
Setelah selesai mengerjakan shalat isya, Ara meminta izin sebentar pada Raka untuk turun kebawah. Hatinya benar-benar tidak tenang dengan keadaan Sita.
Dia segera menuju kamar para pelayan yang berada di belakang.
Di dapatinnya Sita sedang menangis terisak di temani oleh beberapa rekan kerjanya yang menghibur dirinya.
Mereka terkejut dengan kedatangannya, dan segera berdiri menundukkan kepala.
"Nona muda" ucap mereka.
Ara menganggukkan kepalanya, lalu melihat melihat Sita .
"Mbak Sita, maafkan aku ya ..semua salahku, aku benar-benar tidak menyangka kalau segala perhatian dan kasih sayang ku pada si kembar malah membuat kakak ipar marah dan membuat mbak di pecat" Ara memegang kedua tangan pelayan itu.
Sita menyapu sisa sisa air matanya.
"Nona jangan bilang begitu, ini bukan karena kesalahan nona"
"Aku tahu ini bukan kesalahan kita mbak, tapi kenapa kakak ipar marah ?"
"Ini sudah takdir saya nona, saya menerimanya dengan Ikhlas, tapi kalau boleh saya ingin meminta satu permintaan, izinkan saya menemani si kembar tidur malam ini"
Hati Ara terenyuh, dia tahu Sita menyayangi si kembar dengan tulus, karena Sita yang selalu bersama mereka sejak anak anak itu masih dalam kandungan ibunya.
"Maafkan aku mbak, aku akan mencoba bicara dengan sekretaris Wisnu" Ara memeluknya sedih, Sita terperanjat di peluk nona mudanya.
"Aku tidak akan membiarkan mbak di pecat "
"Tidak usah nona, anda jangan lakukan itu, percuma"
"Tapi kita tetap harus mencoba mbak, tunggu di sini" Ara segera beranjak pergi tanpa memperdulikan panggilan Sita .
Di dapur dia bertemu Sam.
"Nona sedang apa di sini, apa nona butuh sesuatu?"
"Tidak pak Sam ! Oh ya apa anak anak sudah tidur ?"
"Mereka sedang belajar nona"
Ara segera melangkahkan kaki menuju tangga .
Tapi dia kembali berbalik memanggil pak Sam.
"Pak Sam ...!"
Sam segera berbalik mendengar panggilannya
"Iya nona !"
"Apa Sekretaris Wisnu masih di sini ?"
__ADS_1
"Iya nona, dia sedang bersama tuan Rafa di ruang kerja"
"Kira kira jam berapa sekretaris Wisnu pulang ?"
"Tidak menentu nona, tergantung pekerjaan tuan Rafa, tapi biasanya sampai tengah
malam dan menjelang subuh!"
Ara terdiam, lalu dia mengembuskan nafas berat.
"Apa nona ada perlu sama sekretaris Wisnu ?" tanya sam mengamati wajah Ara yang gelisah .
"Iya pak Sam"
"Kalau ini tentang Sita, percuma nona, karena Wisnu hanya mendengarkan perintah tuan Rafa, sebaiknya nona segera ke atas dan istrahat ! saya permisi dulu"
Ara mengangguk, dia terduduk lesu di tangga bawah, memikirkan nasib Sita.
Dia sendiri takut menemui dan memohon pada kakak iparnya, jadi dia ingin bicara dengan Wisnu.
******
Sebuah pesan singkat masuk kedalam hp Wisnu, dahi Wisnu mengerut setelah membacanya.
Lalu dia menatap pada tuannya yang sedang fokus pada berkas berkasnya.
"Kenapa kau menatapku?" tanya Rafa tanpa menoleh, dia tau Wisnu sedang menatapnya.
Rafa tersenyum menyeringai setelah membacanya.
"Pulanglah, kau pasti capek. istirahatlah beberapa jam, aku akan meneruskan pekerjaan ini" ujarnya kemudian.
"Baik tuan" Wisnu menundukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan itu.
Rafa mendesah pelan mengingat isi pesan yang di bacanya tadi, pesan yang di kirim pak Sam.
"Sekertaris Wisnu, nona muda menunggu anda di tangga, dia ingin membicarakan tentang masalah Sita, aku sudah mengatakan anda akan pulang larut malam, tapi nona tetap bersikeras akan menunggu anda!"
Rafa membuang nafas berat dan kembali meneruskan pekerjaannya.
Wisnu berjalan perlahan menuruni anak tangga satu persatu perlahan lahan .
Di mendapati nona mudanya sedang duduk tertunduk di atas kedua lututnya.
"Nona muda" panggilnya pelan.
Ara terperanjat, dia terlalu larut dalam lamunannya sehingga tidak menyadari dan mendengar telapak sepatu Wisnu, dia segera berdiri dengan wajah senang.
Dia mengira akan menunggu Wisnu sampai tengah malam, ternyata Wisnu turun terlalu cepat.
"Sebaiknya nona istirahat di kamar"
__ADS_1
"Aku sedang menunggu anda sekretaris
Wisnu, apa anda mau pulang ?"
"Iya nona, ada yang harus saya kerjakan di luar. Ada perlu apa nona menunggu saya ?"
"Ini mengenai mbak Sita! tolong jelaskan pada kakak ipar kalau ini bukan salah mbak Sita, tolong jangan pecat mbak Sita ! aku mohon sekretaris Wisnu, tolong bicaralah dengan kakak ipar" Ara memelas merapatkan kedua tangannya di depan dada, memohon dengan sangat.
"Maaf, saya tidak bisa membantu nona, apa yang telah di perintah kan oleh tuan Rafa tidak bisa di bantah, sebaiknya anda segera ke atas temani tuan muda Raka! saya permisi dulu"
Ara mendesah sedih
"Tapi mbak Sita tidak bersalah sekretaris Wisnu..!" ucpanya sendu dan serak, matanya berkaca-kaca.
"Sebaiknya anda sampaikan langsung pada tuan Rafa"
"Aku takut sekretaris Wisnu, aku tidak punya keberanian! Melihat wajah kakak ipar saja aku sangat takut"
Rafa tersenyum menyeringai mendengar perkataannya lewat ponselnya yang terhubung dengan kamera cctv.
"Maafkan saya nona muda, tidak bisa membantu anda!" Wisnu menundukkan kepalanya lalu beranjak pergi meninggalkan Ara yang diam mematung .
Ara kembali terduduk lesu di tangga .
Wisnu pun tidak bisa membantunya.
Bahkan Raka suaminya pun tidak berani bicara pada kakaknya, lalu pada siapa lagi dia meminta bantuan ?
Apakah dia harus menyerah dan tidak akan melakukan apa apa lagi untuk menolong Sita?
bagaimana nasib Sita jika dia pergi dari rumah ini? kemana dia akan pergi dan bekerja ? sementara di saat sekarang ini sangat sulit mendapatkan pekerjaan secepat mungkin.
Ara semakin tertunduk lesu dan sedih memikirkan nasib sita.
Dengan tubuh lemas lunglai dia menaiki tangga, berjalan berpegangan pada railing tangga sambil menunduk, hingga akhirnya tiba di atas dan menghentikan langkah di depan ruang kerja kakak iparnya.
Dia menatap daun pintu beberapa saat,
ingin rasanya dia mengetuk, tapi jangankan untuk mengetuk, mendekat ke pintu saja dia tidak punya keberanian, terlalu takut. Bahkan saat ini kedua lututnya sudah gemetaran, bagaimana nanti jika dia masuk dan berhadapan langsung dengan kakak iparnya itu? dia sudah dapat membayangkan pasti dirinya akan pingsan ketakutan.
Ara membuang nafas berat, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Maafkan aku mbak Sita, gumannya sedih.
Pintu ruang kerja di buka dari dalam, Rafa keluar dan menutup kembali pintu.
Saat berbalik matanya menangkap sosok Ara yang berjalan sangat pelan dengan kepala menunduk melangkah menuju kamarnya .
Rafa tersenyum menyeringai menatap sampai gadis itu masuk ke dalam kamarnya, lalu dia segera melangkah menuju kamar tidurnya.
******
__ADS_1