Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 248


__ADS_3

Pagi menyapa penghuni rumah utama Artawijaya. Rafa dan Ara bergandengan tangan menuruni tangga menuju meja makan. Sesekali mereka saling melempar pandang dan senyuman. Berulang kali Rafa menyentuh perut dan mengecup tangan istrinya dengan binar bahagia.


"Ante_Daddy." Cio dan Cia menyongsong kedatangan mereka sambil berlari-lari kecil.


Ara langsung melebarkan kedua tangannya menyambut kedua bocah lucu itu. Dia langsung mencium keduanya dengan gemas.


"Selamat pagi sayangnya ante!" ucap Ara memeluk mereka.


"Selamat pagi Ante, selamat pagi Daddy!" sapa si kembar.


Rafa ikut tersenyum seraya menyapu puncak kepala kedua keponakannya.


Cio memegang tangan kanan Ara, dan Cia sebelah kiri. Mereka menarik tangan Ara ke meja makan dan langsung mendudukkan nya.


"Selamat pagi Ma, kak Nesa!" sapa Ara.


Maya dan Nesa mengangguk tersenyum kepadanya.


"Kata mama, Ante sedang hamil adik bayi. Jadi kami harus menjaga Ante dengan baik." kata Cio.


Ara menoleh pada Nesa dengan tersenyum haru.


"Cia mau adik bayi, Cia mau adik bayi. Mana adik bayinya? Cia mau ngajak dia main boneka dan masak masak." kata Cia seraya naik ke pangkuan Ara.


"Cia, jangan duduk di pangkuan Ante Ara, nanti adik bayinya sakit. Karena adik bayi kita ada di dalam perut Ante." Cio segera menahan adiknya agar tidak naik ke pangkuan Ara.


"Mulai sekarang kita jangan lagi minta di gendong sam ante Ara. Nanti kita akan nyakitin adik bayi!" kata Cio kembali. Mereka yang ada di situ merasa bangga dengan perkataan polos bocah kecil ini. Rafa segera meraih keduanya dan menaruh ke pangkuannya.


"Cio pintar banget." Rafa mengecup pipinya, lalu pipi Cia.


"Kalian Jangan lagi meminta untuk di gendong sama ante Ara ya? Kasihan ante sudah membawa 4 adik bayi dalam perutnya, jadi Cio dan Cia jangan nambah ante susah lagi! Biar Daddy yang akan gendong kalian." katanya memberikan penjelasan pada kedua bocah itu.


Cio turun dari pangkuan Rafa dan mendekat pada Ara. Dia mengelus perut Ara, lalu mengecup.


"Aku mau kasih nama adik bayi yang sama seperti Cia. Boleh ya ante?"


Dahi Ara mengerut.


"Maksud Cio yang jenisnya perempuan?"


"Iya, Cio udah punya nama untuknya! Boleh nggak Ante?"


Ara tersenyum, begitu juga yang lainnya setelah mendengar ucapannya.


Ara menoleh pada Rafa, meminta persetujuan. Kali aja suaminya sudah mempersiapkan nama untuk bayi mereka nanti.


"Boleh sayang, tapi hanya satu ya? Karena Daddy sudah mempersiapkan nama untuk adik adik bayi kalian!" kata Rafa.


"Yeeee..." Cio bersorak gembira.


"Emang Cio mau kasih nama apa sama adik bayi perempuan? Ayo dong kasih tahu kami." tanya Maya menimpali.


"Ada deh nek, Cio akan kasih tahu kalau dede bayi sudah keluar dari perut ante Ara. Kapan adik bayi akan keluar dari perut Ante?" tanya Cio dengan polosnya.


"Empat bulan lagi sayang."


"Yaah, masih lama dong!" kata Cio sedih. Karena dia tahu jumlah hari dalam sebulan. Ara sudah mengajarkan mereka nama dan jumlah hari, nama nama bulan dan jumlahnya dalam kalender. Jadi Cio tahu.


"Cio sabar sayang." kata Ara lagi mengelus kepalanya.


Sedangkan Cia asik mengecup wajah Rafa seperti kebiasaannya. Rafa sesekali membalas kecupannya dan menggigit kecil jari jari mungilnya. Lalu keduanya tertawa bersama.

__ADS_1


"Sekarang waktunya makan, Cio dan Cia pergi ke mama Nesa." kata Rafa menurunkan Cia.


Kedua bocah itu patuh dan segera menuju tempat duduk mereka di pinggir Nesa.


"Kak, Aku juga ingin meminta izin pada kalian untuk memberikan satu nama pada bayi lelakiku. Boleh nggak?" ucap Ara menoleh pada suaminya, lalu pada Maya dan Nesa.


"Tentu boleh Ra, bayinya kan anak kamu. Kamu berhak memberikan nama untuk calon anak anakmu. Begitu juga dengan Rafa!" kata Nesa.


"Kak Nesa benar sayang, kamu adalah ibu mereka, jadi kau berhak untuk memberikan nama pada anak anak kita!" Rafa menyentuh lembut perutnya.


"Terima kasih!" ucap Ara tersenyum.


"Sekarang mari kita makan," ujar Rafa.


Pak Sam segera meletakan makanan di piring tuannya setelah mendapat isyarat dari Wisnu.


Ara segera mengambil makanan sesuai seleranya.


"Kamu harus makan yang banyak nak!" kata Maya menatap kepadanya di sela sela mengambil makanan.


"Iya Ma." Ara tersenyum.


Rafa menyapu punggung istrinya lembut, lalu beralih ke perut. Dia meletakkan semakin dekat susu, buah buahan, coklat dan makanan lainnya di depan istrinya. Makanan sesuai anjuran dari Rizal dan dokter kandungan.


"Aku bisa mengambilnya. Kakak makanlah." kata Ara pada suaminya yang terlalu bahagia dengan kehamilannya sehingga setiap saat menyentuh perutnya.


"Aku mau melayani mu sayang. Aku tidak ingin kau meraih ini dan itu yang akan membuatmu tangan mu keram dan capek. Aku ingin memastikan makananmu, kesehatan mu, keadaanmu dan juga bayi kita selalu terjaga dengan baik!" kata Rafa seraya menyapu saus di bibir Ara, lalu menjilatinya.


"Kakak berlebihan. Aku baik baik saja dan bisa melakukannya! Udah, sebaiknya kakak makan. Aku nggak enak kakak perlakukan terlalu berlebihan seperti ini!" bisik Ara merasa canggung ada ibu mertua dan Nesa di depan mereka.


"Kamu istri Rafa dan sedang mengandung anak anaknya. Sudah sepantasnya Rafa melayani mu dengan baik. itu Sudah tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kamu biasa aja sama kami. Dan kau juga jangan sungkan jika perlu bantuan mama dan Nesa." sela Maya yang mengerti perasaan Ara.


"Benar kata mama. Beri tahu kami jika kau butuh sesuatu." timpal Nesa.


Ara tersenyum haru pada ibu mertuanya. Merasa tidak enak dan risih di perlakukan terlalu berlebihan dan istimewa oleh suaminya. Sementara dia masih bisa melakukannya sendiri.


"Iya ma..!" jawabnya pelan.


Rafa segera memakan makanannya.


"Sayang, kasih bocoran dong ke aku, nama calon bayi kita nanti!" ucap Rafa beberapa saat.


"Aku juga pengen tahu Ra...." sela Nesa melihat sekilas padanya.


Ara mendesah pelan. Dia meletakkan gelas minumnya. Perlahan dia menyentuh cincin pernikahannya dengan Raka sambil tersenyum sedih.


"Aku sangat merindukannya. Aku ingin berbagi kebahagiaanku dengannya, biar dia ikut merasakan kebahagiaan yang kita rasakan saat ini! Dengan adanya nama itu, aku ingin dia ada bersama dengan kita setiap saat. Berkumpul bersama, berbincang tertawa bersama, menikmati kebahagiaan bersama kita." katanya serak dan sendu, kedua matanya sudah basah.


"Aku benar-benar sangat merindukannya!" ucapnya lagi dan mengecup cincin pernikahannya dengan Raka. Lalu tersenyum menatap benda indah itu di jari manisnya.


Nesa, Maya dan Rafa saling berpandangan menatap kearahnya. Terdengar ******* kesedihan dari mulut mereka. Mereka kembali teringat pada Raka dan kenangannya.


Begitu juga dengan Wisnu, Sam dan para pelayan yang mengerti dengan ucapan nona muda mereka. Mereka jadi sedih terkenang dengan almarhum tuan muda mereka yang sangat baik.


Ara sengaja tidak menyebut nama Raka karena menjaga dari Cio dan Cia. Dia tidak ingin si kembar teringat pada paman mereka dan menanyakan keberadaannya.


Rafa memegang tangan istrinya menatap dengan sedih.


"Maafkan aku kak, Karena teringat terus padanya. Aku tidak akan bisa melupakannya. Dia ada di hatiku selalu. Maaf, aku tidak bermaksud....!"


Rafa segera meletakkan jari telunjuknya di bibir istrinya.

__ADS_1


"Ssst __Jangan di teruskan. Aku gak apa-apa sayang...!" lalu bangkit dan memeluk istrinya yang sedang duduk.


Ara menekan wajahnya di dada suaminya, menekan tangisnya agar tidak di dengar si kembar. Dia memeluk suaminya erat. Suasana berubah menjadi mendung mengenang Raka. Masing masing hanyut dalam kesedihan yang mendalam.


Beberapa saat kemudian....


"Sudah.. sudah... hentikan kesedihan ini. Dia juga pasti bahagia melihat kebahagiaan yang kita rasakan sekarang. Cepat selesaikan makan kalian, setelah itu kita akan mengunjunginya bersama sama. Aku juga ingin mengunjungi papa dan mas Revan!" ujar Nesa memecah keheningan dan suasana duka mereka. Dia menyapu kedua matanya yang basah.


Rafa mengelus lembut rambut dan punggung Ara yang masih terisak kecil berusaha menormalkan suasana hatinya. "Sudah sayang, jangan sedih. Kasihan bayinya." Rafa melepaskan pelukannya, duduk kembali dan segera memegang wajah istrinya. Melap sisa sisa air mata.


"Ante kenapa menangis?" sela Cio melihat Rafa menyapu air mata Ara.


"Iya benar, kenapa semua orang pada sedih?" Cia menimpali.


Ara segera tersenyum menatap mereka.


"Ante teringat orang tua ante sayang, makannya ante sedih! Cio sama Cia lanjutkan makannya ya, biar gak terlambat ke sekolah."


"Ante jangan menangis, nanti adik adik bayi ikutan sedih!" kata Cio kembali.


Ara tertawa kecil mendengar ucapannya, begitu juga yang lainnya. Kedua bocah itu semakin hari makin pintar dan cepat membaca dan merasakan keadaan suasana orang orang di sekitar mereka.


Wisnu yang baru saja menerima pesan masuk, mendekati tuannya.


"Tuan, mereka sudah sampai."


"Suru mereka masuk, dan segera perintah kan mereka untuk bekerja!"


"Baik tuan!" Wisnu segera ke depan.


"Siapa nak?" Maya menyela menatap kepadanya.


"Aku ingin memasang lift di rumah ini. Biar Ara gak capek turun naik tangga. Aku gak ingin terjadi apa apa padanya." ucap Rafa tersenyum pada istrinya yang tampak kaget mendengar perkataannya.


"Mama setuju sekali, itu bagus. Biar istrimu gak kelelahan. Dan mama juga akan sering sering untuk melihatnya bila sudah ada benda itu di rumah ini. Mama udah gak mampu naik turun tangga." ujar Maya dengan perasaan senang.


Rafa dan Ara menatap tersenyum kepadanya.


Nesa bangkit dari duduknya.


"Cio Cia, ayo siap siap ke sekolah. Berangkatnya sama mang Ucil dulu ya? Karena Mama sama Nenek, Daddy dan Ante Ara ada pekerjaan penting sekarang." ujar Nesa pada kedua anaknya.


"Baik MA....tapi mama nanti jemput kami kan?" kata Cio.


"Tentu sayang! Cepat pakai tasnya dan pergilah bersama mang Ucil. Jangan nakal ya, belajar dengan baik!" Nesa mengecup kening mereka bergantian.


"Iya MA..!" jawab keduanya. Mereka segera menyalami Nesa, Maya, Rafa dan Ara.


"Belajar yang baik ya?" bisik Ara mengecup kedua pipi mereka.


"Ante juga jaga baik baik adik Cio ya?" kata Cio.


Ara mengangguk tersenyum menyapu kepala keduanya.


"Hati hati mengemudi Ucil." kata Rafa pada sopir mereka.


"Iya tuan." jawab ucil segera seraya menundukkan kepalanya. Kedua bocah itu segera mengikuti ucil di antar Wisnu ke depan.


Setelah si kembar ke sekolah, mereka segera pergi mengunjungi makam Raka, tuan besar Artawijaya dan Revan.


...Bersambung ...

__ADS_1


Maaf baru bisa up πŸ™


Dukung ya, tinggalkan like, komentar dan hadiah seikhlasnya 😘


__ADS_2