
...Happy Reading....
Setelah puas melepas kerinduan beberapa jam, masing masing segera pamit pulang.
Ara menyempatkan diri mengantar Ines ke kostnya dengan menggunakan mobil jemputan yang di kirim suaminya.
Sedangkan Cindy memilih pulang naik taksi karena masih harus membeli bahan makanan. Cindy sangat lega karena kedua sahabatnya tidak curiga dengan kehamilannya. Karena tadi dia sempat muntah muntah hingga membuat Ara dan Ines panik. Dia menyakinkan keduanya dengan memberi alasan karena kekenyangan.
Akhirnya membuat kedua sahabatnya itu percaya dengan ucapannya.
Dengan tubuh lemas dan sedikit pusing, Cindy memasuki apartemen Dion sambil menjinjing beberapa kantong plastik berisi bahan bahan makanan.
Dia segera melangkah menuju dapur, memakai celemek dan mengeluarkan semua bahan makanan. Sebelum beraksi dengan pekerjaan masaknya, dia memasukkan kapas kedalam lubang hidungnya untuk menyumbat bau rempah dan makanan nanti.
Cindy mulai mencuci beberapa bahan makanan sambil sekali-sekali memakan buah mangga.
Terdengar bel berbunyi.
"Apa kak Dion sudah pulang? Katanya dua jam lagi baru kembali?" gumamnya. Cindy menghentikan pekerjaannya, mengeluarkan kapas dari dalam hidung. Lalu segera melangkah menuju pintu, melirik dari lubang kecil siapa orang yang berada di luar sana.
"Sophia?" setelah melihat wajah Sophia.
Dengan ragu ragu dia membuka pintu.
Sophia tersenyum kecut dan langsung melangkah masuk ke dalam. Cindy mengikuti langkahnya setelah menutup pintu terlebih dahulu.
"Maaf Sophia, Kak Dion belum pulang," katanya dari belakang.
Sophia menghentikan langkah dan segera berbalik.
"Maaf katamu?" menatap tajam wajah Cindy.
"Sepertinya kamu tidak senang dengan keberadaan ku di sini?" katanya ketus.
Cindy kaget."Kenapa kamu ngomong begitu? Aku senang kok kamu datang kesini, kamu kan tunangannya kak Dion. Aku hanya sekedar ingin memberi tahu kalau kak Dion belum pulang. Karena aku tahu kamu kesini pasti ingin bertemu dia kan?"
"Aku sudah tau dia belum pulang," kata Sophia kesal dengan tersenyum bibir terangkat sebelah ke atas.
"Terus apa kamu ingin menunggunya?"
"Kamu keberatan?" Sophia balik bertanya tidak senang.
__ADS_1
"Tentu tidak Sop, aku hanya sekedar bertanya. Kalau kau masih ingin menunggu kak Dion , aku akan buatkan minuman untukmu," jawab Cindy cepat."Silahkan duduk, aku kebelakang duku," lanjutnya kembali, lalu segera melangkah menuju dapur.
Bukannya duduk, Sophia malah mengikutinya dari belakang, dia melihat bahan makanan yang tergeletak di wastafel.
"Kau ingin memasak?" tanyanya tiba tiba membuat Cindy kaget.
"Iya, tadi kak Dion mengirim pesan untuk di buatkan makanan, dia ingin makan di rumah." jawab Cindy segera sambil menyeduh teh celup ke dalam mangkuk yang sudah di beri air panas.
"Duduklah, ini minuman mu, silahkan di nikmati, aku mau melanjut memasak." meletakkan cangkir teh di meja makan, dan melanjutkan pekerjaannya sambil menutup kembali lubang hidungnya.
Sophia memperhatikannya.
"Sepertinya kau sudah terbiasa di rumah ini dan juga terbiasa memasak untuk Dion,"
Cindy membuang nafas lewat mulutnya.
"Nggak juga, aku datang jika kak Dion memanggilku, saat dia butuh bantuan ku, ini juga aku baru datang kesini setelah dia kembali ke Indonesia beberapa hari yang lalu," jawabnya sambil memotong motong kecil bawang merah dan putih.
Sophia kembali memperhatikan Cindy, terutama pada kapas di hidungnya dan juga cara dia memakan buah mangga yang sesekali di makannya dengan lahap tanpa merasakan rasa kecut dan asam karena mudanya buah itu..Dia sendiri yang hanya melihatnya saja langsung ngilu dan air liurnya menetes.
"Kamu kenapa menutup hidungmu dengan kapas?"
" Oh...itu...aku sedang influenza! Aku khawatir nanti bersin dan hingusku muncrat ke makanan," kata Cindy gugup, berbohong.
Cindy kaget dan baru sadar dengan apa yang di lakukan dengan memakan buah mangga di depan Sophia. Dia gugup dan kelabakan
"Aku memang sangat suka dengan mangga muda, dan juga buah lainnya yang masih muda,"
Sophia menatapnya lekat.
"Ohh..ku kira ku sedang hamil muda,"
Cindy tersedak seketika sambil batuk kecil, dia segera menenangkan dirinya dan langsung tertawa kecil.
"Hahaha, ngomong apa sih kamu?"
"Rencananya aku akan membuat salad buah juga. Selain mangga ini, aku juga membeli beberapa buah segar," Cindy mengambil apel, strawbery, anggur dan buah lainnya dari dalam kulkas, lalu di letakkan di meja makan.
Sophia menyentuh bahan bahan makanan itu.
Dia tampak memikirkan sesuatu. Lalu tersenyum."Biar aku yang masak," katanya kemudian.
__ADS_1
Seketika Cindy kaget dan terdiam.
"Aku calon istrinya, sebentar lagi kami akan menikah. Aku yang akan memasak makanan untuknya, kamu tidak keberatan kan bila aku yang memasak makanan calon suamiku?" kata Sophia kembali melihat Cindy yang terdiam di tempatnya.
"Silahkan Sophia, gak masalah kok." Cindy Segera membuka celemek dan memberikan pada Sophia.
"Kau, silahkan kembali ke rumahmu, aku ingin menikmati dinner berdua dengan Dion," kata Sophia kembali dengan tersenyum bibir sebelah terangkat ke atas.
Cindy terdiam, dadanya terasa sesak. Dia merasa seperti di usir.
"Apa kamu keberatan?" tatap Sophia dengan tajam dan sedikit menekan.
Cindy kembali ke alam sadarnya.
"Tentu tidak Sophia, justru itu hal yang bagus kamu lakukan. Supaya nanti setelah menikah, kau sudah tau makanan kesukaan kak Dion dan tidak perlu repot-repot lagi mencari tahu," katanya segera sambil mengulas senyuman.
Sophia menanggapi dengan senyuman miring. Dia memang ingin mengusir Cindy dari tempat ini, menjauhkan dari Dion.
Cindy segera memakai tas selempangnya.
Sebelum melangkah pergi, dia menyebutkan satu persatu makanan dan minuman kesukaan Dion pada Sophia.
Sophia menatap kepergiannya dengan tatapan tajam dan senyuman sinis. Alih alih membuat makanan kesukaan Dion yang di sebutkan Cindy, dia malah membuka resep makanan dan minuman mewah di channel YouTube, karena sejujurnya dia sama sekali tidak tahu memasak.
Hanya demi untuk menjauhkan Cindy dari Dion, dan mengeluarkan gadis itu dari apartemen calon suaminya. Dan yang lebih utama, dia ingin memberi kejutan pada Dion dengan keberadaannya di apartemennya, dinner bersama tanpa ada orang lain yang mengganggu.
Berulang kali mencoba membuat, tapi gagal.
Hingga akhirnya dia mengeluh kesal dan menyerah, kemudian segera memesan makanan di restoran mewah sebelum Dion datang, di tata dengan rapi di atas meja seolah olah dia yang memasak dan menyiapkan semuanya.
Tak lupa dia meletakkan sebotol wine dan setangkai bunga mawar merah di atas meja
untuk menambah kesan makan malam yang indah dan romantis.
Dengan menggunakan taksi online Cindy pulang ke kostnya. Dia masuk ke dalam kamarnya yang sempit dengan perasaan yang campur aduk. Sedih, sakit, dan sesak yang dia rasakan, hingga akhirnya Air matanya menetes di kedua pipinya.
Dia segera berbaring menyamping memeluk kedua lututnya dan berulang kali mengelus perutnya, tubuhnya semakin lemah dan gemetaran di rasakan karena terlalu lama menangis. Hingga akhirnya dia tertidur karena lelah.
Bersambung.
Terimakasih yang sudah mampir π
__ADS_1
Dukung author ya