
20 Menit berlalu Ara segera turun, dia tidak mau berlama lama di kamar karena mengingat ada Ines dan Cindy menunggunya di bawah.
Di ruang keluarga dia kembali di buat terperangah dengan suasana yg tampak di depannya.
Dia mengira hanya ada ines, Cindy dan Raka yg berada di ruangan itu.
Tapi ternyata di situ juga ada Maya dan Nesa sedang duduk menunggui dirinya.
Mereka segera beranjak berdiri begitu melihat kedatangannya.
Ara melihat di meja terdapat sebuah kue tart dan beberapa kado yang terbungkus rapi dan indah, ada juga beberapa aneka jenis cemilan kue dan minuman yang di hidangkan. Dia sempat melirik pada kedua sahabatnya yang nampak mengunyah, Ara lega dan senang ternyata ibu mertua dan kakak iparnya menyambut ramah dan memperlakukan baik kedua sahabatnya itu.
Raka segera mendekat kearahnya .
"Sayang ayo ke sini, mama dan kak Nesa ingin memberikan sesuatu untukmu." meraih tangan istrinya.
Nesa mendekat setelah terlebih dahulu mengambil sebuah kotak kecil di meja, lalu menyodorkan benda itu pada Ara.
"Selamat ulang tahun, ini kado ku untukmu, aku tidak perlu memberikan doa, kau sudah besar dan sudah tahu meminta doa apa yang terbaik untukmu." dia menyerahkan kotak kecil itu di tangan Ara.
Ara tersenyum terharu, seketika matanya langsung berkaca kaca, antara percaya dengan tidak dengan kado ini.
Dia tidak menyangka akan mendapat ucapan dan kado dari kakak iparnya yang selama ini tidak pernah menyukainya.
"Hey, kenapa kau malah menangis, aku tulus memberikannya tanpa ada paksaan dari siapa pun, atau kau tidak suka dengan hadiahnya? ya sudah...sini aku ambil lagi kalau kau tidak suka " Nesa berkata agak keras.
Dia menarik kotak kecil yang sudah berada di tangan Ara, tapi dengan cepat Ara menahannya.
"Aku suka kak, tentu saja aku sangat suka, aku hanya terharu dan sangat bahagia mendapat hadiah ulang tahun dari kakak, terima kasih ya kak." Ara menyapu pecahan kristal yang jatuh di kedua pipinya.
"Anggap saja itu sebagai pemberian balas budiku karena kau sudah merawat, mendidik si kembar selama beberapa bulan ini. Jangan kau lihat nilai harganya, kalau tidak aku akan mengambilnya kembali." Nesa membalikan tubuhnya selesai berkata.
Kata kata yang terdengar kasar di telinga dan tidak mengenakan hati, tapi Ara dapat merasakan makna ketulusan dari perkataan itu sebagai pengalihan dari perwakilan isi hati yang tulus.
Ara tersenyum mencermati ucapan kakak iparnya itu, lalu dengan cepat ia melangkah mendekat dan memeluk tubuh Nesa dari belakang sebelum wanita itu duduk,
air matanya kembali tumpah.
__ADS_1
"Izinkan aku memeluk kakak sebentar." pintanya.
Nesa terperanjat, dia berusaha melepaskan kedua tangan Ara.
"Hey, apa apaan kau, lepaskan tanganmu."
"Sebentar saja kak, aku mohon." Ara semakin erat menautkan ke dua tangannya di perut kakak iparnya itu.
"Aku mohon sebentar saja, aku tidak punya adik atau kakak perempuan, aku ingin merasakan bagaimana hangat dan wanginya punggung seorang kakak perempuan, hanya sebentar saja, setelah itu silahkan kakak marahi aku lagi " lalu menyandarkan wajahnya di punggung nesa sesaat, menciumnya, memeluknya erat lagi.
Nesa terdiam, entah kenapa dadanya di rasakan sesak. Raka terenyuh dan bahagia melihat pemandangan yang mengharukan di depannya ini. Dia tahu perangai kakak perempuannya ini, meskipun sikapnya kasar dan pemarah, tapi sebenarnya memliki hati yang baik serta sisi yang lembut.
Karena dia sangat tau bagaimana sayang dan pedulinya Nesa pada dia dan kakaknya Rafa sewaktu mereka berdua kecil hingga beranjak besar.
Hanya keadaan lah yang membuat kakak perempuan nya ini berubah menjadi sosok yang pemarah dan kasar.
Raka mendekat dan memeluk kedua wanita itu.
Sementara Ines dan Cindy yang sedari tadi hanya diam menyaksikan tersenyum senang dan ikut terharu.
Begitu juga dengan Sam dan para pelayan.
Nesa melepaskan tangan Ara dan Raka dari tubuhnya, dia melangkah menuju kamar si kembar.
Maya bangkit dari duduknya dan menunjuk kado di atas meja.
"Itu untukmu." katanya menoleh pada Ara.
"Terima kasih ma.." Ara tersenyum senang, dia segera meraih tangan Maya dan menciumnya .
"Terima kasih ma.." Raka juga ikut mengucapkan terima kasih pada mamanya.
"Segera persiapkan semuanya sebelum kau dan istrimu keluar dinner." kata Maya.
"Iya ma, mama jangan khawatir." jawab Raka.
"Kalian duduk dulu dan nikmati makanannya, tante mau ke kamar." Maya menoleh pada ines dan cindy.
__ADS_1
Kedua gadis itu mengangguk
"Iya tante." jawab mereka sama sama.
Maya segera meninggalkan mereka menuju kamarnya.
"Kak Raka, Ara ..kami permisi mau pulang juga." kata Cindy, yang langsung di iyakan oleh Ines.
Iya Ra, bentar lagi mau magrib." sambungnya.
"Lho, kok mau pulang?" Raka menatap mereka bergantian.
"Iya kak, udah mau malam nih, di depan juga udah ada kang Narto menunggu." jawab Cindy.
"Seharusnya kalian nggak perlu hubungi kang Narto untuk menjemput kalian, kakak bisa menyuruh sopir rumah untuk mengantar kalian pulang." kata Raka.
"Gak apa-apa kak, nanti lain kali aja." jawan Ines tersenyum.
"Baiklah, hati hati di jalan ya kalian" Raka menepuk pelan bahu kedua gadis itu bergantian.
Ara memeluk mereka bergantian.
"Makasih ya sudah mau datang kesini, nanti aku hubungi kalian sebentar." lalu mengantar kedua sahabatnya itu ke depan hingga masuk taksi online kang Narto.
Ara menoleh pada Raka setelah kenderaan itu bergerak menuju pintu gerbang utama
"Kak, barusan mama ngomong sesuatu kan? maksudnya persiapkan apa?"
Raka merangkul pundak istrinya, mengajaknya berjalan masuk ke dalam.
"Kebetulan sekali kamu pintar memasak dan membuat kue kan? kakak perlu bantuan mu, ayo kita ke dapur, nanti kakak akan katakan di sana."
Dahi Ara mengernyit, mengikuti ajakan suaminya dengan berbagai pertanyaan.
******
Bersambung๐๐๐
__ADS_1
Maaf baru bisa nyambung ceritanya lagi, karena masih ada kesibukan yang tidak bisa di tinggalkan ๐๐