Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 96


__ADS_3

...Happy Reading....


Tinggallah mereka bertiga di ruang kamar Rafa. Raka menghadap kan tubuh Ara kepadanya.


"Sayang, kau pasti bingung mengenai kertas permintaan itu kan?" tanyanya.


Ara mengangguk pelan.


"Biar ku jelaskan." kata Raka." Kertas permintaan itu adalah keinginan seseorang kepada yang berultha. Dan yang berultha harus mengabulkan keinginan tersebut. Seperti dokter Rizal tadi menuliskan sesuatu di kertas ini, maka kau harus mengabulkan keinginannya yang di tulis pada kertas itu." katanya menjelaskan.


Ara mengangguk mengerti.


Raka merogoh sesuatu dari saku celananya, yaitu sebuah kertas yang tertulis permintaannya pada Rafa.


"Ini kertas permintaanku untuk kak Rafa.


Kau juga bisa meminta sesuatu pada kak Rafa dan begitu juga sebaliknya."


Ara menatap wajah suaminya, lalu perlahan menoleh pada Rafa yang diam memperhatikan mereka.


"Aku tidak punya permintaan apa apa pada kak Rafa." katanya pelan.


"Harus ada sayang, tidak bisa tidak. Permintaan seperti ini sudah terjadi sejak 5 tahun yang lalu. Kita semua telah sepakat meminta dan mengabulkan, tapi ini hanya di antara kita saja penghuni rumah ini." kata Rafa.


"Dokter Rizal juga termasuk karena dia sudah seperti saudara sendiri. Dan juga kak Levina pacar kak Rafa." kata Raka kembali teringat Rizal dan Levina.


Rafa membuang nafas kasar mendengar ucapan menyebut nama Levina.


"Tapi, Aku tidak ingin meminta apapun dari kak Rafa. Aku tidak mau___!"


"Keluarlah kalian, aku mau tidur." ujar Rafa memotong kata kata Ara. Dia menatap tajam pada keduanya, lalu berjalan menuju tempat tidur. Membaringkan tubuhnya, kemudian memejamkan mata.


"Baik kak, kami keluar dulu. Kakak istirahat saja!" kata Raka."Ayo sayang kita ke kamar." Raka meraih tangan kanan Ara dan menariknya untuk berjalan keluar dari ruang ini. Keduanya menuju kamar mereka. Rafa membuka mata begitu keduanya keluar dari kamarnya.

__ADS_1


.


.


Pagi telah datang, kicauan burung terdengar bersahutan sambil berlompatan beterbangan dari dahan satu ke dahan lainnya. Para penghuni rumah megah itu masih tidur lelap di tempat tidur masing-masing.


Kecuali Raka yang sudah bangun mengerjakan shalat subuh. Dan di bawah, para pelayan sudah mulai bergerak mengerjakan tugas dan perannya masing-masing.


Seperti biasa, Raka selalu menyempatkan diri untuk membaca beberapa ayat alquran setelah melaksanakan shalat. Biasanya bersama Ara, tapi istrinya masih berhalangan.


Ara keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Dia terbangun saat suaminya sedang shalat subuh tadi. Ara mendekat dan duduk di samping Raka dengan menggunakan hijab panjang.


"Sudah bersih bersihnya?" Raka berhenti sejenak.


"Iya." jawab Ara, lalu mencium tangan suaminya.


Kemudian bersama sama membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. 20 menit kemudian mereka menyudahi tadarus.


"Bagaimana perutnya, apa masih sakit?" Raka mendekat duduk di pinggir ranjang, meraba perut Ara.


"Sudah mendingan, meski kadang sering muncul rasa gak enak, tapi gak apa-apa." jawab Ara seraya melepas jilbab syar'i.


"Nanti di minum lagi obatnya." kata Raka.


Ara mengangguk."Apa hari ini kakak akan ke kantor?" tanyanya.


"Iya, kakak izinnya hanya kemaren."


Ara menatap wajah suaminya yang terlihat pucat, dia membelai wajah itu lembut dengan jari jemarinya.


"Apa gak bisa minta izin lagi untuk hari ini? Kakak pasti masih mengantuk kan? Wajah kakak juga pucat." katanya perlahan. Memperhatikan wajah yang terlihat lelah dan mengantuk.


Raka menggenggam jari jemari halus itu dan menciumnya.

__ADS_1


"Kakak sudah janji sama pimpinan akan masuk hari ini. Banyak kerjaan di kantor."


"Jangan terlalu capek kerjanya, nanti penyakitnya gak sembuh sembuh." Ara memeluk dan merebahkan kepalanya di dada suaminya.


"Iya sayang, kakak tahu itu kok. Kamu jangan cemas." Raka membelai dan mengecup puncak kepala istrinya. Dia mengerti kekhawatiran Ara.


"Oh ya sayang, apa kamu sudah punya permintaan kepada kak Rafa?"


"Aku belum memikirkannya."


"Kamu minta apa aja, pasti kak Rafa akan kasih."


"Nanti aku pikirkan! Kalau kakak menulis apa tadi?" Ara menarik kepalanya.


Raka menatap istrinya dengan senyuman.


"Untuk kebahagiaan kak Rafa, kakak meminta dia menikah tahun ini dengan wanita yang dia cintai. Kakak akan mendukung siapa pun wanita itu selama membuat kak Rafa nyaman dan bahagia." katanya dengan mimik serius.


"Kakak benar. Aku juga akan meminta hal itu." pungkas Ara setuju dengan dengan permintaan Raka.


"Kamu minta yang lain saja sayang. Mungkin mama juga meminta hal itu. Setiap tahun mama selalu meminta hal itu pada kak Rafa. Meminta kak Rafa menikah secepatnya dengan kak Levina. Mengingat umur kakak tidak muda lagi."


"Terus kenapa kak Rafa tidak mengabulkan permintaan mama? Kan katanya setiap permintaan harus di penuhi!" tanya Ara bingung.


"Bukannya tidak di kabulkan. Tapi kak Rafa belum siap menikah karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Kak Levina juga sibuk dengan kerjanya dan selalu keluar negeri." Raka menjelaskan.


Wajah Ara tampak mengernyit memikirkan apa yang ingin di minta pada Rafa.


"Apa yang harus ku minta?" tanyanya bingung.


...Bersambung....


Tinggalkan jejak dukungan ya

__ADS_1


__ADS_2