
Tok tok tok
terdengar ketukan dari luar.
Ara bangkit menuju pintu, memutar kunci dan segera membuka pintu.
"Selamat pagi ante." seru si kembar nongol di depan pintu dengan wajah girang, mereka memeluk Ara bersamaanm
"Eeh sayang, ternyata kalian, selamat pagi juga ponakan ante yang cakap dan cantip." Ara membalas pelukan mereka dan mencium kedua pipi bocah itu bergantian.
Raka mendekat, mengelus kepala keduanya.
"Pagi paman ..."
"Pagi Cio, pagi Cia. Ada apa nih pagi begini udah kesini ?" Raka melihat paper bag di tangan Cio.
"Mau ngasih ini sama ante Ara."
Cio menyerahkan paper bag yang di pegangnya pada Ara.
Ara jadi baper, terharu.
"Oh sayang terimakasih, kalian memang anak baik." Ara memeluk keduanya bersamaan.
"Dan ini permintaan kami pada ante, tapi jangan di baca dulu ya, nanti kalau kami udah di bawah, baru ante buka." Cia menyerahkan sebuah kertas di tangan Ara sambil senyum senyum.
Ara melongo, ternyata kedua bocah ini tahu juga tentang kertas permintaan itu.
Dia melirik pada suaminya yang saat itu sedang tersenyum karena tingkah polos kedua ponakannya ini.
"Baiklah, nanti ante akan membukanya."
"Siapa yang nulis?" Raka menunjuk kertas itu
"Cio paman, di bantu Cia." jawab Cio.
"Bagus, anak anak pintar." Raka menyapu pelan puncak kepala mereka.
"Kami keluar dulu, mau siap siap ke sekolah."
"Oke bos ku, hati hati turunnya ya." kata Raka.
"Biar aku antar sampai tangga aja kak, aku khawatir."
"Baik sayang, kamu juha hati hati ya, kakak mandi dulu." Raka melirik jam yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.
"Iya kak."
__ADS_1
Raka segera menuju kamar mandi
"Ayo sayang." Ara menggendong Cia yang menjulurkan ke dua tangannya pertanda minta di gendong seperti biasa.
Untung saja Cio tidak ikut ikutan minta di gendong.
Satu tangannya mengendong Cia, satunya lagi memegang tangan Cio.
Mereka keluar sambil menyanyikan lagu :
"Terima kasih guruku"
Pagi ku cerah ku, matahari bersinar.
Ku gendong tas merah ku, di pundak.
Selamat pagi semua, ku nantikan dirimu.
Di depan kelas mu menantikan kami.
Guruku tersayang, guruku tercinta
Tanpamu apa jadinya aku.
Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal.
( Cio menjulurkan kedua tangannya di depan Ara ) , Ara tersenyum terharu, menyentuh kepalanya bocah itu.
Sedangkan Cia yang ada dalam gendongan mencium ke dua pipinya, Ara balas menciumnya dengan gemas.
Nyatanya diriku kadang buatmu marah.
Namun segala maaf kau berikan.
( Cio memeluk perutnya, Ara mengecup puncak kepala bocah itu ).
Mereka tertawa girang dan senang.
Tidak menyadari 4 pasang mata sedang memperhatikan dari jauh apa yang mereka lakukan sejak tadi.
Rafa dan Wisnu, keduanya hendak ke ruang kerja, tapi langah mereka terhenti melihat aksi Ara dan si kembar yang sedang bernyanyi menari ceria, di selingi gerakan tubuh.
"Daddy." Cio berteriak melihat Rafa yang berdiri di depan kamarnya di temani Wisnu.
Bocah itu langsung berlari ke arah pamannya,
Ara mengalihkan pandangannya ke depan.
__ADS_1
Lalu segera melangkahkan kaki dan berhenti di depan tangga.
Rafa langsung meraih Cio dan menggendongnya.
"Selamat pagi daddy."
"Selamat pagi jagoan." Rafa mengacak-acak rambut bocah itu.
"Daddy pulang?" kata Cia
Rafa tersenyum, menggangguk.
Dia mendekati Ara dan Cia, lalu mengelus puncak kepala anak kecil itu sambil menatap wajah Ara.
"Selamat pagi kakak ipar." kata Ara pelan.
"Selamat pagi nona muda." ucap wisnu menundukkan kepala.
Ara menatap wajah Wisnu yang terlihat lebam dan biru di beberapa bagian.
Wisnu menyadari itu, dan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Apa kalian tidur di kamar paman dan ante mu semalam?" tanya Rafa pada si kembar. Dia meraih Cia dalam gendongan Ara, melirik sejenak perut gadis itu, yang di beritahu Rizal sedang mengalami kesakitan karena pengaruh datang bulan.
"Gak daddy, kami tadi kesini ngasih hadiah ultahnya ante Ara, dan juga memberikan kertas permintaan kami. Lalu ante Ara mengantar kami, karena ante takut kami jatuh saat turun tangga." Cia menjawab.
Mulut Rafa membentuk O mendengar penjelasan Cia .
"Sayang ayo turun, nanti terlambat ke sekolah, kalian harus siap siap." ujar Ara pada kedua bocah itu.
Dia menjulurkan tangannya pada Cia yang masih di gendong Rafa.
"Wisnu, antar anak anak ke kamar mereka." perintah Rafa pada Wisnu.
"Baik tuan." Wisnu mendekat dan meraih kedua anak itu, menggendongnya turun ke bawah.
"Kamu jangan lagi mengendong si kembar." kata Rafa.
Ara menoleh padanya.
"Bukannya kamu lagi sakit perut?" kata Rafa kembali, menatapnya sesaat.
Lalu segera melangkah menuju ruang kerjanya meninggalkan Ara yang berdiri mematung menatap kepergiannya.
*****
ππ
__ADS_1