
Dion terkejut melihat Sophia yang
membukakan pintu untuknya.
Gadis itu tersenyum manis menyambut kepulangannya.
"Kau? kenapa ada di sini ?" tanya Dion menatapnya tak bergeming.
Alih-alih menjawab pertanyaan Dion, Sophia bergelayut manja di lengannya.
Dion segera menipisnya pelan, lalu melangkah masuk melepas jas, dasi, sepatu dan kaus kakinya.
Sophia mendengus kesal.
"Mana Cindy?" mata Dion mencari cari ke arah dalam.
"Aku ada di sini kamu malah menanyakan Cindy." jawab Sophia dari belakangnya semakin kesal karena Dion lebih mencari Cindy dan mengabaikan dirinya.
"Karena aku tahu dia ada di sini. Tadi aku menyuruhnya datang memasak makan malamku."
"Cindy sudah pulang sejak tadi."
Dahi dion mengerut "Pulang?"
"Iya, dia sedang tidak sehat, makanya dia pulang untuk beristirahat,"
Dahi Dion kembali mengerut menatap Sophia.
"Dia pulang atau kau yang menyuruhnya pulang?" tanyanya kemudian. Karena Cindy punya kamar di rumah ini yang biasa di tempati kapan saja tanpa harus pulang ke apartemennya jika malas pulang atau sedang merasa tidak enakan.
Sophia terkejut dengan pertanyaan itu.
Dion bisa tahu yang sebenarnya?
Dengan segera Sophia tertawa kecil menepis keterkejutannya."Kamu kok ngomongnya gitu sih?"
"Cindy punya kamar sendiri di sini. Jika sedang tidak enak badan, dia akan menginap di sini. Aku membebaskan tinggal di sini. Menyuruhnya menganggap seperti rumah sendiri." kata Dion.
Sophia termangu mendengar perkataan itu? Punya kamar sendiri di sini? Artinya Cindy sudah biasa di sini dan sudah seperti adik kandung Dion.
" Jadi kamu tetap menuduh aku yang menyuruhnya pulang, begitu? Dia sendiri yang ingin pulang, bukan aku yang nyuruh. Aku sudah meminta dia untuk tinggal dan makan malam bersama, tapi katanya dia punya pekerjaan kampus yang harus di selesaikan, terus katanya juga dia sedikit tak sehat." kata Sophia pura pura kesal dan mengarang cerita.
Semoga saja Dion tidak akan menelpon Cindy dan menanyakan kebenarannya. Dan juga berharap Cindy tidak akan ngomong macam macam pada Dion. Dia merasa khawatir jika Dion tahu dia berbohong.
Sementara Dion kepikiran pada Cindy mendengar kalau adiknya itu tidak sehat. Mungkin Cindy sakit perut lagi.
Sophia segera menarik tangan Dion menuju ruang makan."Dari pada nanya tentang Cindy lebih baik kamu duduk dan makan," katanya memasang senyum manisnya.
Dion menatapi makanan yang tertata indah di atas meja, dia segera duduk.
"Kamu pasti lapar kan?" Sophia meletakkan piring, sendok dan pisau di depannya,
menuangkan wine di gelas. Satu di berikan pada Dion dan satu untuknya, lalu segera duduk di depan Dion.
__ADS_1
Dion kembali memperhatikan makanan itu dengan perasaan lain. Entah kenapa dia tidak berselera melihatnya, padahal semuanya terlihat lezat, enak dan mewah seperti makanan Ala resto.
Sophia melihatnya, dia berharap Dion menyukai makanan ini.
"Aku yang masak ini semua lho buat kamu. Aku berharap kamu suka dan menikmatinya," menatap Dion dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya.
"Kamu yang masak ini semua ?" Dion menatapnya.
"Tentu saja, cobalah, dan berikan penilaian mu," kata Sophia sambil meneguk minumannya.
Dion mengeluh melihat makanan ini. Dia kecewa karena Cindy tidak memasak untuknya. Padahal dia sudah mengirim pesan dua kali untuk di masakin, tapi malah Sophia yang menyiapkan semua makanan ini. Entah kenapa akhir akhir dia suka sekali dengan masakan Cindy. Bukan hanya itu, dia juga ingin sekali dekat dengan Cindy. Dia kepikiran terus pada adik sepupunya itu.
Tanpa semangat Dion mengambil sedikit makanan dan menyantapnya tanpa selera. Dia memaksa mengunyah dan menelan makanan itu untuk sekedar menghargai Sophia.
"Gimana rasanya? Apa enak dan lezat?" tanya Sophia melihat wajahnya.
Dion mengangguk lemah "Lumayan," katanya datar.
Sophia tersenyum senang.
"Kalau begitu tambah lagi ya?"
"Ini sudah cukup Sophia, aku sudah kenyang," menolak halus. Padahal hanya tiga suapan.
"Dion, apa kamu tidak suka aku berada di sini tanpa izin darimu?" tanya Sophia menatapnya.
Dion tak menjawab dan lebih memilih meneguk air putih segelas hingga habis.
Sophia menghela nafasnya.
Dia dapat melihat kalau Dion tidak berselera dengan makanan ini, juga tidak menyukai dengan keberadaan dirinya di sini.
Sophia menahan kekesalannya dalam dalam.
Dia berharap pernikahan mereka segera di laksanakan, biar dia dapat mengatur dan mengendalikan kehidupan Dion. Sungguh dia sudah tidak sabar ingin segera menjadi istri pewaris tunggal DRA group ini.
"Kalau aku tidak menyukai keberadaan mu di sini, aku pasti sudah mengusir mu sejak tadi. Sudahlah Sophia, aku tidak mau berdebat untuk sesuatu hal yang tidak penting. Terima kasih atas makanannya, maaf sudah membuat mu repot," kata Dion menatapnya sekilas, lalu bangkit menuju lemari pendingin untuk mengambil susu yang biasa di minumnya.
Dia melihat ada sisa sisa bahan makanan tersimpan didalam sana dan juga dua buah mangga muda yang masih segar kesukaan Cindy, serta buah lainnya yang biasa di makan Cindy. Yang dia tahu semua buah itu tidak ada di dalam kulkas sewaktu dia pergi ke kantor tadi pagi. Karena dia belum mengisi kulkas selama beberapa hari ini.
Itu artinya Cindy membeli bahan-bahan makanan itu dan ingin memasak untuknya.
Dion membuang napas kasar, lalu menoleh pada Sophia yang tersenyum ke arahnya.
Dion segera meneguk susunya, lalu mendekat pada Sophia.
"Sophia, kau selesai kan makananmu, aku mau mandi dulu. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang." katanya menahan kemarahan pada wanita ini karena telah membohonginya. Dia tahu Cindy pasti hendak memasak untuknya, tapi di larang dan di ambil Alih oleh wanita ini.
Sophia mengangguk tersenyum, senang karena lelaki pujaannya ini akan mengantar dirinya pulang.
Dion segera melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Merogoh ponsel dalam saku celananya, lalu menelepon Cindy.
Tiga kali di hubungi tapi tidak tersambung.
__ADS_1
Dion membuang ponselnya keranjang karena kesal.
"Kenapa nomornya tidak aktif?" gumamnya, mengingat perkataan Sophia tadi yang mengatakan Cindy tidak sehat, dia jadi tidak tenang. Dion meraih ponselnya kemabli mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya, setelah itu dia segera melangkah masuk ke kamar mandi.
20 menit kemudian dia turun. Sophia terkesima menatapnya. Tunangannya ini benar benar tampan dan gagah. Tubuhnya yang kekar, kulit putih bersih terbungkus oleh kaus oblong putih dan jaket kulit. Benar benar mahluk ciptaan Tuhan yang sempurna, batin Sophia. Dia juga mencium aroma wangi parfum dari tubuh Dion. Sophia menelan ludahnya.
"Ayo Sophia, kita pergi," ajak Dion begitu di dekatnya. Sophia tergagap sesaat, lalu bangkit berdiri dan mengambil tasnya.
Mereka keluar dan melangkah menuju lift.
Dion nampak tidak tenang di dalam lift. Pikirannya melayang terus pada Cindy yang tidak bisa di hubungi, pesannya juga belum terbaca.
"Kamu kenapa?" tanya Sophia yang melihatnya gelisah dan seperti sedang menahan amarah.
"Apa semua baik baik saja?" tanyanya kembali seraya memeluk lengan Dion manja.
Dion kaget, segera menarik tangannya. Tapi Sophia lebih cepat memeluk kuat lengannya.
"Biarkan aku memelukmu. Kenapa kau selalu menghindar dan menolak setiap kali aku sentuh?" katanya kemudian dengan kesal.
"Aku tunangan mu Dion, sebentar lagi kita akan menikah. Kita harus membiasakan diri selalu bersama dan dekat seperti ini." memeluk Dion dari depan, menghirup aroma wangi tubuh lelaki pujaannya ini.
Dion kembali terkejut dan segera melepaskan Sophia agak kasar."Kita sedang berada di dalam lift Sophia," menatap tajam. Sophia terkejut merasakan sikap kasar Dion. Mereka saling bertatapan tajam.
Dion segera membuang pandangannya ke arah lain."Maaf, aku tidak bermaksud kasar padamu, jujur aku sedang pusing, aku juga capek. Mengertilah keadaan ku, tolong diam lah di tempatmu," ujar Dion menyadari kekasarannya.
Sophia memendam kemarahannya. Baru kali ini dia di perlakukan secara kasar oleh laki laki. Dia berusaha mengukir senyuman di wajahnya dan mengangguk pelan pada Dion. Dia segera kembali berdiri di samping Dion.
Beberapa saat pintu lift terbuka, mereka segera keluar melangkah menuju parkiran di mana mobil Dion terparkir.
45 menit kemudian
Setelah mengantar Sophia, amarah memenuhi wajah dan pikiran Dion Setelah mengetahui Cindy menyewakan Apartemennya pada orang lain. Informasi yang di dapat dari Toni beberapa saat yang lalu saat dia menyuruh asisten pribadinya itu mengecek Cindy di apartemennya.
Toni mengirimkan pesan bahwa Cindy tidak tinggal lagi di apartemennya sejak sebulan yang lalu, karena Apartemennya telah di sewakan dan di tempati oleh orang lain.
Pak satpam juga membenarkan
hal itu. Sudah sebulan Cindy tidak pernah menginjakkan kaki ke apartemennya.
Kemarahannya semakin memuncak karena hingga saat ini telpon Cindy tidak bisa di hubungi, pesannya belum juga terbaca. Dion semakin khawatir.
"Kemana dia? Kenapa ponselnya tidak aktif hingga detik ini?" batinnya semakin marah dan khawatir.
Apa karena ini dia melarang aku datang ke Apartemennya? Tapi kenapa dia menyewakan Apartemennya? Apa dia kekurangan uang?
Apa dia butuh uang? Terus tinggal dimana dia sebulan ini? Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya yang membuat emosi dan kekhawatirannya semakin bertambah karena tidak mendapatkan jawaban.
Ingin menghubungi Ines tapi dia tidak punya nomor telepon gadis itu.
Mencari tahu pada Ara? Sesuatu yang sangat tidak mungkin di lakukan. Menghubungi orang tua Cindy, hanya akan membuat bibi dan pamannya khawatir.
"Cindy.......!" Dion meremas kuat ponsel di tangannya.
__ADS_1
Bersambung.