Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 170


__ADS_3

Hari berlalu dengan cepat, berganti minggu


dan bulan.


Ara dan kawan-kawan baru selesai mengikuti ujian semester.


Ara mulai gelisah karena seiring berjalannya waktu keuangannya mulai menipis.


Isi kartu kredit yang di tinggalkan oleh suaminya makin hari semakin berkurang karena di pakai untuk memenuhi kebutuhan hidup pribadinya.


Sebagian lagi di pakai buat sedekah meski dalam jumlah yang sedikit.


Makanya selama dua minggu ini dia sudah mulai bekerja kembali selepas jam kuliah.


Untung saja cafe tempat kerjanya dulu masih bersedia mempekerjakan dirinya.


Setiap sabtu minggu dari pagi hingga


lepas magrib dia bekerja di cafe.


Dan untuk hari senin-rabu-jumat dia mengambil kerja sebagai guru les privat, dari jam 4 sore sampai jam setengah 6. Setiap pulang kuliah orang tua dari anak yang menjadi anak didiknya itu datang menjemput bila sempat.


Ara sudah mengatur jadwal kuliah dan kerjanya dengan baik.


Waktu ngumpul bersama teman temannya pun mulai jarang.


"Ya ampun Ra, jadwal kerjaan lo padat banget. Lo nggak bakal punya waktu untuk istirahat." ujar Ines kaget setelah mendengar detail jadwal pekerjaannya.


"Benar Ra, bisa bisa kamu sakit." timpal Cindy.


" Yahh mau gimana lagi, aku juga butuh duit buat biaya hidup aku." ujar Ara dengan wajah lesu.


"Kamu gimana sih Ra, kakak ipar lo tajir melintir, seorang miliarder kaya raya, banyak duitnya. Kenapa lo nggak minta uang sama dia aja?" ujar Ines.


"Aku udah tinggal dan makan gratis di rumah itu, masa biaya hidup pribadi pun harus minta lagi sama mereka? Sebenarnya aku juga nggak enak tinggal di situ lagi sejak kak Raka meninggal, aku merasa nggak pantas lagi tinggal di rumah itu." keluh Ara.


Apalagi dia membayangkan ibu mertuanya tidak pernah menyukai dirinya.


Wajah Maya selalu masam bila melihat dirinya.


membuat dia sangat sedih dan semakin tidak nyaman untuk tinggal di rumah itu.


Sebenarnya sudah sejak lama dia ingin kembali ke rumah orangtuanya. Tapi Rafa melarang dia keluar dari rumah itu. Kata Rafa, tempat tinggalnya selamanya di rumah itu. Rafa sudah berjanji pada almarhum suaminya untuk menjaganya selamanya.


Dan alasan lain, dia tidak sanggup untuk berjauhan dengan makam suaminya yang setiap saat selalu di kunjungi di kala rindu datang menerpa.


Dia juga tidak tega meninggalkan Cio dan Cia yang sudah di anggap seperti ponakan sendiri. Apalagi kedua bocah itu juga menyayanginya. Tidak ingin jauh darinya sama seperti Raka yang pergi tak kembali. Si kembar meminta dirinya untuk tidak pergi sama seperti Raka yang meninggal kan mereka pergi ke tempat yang indah dan hingga kini belum kembali.


Dan lebih lagi dia sudah berjanji pada suaminya saat masih hidup, bahwa dia tidak akan meninggalkan rumah itu apa pun yang terjadi.


Waktu menunjukkan pukul 21.00.


Ara melangkah dengan cepat memasuki rumah begitu turun dari ojek mang Saleh. Adanya acara yang digelar di cafe tempat kerjanya membuat ia terlambat pulang, karena manajer kafe menambah jam kerja sampai pukul 20.00.


Dengan perasaan takut dia membuka pintu dan melangkah masuk perlahan.


Biasanya pak Sam sudah menunggunya di depan pintu. Tapi kepala pelayan itu tidak ada.


Ara terkejut saat sebuah suara menyapa dirinya dengan keras.


"Dari mana kau jam segini baru pulang?"


Langkahnya terhenti, dia melihat ke arah Maya yang sedang duduk di kursi bersama Levina.


Maya bangkit dari duduknya melangkah mendekatinya.


"Aku bertanya kepadamu, jawab jangan diam saja." sentak Maya kembali menatap tajam.


"Maaf ma, aku dari tempat kerja." jawabnya pelan dan takut.


"Sudah dua minggu ini aku melihatmu selalu pulang malam. Sepertinya kamu mulai senang dan menikmati hidupmu dengan bebas, kamu sudah tidak perduli lagi dengan aturan yang ada di rumah ini."


Ara menelan ludahnya.


"Saya kerja ma, dan mama sudah tahu ha itu kan?"


"Kerja ?" Maya tertawa menyeringai.


"Cih ... pembohong." cibir Maya kembali.


"Benarkah ?" sahut Levina dari tempat duduknya ikut menimpali


"Kerja apa an?" tersenyum sinis.


Ara diam tak menjawab.

__ADS_1


"Aku Sudah berulang kali memberitahumu jangan melakukan sesuatu yang membuat malu keluarga ini dengan pergaulan bebas mu di luar sana." Maya menatap tajam.


Ara kaget mendengar ucapannya.


"Saya hanya kerja ma, tidak melakukan hal buruk. Setelah selesai kampus saya langsung ke tempat kerja, lalu pulang ke rumah."


"Kerja katamu ? maksudmu kerja melayani


om om ?"


Ara terbelalak, menatap Maya tak berkedip.


"Mama....!"


"Diam kau, jangan panggil aku dengan sebutan itu. Aku bukan mamamu, najis aku mendengar nya."


Ara menelan ludahnya yang terasa pahit, air bening sudah jatuh di pipi putihnya. Dia sungguh tidak menyangka ibu mertuanya akan menuduhnya seperti itu.


Om siapa yang dituduhkan Maya kepadanya? apa mang saleh lagi?


"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di luar sana? dan apa kamu bilang? setelah kampus langsung ke tempat kerja ? bukannya selesai kampus kamu di jemput sama om om hidung belang ?"


Ara kembali kaget, tapi dia hanya bisa diam tak menjawab. Hanya air matanya yang terus mengalir.


Dia tidak mengerti dengan apa yang


di ucapkan ibu mertuanya.


Om om siapa yang di maksudkan ibu mertuanya?


"Seharusnya kamu sadar diri dengan posisi dirimu di rumah ini. Kau sudah kami biarkan makan dan tinggal gratis di rumah ini. Jangan hanya karena Rafa selalu membela dan melindungi mu kau bisa seenaknya bertingkah dengan bebas di rumah ini."


Air mata Ara semakin membanjir mendengar kata kata yang semakin menyakitkan hatinya.


Levina bergerak maju mendekatinya.


"Ara, untuk apa kamu kerja di luar? sementara keluarga ini hidup berlimpah dengan kemewahan tanpa kekurangan apapun. Katakan saja, itu hanya alasanmu kan supaya bisa bebas berkeliaran di luar sana?" katanya tersenyum sinis.


"Apa kamu butuh sesuatu di luar sana? maksudku dengan keadaan dirimu yang sekarang adalah seorang janda, kau pasti kesepian dan butuh belaian." bisik Levina dengan senyuman menyeringai menatapnya.


Ara memejamkan mata, menggigit kuat bibirnya.


Sakit... sungguh sakit yang dia rasakan dengan tuduhan tuduhan yang sangat menyakitkan ini. Dia meremas kuat kedua tangannya.


"Aku dan tante Maya tahu apa yang kau kerjakan di luar sana. Mungkin soal pekerjaan di kafe itu kau benar. Tapi tetap saja kamu mencari perhatian dari para pengunjungnya, bukan ?" Levina melirik dengan ekor matanya masih dengan senyuman sinis.


Sherly sala satu primadona kampus yang notabenenya adalah adik sepupu Levina memberikan informasi kalau sudah 4 kali ia melihat Ara di jemput sama seorang pria dewasa setelah ia selesai kuliah.


Levina melaporkan hal itu pada Maya.


Tentu saja hal itu membuat Maya marah


bukan main.


Dan untuk membuktikan ucapannya supaya di percayai Maya, Levina mengajak Maya mengikuti Ara secara diam-diam.


Dan benar saja mereka melihat Ara di jemput sama seorang lelaki 45 tahunan dengan menggunakan mobil. Keduanya terlihat akrab dan saling melempar senyum.


Sebenarnya Levina tidak perduli dengan kehidupan dan pergaulan Ara di luar sana. Hanya saja setelah melihat kedekatan Rafa dengannya, rasa perduli Rafa serta perlindungan yang Rafa berikan padanya yang begitu berlebihan membuat ia mulai membenci Ara.


Dia mulai curiga dan secara diam-diam mulai menyelidiki kedekatan antara keduanya saat ia melihat mereka berdua turun dari mobil dan makan bersama di sebuah restoran mewah milik Rafa. Dan ketika dia menelepon menanyakan keberadaan Rafa pada Wisnu, Wisnu mengatakan kalau tuannya sedang bekerja.


Tentu saja dia geram karena di bohongi.


Rasa bencinya pada Ara semakin menjadi ketika ia mendapat informasi kalau Ara sering di ajak Rafa ke apartemen dan manstion pribadinya Rafa yang belum lama ini di ketahuinya. Sedangkan dia yang sudah sangat lama menjadi kekasih Rafa tidak pernah menginjakkan kaki ke apartemen dan hunian mewah Rafa lainnya.


Rafa tidak pernah mengajaknya meski dia sering memaksa.


Semakin banyak informasi yang dia dapat dari orang orang suruhannya yang di bayar mahal untuk menyelidiki kedekatan mereka.


Dan dia semakin geram dan emosi ketika salah seorang pelayan dari rumah pribadi Rafa mengatakan kalau Rafa beberapa kali membawa Ara di kamarnya, bahkan di tidur ranjang pribadinya.


Tentu saja hal itu membuat kemarahan dan kebenciannya pada Ara semakin menjadi-jadi.


Dia memanas manasi Maya dan mulai mencari cara untuk memisahkan Ara dari Rafa.


Dia ingin Ara keluar dari rumah ini dan juga dari kehidupan Rafa untuk selamanya.


Levina mulai membuat rencana, sala satunya dengan membayar tinggi si om om yang selalu menjemput Ara lepas kuliah. Om om tersebut adalah ayah dari anak yang di ajari Ara sebagai pekerjaannya menjadi guru les privat .


Tentu saja semua itu hanya rencananya bersama Pria itu. Dia membayar mahal Pria tersebut.


Levina menyuruh si pria itu memasang loker di akun sosmed mencari guru privat untuk anaknya dengan bayaran gaji yang fantastis.


Dan kebetulan Ara yang sangat butuh kerjaan merasa tertarik dan ikut mengajukan diri.

__ADS_1


Dan Ara terpilih dari beberapa orang yang menawarkan diri. Dia terjebak dalam rencana yang di buat Levina.


"Jangan membuat alasan dengan membawa bawa pekerjaan. Aku tahu itu hanya alasanmu saja. Rafa memberimu kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan hidupmu, jadi untuk apa lagi kau bekerja ? itu hanya alasanmu saja kan untuk mencari kesenangan di luar sana dengan lelaki yang selalu menjemputmu kan? tentu saja hal itu kau lakukan mengingat kepergian Raka yang sudah hampir setahun membuat mu kesepian dan butuh sentuhan." lanjut Maya kembali sambil menunjukan jari telunjuknya kuat tepat di depan Ara.


Ara semakin menangis terisak


"I itu nggak benar ma, laki laki yang mama maksud itu hanya ..."


"Diam kau, tidak perlu membela diri. Jangan sok suci, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri kau bersama dengan laki laki itu. bahkan dia memegang pundak mu dengan mesra dan kau hanya diam menanggapinya." kata Maya kembali dengan berapi-api.


"Dengar kata kataku Ara, jika kau merasa tertekan tinggal di rumah ini dan ingin hidup bebas di luar, kau boleh angkat kaki dari rumah ini. Lanjutkan hidupmu di luar sana semau mu. Aku tidak sudi rumahku....."


"Hentikan mama." sentak Nesa yang baru


saja masuk.


Dia mendekat.


Menatap Maya dan Levina bergantian.


"Hentikan semua ini..." ucapnya lagi penuh tekanan, menatap tajam pada Maya dan Levina bergantian. Lalu dia menoleh pada Ara.


"Naik dan Masuklah ke kamarmu." perintahnya.


Dengan terisak-isak dan tubuh gemetaran Ara bergerak melangkah menuju tangga.


Dia mengumpulkan seluruh kekuatan nya berusaha untuk menaiki tangga, karena tulang kakinya di rasa sudah tidak bersambung lagi dan terlalu lemah untuk menopang tubuhnya naik keatas.


"Pak Sam, pak Sam..." teriak Nesa keras


"Pak Sam, bantu Ara ke atas." teriaknya lagi.


Tapi yang di panggil tidak muncul muncul. Karena Sam memang tidak ada di rumah.


Maya sengaja menyuruhnya keluar untuk mengerjakan sesuatu agar dia tidak bisa melihat apa yang ia lakukan pada Ara.


Karena dia tahu pelayan itu pasti akan ikut campur dan melapor pada Rafa.


"Di mana kepala pelayan itu ?" sentak Nesa kesal memperhatikan sekelilingnya.


Para pelayan lain hanya diam dan saling berpandangan, karena mereka tidak tahu kemana Sam pergi.


Mereka sangat sedih melihat apa yang di lakukan Maya dan Levina pada nona mudanya sejak tadi, tapi mereka juga takut tak bisa berbuat apa-apa.


Karena Maya sudah mengancam mereka untuk diam dan tidak melapor pada Rafa.


"Sam sedang keluar." ujar Maya dengan wajah masam.


Nesa mengalihkan tatapannya pada mamanya "Mama sengaja kan menyuruh dia keluar ?"


Maya tersenyum tipis menyeringai.


"Kalian berdua, bantu Ara ke kamarnya." perintah Nesa pada dua pelayan.


Dengan segera kedua pelayan itu berlari mendekati nona mudanya, karena mereka ingin sekali membantu tapi sangat takut dengan Maya.


Nesa melangkah mendekati mamanya.


"Dengar ma, jika Rafa mengetahui apa yang kalian lakukan kepada Ara, maka bersiaplah untuk menerima kemarahan darinya. Pastikan Rafa tidak mengetahui kejadian ini. Jika perlu bungkam mulut semua orang yang ada di rumah ini untuk menutup mulut mereka ! Kalau sampai Rafa tahu, maka kita semua harus segera bersiap untuk angkat kaki dari rumah ini. Bukan Ara yang akan pergi, tapi kita yang akan angkat kaki dari rumah ini." ucap Nesa dengan suara agak keras, menahan amarah menatap tajam mamanya dan Levina.


Lalu dia segera melangkah menuju kamar si kembar.


Hati Maya jadi ciut mendengar kalimat terakhir Nesa. Bisa saja Rafa akan melempar mereka keluar dari rumah ini.


Karena Rafa sudah dua kali mengatakan kepada mereka untuk memperlakukan Ara dengan baik di rumah ini, meski Raka sudah tak


ada lagi.


Rafa menekankan kepada mereka


semua bahwa selamanya Ara akan tinggal


di rumah ini.


Dan Maya merasa perkataan itu sengaja di tujukan Rafa pada dirinya. Karena Rafa tahu dia tidak menyukai Ara. Dan kata kata itu bukan hanya sebuah perintah, tapi juga ancaman.


Levina terkejut mendengar perkataan Nesa. Apa sampai segitunya perlindungan yang Rafa berikan pada gadis itu? bahkan meski pada keluarganya sendiri dia tidak segan segan akan memberi hukuman bila mereka menyakiti Ara ?


Levina mendengus kasar, kebenciannya pada Ara semakin menjadi jadi.


Dia semakin bertekad untuk memisahkan mereka dan mengeluarkan Ara dari rumah ini.


Dia merasa perlindungan yang diberikan Rafa sudah sangat berlebihan, dan bukan lagi perlindungan sebagi seorang kakak ipar terhadap adik iparnya.


Terbesit tanya di hatinya, apa Rafa menyukai Ara? menyukai wanita janda dari adik kandungnya sendiri?

__ADS_1


********


Terimakasih bagi yang sudah mampir πŸ™


__ADS_2