
Ara perlahan mendekat ke arah mereka.
"Kakak ipar, A- aku...." Ara menggantung kalimatnya.
Kakak beradik itu menoleh kepadanya.
"Ada apa sayang?" tanya Raka.
Rafa menatap wajahnya sejenak, lalu kembali melihat pada komputer.
Ara membuang nafas berat.
"Kakak ipar aku minta maaf, aku tidak bermaksud menuduh kakak melakukan hal-hal buruk." katanya pelan takut takut.
Wajah Raka mengernyit tidak mengerti maksud perkataan istrinya. Dia menoleh pada kakaknya.
"Ada apa kak?" tanyanya bingung.
"Gak ada apa apa!" kata Rafa. Lalu melihat pada Ara ."Sudahlah, lupakan." lalu kembali pada layar laptop.
Raka segera berdiri, memegang tangan istrinya.
"Aku tidak tau apa yang kau lakukan pada kak Rafa, tapi intinya kau sudah meminta maaf dan kak Rafa sudah melupakannya. Jadi jangan lagi memikirkan hal itu." ucapnya tersenyum.
Ara mengangguk, menoleh sekilas pada kakak iparnya yang terus berkutat dengan pekerjaan.
"Sepertinya kita tidak akan bisa melihat langsung matahari terbit dari pantai. Tapi kita akan melihatnya dari sini sayang." Raka beranjak melangkah ke jendela kaca kakaknya yang masih tertutup tirai besar dan panjang seukuran kaca jendela yang memanjang. Raka segera menekan remote yang membuat tirai itu bergerak ke samping.
Saat tirai terbuka, mata mereka langsung di suguhkan pemandangan keindahan pantai dan laut.
Ara sangat terpukau dengan mulut sedikit terbuka.
"Masya Alloh indahnya." ucapnya takjub, dia melangkah menuju balkon. Dari balkon kamar mewah ini sejauh mata memandang terhampar juga tanaman hijau yang cantik, hamparan pasir putih dan keindahan laut.
Tak terlihat matahari terbit, karena cuaca agak mendung. Raka mendekat memeluknya dari belakang. Melingkar kan ke dua tangan di perut Ara.
"Indah sekali kak, semalam aku juga melihat pemandangan seperti ini di balkon luar kamar kak Rafa." Ara menunjuk ke arah samping kirinya. Raka tersenyum. Dia mengecup pipi, leher, tengkuk istrinya bergantian.
"Wangi..." ucapnya menyesap wangi aroma tubuh istrinya.
"Kak, udah ah. Malu di lihat sama kak Rafa." Ara berbisik seraya melirik sekilas pada Rafa.
"Kak Rafa nggak lihat sayang, dia lagi sibuk sama pekerjaannya," Raka tersenyum kecil mengecup kembali pipi istrinya.
"Tetap aja aku nggak enak. Udah dong."
__ADS_1
"Aku sangat senang dan bahagia, kau mencium ku di depan semua orang semalam. Aku mau lagi sayang." Raka membalikkan tubuh istrinya menghadap kepadanya.
Ara terkejut.
"Cium lagi dong." pinta Raka tersenyum seraya memejamkan matanya, merem.
Ara salah tingkah."Kakak nggak lihat di sini ada kak Rafa ?" kembali melirik Rafa yang sedang sibuk dengan berkas dan laptopnya.
"Ayo dong sayang, nggak apa-apa juga biar kak Rafa lihat. Dia pasti hanya akan tersenyum dan ikut senang melihat kebahagiaan kita."
Ara menelan ludahnya, dia melirik sekilas pada Rafa. Di rasa aman, perlahan dia memegang wajah suaminya. Mendekat kan bibirnya pada bibir suaminya. Lalu mengecup, kecup lagi, dan segera m****t bibir atas dan bawah Raka bergantian secara lembut. Raka tersenyum membiarkan apa yang di lakukan istrinya.
Dari jarak 10 meter tempatnya duduk, Rafa memperhatikan apa yang di lakukan Ara pada Raka. Sebenarnya dia mendengar dan tau apa yang di lakukan ke-dua adiknya itu, tapi dia pura pura cuek dan sibuk.
Rafa segera bangkit berdiri sambil mengangkat berkas dan laptopnya. Dia menatapi kedua insan yang sedang berciuman memadu kasih dengan mesra penuh kehangatan. Rafa tersenyum, lalu segera melangkah menuju ruang kerjanya tak ingin mengganggu keduanya.
Beberapa saat kemudian Ara menarik penyatuan bibir mereka karena dia mulai kehabisan oksigen.
"Terimakasih sayang." ucap Raka tersenyum menatapi wajah cantik istrinya. Ara mengangguk tersenyum dan kembali memandangi keindahan laut lepas di depannya.
Raka memeluknya dari belakang.
"Balkon ini berhubungan dengan balkon kamar kak Rafa, ada pintu di sebelah sana yang menghubungkan. Jadi kalau ingin ke balkon luar, langsung saja lewat pintu itu, tak perlu lagi keluar melalui kamar kak Rafa." Raka menjelaskan. Ara memperhatikan ucapan suaminya.
"Selamat pagi Tuan muda, Nona muda." Wisnu muncul di belakang mereka.
"Maaf, Tuan Rafa memanggil anda berdua untuk sarapan." sambung Wisnu kembali.
"Baik sekretaris Wisnu, kami akan segera masuk." jawab Raka.
Wisnu menundukkan kepala, lalu melangkah pergi mendahului Raka dan Ara.
Raka dan Ara segera melangkah menuju ruang makan, tak ada lagi Rafa di kamarnya saat mereka lewati.
"Kak Rafa di mana?"
"Tuan berada di ruang kerja menyelesaikan pekerjaannya." kata Rara Wisnu menuntut mereka ke ruang makan.
Mereka sampai di meja makan. Sudah tersedia beberapa menu di meja makan.
"Silahkan Tuan, Nona muda, nikmati sarapannya. Tuan Rafa menyuruh anda berdua makan terlebih dahulu." kata Wisnu kembali.
"Terimakasih." ucap Ara.
Wisnu segera pamit beranjak menuju kamarnya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sebelumnya dia memberi isyarat pada manager hotel dan pelayan untuk menemani dan melayani majikannya dengan baik.
__ADS_1
"Sepertinya kakak ipar dan sekretaris Wisnu sangat sibuk." ucap Ara memegang gelas susunya yang baru saja di teguk.
"Iya sayang, keduanya memeriksa laporan bulanan perusahaan cabang yang ada di kota ini. Juga laporan keuangan hotel ini, dan restorannya. Maklum sudah lama kakak tidak pernah ke sini. Dia hanya mempercayakan semua usahanya pada kepala cabang dan manager." Raka menjelaskan.
"Kakak ipar punya perusahaan cabang di sini?"
"Iya sayang, termasuk hotel ini dan juga restoran mewahnya yang berada 4 km dari sini." Raka tersenyum melihat raut wajah istrinya yang ingin tahu. Ara memang tidak tahu banyak tentang usaha bisnis kakaknya dan juga perusahaannya.
"Kakak itu pekerja keras sayang. Selain perusahaan yang ada di kota ini, kak Rafa juga punya perusahaan perusahaan cabang, anak perusahaan dan usaha usaha lainnya yang tersebar di beberapa daerah di tanah air, bahkan hingga luar negeri! Itulah sebabnya kenapa kakak jarang ada di rumah bahkan tidak pulang dalam jangka waktu yang lama." Raka menjelaskan di sela makan mereka.
Ara menatap suaminya sambil menyingkap rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya karena mengganggunya makan.
Raka memperhatikan itu. Dia menyapih rambut Ara ke belakang telinga. Tapi lagi-lagi rambut keriting itu lepas lagi.
"Kamu gak bawa ikat rambut?"
Ara menggeleng. Dia memang sengaja tidak mengikat rambutnya karena untuk menutupi tanda tangan merah di lehernya.
"Tunggu sebentar." kata Raka pada Ara. Dia segera berdiri untuk pergi kekamar kakaknya.
"Kakak mau kemana?"
"Ke kamar kak Rafa." terus melangkah. Dia ingin mencari sesuatu yang bisa digunakan mengikat rambut Ara.
Sesaat kemudian dia kembali dengan sehelai kain kecil warna biru di tangannya.
"Apa ini?" tanya Ara melihat kain kecil itu.
"Sapu tangan kak Rafa."
"Buat apa?" dahi Ara berkerut.
Raka tak menjawab hanya tersenyum. Dia melangkah ke belakang Ara, lalu mengikat rambut keriting bergelombang istrinya dengan sapu tangan itu.
"Tak ada jepit rambut, sapu tangan pun jadi." ujar Raka menatap tersenyum. Dia mengecup puncak kepala istrinya."Biar makan mu gak terganggu sayang!"
Ara tersenyum. Dua pelayan juga saling memandang tersenyum dengan sikap romantis Raka pada istrinya.
Raka kembali duduk.
"Tapi ini punya kak Rafa, kakak gak minta izin dulu, kalau dia cari gimana?"
"Banyak sapu tangan kak Rafa di lemari. Nanti sebentar kakak akan beritahukan padanya, ayo lanjutkan makan mu."
Ara kembali melanjutkan makan nya.
__ADS_1
Bersambung.