
"Bajingan, beraninya kau menyentuh istriku." teriak Rafa keras melihat posisi mereka di atas ranjang.
Ara sangat terkejut mendengar suara suaminya.
Rafa cepat menarik tubuh Dion dari atas tubuh istrinya dan langsung melayangkan pukulan keras bertubi tubi ke wajah laki laki itu.
Ara menjerit keras ketakutan di atas tempat tidur.
Rafa kembali melayangkan pukulan demi pukulan ke tubuh Dion.
Kemudian di lemparkan kuat ke tembok.
Tubuh Dion jatuh keras kelantai.
"Kakak hentikan ...," teriak Ara di sela sela tangis dan jeritannya.
"Dia bisa mati kak ..." Ara mulai terisak.
Rafa menatap menyeringai ke arahnya.
"Kau cemas dia akan mati? hah? kau sangat peduli padanya? memangnya bajingan ini apa mu sehingga kau mencemaskan nya ? hah ..apa dia kekasihmu ?"
Rafa mengangkat tubuh Dion yang tak bergerak di lantai dan kembali melayangkan pukulan demi pukulan keras ke tubuh tak berdaya itu.
Lalu dia melempar tubuh Dion keluar dari kamar dan kembali mengarahkan tendangan demi tendangan keras ke tubuh Dion ke dada ke perut ke wajah yang diam terkapar di lantai.
"Hentikan kak ...," Ara menjerit keras berlari ke pintu melihat wajah Dion mandi darah dan diam tak bergerak.
Tapi suaminya tidak perduli dan kembali menginjak nginjak dada, perut dan wajah Dion bergantian dengan sepatu kantornya.
Ara cepat menahan kaki suaminya.
"Hentikan kak, dia bisa mati." menghiba. melihat tubuh Dion diam tak bergerak lagi.
Hibaannya malah membuat darah Rafa semakin mendidih, dan kembali melayangkan tendangan tendangan keras ke tubuh Dion yang tidak bergerak.Tak ada terdengar jeritan dan pekikan dari mulut Dion, entah dia pingsan atau sudah mati membuat Ara semakin ketakutan dan menjerit.
Rafa menarik kuat tubuh istrinya kembali ke kamar dan melemparkannya ke atas sofa.
Ara semakin menangis.
Rafa menarik keras tangannya, memegang dagunya kuat.
"Katakan, apa kau mencintainya? jawab Ara? siapa dia bagimu sehingga kau menghawatirkan nya?" mencekal tangan Ara kuat membuat Ara semakin menjerit jerit kesakitan.
"Hentikan Rafa, kau menyakitinya." teriak Moly.
"Tangannya bisa patah Rafa." Rizal ikut berteriak padanya.
"Diam kalian." teriak Rafa menunjuk mereka berdua dengan tatapan tajam.
Lalu kembali memegang dagu Ara kuat hingga gadis itu kembali merasakan sakit.
"Apa karena bajingan itu membuat mu tidak bisa menerima ku? apa karena dia kau tidak bisa mencintaiku? jawab Ara, jawab..." memutar kuat tangan Ara yang satunya kebelakang.
"Aaaaa..." Ara menjerit kesakitan hingga suaranya menyayat hati
"Huhuuuuuu.....sakit kak, huuuu... " menangis keras.
"Hentikan Rafa, apa kau ingin membunuhnya?" sentak Rizal Kembali.
Dia hendak meraih tubuh Ara, tapi Rafa melayangkan pukulan keras ke wajahnya.
Wisnu langsung menjatuhkan tubuhnya berlutut.
"Tuan, tolong jangan sakiti nona muda, luapkan kemarahan anda pada saya, lakukan sesuka hati anda. Saya yang salah tidak bisa menjaga nona dengan baik, saya yang lalai menjaga nona muda dengan baik. Saya mohon jangan sakiti nona lagi."
"Hentikan Rafa, jangan lagi, apa kau tidak melihat dia kesakitan? kau menyakitinya." ucap Moly di antara tangisnya memohon meletakkan kedua tangannya di depan dada.
"Keluar kalian dari sini ... keluar." Rafa menarik tubuh Rizal dan Moly kuat.
Wisnu segera bangkit dan keluar.
Rafa menutup pintu kamar dan menguncinya.
Ara semakin menangis ketakutan melihat dirinya sendiri di kamar ini.
"Katakan Ara, sampai sejauh mana hubungan kalian? kau pikir aku buta tidak bisa melihat kalian di atas tempat tidur? apa yang ingin kalian lakukan? apa yang ingin kalian lakukan jika aku tidak datang? hah?" teriak Rafa keras mencengkram kuat kedua bahu Ara.
Ara menjerit sakit dan semakin gemetaran.
Dia menggeleng geleng kan kepalanya.
"Kau menolak ku selama ini karena bajingan ini kan? kau tidak mau berhubungan dengan ku apa karena dia ?" berteriak keras penuh kesedihan.
"Apa kau tidak mau ku sentuh karena bajingan itu? benar kan Ara?" mencengkram dagu Ara kuat.
"Jawab aku ....." berteriak keras.
Ara semua keras menangis, dia menggeleng geleng kan kepalanya lagi.
"I itu tidak benar kak. Kakak salah paham, tidak ada yang terjadi di antara kami." kata Ara terbata bata.
Rafa menarik tangannya kuat dan melemparkannya ke tempat tidur.
Ara kembali menjerit.
"Tidak ada apa apa katamu? lalu apa ini?" memperhatikan foto foto tadi.
"Lihat ini Ara... lihat dengan jelas perbuatan mu dengan bajingan tengik itu. Kalian berpelukan dan berciuman tanpa rasa malu."
"Apa kau masih ingin menyangkal? dasar pembohong...,"
"Kau meninggalkan aku di ballroom tanpa pamit dan datang keluar menemui bajingan ini dan berpelukan dengannya di sini ! kau ingin menyangkalnya hah? keterlaluan kau Ara."
"Kalian mau melakukan apa di sini? kau ingin tidur dengannya? kau ingin melayaninya ?"
"Kak...." Ara menjerit, semakin kuat menangis mendengar tuduhan yang tidak benar itu.
"Apa bajingan itu sudah menyentuh mu? dia menyentuhmu di bagian mana ?" Rafa menariknya kuat, membuka blazer dan gaun Ara dengan kasar dan paksa lalu melemparkannya sembarangan kelantai.
Rafa menyentuh bibir Ara kasar
"Apa bajingan sudah mencium bibirmu ?" Rafa m*****t bibir Ara dengan brutal.
"Apa kalian sudah berciuman, jawab Ara?"
Dia beralih pada leher istrinya
"Apa bajingan Itu juga telah mencupangi dan menjilati lehermu? hah..?"menjilat leher Ara dengan rakus dan mengecupi kuat dan menggigitnya berulang ulang.
Ara menjerit kesakitan merasakan gigitan gigitan itu.
"Katakan Ara, bagian mana lagi yang sudah di sentuhannya? apa bajingan itu sudah menyentuh milikmu yang ini ?" memegang kedua buah Ara dan langsung menerkamnya, meremas kuat dan kasar lalu menggigit put**gnya kuat.
Ara menjerit jerit kesakitan
"Aaaaaaa, sakit kak, sakiiiiit.." tangisan melolong, merasakan kesakitan yang luar bisa seakan pucuknya mau terputus.
Air matanya mengalir deras, dia menarik rambut Rafa kuat.
"Lepas sakiiit...." kembali menjerit keras.
"Sakit ? kau merasakan sakit? itu tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan Ara." teriak Rafa lebih keras.
"Katakan Ara, apa bajingan itu melakukan hal seperti itu padamu Ara? apa dia sudah mencicipi payu**** mu?"
Rafa semakin marah karena tidak ada jawaban dari Ara.
Dia melucuti cidi Ara dan memasukkan dua jarinya di sana dan mempermainkan sangat kasar.
Ara kembali menjerit merasakan sakit.
Dia memegang dan menarik tangan Rafa kuat dari miliknya.
"Sakit kak...sakiiit....," jeritnya.
"Apa bajingan itu telah menyentuh milik mu Ara? katakan." teriak Rafa keras.
"Selama ini kau melarang ku menyentuhmu kan? dan kamu membiarkan bajingan itu naik di atas tubuhmu ?" menatap tajam.
"Selain Raka, Apa bajingan itu sudah menikmati semua bagian tubuhmu? jawab Ara." kembali memegang kuat rahang Ara.
Ara hanya menangis, menangis bukan karena di perlakukan buruk dan merasakan sakit, tapi karena di tuduh melakukan hal yang tidak benar.
"Kenapa kau diam Ara?"
Rafa menggeram kuat karena tak ada jawaban.
__ADS_1
Dia segera melepaskan semua pakaiannya.
Ara terkejut, dia segera bangun, dan mundur ke atas.
Rafa cepat menangkap kakinya dan menariknya ke bawah.
"Kakak, jangan..." menghiba menggeleng gelengkan Kepalanya.
"Katakan, sudah berapa kali bajingan itu menyentuh milikmu? sudah berkali dia menindih tubuh mu? sudah berapa banyak kalian berhubungan badan? hah ?" Rafa membuka pahanya lebar dan membenamkan wajahnya tanpa jijik.
Dia bermain kasar di sana dan menggigit gigit bagian dalamnya.
"Aaakhhh...sakiit kak.... sakiit." menarik kuat rambut Rafa. Mendorong kuat kepala Rafa ke bawah.
"Diam." sentak Rafa keras.
"Kau merasakan sakit padaku, tapi kau merasa kan kenikmatan pada bajingan tengik itu?!"
"Rafa hentikan Rafa, jangan sakiti Ara, cukup Rafa." teriak Rizal dari luar.
"Diam kau brengsek." Rafa melempar lampu duduk ke pintu.
Ara bangun dari tidurnya dan turun dari ranjang.
Tapi Rafa cepat menangkap tubuhnya dan melempar kuat kembali ke ranjang.
"Mau kemana kau hah? kita belum selesai." teriak Rafa geram.
Dia menarik kedua kaki istrinya dan
membuka paksa kedua pahanya.
Dia mendekatkan miliknya di dekat permukaan milik istrinya.
Ara semakin keras menangis
"Jangan seperti ini kak, jangaan...,"
"Jangan? hahahaa...kau menolakku sementara kau biarkan bajingan itu di atas tubuhmu?!" berteriak dan mencengkram kuat paha Ara hingga berbekas merah.
Hatinya sangat sakit membayangkan Dion berada di atas tubuh istrinya tadi.
"Kau selalu melarang ku menyentuh milikmu, aku selalu menurutimu. Kau memintaku bersabar, aku sabar dan tidak memaksamu.
Meski aku sangat tersiksa, aku tetap bertahan dan menurut padamu." berkata dengan sedih menatap milik istrinya.
"Tapi ternyata kau menghiantiku dan melakukanya dengan bajingan itu?!" berkata sendu.
"Katakan, sudah berapa kali kalian tidur bersama Ara? hah .." Rafa menatap milik vital istrinya dengan sedih, matanya basah.
"Sudah berapa banyak kalian melakukannya?"
Ara geleng geleng kepala semakin terisak menangis.
Rafa kembali membuka kuat paha istrinya.
"Sudah berapa kali kalian tidur bersama saling tindih seperti tadi ? hah ..jawab Ara ...," mencengkram kuat paha Ara dengan kemarahan mendalam.
"Sudah berapa kali milik bajingan itu masuk ke dalam milikmu ?" teriak Rafa dan langsung menghentakan miliknya masuk ke dalam milik istrinya .
Ara meringis, dia mencengkram sprei kuat.
Sementara Rafa tertegun sesaat merasakan miliknya kesulitan untuk masuk.
Seharusnya ini sudah langsung masuk tanpa ada kendala. Tapi kenapa malah tertahan?
Dia kembali menghentakan kuat dan malah merasakan miliknya sakit.
Dia melihat wajah istrinya yang meringis kesakitan dengan mata terpejam semakin kuat mencengkram sprei.
"Sakit kak, sakiiit ...jangaan aku mohon hentikan." mengigit bibirnya kuat hingga berdarah.
"Apa ini ? kenapa milikku malah sakit begini ?" batin Rafa.
Ara kembali meringis
"Sakit kak.. jangan di teruskan ..." meminta menghiba.
Rafa tidak mengindahkan kata katanya .
Hatinya sudah terlalu sakit di kuasai amarah, kesedihan dan cemburu.
Tidak ada kelembutan dan kata kata sayang lagi seperti biasanya.
Hingga akhirnya dia membuka paha Ara lebar lebar, lalu mendorong dan menghentak kuat miliknya untuk ketiga kalinya, sampai miliknya itu masuk terbenam semua di dalam sana .
Dia berhasil menembus dinding selaput darah Ara.
"Aaaaakhhhh..." Ara memekik kesakitan merasakan sesuatu yang robek di dalam sana. Tubuh atasnya terangkat keatas, tanganya langsung mencengkram kuat leher suaminya hingga terluka dan berdarah.
Dan tanpa sadar dia menggigit kuat dada suaminya untuk menekan rasa sakit pada miliknya.
Rafa meringis tertahan merasakan gigitan itu.
Nafasnya memburu cepat tak beraturan.
Jeritan Ara menggema di seluruh ruang kamar, bahkan sampai menembus ke luar merasakan perih dan sakit di dalam sana.
Rafa langsung membungkam jeritannya dengan mulutnya.
Moly, Rizal dan Wisnu kembali terkejut mendengarnya.
Mendengar jeritan keras suara Ara yang menyayat hati.
Moly terduduk lemah dengan air mata tanpa henti mengalir .
Di depan pintu Wisnu terus pada posisi berlutut. Ke-dua matanya basah karena merasa bersalah pada Raka, tuan mudanya.
Dia sudah berjanji pada almarhum tuan mudanya untuk menjaga istrinya dari orang yang menyakitinya.
Tapi dia tidak berdaya melawan tuannya sendiri.
Sementara Rizal terduduk sambil memaka maka pintu.
"Hentikan brengsek, jangan sakiti adik iparku . sudah cukup kau menyiksanya.Kau akan menyesal nanti Rafa, kau akan menyesali apa yang kau lakukan padanya." teriaknya keras.
"Buka pintunya Brengsek, hentikan."
***
Sementara Rafa tertegun mencerna apa yang di rasakan tadi, saat kesulitan dan merasakan sakit pada miliknya berusaha menembus milik istrinya.
"A apa dia masih perawan?" batinnya.
Ada kesedihan dan penyesalan menyeruak
di hatinya.
Ara menangis terisak isak masih memeluk kuat lehernya.
Tapi amarah dan api cemburu Rafa kembali menguasai dirinya saat bayang bayang tubuh Dion menindih istrinya, memeluk dan mencium istrinya.
Rafa menekan tubuh istrinya ke tempat tidur,
dia mulai menggerakkan pinggulnya pelan pelan, menguasai tubuh istrinya dan mulai berpacu dengan desahan dan erangan keluar dari mulutnya.
Dia melihat wajah istrinya di bawah sana terpejam menahan perih robekan.
Air matanya terus mengalir di kedua sudut matanya dengan isakan tangis yang tak berhenti.
Rafa mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir istrinya, me****t bibir atas dan bawah bergantian, memasukkan lidahnya dan bermain lembut di dalam.
Sesekali dia mencium kening istrinya lembut, mengecup kedua matanya yang terpejam basah.
Beberapa menit kemudian Rafa mulai mengerang merasakan kenikmatan yang menjalar di tubuhnya.
"Sayaang ..." mendesah menikmati sesuatu yang belum pernah di rasakan sebelumnya .
Dia semakin cepat berpacu dan tidak berhenti menciumi bibir istrinya.
Mulutnya menjalar turun ke leher menggigit lembut dan meninggalkan banyak tanda di sana, kedua buah istrinya pun tak luput dari lahapan mulutnya.
Rafa semakin bergerak cepat di selingi erangan erangan kuat dari mulutnya, keringat semakin banyak mengalir di tubuhnya dan jatuh di atas tubuh indah istrinya.
Ara hanya bisa menangis pasrah di bawah sana, dia membiarkan apa yang di lakukan suaminya tanpa merespon sama sekali .
Pikirannya melayang pada almarhum suaminya. Seharusnya suaminya yang mendapatkan kesuciannya.Tapi kenyataannya
__ADS_1
dia tidak dapat memberikan miliknya yang paling berharga pada lelaki yang sangat di cintainya itu.
Inilah alasan kenapa dia tidak mau di sentuh pada bagian pribadi miliknya oleh Rafa.
Baginya, jika dia tidak dapat memberikan kebanggaannya pada almarhum suaminya, maka Rafa pun tidak boleh menyentuhnya. Karena itulah dia tidak mau menikah lagi, baik dengan Rafa atau pria lainnya.
Dia sudah bertekad tidak akan memberikan miliknya pada lelaki lain dan memilih hidup menjanda selamanya, dia tidak ingin merasakan nikmatnya berhubungan badan seperti ini, sama seperti Raka yang tidak pernah merasakan kenikmatan yang sesungguhnya karena penyakit yang di deritanya.
Ara semakin sedih dan menangis mengingat almarhum suaminya.
Dia tidak berdaya menolak ajakan Rafa menikah lalu karena mempertimbangkan permintaan almarhum suaminya yang di tulis dalam kertas.
"Kak Raka.." batinnya lirih, airmatanya kembali mengalir deras mengingat almarhum suaminya.
Sementara Rafa di atasnya mendesah sedih mendengar ucapannya menyebut nama Raka.R
Rafa semakin cepat bergerak dan memacu tubuhnya dengan mendesah desah dan mengerang .
Setelah sekian lama berpacu, dia mulai merasakan ambang batasnya, hingga akhirnya mengerang memekik kuat mencapai klimaks, tubuhnya bergetar dengan sangat hebat, mengeluarkan cairan yang menyiram rahim istrinya.
"Aaakhh Sayaang." Rafa memeluk tubuh istrinya kuat beberapa saat merasakan kenikmatan yang masih menjalar di sekujur tubuhnya.
Dia masih diam beberapa saat di atas tubuh istrinya.
Perlahan dia mengecup bibir dan kening istrinya lembut, mewakili ucapan terimakasih karena telah mendapatkan pelepasan dan kepuasan yang sesungguhnya.
Ini yang pertama baginya merasakan kenikmatan yang sempurna dalam
percintaannya.
Pelan pelan dia menarik miliknya, lalu turun dari tubuh istrinya.
Dia terkejut melihat cairan bercampur darah menempel pada miliknya.
Dengan cepat di memeriksa sprei bagian bawah tubuh istrinya, ada bercak bercak darah bercampur lendir menempel di sana.
"Hah...?" Rafa terbelalak.
"I ini benar dia masih perawan ?"
"Bagaimana mungkin? setelah selama 7 bulan menjalani kehidupan rumah tangga bersama Raka, dan ternyata dia masih suci belum ternoda?" batinnya kembali seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Dia kembali terperangah.
"Sayaang...."
Rafa cepat memeluk tubuh istrinya yang masih menangis terisak dengan mata terpejam.
Dia kembali naik ke tubuh istrinya memeluk dari atas, mencurahi banyak kecupan dan ciuman di wajah istrinya .
"Sayang...." Ada keharuan dan kebahagiaan serba salah penyesalan di hatinya mengetahui dia yang pertama menyentuh dan mendapatkan kebanggaan milik istrinya.
"Terimakasih, terimakasih sayang. Aku sangat bahagia sekali." mencium kening dan memeluk tubuh istrinya.
Tiba tiba dia bangun dan memeriksa
seluruh tubuh istri yang telah di kasari
dan sakiti nya tadi.
Dia memeriksa dari ujung kaki dengan teliti hingga ujung kepala dengan rasa takut dan penyesalan, terutama pada kedua tangan dan dagu Ara istrinya, ****** susu yang di gigitnya.
Dia takut istrinya mengalami cidera karena kekerasan fisik yang di lakukannya.
Rafa melihat bibir istrinya yang terluka akibat gigitan Ara sendiri, Rafa menyentuhnya lembut.
"Maafkan aku sayang... maafkan aku."
"Maafkan aku telah menyakitimu, tolong buka matamu sayang...," menangkup wajah istrinya.
"Balas lah aku, berikan hukuman kepadaku, aku akan menerimanya apa pun itu." ucapnya sendu.
Dia menyentuh lembut kedua pipi istrinya .
"Buka matamu sayang ...aku mohon, jangan hanya diam dan menangis. Cepat hukum aku, pukul aku, balas sesuka hatimu."
Kesedihan dan penyesalan semakin dalam menyeruak di hati Rafa mengingat perlakuan buruk dan menyakitkan yang di lakukan pada istrinya tadi. Di tambah lagi dengan perkataan dan tuduhan yang menyakitkan hati istrinya.
Dia menangis tertahan menatapi wajah istrinya yang terus terpejam dengan air mata yang mengalir terus di kedua ujung matanya.
"Maafkan aku telah melakukan kekerasan padamu, maafkan aku sayang." ucapnya lirih sambil menekan wajahnya pada wajah istrinya.
"Maafkan aku terlalu di kuasai amarah dan cemburu. Aku sangat mencintaimu sayang, aku tidak rela kau di sentuh oleh bajingan mana pun. Kau hanya milikku .. milikku. Tolong maafkan aku, buka matamu." menangis terisak menatapi wajah istrinya, dia semakin sedih dan menangis tak ada respon sama sekali dari istrinya, hingga air matanya jatuh di wajah Ara.
****
Selang satu jam berlalu.
Moly mondar mandir di depan pintu, tak terdengar suara apa pun di dalam sana.
Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Ara.
Berbagai pikiran buruk berkecamuk di kepalanya.
"Zal, kenapa tak terdengar suara tangis dan jeritan nona Ara? aku takut tuan Rafa membungkam mulutnya dengan bantal dan...
"Hush.. diam kau." hardik Rizal tidak suka dengan ucapannya.
"Aku sangat takut Zal, kau lihat tadi bagaimana kemarahan Rafa? aku takut terjadi sesuatu pada nona Ara dan dia membiarkannya karena terlalu sakit hati dan cemburu."
"Kita sudah berulang kali memangilnya tapi tak ada jawaban, tak ada lagi sesuatu yang di lempar pada kita, tak ada suara apapun terdengar dari dalam, baik suaranya dan juga suara tangisan nona Ara."
"Bagaimana jika Rafa sudah membunuh nona muda? lalu dia juga ikut bunuh diri?" ucap Moly dengan wajah meringis takut dan cemas membayangkan sesuatu yang buruk.
Rizal dan Wisnu saling berpandangan mendegar ucapannya.
Bisa juga benar yang di katakan Moly,
karena tuan mereka itu sangat mencintai istrinya, dia tidak akan bisa hidup tanpa Ara.
"Kalian jangan hanya saling pandang seperti itu, cepat dobrak pintunya sebelum terjadi sesuatu yang buruk." ujar Moly kembali.
Keduanya langsung berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu. mereka juga tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu yang buruk pada tuan dan nona muda mereka.
Entah benar atau tidak yang di katakan Moly , mereka harus melakukan sesuatu agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.
Keduanya menghentakan tubuh ke pintu dengan kuat, mulai mendobrak.
"Lebih kuat lagi." kata Moly kembali.
Mereka mengambil ancang-ancang kembali dan menghentak ...
Pintu terbuka dari dalam.
Rafa keluar sambil menggendong tubuh istrinya di depan yang terbungkus sprei.
Ketiganya terkejut.
"Apa yang kalian lakukan? kalian pikir aku gila membunuh wanita yang kucintai ?!" menatap mereka satu persatu dengan tajam.
"Siapkan mobil Rizal, dan kau Wisnu periksa cepat kamar ini kalau ada cctv tersembunyi. Moly, hubungi pihak bandara kita akan kembali ke tanah air sekarang, dan juga hubungi pak Sam dan buk Narsih untuk segera bersiap. Suruh mereka langsung menuju bandara. Kita juga akan langsung menuju bandara." perintahnya.
Di antara rasa keterkejutan, ketiganya menarik nafas lega dan segera melaksanakan perintah bosnya.
Rafa segera melangkah menuju lift sambil menatapi wajah istrinya yang berada dalam gendongannya.
Dia tersenyum bahagia melihat wajah manis yang tertidur pulas.
****
Nasib dion ?
sewaktu Rafa melempar tubuhnya ke luar kamar. Cindy langsung membawa tubuh kakak sepupu nya itu diam diam setelah Rafa masuk kembali ke dalam kamar sambil menyeret tubuh Ara.
Cindy sempat melihat kekerasan yang di lakukan Rafa pada Dion, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa memandangi dengan penuh ketakutan dari balik tembok.
Sewaktu mengambil tubuh Dion, dia juga mendengar jeritan dan tangisan Ara.
Dia sedih dan menangis mendengar tangisan temannya itu, tapi dia juga sangat ketakutan.
Dia segera meninggalkan kamar itu dan membawa tubuh Dion diam diam.
Cindy menyewa satu kamar untuk menyembunyikan Dion dengan bantuan Dinda. Menyembunyikan Dion dari kemarahan pamannya Alkas. Dia juga mematikan ponsel mereka berdua. Karena dia tahu pamannya sudah mengetahui masalah salah faham yang menimpa pada Dion dan Ara.
Dia yang sangat tahu sifat dan perangai pamannya, Makanya dia menyembunyikan Dion, apalagi di tambah dengan keadaan Dion yang memprihatinkan karena pengaruh obat perangsang, sudah pasti akan semakin menambah kemurkaan pamannya.
Tapi .. terjadi terjadi sesuatu yang buruk pada Cindy setelah menyelamatkan kakak sepupunya itu.
__ADS_1
*******
Terimakasih yang masih setia dengan karya author ππ