Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 195


__ADS_3

Tempat servis HP.


Ara mengaktifkan ponselnya.


"Giman Ra?" tanya Ines.


Ara memeriksa data file yang tersimpan, masih utuh tidak terhapus."Alhamdulillah _!" ucap nya kemudian.


"Syukurlah!" sambung Cindy.


Ara segera menyelesaikan administrasi dan mengucapkan terima kasih.


"Sekarang kita kemana? Sedikit lagi magrib." katanya kemudian.


"Abis magrib kita ke alun alun kota yuk." ajak Cindy


"Ngapain?" Ines


"Ada hiburan pasar malam, aku pengen masuk ke rumah setan." Cindy tertawa cekikikan.


"Ih seraam ah, aku takut sama pocong." Ines merinding.


Cindy dan Ara tertawa.


"Habis shalat kita ke sana. Di sana pasti banyak yang menjual jajanan kuliner, kita cari makanan di sana, aku lapar banget nih." ujar Ara menyentuh perutnya.


"Ya udah, ayo__!"


Ketiganya segera keluar.


Langkah Ara terhenti ketika matanya menangkap sosok yang tidak asing baginya.


Seorang wanita yang sedang menyapu teras dari tempat servis itu. Dia menatap sejenak untuk memperjelas.


Merasa di perhatikan, wanita itu menghentikan pekerjaannya dan melihat pada Ara. Dia terkejut melihat Ara. Begitu juga dengan Ara. Wanita itu menundukkan kepala pada Ara dengan ekspresi takut, lalu segera berlari kebelakang.


"Ra, ayo cepat. Lagi lihat apa sih?" panggil Ines melihat Ara berhenti di belakang mereka.


Ara segera melangkah mendekati mereka sambil melamun kan wanita itu. Wanita yang merupakan sala satu staf sekretariat di kantor suaminya.


"Halo Nona nona, apa kalian mau pulang?" seru Dion yang tiba-tiba muncul di depan mereka.


"Kak Dion di sini?" Ines dan Ara terkejut.


"Aku yang minta kak Dion jemput kita di sini. Kebetulan dia baru pulang kerja dan melewati jalan ini." ujar Cindy.


"Ayo naiklah, sudah magrib nih, kita cari mesjid dekat sini." ajak Dion memandangi mereka yang masih kaget melihat kemunculannya.


Ketiganya segera masuk dan duduk di bangku ke dua. Selesai shalat magrib mereka langsung menuju alun alun kota. Keadaan mulai tampak ramai. Banyak pedagang yang menjajakan dagangannya di lapak masing masing.


Aneka jenis makanan dan minuman, mainan anak, kolam pemancingan, aneka makanan ringan, tas, sepatu, sandal, pakaian pria wanita anak, topi, aneka buah, kembang gula dan masih banyak lagi.


Yang paling penting di sediakan dalam hiburan pasar malam ini adalah wahana permainannya. Ada bianglala, kora kora, halilintar, tong setan, rumah hantu, heli mini, kereta mini, waterball, istana balon, ombak banyu dan masih banyak lagi.


Mereka segera mengambil tempat duduk di sebuah lapak makanan.


"Makan apa Ra? Cind, Nes?" tanya Dion.


"Silahkan di pilih daftar menunya." kata pemilik lapak memberikan daftar menu.


"Aku somay sama cincau cappucino saja." kata Ara setelah memilih beberapa saat.


"Hanya itu? katanya lapar." menatap wajah Ara.


"Itu sudah cukup kak," kata Ara tersenyum.


Ines dan Cindy juga segera menyebutkan pesanannya.


Dion hanya memesan wedang jahe, lalu pamit sebentar ke sebelah karena ada telepon masuk.


"Ra, coba tengok nih__." Cindy memperlihatkan ponselnya. Berita hari ini yang masuk di sala satu akun sosmed nya.


"Ini lo kan Ra ?" Ines terkejut melihat dan membaca peluncuran produk yang di liris Ara tadi.


"Keren lo Ra, kayak artis artis papan atas yang tajir melintir itu tuh, yang punya usaha bisnis mewah. Jadi tadi tuh lo lagi melakukan peluncuran usaha bisnis lo?"


Ara mengangguk. Bisnis yang sama sekali tidak diketahuinya.


"Aku juga sebenarnya baru tahu hal itu tadi pagi. Kata kak Moly dan tante Mia, mereka sudah mempersiapkan semuanya bersama Tim R'A dari dua tahun lalu atas namaku. Sejak aku menikah dengan kak Raka, di bawah naungan dan pengawasan perusahaan kak Rafa." ujar Ara.


"Luar biasa. Hari ini Azahra R'A meluncurkan tiga produk mewahnya sekaligus. Azahra R'A beauty, Azahra gold Collection perhiasan emas dan berlian, dan Azahra soft in fragrant parfum. Untuk pertama kalinya wanita muda, cantik, cerdas dan berbakat ini menunjukkan jati dirinya ke publik." Ines membaca artikel yang tertulis dalam berita tersebut.


"Kereeeen banget lo Ra, cantik banget lagi. Terus tuh yang mendampingi kamu, kakak iparmu__ganteeng banget." ucap Ines kembali gemas dengan ekspresi takjub.


"Sumpah Ra, kakak ipar lo tampannya kebangetan, tajir lagi. Boleh gak gue titip salam sama kakak ipar lo?" sambungnya kembali tersenyum malu-malu.


Ara tertawa kecil.


"Nanti aku sampaikan."


"Yeeeess..." Ines berseru girang.


"Ra, terus kakak ipar lo sekarang kekasihnya siapa? Setelah terdengar kabar bahwa dia sudah tidak bersama dengan model seksi Levina itu. Berita di infotainment mengatakan kalau dia punya hubungan dengan sala satu artis tanah air, benar nggak Ra? lo kan dekat sama kakak ipar lo, pasti taulah...." Cindy menyela.


Ara menelan ludahnya, kelabakan dan gugup dengan pertanyaan sahabatnya ini. Tidak mungkin dia mengatakan kalau Rafa telah menikah dengan dirinya.


"I_ itu.....kakak ipar.....!" ucapnya terbata.


"Silahkan Non__" pemilik lapak datang meletakkan pesanan mereka.


"Terimakasih pak..." kata Ines.


Ara menarik nafas lega, pemilik lapak datang di saat yang tepat menyelamatkan dirinya.


Cindy dan Ines langsung menikmati makanannya.


Mereka segera menikmati makanannya.


Dion juga segera mendekat dan meneguk minumannya. Ara memperhatikan pakaian yang Dion kenakan. Kemeja dan celana kantor.


"Kak Dion baru pulang kerja ya?"


Dion mengangguk.


"Maaf ya merepotkan. Seharusnya kakak gak usah ngikutin kata Cindy buat jemput kita. Kakak pasti capek kan? seharusnya pulang dan istirahat." ujar Ara.


"Kita sudah lama gak kumpul begini, gak apa-apa, santai saja." kata Dion tersenyum.


"Benar Ra, kak Dion gak keberatan kok!" timpal Cindy. Lalu bangkit berdiri." Sebentar ya, aku mau beli kembang gula dulu." kata Cindy.


"Aku ikut, aku mau beli makanan ringan." seru Ines bangkit berdiri mengejar Cindy.


Tinggallah Dion dan Ara.


"Ra..." Dion menatap lekat wajah Ara.

__ADS_1


"Ya?" balik menatap Dion sambil memakan somaynya.


"Malam itu setelah bicara sama kita, kamu gak apa-apa kan? Cindy menelpon kamu kembali, tapi ponsel kamu gak aktif aktif. Aku merasa cemas, seperti terjadi sesuatu padamu."


"Ponsel aku mati, habis dayanya." jawab Ara tersenyum. Kembali menyuapi somay ke mulutnya.


"Enak ya?" tanya Dion melihatnya makan dengan lahap.


Ara mengangguk.


"Sala satu makanan favorit aku, enak banget di makan selagi hangat." jawabnya kemudian.


"Kakak mau mencoba?" menawarkan sambil menyodorkan somay di depan wajah Dion.


"Boleh..." Dion mengiyakan.


Ara segera mencelupkan makanan itu pada sausnya. Lalu menyuapkan pada mulut Dion, satu tangannya menampung lelehan saus kacang di bawah garpu.


Dion menatapnya sambil membuka mulut. Ara segera memasukkan makanan itu. Dion mengunyah dengan masih terus menatap wajah Ara.


"Gimana kak, enak kan?" tanya Ara seraya memperhatikan wajah Dion mengunyah dan menelan.


Dion mengangguk.


"Dan manis..." ucapnya menatap wajah Ara yang terlihat manis di matanya.


"Rasa manis itu berasal dari saus kacangnya yang di campur kecap manis." kata Ara tersenyum. Kembali memakan siomay setelah di celupkan pada saus.


"Bukan sausnya, tapi wajahmu yang sangat manis." batin Dion menatap dalam-dalam matanya.


Dia mengangkat tangan kanannya mendekat ke wajah Ara, lalu melap saus kacang yang berantakan di sekitar bibir gadis itu dengan ibu jarinya.


Ara terkejut, tapi kemudian tertawa kecil. Dan segera menyapu saus di bibir dengan lidahnya."Belepotan di bibir ku."


Dion mengangguk sambil menelan saliva. Lalu menjilati saus di jari telunjuknya.


"Maaf ya kak, belum bisa memenuhi janjiku untuk dinner bersama." kata Ara teringat janji dinner yang selalu tertunda.


Dion tersenyum."Gak apa. Ini kita lagi makan bersama. Anggap lah kita lagi dinner sekarang."


Ara tertawa kecil."Benar juga ya....?"


Dion mengangguk tersenyum. Adem rasanya melihat mata teduh dan wajah manis yang terlihat bahagia ini. Matanya berhenti melihat pada bibir Ara. Teringat kejadian di kamar apartemennya beberapa waktu lalu, saat dia mencium bibir itu. Dan Ara membalas ciumannya dalam tidur. Dion tersenyum malu mengingat kejadian indah itu. Sungguh dia sangat bahagia.


"Kakak mau lagi?" kata Ara melihat Dion menatapnya. Mungkin saja Dion masih mau somay.


"Boleh __!" kata Dion. Meski sejujurnya dia tidak begitu suka somay. Karena disuapi Ara membuatnya menyukai makanan ini dan di rasakan enak.


Ara kembali menyuapinya. Lalu menyuapi ke mulutnya, begitu seterusnya. Sesekali Dion menyuapi meski Ara menolak. Dan ini membuat Dion sangat senang dan bahagia. Makan sepiring berdua, sendok yang sama dengan wanita yang di cintai. Baginya ini merupakan dinner yang sangat romantis.


Ines dan Cindy muncul sambil membawa berbagai cemilan di tangan mereka.


"Kak, Ra__kita naik bianglala yuk, aku udah beli karcisnya buat kita berempat" ujar Cindy.


"Tapi aku takut ketinggian." kata Ara.


"Gak terlalu tinggi kok Ra, kamu naik sama kak Dion saja. Nanti kan Dion yang pegangin kamu kalau kamu takut." sahut Ines.


"Ayo Ra__!" Dion segera menarik tangannya.


Mau tak mau Ara mengikuti ajakan mereka.


Mereka segera menuju tempat wahana itu. Ara ragu dan takut. Tapi Dion menenangkannya. Sebuah kincir angin raksasa. Tiap kabin memiliki dua tempat duduk yang saling berhadapan. Dengan naik wahana raksasa ini dapat melihat pemandangan dari atas bianglala.


Mereka segera naik, tidak lama wahana raksasa ini mulai berputar. Ara terpukau melihat pemandangan malam yang indah dari atas bianglala .


Mata Dion mengikuti jari telunjuknya,


"Yahhh..memang indah, tapi senyuman manis mu itu lebih indah." kata Dion menatapnya.


Ara tertawa kecil."Kakak bisa aja__!"


"Ara...!" panggil Dion pelan.


Hmmm?


"Selamat atas peluncuran untuk koleksi bisnis mu! kamu sangat luar biasa."


"Kakak tahu hal itu?"


"Semua orang juga pasti sudah tau, karena sudah masuk berita dan muncul di beberapa stasiun TV."


Hah? Ara kaget."Benarkah?" mata bulat. Tidak percaya membayangkan dirinya masuk tv. Bahkan dalam mimpi pun dia tidak berpikir bisa masuk tv.


Dion mengangguk. Matanya menangkap cincin cincin di jari manis Ara. Perlahan dia menyentuh kedua benda itu.


Ara kaget dan menarik tangannya. Jujur dia agak tidak nyaman berdua dengan Dion di wahana ini.


"Kak, apa pacar kakak nggak marah kalau tahu kakak selalu jalan sama kami?"


Dion tersenyum, lalu menggeleng.


"Kakak sudah izin gak sama dia?" tanya Ara lagi.


Dion menatapnya dalam dalam."Aku tidak punya pacar." katanya perlahan.


Dahi Ara mengerut"Masa sih? Kakak pasti bohong?" tidak percaya.


Dion ikut tersenyum.


"Benar, aku gak bohong. Tapi aku punya seseorang yang spesial, seseorang yang sangat aku cintai, seseorang yang berharga di hatiku. Aku sudah lama menyukainya, mengaguminya, menyimpan dia dengan indah di hatiku."


"Kenapa kakak nggak ungkapin saja perasaan kakak ke dia? Jangan kelamaan, nanti keburu oleh yang lain," kata Ara di selingi tawa kecil.


Dion tersenyum kecil.


"Aku memang ingin sekali menyatakan perasaanku padanya, tapi aku khawatir, bagaimana setelah aku katakan malah akan membuatnya tidak nyaman dan menjauhiku?" menatap pupil mata Ara lekat.


"Maksud kakak jika dia menolak?"


"Yahh, aku takut dia menjauh dariku dan menghilang dari aku selama lamanya. Sementara aku tidak mampu jauh darinya." kata Dion tak bersemangat.


Ara menghela nafas. Dia melihat kekhawatiran di mata Dion.


Tangan Dion tiba tiba terulur ke wajah Ara, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi mata Ara karena permainkan angin malam.


Ara jadi salah tingkah, dia segera mengalihkan pandangannya dari wajah Dion.


"Menurut mu bagaimana, kamu sebagai perempuan. Apa setelah menolak, mereka akan menjauh si pria?" tanya Dion untuk menghilangkan kecanggungan Ara.


Ara kembali menatap pada Dion.


"Setiap orang punya cara pandang dan cara pikir yang berbeda. Lebih baik kakak coba saja dulu, asal orangnya belum ada yang punya." Ara tersenyum mengernyitkan dahinya.


Dion terkekeh.

__ADS_1


"Dulu dia memang milik berharga dari seseorang, tapi sekarang dia sudah sendiri," menatap mata Ara.


"Udah pisah sama kekasihnya?"


Dion mengangguk.


Ara sedikit terkejut. Dia mendekatkan wajahnya di depan Dion hingga jarak mereka tinggal setengah jengkal.


Jantung Dion berdebar kencang. Dia dapat merasakan hembusan nafas Ara menerpa di wajahnya.


"Apa kakak penyebab mereka berpisah?" bisik Ara bertanya, sambil tersenyum menatap curiga.


Dion melongo mendengar pertanyaannya, tapi kemudian tertawa kecil. Ara jadi ikut ikutan tertawa sambil menarik mundur wajahnya.


"Kamu ini, bikin jantung aku mau copot!


Ya nggaklah Ra, mana mungkin aku mengganggu milik orang lain." mencubit hidung Ara.


"Hanya bercanda kak, maaf ya." meletakkan kedua tangan di depan dada.


"Mereka di pisahkan oleh kematian, Allah telah memanggil orang yang sangat di cintainya." kata Dion kemudian.


Tawa Ara langsung terhenti.


"Ke- kematian?" ulangnya pelan. Raut wajahnya langsung berubah sedih. Dia langsung teringat pada suaminya yang telah pergi meninggalkannya karena takdir kematian.


Dion jadi serba salah melihat perubahan wajahnya. Seharusnya dia tidak berkata seperti yang membuat Ara sedih karena teringat suaminya.


"Ara...." Dion menangkup wajah Ara.


Menyelipkan rambut Ara di telinganya. Dion mendengar dadanya bergemuruh karena menahan tangis.


"Ara, kamu baik baik saja?"


Ara meletakkan kedua tangannya di atas tangan Dion yang berada di pipinya. Dia menormalkan emosinya, mengatur pernafasannya turun naik berulangkali sambil memejamkan mata.


"Aku baik kak." ucapnya kemudian setelah membuka mata. Dia berusaha tersenyum sambil melepaskan tangan Dion dari wajahnya


"Kalau gitu ungkapin aja perasaan kakak, nanti keburu sama orang lain. Siap tau dia menerima kakak! Cantik nggak orangnya?" lanjutnya lagi.


"Bagiku dia seperti bidadari dari surga. Cantiknya natural, sangat alami, dia juga manis dan lembut. Bagiku dia wanita yang perfect dalam semua hal. Aku sangat menginginkan dia menjadi milikku, wanitaku, istriku, ibu dari anak-anakku." memperhatikan bagian bagian wajah Ara dengan lekat.


"Kakak harus cepat cepat, jangan kelamaan, nanti aku Ines dan Cindy dukung kakak." Ara tersenyum.


Dion jadi ikutan tersenyum tanpa berkedip menatapnya."Wanita itu adalah kamu Ra." kata Dion tapi hanya di tenggorokan. Dia terlalu takut untuk jujur, takut Ara kecewa dan meninggalkannya.


"Aku akan cari waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan ku padanya." kata Dion."Kalau kamu sendiri bagaimana? Apa ada yang marah kamu jalan sama pria, seperti sekarang ini lagi sama aku! Apa kamu punya kekasih?" tanya Dion pura pura tidak mengetahui status Ara yang kini seorang janda.


Ara menatap Dion.


"Bukan lagi kekasih, tapi suami. Aku sudah menikah." katanya tersenyum.


Dion menyentuh kedua cincin di jari manis Ara.


"Apa ke dua cincin ini dari suamimu?"


"Iya, keduanya Cincin pernikahan ku!" jawab Ara melihat cincin di jarinya.


"Aku tahu kamu menantu dari keluarga Artawijaya, istri almarhum Raka Rahardian. Meski Raka telah meninggal, kamu masih memakai cincin ini." batin Dion.


Wahana berhenti."Kak wahana berhenti."


"Ayo kita turun." Dion turun terlebih dahulu, setelah itu dia membantu Ara turun.


"Ra lihat_$ aku mengambil beberapa gambar foto kita berempat, aku mengambil gambar kalian dari tempat kami." Cindy memperlihatkan foto foto mereka berempat, foto dia dan Ines, juga foto Ara dan Dion.


"Nanti ku kirimkan pada kalian."


"Kirimkan sama kakak juga Cind." ujar Dion.


"Baik kak." Cindy segera mengirimkan pada mereka bertiga. Dia juga mengunggahnya di sala satu akun media sosialnya.


"Kita pulang yuuk, udah mau masuk isya." ajak Ara.


Teleponnya berdering, dia meraih ponsel nya dari tas.


"Siapa Ra?" tanya Dion, dia melihat tulisan nama Wisnu dengan ekor matanya.


"Sekertaris kakak ipar ku, sebentar ya?" jawab Ara. Lalu menjauh sedikit. Dia segera mengangkat telepon.


"Assalamualaikum sekretaris Wisnu."


"Waalaikumsalam, kau di mana? Kenapa belum pulang." suara Rafa, datar. Dia mendapat informasi dari pak Sam kalau Ara belum pulang ke rumah.


"Aku di alun kota kota, sama teman-teman ku. Kami sedang menikmati hiburan pasar malam dan wahana permainan. Sekarang kami sudah mau pulang, apa kakak sudah di rumah?" tanya Ara. Dia sedikit takut mendengar suara Rafa.


"Kau tunggu di sana, aku akan menjemputmu." telepon di matikan. Ara menelan ludahnya, diam terpaku menatap ponselnya.


Dion memperhatikan dirinya.


Ara segera menyimpan kembali ponselnya.


Saat berbalik tidak sengaja dia menabrak tubuh seorang pria yang tidak di ketahui ada di belakangnya. Ara terkejut.


Begitu juga pria itu, benda yang dipegangnya jatuh melayang dan terbang.


"Maaf pak, saya tidak sengaja." kata Ara kelabakan dan gugup.


Lelaki itu marah, dan tidak terima.


"Kalau jalan pakai mata, bukan dengkul." sentaknya kasar. Dia menunduk mencari cari sesuatu di bawah.


"I_iya pak, lain kali saya akan hati hati, maaf." ucap Ara Kembali.


Dion Cindy dan Ines segera mendekat.


"Ada apa Ra?"


Ara menceritakan kejadiannya.


Lelaki itu menatap kasar pada Ara. Karena benda yang di carinya tidak di temukan.


"Kau menghilangkan ponselku, ponselku jatuh dan aku tidak bisa menemukannya." katanya kasar dan keras, mengundang perhatian beberapa orang lelaki, mereka mendekat dan berkerumun.


Ara terkejut. Dia segera mencari ponsel pria itu. Dion Ines dan Cindy ikut mencari.


Mereka mencari ke sana kemari.


"Berapa nomor telepon anda, nanti aku akan menghubunginya." kata Dion karena tak kunjung mendapatkan benda itu.


"Aku tidak menghafalnya." kata pria itu. "Pokoknya aku ingin ponselku kembali." katanya kembali.


10 menit berlalu mereka tak kunjung mendapatkan benda itu, sementara orang orang semakin banyak mengerumuni mereka.


Ingin tahu keributan apa yang terjadi.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2