
Amerika.
"Halo kak Nesa." sapa Levina begitu melihat sosok wanita cantik, postur tinggi memakai gaun MIDI tanpa lengan dengan garis leher tinggi, berwarna dasar putih, motif rantai emas tercetak di atasnya. Gaunnya beraksen korset memamerkan pinggangnya yang ramping.
Tas Hermes Kelly berwarna putih di tangannya dengan detail coklat dan emas di tangannya yang memiliki harga fantastis yakni 13 ribu poundsterling atau setara dengan Rp 246 juta.
Wanita itu juga memakai sepatu hak tinggi, dan berkaca mata hitam yang harganya pun tak kalah fantastis.
Memang sungguh luar biasa gaya style seorang Nesa Saputri Artawijaya, kakak dari Rafa Ravendro Artawijaya salah satu pemilik perusahaan industri terbesar di Asia. Sekali stylenya bisa mencapai Rp 500 juta.
Nesa baru saja mendarat di negeri paman Sam setelah seharian penuh berada di pesawat. Datang secara mendadak ke negara ini karena permintaan Levina.
Levina memohon kepadanya untuk datang dengan iming-iming untuk di perkenalkan kepada designer terkenal Amerika idolanya, yaitu Mr X.
Tentu bukan tanpa ada maunya jika Levina bersedia akan mempertemukan ia dengan designer idolanya itu, sudah pasti ada yang di minta Levina kepadanya.
Untuk membuat janji dengan Mr.x sangat sulit, karena ia orang yg sibuk dan tidak menetap di satu tempat. Kebetulan malam ini Mr X akan mengadakan fashion show untuk memperagakan, memperkenalkan dan mempromosikan karya karyanya ke kancah internasional. Levina mendapat bocoran keberadaan Mr X di Amerika dari teman seprofesinya yang akan menjadi model dalam acara tersebut. Levina akan mempertemukan dia dengan designer ternama itu. Dan sebagai balasannya, dia harus bisa mempertemukan Levina dengan Rafa.
"Ayo jalan." kata Nesa begitu ia masuk ke dalam mobil Levina.
Mereka menuju Kantor cabang perusahaan Rafa yang ada di negeri paman Sam ini.
Sudah berkali-kali Levina datang ke kantor itu, tapi selalu di halangi oleh satpam. Kadang dia juga datang tapi Rafa tidak berada di tempat. Levina geram dan emosi, karena Rafa terus menghindarinya dengan seribu cara. Hingga akhirnya dia meminta bantuan Nesa.
Sejam kemudian.
__ADS_1
Rafa memasuki kantornya, di ikuti Wisnu. Rafa baru selesai mengikuti pertemuan dengan para rekan bisnisnya di sala satu lounge di kota itu. Sebenarnya Rafa ingin pulang ke Apartemen, tapi Wisnu mengatakan kalau Nesa sedang berada di kantornya dan menunggunya.
Rafa kaget mengetahui kakaknya ada di negara ini. Wisnu pun demikian, filing nya merasakan ada sesuatu yang tidak baik.
"Halo Rafa." sapa Nesa tersenyum saat melihat wajah tampan adiknya melangkah menuju ruangannya. Nesa sengaja menunggu Rafa di depan pintu.
"Kau sepertinya hidup sangat nyaman di sini, sehingga tidak pernah pulang ke Indonesia." kata Nesa kembali seraya melebarkan ke dua tangannya untuk memeluk adiknya ini.
Rafa menyambut pelukan kakaknya dengan sikap dingin.
"Adikku sayang, kau semakin tampan saja. Aku sangat merindukanmu." kata Nesa menepuk punggungnya pelan. Lalu dia mengecup kening adiknya ini.
Rafa tersenyum sinis."Benarkah? Apa kakak datang kemari hanya untuk mengatakan itu?" Rafa tahu itu hanya pura pura saja.
Rafa melepaskan pelukannya, lalu menatap tajam pada kakaknya."Kau bahkan tidak perduli dengan anak anakmu, bagaimana bisa kau mengatakan perduli padaku?"
Nesa tercengang, dia menelan ludahnya. Kemudian segera menguasai diri dengan memasang senyum paksa.
Wisnu segera membukakan pintu untuk tuannya. Rafa segera masuk. Dia terkejut melihat Levina ada di ruangannya. Sekarang dia faham kenapa kakaknya ada di negara ini.
Wisnu juga kaget setelah melihat Levina di ruang ini. Sepertinya dia melewatkan sesuatu lagi. Rafa menatapnya, meminta penjelasan dari keberadaan Levina bisa berada di ruangannya. Wisnu hanya bisa menunduk merasa bersalah karena lalai. Dia akan segera mencari tahu kenapa wanita ini bisa masuk ke kantor tuannya.
"Sayang." Levina langsung memeluk lengan Rafa, tapi Rafa menepisnya.
Levina mendesis kesal. Tapi segera memasang senyum.
__ADS_1
"Kau pasti bertanya kenapa aku bisa masuk dan berada di ruangan mu?"
Rafa hanya menatap kesal.
"Sayang, kenapa kau seperti ini?" Levina sungguh tidak percaya dengan sikap Rafa yang menolak pelukannya.
Nesa yang melihat gelagat tidak baik dari keduanya langsung meraih tasnya. Sepertinya ada masalah di antara pasangan ini. Pantas saja Levina memaksanya datang ke negara ini meminta bantuannya.
"Oya aku pergi dulu, aku ada janji dengan temanku! Levina, nanti telepon aku ya, jangan lupa bisnis kita!" katanya kemudian.
"Sebaiknya kau segera kembali, anak anakmu membutuhkanmu." kata Rafa.
"Wisnu pesankan tiket pesawat untuk kak Nesa." menoleh pada Wisnu.
"Kembali?" Nesa tercengang."Aku tidak mau. Aku jauh jauh datang ke sini untuk bertemu dengan orang yang sangat penting. Rugi sekali jika aku pulang sekarang. Soal Cio Cia, ada pelayan bersama mereka. Ada juga si Ara mengurus mereka dengan baik. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan, oke?"
"Aku pergi dulu, senang bertemu denganmu
adikku." ucap Nesa kembali dengan senyum yang di buat buat. Dia mengecup pipi kanan Rafa, lalu cepat keluar dari ruangan itu sebelum menjadi sasaran amarah Rafa. Karena dia tahu mood Rafa saat ini sedang tidak baik karena adanya Levina.
Rafa menatap kepergian kakak perempuannya itu dengan kesal.
Bersambung.
Jangan lupa like, hadiah, vote, rate bintang lima π
__ADS_1