Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 133


__ADS_3

...Happy Reading....


Raka mengikuti langkah kakaknya dari belakang. Sedangkan Ara tetap berdiri di tempatnya.


"Sayang, ayo masuk." ajak Raka pada istrinya.


Ara menggelengkan kepala, takut untuk masuk ke kamar Rafa.


"Kita mampir ke kamar kak Rafa dulu, Ayo__." ajak Raka kembali.


"Kita langsung ke pantai saja. Kak Rafa lagi sibuk, sebaiknya kita tidak mengganggunya." kata Ara.


"Masuklah kalian!" terdengar suara Rafa dari dalam.


"Kamu dengar? Kakak menyuruh kita masuk." Raka segera menarik tangan Ara masuk.


Mau tidak mau Ara mengikuti tarikan tangan suaminya melangkah ke dalam. Kamar yang sangat luas dan dengan fasilitas yang mewah dalam padangan matanya. Ara memperhatikan sekeliling ruang ini.


Di sofa panjang tergeletak laptop yang layarnya masih menyala serta beberapa tumpukan berkas yang tergeletak asal. Mata Ara mengarah pada ranjang king size yang berantakan. Sesaat pikirannya teringat pada Kazumi dan Levina. Terbayang pada ucapan yang sama kedua wanita itu


"Kita Sudah Selesai"


Mungkinkah kak Rafa membawa kedua wanita itu secara bergantian ke tempat tidurnya?


Karena tengah malam tadi aku melihat Rafa bersama Nona Kazumi, dan subuh ini bersama kak Levina. Itu artinya kak Rafa suka gonta-ganti perempuan untuk dibawah ketempat tidurnya ?

__ADS_1


Apa kakak ipar seperti itu? Tapi dia kan sudah punya kak Levina, kenapa harus mencari wanita lain?? pikiran Ara menggantung.


Ara bergidik membayangkan hal buruk itu. Dia menggelengkan kepala dan menepuk dahi untuk menghilangkan pikiran kotor itu dari kepalanya.


Dia tidak menyadari kalau Rafa sedang memperhatikannya sejak tadi. Perlahan Rafa mendekat dengan cangkir di tangan.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Rafa menatapnya. Lalu meneguk minumannya.


Ara menoleh ke depan mendengar pertanyaan itu. Hah? Ara terkejut setelah melihat Rafa. Dia tidak menyadari keberadaan Rafa yang sudah berada di di depannya.


"A_aku...eh....tidak ada kakak ipar." ucapnya terbata bata karena gugup.


"Benarkah?" Rafa meneguk minumnya kembali. Dia tahu apa yang di pikirkan Ara dengan membaca tatapan mata gadis itu pada ranjangnya yang berantakan serta tatapan raut wajah Ara yang berubah ketika mendengar ucapan Kazumi dan Levina yang di tangkapnya secara diam-diam.


"Kau memikirkan hal buruk tentang ku?" tanya Rafa kembali dengan tatapan tajam.


"Ti_tidak kak, tidak seperti itu. Mana berani aku begitu?" jawabnya terpaksa berbohong.


Raka yang sedang fokus pada laptop milik Rafa menoleh pada mereka"Ada apa kak?" tanyanya. Dia sedang memeriksa pekerjaan Rafa pada laptop.


Rafa tak menjawab, dia menatap Ara sesaat lalu berbalik mendekati Raka. Tapi sebelumnya mengambil cangkir dan menuangkan air jahe hangat.


"Ramuan jahe hangat, ini sangat baik untuk tubuh. Minumlah selagi hangat." katanya seraya menyerahkan minuman itu pada Raka. Minuman itu di konsumsinya dari semalam untuk menenangkan pikiran dan mengurangi stresnya.


"Terimakasih." Raka menghirup aroma jahe dari uapnya yang menyebar. Dia meneguk sedikit demi sedikit sambil sesekali meniup. Lalu kembali pada layar laptop.

__ADS_1


Rafa berbalik menatap Ara dan melangkah mendekat. Membuat Ara terkejut, tubuhnya tegang. Apa kakak ipar akan memarahiku kembali? batinnya was was. Ya Tuhan, seharusnya aku tidak berpikir begitu tentang kakak ipar. Rafa semakin mendekatinya. Ara mundur dan terus mundur karena Rafa terus mendekat ke arahnya. Dia terkejut ketika merasakan bokongnya menabrak pada meja lampu kamar tidur. Itu artinya tidak ada lagi ruang di belakangnya.


"Apa yang akan dia lakukan padaku?" batinnya merasa takut.


Rafa berhenti tepat di depannya, menatap wajah yang di lihat takut dan memucat. Menggigit bibir bawahnya dan tangan saling meremas di depan perut.


Tangan Rafa menjulur ke samping kanan kanan pinggang Ara, mengurung tubuh itu dengan ke dua tangannya, di ikuti tubuhnya bagian atas mendekat lebih dekat pada Ara. Ara terkejut tidak sempat menghindar. Dia segera memiringkan tubuh atasnya tak kala wajah Rafa mendekati wajahnya. Jantung berdebar tak karuan.


"Sejak kapan kau mulai belajar berbohong?" bisik Rafa tepat di telinganya. Ara melongo mendengar pertanyaan itu. Jantung berdegup semakin kencang. Ara tak sadar langsung menoleh melihat wajah Rafa. Hidungnya menabrak hidung Rafa. Keduanya saling menatap. Rafa menatap setiap bagian wajah cantik di depannya ini. Yang terlihat tegang dan takut. Nafas tak beraturan yang sangat terasa menerpa wajahnya Jarak yang hanya beberapa centi.


"A_aku....aku tidak bermaksud....!" kata Ara tapi putus dengan ucapan Rafa.


"Kenapa kau selalu berpikir buruk tentang aku?" kata Rafa, tatapan tajam. Ara segera menunduk. Dia memang salah, berpikir buruk pada Rafa. Melihat gadis itu semakin takut dengan wajah memerah sendu, Rafa memberi jarak pada mereka. Dia mengambil sesuatu yang berada di belakang Ara, terhalangi oleh tubuh Ara, Sehingga membuatnya mengurung tubuh gadis itu. Yaitu ponselnya. Lalu menarik diri. Dia mengetik sesuatu lalu di kirim.


Ara seketika lega setelah tubuh pria itu lepas dari dirinya. Setelah sebelumnya dia kesulitan bernapas karena nafasnya terasa berhenti tercekik di tenggorokan. Di kiranya Rafa hendak berbuat kasar kepadanya dengan mendekat seperti itu. Tapi ternyata mau mengambil ponsel yang terhalangi oleh tubuhnya.


"Kakak ipar, aku tidak bermaksud berpikir begitu_sungguh." kata Ara sadar akan kesalahannya.


Rafa tak menjawab, hanya melirik tajam, lalu membalas pesan yang masuk. Dia melihat sekilas pada Ara kemudian melangkah pada Raka yang sangat serius menatap layar laptop yang menampilkan laporan keuangan perusahaannya yang berada di kota denpasar ini.


"Kau bisa mengerjakannya?" ikut duduk di samping adiknya.


Raka mengangguk."Kadang pimpinan ku menyuruhku memeriksa laporan keuangan perusahaan."


Rafa menepuk pelan pundak adiknya karena dia tau adiknya pintar soal perhitungan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2