, anak perusahaan dan beberapa departemen kembali duduk begitu ada isyarat dari Wisnu.


"Siapa yang ingin berbicara duluan, aku persilahkan." kata Rafa dengan suara agak keras di tekan, tapi dengan nada marah.


Seketika suasana menjadi tidak tenang.


Mereka saling berpandangan satu sama lain,


tak ada yang berani buka mulut.


"Apa ada yang ingin melaporkan hasil pertanggungjawaban selama aku berada diluar negeri?" suara tegas agak keras kembali menggema di ruangan itu.


Hening, tak ada suara.


"Wisnu." panggilnya.


Yang di panggil segera keluar seolah mengerti apa yang di maksud tuannya.


Rafa bangkit dan berjalan mendekati jendela kaca, menatap gedung gedung pencakar langit lain dan juga langit biru. Tidak berapa lama Wisnu masuk bersama dua orang pria paruh baya yang memakai pakaian berantakan, bukan hanya pakaian mereka yang berantakan tapi juga wajah mereka, yang terlihat babak belur membiru dan lebam.


Mereka tersentak, sebagian wajah berubah pias. Suasana semakin mencekam, mereka kembali saling berpandangan dan berbisik bisik.


"Aku menggaji kalian dengan tinggi, tapi masih berani mencuri di perusahaan ku sendiri?" Rafa kembali berkata setelah tau Wisnu sudah kembali masuk, pandangannya masih tetap fokus menatap keluar jendela.

__ADS_1


"Bukan hanya mencuri, kalian juga menggelapkan dana perusahaan untuk kesenangan pribadi."


Rafa berbalik dan menatap tajam kepada ke dua pria itu seakan hendak menerkam.


"Kalian pikir aku tidak mengetahuinya? hah?" Sentaknya keras sudah di kuasai amarah.


Seisi ruangan tercengang, mereka tidak menyangka kalau ada tindak kejahatan di perusahaan ini, sementara sang bos yang berada di luar negeri mengetahuinya.


Dua pria itu segera berlutut memohon pengampunan. Wajah mereka pucat pasi dengan tubuh gemetaran.


"Ampuni kami tuan, kami berjanji akan mengembalikan semuanya, tolong ampuni kami."


"Pencurian dan penggelapan dana untuk di gunakan sebagai transaksi jual beli narkoba, kalian bekerja sama dengan para mafia yang menjual obat obat terlarang! Apa hal itu bisa di maafkan? Apa kalian tidak malu memohon pengampunan?" sentak Rafa kembali.


Seisi ruangan tercengang.


Kedua orang itu semakin takut dengan tubuh gemetaran.


Mereka tidak menyangka CEO yang mereka anggap hidup bersenang senang di negara asing ini ternyata mengetahui tindak tanduk kejahatan yang mereka buat.


"Maafkan kami tuan, karena keserakahan membuat kami lupa diri! Tolong ampuni kami tuan, kami punya keluarga."


"Cih... " Rafa memaki dan menatap sinis. Menggunakan keluarga sebagai alasan untuk menyelamatkan diri.


"Sita semua aset kekayaan dan juga apa pun yang mereka punya, bawa mereka ke pihak yang berwajib, pastikan mereka membusuk di penjara, dan pastikan tidak akan ada satu pun perusahaan yang menerima keluarga mereka bekerja!"


"Baik tuan." Wisnu segera mencengkram kerah dua pria itu di bantu staf keamanan, menyeret mereka keluar, yang di mana sudah ada beberapa anggota kepolisian yang menyamar berpakaian biasa yang sudah di hubungi Wisnu terlebih dahulu.


Kedua pria itu kembali berteriak meminta pengampunan, tapi Rafa tidak perduli.


"Perketat penjagaan terhadap mereka, aku yakin akan ada sekolompok orang yang akan mengeluarkan mereka." kata Wisnu pada komandan kepolisian itu.


Setelah para polisi itu pergi, Rafa segera keluar dari ruangan meeting. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin di bahas dalam Rapat itu dan sudah pasti akan memakai waktu lama. Tapi mengingat ada seseorang di luar sana yang menunggu sala seorang direkturnya, maka dia menghentikan Rapat.


Wisnu segera membubarkan rapat yang hanya berjalan 30 menit itu.


"Meeting selesai, silahkan kembali ke tugas kalian masing-masing! Dan untuk pak Riswanto, direktur cabang 4, Presdir menunggu ada di ruangannya sekarang juga."


Selesai berkata Wisnu segera berlari menyusul tuannya.


Mereka kembali tersentak. Terutama Riswanto. Ada kekhawatiran tersirat di hatinya. Wajahnya langsung berubah tegang.


Mereka saling berbisik mempertanyakan hal apa yang membuat Presdir memanggil pimpinan kantor cabang 4 itu secara pribadi ke ruangannya.


Apa dia juga membuat kesalahan?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2