Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 250


__ADS_3

Dion dan Cindy mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan.


Mereka memasuki sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi dan ibu hamil.


Sebenarnya Dion ingin memesan langsung lewat online, tapi Cindy merengek untuk memilih dan membeli langsung, sekalian Ingin jalan jalan.


Setelah selesai membeli keperluan Cindy mereka menyempatkan diri menikmati eskrim di sebuah kafe.


Dan mengenai barang belanjaan mereka nanti akan di kirimkan ke rumah sesuai permintaan Dion.


"Ini enak kak..," kata Cindy sambil menjilati lelehan eskrim pada cone eskrim yang berbentuk kerucut.


"Kau suka?" Dion tersenyum memperhatikan apa yang dia lakukan.


"Iya kak, sepertinya perut ku bisa menerima makanan beku ini,"


"Tapi jangan banyak makannya, tidak baik untuk janin dan juga dirimu," ucap Dion seraya menyentuh perutnya.


Cindy mengangguk sambil terus menikmati makanan manis itu.


Telepon Dion berbunyi.


"Bentar Cin, kakak terima telepon dulu." menjauh sedikit.


Cindy kembali mengangguk.


Sementara Dion menerima telepon dari kantor, Cindy membuka ponselnya.


Ada chat yang masuk dari Ines dan juga Ara, terus dari mamanya. Dan juga dari Dinda, yang sudah menjadi mama mertuanya.


Cindy membaca satu persatu pesan dari mereka dengan rona senyum.


"Hay Cin," suara dan tepukan di bahunya mengagetkannya.


Cindy segera menoleh. Dahinya mengerut melihat orang di depannya.


" Kalian?" melihat Friska Nela dan.. Andry?


Dia kaget melihat Andry.

__ADS_1


Jantungnya berdegup kencang melihat Pria tampan ini.


Friska dan Nela teman kampusnya, dan Andry? lelaki yang di sukainya, merupakan Kakak tingkatnya dulu dan merupakan presiden mahasiswa yang sudah menyelesaikan kuliahnya tahun kemarin.


Andry adalah idola kampus dan banyak di gilai oleh seantero kampus, termasuk dia sendiri.


Tapi dia merasa minder dan tak punya nyali untuk mendekati apalagi mengatakan perasaannya. Karena sangat banyak mahasiswi yang lebih dalam segala dari dirinya bersaing mendekati Andry dan Ingin menjadi kekasihnya.


"Kamu sama siapa Cind? mana Ara dan Ines?" tanya Friska membuyarkan lamunannya.


Cindy kembali kaget dan segera mengalihkan pandangannya dari Andry.


"Aku gak pergi sama mereka. Aku kesini sama kak Dion," sambil menoleh pada Dion yang sedang serius berbicara di telepon.


"Oohh...kakak sepupu mu itu?" tanya Nela. Mereka ikut melihat pada Dion yang berdiri tidak jauh. Mereka tahu Dion dan Cindy saudara sepupu karena terkadang selalu bersama di kampus.


"Iya...," ucap Cindy sambil mengangguk.


"Hay Cin," sapa Andry menatapnya sambil tersenyum.


Cindy gugup, apalagi melihat senyuman manis itu membuat jantungnya kembali berdegup kencang. Mungkin di karenakan karena dia masih punya Rasa pada pria tampan ini.


"Kamu sama kakakmu lagi ngapain disini?"


"Tadi kami membeli sesuatu, terus mampir ke sini karena ingin menikmati eskrim. Oh ya... kak Andy bukannya lagi kuliah pascasarjana di Amrik?"


"Iya benar, tapi aku balik karena kakekku sakit," menatap Cindy dalam.


"Oh ya Cindy, kebetulan kak Andry mau ulang tahun beberapa hari lagi, dan rencananya dia Ingin ngerayain hari kelahirannya itu. Kamu datang ya? sekalian ajak juga Ara dan Ines," timpal Friska.


"Memangnya boleh kami datang? yang ultah kan gak ngundang kami," ujar Cindy seraya melirik pada Andry meminta persetujuannya.


"Boleh dong Cind, kamu tamu pertama spesial yang ku udang langsung. Datanglah bersama ke dua temanmu itu," kata Andry tersenyum kecil terus menatapnya.


Cindy tersenyum tersipu malu. Dia gak nyangka bisa dekat dan ngomong secara langsung dan bebas seperti ini dengan lelaki idolanya.


Yang kini semakin tampan dan gagah di matanya.


"Kita juga akan mengundang BEM dan DPM Universitas, Undangannya nanti aku kirim ke Group," sela Friska.

__ADS_1


"Kamu harus ikut Cin... Jangan sampai tidak datang lho...,". ujar Andry kembali sambil menyentuh tangannya.


Cindy kaget dan kembali gugup.


"Pasti kak, aku akan datang bersama Ines dan Ara," jawabnya kelabakan.


"Cin, mari kita pulang," seru Dion tiba tiba muncul di depan mereka.


"Hay kak Dion," tegur Friska dan Nela hampir bersamaan. Mereka mengenal Dion karena ketampanannya.Tapi Dion terlalu acuh dan dingin pada wanita membuat para ladies kampus takut mendekatinya.


Dion hanya menatap sesaat tanpa menjawab.


Dia menatap tajam tak suka pada Andry. Lalu segera menarik tangan Cindy.


"Aku pamit dulu ya...," Cindy baru buru mengambil tasnya di meja.


"Jangan lupa ya Cin..," teriak Nela.


"Oke..," kata Cindy agak keras karena tangannya di tarik terus oleh Dion dengan langkah cepat.


"Jangan cepat cepat dong kak, nanti aku jatuh. Pelan pelan saja jalannya," kata Cindy yang berlari kecil mengimbangi langkah kaki Dion yang cepat dan panjang.


"Dan pegangannya tolong di longgarkan, tanganku sakit," kata Cindy kembali sambil meringis memegang tangan Dion di tangannya dan berusaha di lepaskan.


Dion membuang nafas kasar, lalu segera melepaskan pegangan di tangan Cindy serta melambatkan langkah.


Cindy melihatnya dengan perasaan bingung, karena melihat ada kekesalannya di mata kakak sepupunya ini.


"Kenapa dia?" batin Cindy dengan bibir mengerucut.


"Apa ada masalah di kantor?" batinnya kembali. Mengingat tadi Dion menerima telepon dari kantor.


*****


Maaf untuk para readers, 10 hari ini Author gak UP, di karenakan sedang sibuk menjaga ortu ( ibu) yang lagi sakit. Insyaallah akan kembali up lagi setiap hari πŸ™πŸ™


Terimakasih yang masih setia dengan karya author. Jangan lupa rate, hadiah, like, vote dan komennya ya? biar saya tambah semangat untuk Up πŸ™β€οΈ


Yang baru bergabung, mampir juga ya dalam karya author Arley & Ana πŸ™

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan kalian semuaπŸ™πŸ™β€οΈβ€οΈ


__ADS_2