Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 36


__ADS_3

Pagi hari.


Suasana di meja makan nampak hening, hanya suara sendok dan garpu yang terdengar beradu dengan piring. Masing masing asyik menikmati sarapannya.


Sampai sebuah panggilan telepon yang masuk di HP Maya berdering memecah keheningan.


Maya segera mengangkatnya


"Selamat pagi nyonya." ucap suara dari seberang. Maya sudah tau si penelepon itu.


Dia tidak menjawab.


"Siapa ma?" tanya Raka memperhatikan, termasuk Nesa.


Sementara Ara sibuk membantu Cio dan Cia menghabiskan makanan karena ke dua anak itu maunya di suapin Ara setiap kali makan. Cia berada dalam pangkuannya.


"Mana tuan mu?" balas Maya pada si penelepon tanpa menjawab pertanyaan Raka.


Mendengar pertanyaan Maya pada si penelepon, Raka dan Nesa sudah tau siapa yang di seberang.


"Kak Rafa?" Raka berseru dengan ekspresi senang, dia segera bangkit dan mengambil HP Maya.


"Ma, biar Raka saja yang bicara."


Maya menyerahkan hpnya yang langsung di sambut Raka. Maya enggan menerima telepon karena hanya Wisnu yang bicara bukan Rafa.


"Halo kak."


"Bicaralah tuan muda, tuan Rafa mendengarkan anda." kata Wisnu dari seberang.


Telinga Ara mendengar karena Raka memakai speaker. Ternyata benar yang di katakan pak Sam, kakak iparnya tidak menerima telepon secara langsung meski itu dari keluarganya sendiri. Semua telepon di terima Wisnu.


Ara mendesah pelan, lalu kembali fokus menyuapi si kembar.

__ADS_1


"Kak, bagaimana kabarnya? Kami sedang menikmati sarapan, tapi terasa ada yang kurang karena tak ada kakak di sini."


Cio merampas HP yang bertengger di telinga pamannya.


"Daddy Daddy, ini Cio Daddy! Bicaralah Dady, Cio gak mau bicara sama paman Wisnu, Cio mau dengar suara Daddy, Cio mau bicara langsung sama Daddy!" kata anak itu dengan polosnya.


Rafa saat itu sedang berada di balkon apartemen miliknya yang berada di jakarta.


Dia tersenyum mendengar celoteh ponakan kecilnya itu. Cio Cia menganggap dirinya adalah ayah mereka, karena yang mereka tahu hanya dia ayah mereka. Kedua anak itu masih sangat kecil ketika ayah mereka meninggal. Belum begitu tau tentang ayah kandungnya.


Selama berada di luar negeri Rafa terkadang berbicara dengan mereka. Rafa memberi pengecualian kepada bocah-bocah itu untuk bicara langsung dengannya.


Rafa segera meraih benda kecil itu dari tangan Wisnu, kepada kedua anak kembar ini Rafa tidak tega menolak keinginan mereka untuk bicara langsung dengannya.


"Halo anak daddy yang tampan! Cio Cia lagi ngapain?"


"Lagi sarapan Daddy, Daddy kapan pulang? Cio kangen mau di peluk daddy, Cia juga kangen sama daddy. Cio dan Cia mau di belikan mainan yang banyak sama Daddy!"


"Gak mau ah, gak mau sama mama, Cio mau sama ante Ara. Mama marah marah mulu, lagi pula mama pasti gak mau bila di ajak kemana mana. Mama sibuk terus." melirik Nesa yang sedang sibuk dengan HP-nya. Nesa hanya tampak cuek.


Cio mengalihkan panggilan telepon ke vidio, lalu mengarahkan kamera pada Nesa


"Tuh kan daddy____ lihat, mama gak perduli" sambil memonyongkan mulutnya ke Nesa.


"Mama pasti mau, bilangin Daddy yang


nyuruh! Kak Nesa, ikutin kemauan mereka. Kau harus lebih banyak meluangkan waktumu untuk anak anak."


Nesa memicingkan matanya mendengar suara Rafa."Iya...iya...!" Lalu mendengus kesal.


Anak-anak sudah terlalu pintar melaporkan dirinya.


Cio mengarahkan kameranya ke arah Maya

__ADS_1


"Daddy ini nenek"


"Apa mama sudah sehat? Bagai mana keadaan mama?"


Maya menatap wajah Rafa yang tidak terlalu jelas di kamera.


"Mama gak akan sehat sebelum kamu balik ke rumah! Pulanglah nak, sudah lama mama gak meluk kamu, apa kamu gak rindu sama


mama?" suara Maya mulai serak.


Tak ada balasan dari seberang. Maya sudah tahu pasti Rafa tidak akan menjawab jika di tanya kapan pulang.


"Daddy, Daddy Cia juga mau beli boneka yang gede!" Cia bersuara, yang sedari tadi menghabiskan makanannya lewat suapan Ara.


Cio mengalihkan kamera ke arah Cia yang duduk di pangkuan Ara. sesekali Ara menyuapinya dan juga Cia, sesekali juga Ara menyuapi makanan ke mulutnya. Dia fokus pada makanan dan menyuapi si kembar, tidak melihat layar kamera yang di arahkan Cio kepada mereka berdua.


Rafa memperhatikan Ara. Beberapa saat kemudian dia membuang nafas kasar.


"Daddy, kemaren Cia sama kak Cio ikut lomba melukis di temani ante Ara." kata Cia kembali setelah menerima suapan dari tangan Ara.


"Anak anak daddy memang pintar dan hebat, belajar yang rajin ya?" jawab Rafa tersenyum. Matanya tak lepas dari Ara yang sibuk menyuapi kedua keponakannya dan menyuapi makanan ke mulutnya sendiri.


Raka mengambil ponsel itu dari Cio.


"Paman pinjam bentar. Ada yang pengen paman omongin sama Daddy."


Cio memasang wajah cemberut nya.


"Daddy cepat pulang ya, da da daddy" Cio memberi ciuman pada Rafa. Cia juga ikut memberikan ciuman jarak jauh.


Raka beralih tempat, agak jauh dari meja makan. Berbicara dengan Rafa, entah apa.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2