
Dari tempat wisata Cio Cia masih minta di ajak ke mall terbesar di kota itu, mau tidak mau Ara menuruti keinginan mereka. Sopir yang mengantar mereka memberi sesuatu pada Ara.
"Nona, ini ada titipan dari tuan Wisnu." lalu segera pamit ke area parkir.
Ara memperhatikan benda itu.
"Kartu kredit?" gumamnya dengan wajah mengernyit.
Lima detik berlalu, sebuah pesan masuk
di handphone Ara. Pesan dari Wisnu.
"Nona bisa gunakan kartu itu untuk keperluan belanja si kembar. Itu dari tuan Rafa. Kode PIN nya tanggal lahir Nona."
Wajah Ara kembali mengernyit.
"Biar berada di luar negeri mereka bisa tahu apa yang terjadi di Indonesia?" gumam Ara.
Ara celingukan mencari tahu keberadaan Rafa dan Wisnu seolah ada di tempat itu.
"Mereka kan ada di luar negeri, gak mungkin ada di sini." gumamnya kembali. Setelah menyimpan kartu kredit, mereka melanjutkan langkah ke dalam sambil berpegangan tangan. Ara memegang erat ke dua tangan si kembar.
Ketiganya berjalan bergandengan seperti ibu dan anak, sambil menoleh ke sana kemari melihat setiap barang di pajangan.
Sampai mereka tiba di lantai atas di mana terdapat banyak mainan yang berada di pajangan. Cio dan Cia langsung menarik narik tangan Ara untuk masuk ke dalam sebuah toko.
Ketika mereka hendak masuk, salah seorang pelayan menahan mereka di pintu masuk.
Pelayan itu menatap Ara dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan tidak suka dan merendahkan, melihat penampilan Ara yang sederhana dan cupu.
"Kalian tidak boleh masuk, mainan disini harganya sangat mahal" katanya dengan senyum sinis.
"Cio Cia, kita ke tempat lain ya." ajak Ara pada si kembar.
Tapi si kembar tetap merengek ingin masuk karena melihat mainan yang mereka suka di dalam sana.
"Gak mau, Cio mau mobil yang itu." Cio menunjuk sebuah pesan mobil Lexus berwarna hitam.
"Cia mau boneka itu." Cia juga menunjuk tempat boneka, sebuah boneka Teddy bear berwarna coklat.
"Mainan mobil dan boneka itu sangat mahal." kata pelayan itu kembali.
Sala seorang pelayan datang mendekat.
"Maaf mbak, sebaiknya mbak ajak saja anak anaknya supaya mereka tidak merengek terus di sini. Masih banyak pengunjung lain yang akan masuk tapi kalian menghalangi jalan masuk."
Cio yang memaksa masuk di tarik paksa oleh sala seorang pelayan hingga jatuh.
Ara terkejut melihatnya.
"Mbak jangan kasar dong sama anak anak! Kami akan pergi," dia segera menarik tangan Cio untuk bangun.
"Sebaiknya kalian bersikap sopan pada setiap pengunjung." ucap Ara kembali menatap pada pelayan.
Pelayan tersenyum sinis
"Aku sudah bilang silahkan kalian pergi dari sini, karena barang barang di sini mahal. Kalian tidak akan sanggup membelinya." mencibir merendahkan.
__ADS_1
Ara menatap mereka kesal.
"Baiklah, kami akan pergi, anda tidak perlu marah marah begitu! Ayo sayang kita ke tempat lain saja."
Tapi Cio menepis tangan Ara dan cepat berlari masuk ke dalam. Para pelayan itu terkejut dan segera mengejarnya. Terjadi adegan kejar-kejaran di dalam.
Cio segera naik ke atas mobil Lexus yang di lihatnya tadi. Dan kakinya menekan gas hingga kendaraan itu berjalan.
Ara yang juga ikut terkejut langsung mengejar.
"Cio berhenti nak, nanti kamu jatuh." teriak Ara
cemas takut terjadi sesuatu yang tidak baik pada bocah kecil itu.
Cio yang sudah terbiasa dengan mainan mobil-mobilan seperti itu di rumah, tidak perduli panggilan Ara. Dia terus menginjak gas dan memutar setir ke segala arah hingga beberapa mainan yang tersambar jatuh dan rusak.
Sebenarnya Cio Cia sudah punya banyak mainan seperti ini, tapi namanya anak anak tidak bisa melihat mainan baru yang lain warna dan modelnya dengan milik mereka yang ada di rumah, sudah pasti akan meminta.
Para pelayan berteriak marah, salah seorang dari mereka segera memanggil petugas keamanan.
Sementara Cia yang sudah terlepas dari genggaman Ara berlari mendekat ke arah boneka Teddy bear yang terdapat di pajangan agak atas. Cia segera meraihnya tanpa memperhatikan ada mainan lain di bawahnya.
Akhirnya si teddy bear menyambar mainan yang di bawah sehingga jatuh dan rusak.
Ara semakin panik, dia segera berlari ke arah Cia dan menggendong anak itu yang sudah terlihat senang karena sudah mendapatkan mainan kesukaannya.
Sementara Cio semakin asyik berkeliling dengan mobilnya dengan bersorak gembira. Para pelayan terus mengejarnya dengan ngos ngosan.
Hingga akhirnya mobil itu berhenti mendadak setelah seseorang memencet remote kontrol mobil tersebut.
Ara memekik keras.
"Ciooo..."
Ara berlari segera mendekat, menggendong anak itu setelah menurunkan Cia.
Cio terlihat ketakutan akibat rem dadakan yang hampir membuat nya terlempar.
Bocah laki itu ikut memeluk Ara sambil menangis ketakutan.
"Sayang, Cio gak apa-apa?" Ara memeriksa tubuhnya.
"Lihat kekacauan yang kalian buat, dasar anak anak nakal." salah seorang pelayan wanita menunjuk-nunjuk mereka.
Lalu ke dua tangannya menjewer telinga Cio dan Cia. Sontak saja anak anak itu menangis.
Ara terkejut bukan main melihat perlakuan kasar pelayan itu. Dia menurunkan Cio dan mendorong pelayan itu.
"Beraninya kau menyakiti anak anakku." sentak Ara menahan amarah. Dia masih bisa terima kalau dirinya di hina dan disakiti, tapi untuk anak anak dia tidak terima dan hanya diam saja.
"Anak anakmu pantas mendapatkan itu, bahkan mendapat hukuman yang lebih berat lagi! Kau lihat kekacauan yang mereka buat? Banyak mainan yang rusak. Apa kau sanggup mengganti kerugiannya?"
"Hal ini tidak akan terjadi jika kalian menyambut dan melayani kami dengan baik. Kau tidak sopan dan merendahkan kami"
jawab Ara.
Beberapa pelayan nampak terlihat takut
__ADS_1
"Bagaimana buk, jika bos mengetahui kejadian ini kita semua pasti akan di pecat, bahkan mungkin akan di hukum." kata salah seorang di antara mereka pada pelayan senior yang berbicara dengan Ara. Di lihat dari usianya yang lebih tua dari pelayan lain.
Dia memandang penuh amarah pada Ara yang mendekap si kembar.
"Kalian orang miskin memang suka membuat orang lain kesulitan! Kau harus mengganti kerugian setiap mainan yang dirusak oleh bocah bocah ini."
"Kau sudah memberi hukuman dengan menjewer telinga mereka, dan sala satu pegawai mu hampir membuat sala satu anakku terlempar dari mobil dan membuatnya ketakutan. Jadi aku tidak perlu membayar kerugian apa apa lagi." jawab Ara lantang.
Pelayan tua itu menatap boneka Teddy bear yang berada di pelukan cia.
"Kembalikan." menarik paksa.
Cia menangis boneka itu terlepas dari tangannya.
"Ante boneka Cia, boneka Cia." Cia menarik narik boneka itu, tapi pelayan tua itu mendorongnya membuat Cia hampir jatuh jika Ara tidak segera menangkap tubuhnya.
"Kau sudah sudah sangat keterlaluan memperlakukan anak kecil dengan kasar." bentak Ara.
"Aku tidak mau lagi mendengar setiap ocehan mu, kamu harus bayar kerusakan mainan yang telah di rusak oleh ponakan mu itu, di tambah dengan harga mobil dan boneka karena mereka telah menyentuhnya." kata pelayan tua itu kasar.
"Cepat hitung berapa semua kerugian yang harus di ganti oleh wanita ini." katanya rekannya.
Tidak berapa lama dia menyodorkan kertas pada Ara.
"Rp 567 juta, semua itu sudah termasuk harga mobil dan boneka!"
Ara menatap nota tersebut tak berkedip.
"Kenapa? kau tidak sanggup? Sudah pasti. Bahkan sampai kiamat pun kau tidak akan bisa mendapatkan uang sebanyak ini." katanya lagi tersenyum sinis mengejek.
"Ante mobil Cio, mobil Cio!" rengek Cio menunjuk mobil yang di naiki tadi.
"Iya sayang, Cio sabar ya?" mengelus rambut Cio pelan.
Ara mengambil kartu kredit yang di beri Rafa tadi lewat sopir, dan menyerahkan pada pelayan itu.
"Aku akan membayar semuanya!"
Semua para pelayan itu terkejut melihat kartu kredit yang di pegang Ara, kartu Black card.
"Cepat ambil dan gesek." kata Ara kembali.
dia menarik boneka dari pelayan tua itu dan memberikannya pada cia.
"Sayang, ini punya mu!" katanya lembut pada Cia. Bocah perempuan itu langsung melonjak senang.
"Mobil itu sekarang punya Cio juga, naiklah.
Tapi hati hati ya?" katanya juga pada Cio.
"Iya ante. Terimakasih !" Cio memeluk Ara senang.
Ara tersenyum memeluk kedua keponakannya.
"Untung saja kakak ipar memberikan kartu kredit ini!" batinnya
Bersambung.
__ADS_1