
Pertarungan terjadi di pintu gerbang
kediaman Tania.
Rafa, Wisnu dan anggota topeng hitam masuk menerobos menyerang membabi-buta orang orang Tania yang merupakan anak buah king kobra. Mereka membabat tanpa ampun musuh yang melakukan perlawanan.
Bunyi letusan senjata api dan senjata tajam beradu memecah keheningan malam.
Tubuh berserakan di setiap tempat, di setiap sudut ruangan bermandikan darah di selingi jeritan kesakitan menyayat hati.
Rafa dan Wisnu segera menaiki tangga menuju lantai tiga di mana menjadi tempat Tania dan orang orang profesionalnya bersarang.
Juga menjadi tempat Ara dan Ines di sekap.
Sedangkan Cindy sudah di ambil oleh Bela untuk mengancam Dion. Tubuh Cindy di sekap di lantai empat.
Sementara Dion yang baru saja datang terkejut melihat pertarungan yang sementara berlangsung.
Dia langsung menerobos masuk setelah mendapat kode dari anak buah Rafa kalau mereka ada di pihak yang sama. Seseorang yang merupakan anak buah Rafa melemparkan benda tajam kepadanya dan langsung di tangkap.
Dion langsung mengayunkan benda tersebut ke arah musuh yang menyerangnya tiba-tiba dari arah belakang. Lalu dia segera naik tangga menuju ke lantai empat seperti perintah Bela.
Untuk naik ke lantai selanjutnya tidaklah mudah, karena banyak anggota king kobra yang menyerang menghalanginya.
Untung saja dia di bantu oleh anak buah Rafa dan Wisnu yang belum di ketahui nya.
Hal itu menjadi pertanyaan di hatinya, siapa orang orang berpakaian hitam yang membantu dirinya ini? Dia tak melihat Wisnu dan Rafa. Di mana kedua Pria tersebut? Sewaktu di jalan Wisnu memberi pesan padanya untuk datang ke alamat ini. Mereka juga sementara dalam perjalanan menuju ke sini. Tapi di mana mereka?
Dion kembali naik begitu ada celah sambil terus mengayunkan pedangnya melawan dan melindungi diri. Matanya kelayapan mencari Cindy.
Sementara Rafa dan Wisnu telah sampai di lantai tiga. Mereka langsung di sambut oleh Tania yang tampak duduk di kursi kebesarannya dengan sebatang rokok di jari kanannya. Wanita ini pecandu berat barang yang sangat merusak kesehatan ini.
Dia di dampingi oleh anak buahnya yang berdiri di samping kiri kanan dan belakangnya.
Rafa dan Wisnu menatap dengan wajah mengernyit. Jadi wanita ini dalang dari penculikan istri mereka.
"Selamat datang tuan Rafa Ravendro Artawijaya. Suatu kehormatan bagiku di kunjungi oleh sala satu konglomerat dan penguasa dunia seperti dirimu." kata Tania tersenyum manis.
"Selamat datang di kediaman ku Ketua geng Mafia Topeng Hitam." ucapnya kembali masih dengan senyum mengembang di bibirnya. Dia langsung mengenali kedua Pria itu karena keduanya tidak memakai pakaian hitam kebesaran Geng mereka.
Tania menyesap benda yang mengandung zat nikotin itu dan meniupkan asapnya pada Rafa dan Wisnu yang berdiri 7 meter di depannya.
"Ada apa gerangan sang penguasa mengunjungi gubukku ini?" merendahkan diri.
Rafa mendengus geram mendengar kata kata penyambutan itu.
"Katakan di mana istriku?" sentaknya keras.
Tania tertawa kecil.
"Istrimu? jadi sala satu di antara wanita itu adalah istrimu?"
"Wanita rendah. Cepat katakan di mana ketiga wanita itu?" Sentak Wisnu. Dia menodongkan senjata tajamnya ke arah Tania.
"Owhhh....aku tahu...sala seorang di antara mereka adalah istrimu juga sekertaris Wisnu! Aku baru tahu kalau kau sudah mengakhiri masa duda mu beberapa hari yang lalu! Aku ucapkan selamat atas pernikahan mu!" kata Tania tertawa kecil.
"Jangan banyak omong, cepat katakan di mana istriku?" sentak Rafa keras kembali. Dia langsung maju hendak menyerang Tania. Tapi segera di halangi anak buah Tania yang melindungi Tania.
Tania tertawa kecil.
"Aku sudah membuang wanita berharga kalian itu ke jalanan, sama seperti yang kalian lakukan padaku dulu Ravendro." katanya dengan tatapan menyeringai.
"Beraninya kau menyakiti istriku?" teriak Rafa penuh amarah.
"Sudah sepantasnya kau mendapatkan balasan dari perbuatan hinamu itu Tania. Kenapa kau menyakiti orang lain yang tidak bersalah? Sedikit saja kau menyakiti mereka, akan ku buat hidupmu merasakan hidup di neraka!" timpal Wisnu keras menahan kemarahan. Dia juga sangat cemas dengan Istrinya.... Ines.
Tania tertawa keras melihat kecemasan dan kepanikan di wajah kedua pria ini.
"Mereka pantas mendapatkannya, sama seperti yang telah kalian lakukan dulu padaku! Sangat sulit menyentuh kalian, maka mereka yang menggantikan kalian. Dan sebentar lagi, tubuh polos istri kalian akan menjadi tontonan publik! hahaha.....!"
Dia mengeluarkan ponsel yang di gunakan merekam tubuh polos Ara Ines dan Cindy.
"Lihatlah baik baik ini Ravendro..... lihatlah tubuh polos istrimu!" memperlihatkan tubuh Ara yang tampak di telanjanginya.
Wisnu segera memalingkan wajahnya ke samping menghindari rekaman video tersebut.
"Pantas saja kau tidak tertarik dengan wanita lain, karena begitu cantiknya istrimu. Sebagai sesama wanita aku mengakui keindahan tubuhnya dan kecantikan parasnya. Bagaimana jika tubuh indahnya ini menjadi konsumsi publik tuan Ravendro? hahaha....!" kata Tania kembali.
Rafa mendengus geram dengan tatapan semakin menyorot tajam menyala memancarkan api kemarahan.
Melihat perlawanan Ara yang berusaha melawan Tania yang menelanjanginya seraya memanggil namanya meminta tolong.
Hatinya kesakitan melihat keadaan Istrinya yang tak berdaya melawan.
"Sayang.....! maafkan aku." ucapnya lirih, sedih. Merasa gagal menjaga dan melindungi istrinya.
Rafa bergerak maju hendak merebut ponselnya, tapi dengan gerakan cepat anak buah Tania menghalau sambil menodongkan senjata ke arahnya.
Tania kembali tertawa.
"Ketiga tubuh polos wanita itu tidak lama lagi akan menghiasi media sosial dan membangkitkan gairah para pria hidung belang yang melihatnya! Kalau kalian tidak ingin hal itu terjadi, aku ingin melakukan penawaran dengan sebuah kesepakatan tuan Ravendro!"
"Cih....aku tidak tertarik dengan penawaran mu. Aku tidak perlu itu untuk mendapatkan istriku kembali. Tidak akan ada kesepakatan dengan wanita rendah menjijikkan seperti dirimu! terimalah pembalasan ku wanita ja*Lang!" maki Rafa sinis.
Dengan gerakan cepat dia mengeluarkan senjata rahasia beracun dan langsung di lemparkan pada Tania dan juga anak buahnya yang memegang senjata api.
Sama halnya juga dengan Wisnu. Melakukan hal yang di lakukan oleh tuannya. Keduanya bergerak sangat cepat sehingga anak buah Tania tidak dapat berkelit, dan terlambat menarik pelatuk.
Terdengar pekikkan di selingi robohnya beberapa tubuh yang membiru. Tersisa anak buah Tania yang tinggal memegang senjata tajam.
Tania terkejut melihat hal itu.
Dia sendiri hampir terkena senjata rahasia itu jika tidak cepat menghindar, berpaling. Terlambat sedikit saja, leher jenjangnya pasti kena.
Senjata itu mengikis antingnya hingga terputus dan jatuh ke lantai.
Dia langsung menyingkir dengan cepat di dilindungi oleh anak buahnya.
Anak buahnya yang lain segera menyerang Wisnu dan Rafa. Pertarungan kembali terjadi.
Wisnu kembali melemparkan senjata rahasia ke beberapa musuh yang mengacungkan pistol pada mereka. Dia memberi kode pada anak buahnya yang profesional untuk terus berada di dekat tuannya dan melindungi.
Rafa menyerang membabi-buta, tanpa ampun dan belas kasihan seraya mengejar Tania yang berusaha keluar dari ruangan itu.
Terdengar pekikkan dan jeritan entah dari pihak musuh.
Rafa dan Wisnu terus menyerang hingga membuat Tania dan anak buahnya kewalahan.
Ular ular tampak merayap rayap menyerang geng topeng hitam seakan mengerti di komando.
Anak buah Wisnu menembak dan melempar senjata rahasia ke kepala mereka hingga binatang bintang melata itu mati terkapar.
"Berhenti Rafa jika ingin istri kalian selamat!" teriak Tania keras. Karena kewalahan.
Anak buahnya sudah banyak yang mati.
Yang lainnya memilih menyerah karena mereka tidak punya urusan masalah dengan geng topeng hitam dan hanya terpaksa mengikuti perintah Tania.
Rafa malah semakin beringas dan kejam menyerang dirinya.
Tania menuju ruangan penyekapan Ara dan Ines. Menggunakan kedua wanita itu untuk melindungi diri dan mengancam Rafa dan Wisnu.
Langkah Rafa dan Wisnu terhenti mendadak setelah melihat tubuh istri mereka terikat tak berdaya. Beberapa meter dari mereka terdapat sebuah kurungan besi berjala berisi seekor ular kobra ukuran besar yang terlihat kelaparan siap memangsa.
"Sayang....!"
"Ines...!"
Panggil mereka bersamaan melihat istri mereka.
__ADS_1
Ara yang mendengar suara yang sangat di kenalnya langsung memalingkan wajah. Dia sangat senang melihat suaminya.
"Kakak.... tolong aku.....aku takut kak!" katanya di sela tangisan ketakutannya. Sudah dua kali dia pingsan karena ketakutan melihat binatang itu. Sadar lagi...pingsan lagi.
"Sayang.....!" ucap Rafa sedih melihat ketakutan istrinya. Dia yang sangat tahu istrinya itu phobia pada ular, kecoak dan tikus.
Terlihat wajah pucat pasi istrinya dengan tubuh gemetaran.
Sedangkan Ines masih pingsan saat menyelamatkan Ara tadi. Tubuhnya terikat, terkapar di lantai.
Saat Tania hendak menyuntikkan zat berbahaya pada perut Ara, dia menggigit tangan anak buah Tania, lalu bergerak cepat berdiri berlari pada Tania dan langsung mendorong tubuh Tania kuat, hingga jarum suntik itu lepas dari tangan Tania dan menggelinding ke bawah.
Tania geram lalu memukulnya seperti orang yang kesetanan hingga pingsan.
"Buka kurungan nya, dan tutup ruangan ini! Biarkan mereka menjadi santapan malam binatang itu!" teriak Tania keras memberi perintah. Lalu berlari ke arah ruang rahasia di ikuti dua anak buahnya. Mereka mengunci diri di sana
Pinta kurungan tiba tiba terbuka otomatis.
"Kakak....!" Ara semakin menjerit keras ketakutan melihat king kobra merayap perlahan keluar dari sarangnya.
Rafa berlari cepat mendekat kepadanya.
Wisnu juga mengikuti dari belakang dan mendekati istrinya. Dia segera melepaskan ikatan ditangan Ines. Lalu memeriksa keadaan Istrinya sejenak.
"Buat formasi....lindungi tuan dan nona muda!" teriaknya keras pada anak buahnya.
Anak buahnya bergerak cepat mengikuti perintah. Membuat formasi untuk melawan ular besar yang panjangnya hampir mencapai enam meter dengan berat 30 kg.
Wisnu segera menyingkirkan Ines jauh dari ular itu. Dia memberi kode pada beberapa anak buahnya untuk menjaga Ines yang pingsan. Karena dia sendiri akan maju menghadapi ular ganas berbisa ini.
"Sayang..... jangan bersuara, diamlah..... tutup matamu, jangan melihat ke arahnya. Cepat tutup matamu. Tidak akan terjadi apa apa padamu, percayalah padaku! aku ada di sini untuk melindungi mu!" kata Rafa memeluk istrinya yang ketakutan. Ara memeluk kuat tubuh Rafa dengan tangan gemetar. Dia menutup mata dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Rafa segera mengangkat tubuhnya menjauh dari pertempuran yang sementara berlangsung antara anak buahnya yang di pimpin Wisnu melawan ular tersebut.
Dia merobek sedikit gaun Ara, di tutup kan pada mata dan di ikat.
"Jangan di lepas, biarkan kain ini terus menutup mata mu. Kau jangan takut, binatang itu tidak akan mendekati mu. Aku akan menjagamu! kau dengar itu sayang?"
Ara mengangguk cepat.
Rafa membawa tubuh istrinya dan di letakkan di dekat tubuh Ines yang terduduk pingsan.
"Diam, dan tenanglah di sini! Ines ada di dekatmu. Dia pingsan! Kalian jangan berisik dan bersuara!" kata Rafa kembali seraya membawa tangan istrinya menyentuh Ines.
Ara segera memegang kedua tangan Ines.
"Kak, Cindy di mana?"
"Dia sedang bersama suaminya, kau jangan khawatir!" kata Rafa berbohong. Untuk tidak membuat istrinya cemas.
Lalu bersama Wisnu mendorong kuat kurungan ular tadi ke arah Ara dan Ines. Mereka memasukkan tubuh istri mereka ke dalam benda tersebut dan menutupnya rapat agar kedua wanita itu aman dari incaran sang ular. Setelah itu mereka segera bergabung melakukan penyerangan bersama anak buahnya.
Dion yang baru sampai di lantai tiga kembali di buat terkejut melihat tubuh bergelimpangan di sana sini. Matanya menyapu sekeliling nya mencari keberadaan Cindy dan lainnya. Tapi tak ada. Telinganya menangkap suara gaduh pertempuran. Dia mencari arah suara itu.
Dia terkejut melihat pertarungan yang sedang terjadi.
Segera naik ke lantai empat begitu mendapat pesan dari Bela.
Dari atas dia kembali melihat pertarungan Wisnu dan Rafa melawan ular tersebut.
Dia juga melihat Ara dan Ines.
Di mana Cindy? Itu artinya Bela menyekapnya secara terpisah.
Dia mengumpat wanita itu.
Dari bawah mata Rafa melihat keberadaan dirinya di atas. Entah isyarat apa yang di berikan Rafa yang langsung di balas anggukan oleh Dion.
Dion kembali melanjutkan langkah mengikuti petunjuk Bela. Hingga sampailah di sebuah ruang kamar yang agak gelap.
Dia menyapu kan pandangan pada ruangan itu.
Tiba tiba ruangan berubah terang ketika seseorang menyalakan lampu.
Dion kembali kaget. Melihat Bela hanya memakai lingerie transparan, sedang berbaring gemulai di tempat tidur dengan lekukan tubuhnya yang sengaja di perlihatkan untuk menjerat dirinya.
Dion malah jijik dan ingin muntah melihatnya.
"****** rendah, di mana istriku?" sentaknya menahan kemarahan.
Bela mendengus kesal, bukannya terpancing, Dion malah meneriakinya. Bela segera bangun dan turun dari ranjang.
"Hey....kau baru saja datang sayang. Kau pasti capek bukan? ayo duduklah....minum dulu." menuangkan anggur ke dalam gelas. Lalu di serahkan pada Dion.
Alih- alih menerimanya, Dion malah menepis kasar tangannya hingga gelas jatuh dan pecah.
Lalu dengan gerakan cepat dia mencengkram lengan Bela dengan kuat dan memutar ke belakang.
"Aauww...sakit....lepas!" jerit Bela kesakitan.
"Di mana istriku? cepat beri tahu atau tanganmu ku patahkan!" bentak Dion kembali.
"Lepas....!! kenapa kau selalu kasar kepadaku sayang!" ucap Bela manja.
"Jangan banyak omong, katakan di mana istriku?" Dion memutar kembali tangannya hingga terdengar tulang patah.
Bela kembali menjerit.
Dia meminta Dion berhenti.
Di antara kesakitannya, Bela menunjuk sebuah layar kecil.
Dion mengikuti gerakan telunjuknya.
Dia terkejut melihat Cindy dalam layar CCTV itu. Cindy terikat sambil menangis memanggil manggil namanya dan meminta tolong.
Pakaian yang berantakan dan terkoyak sana sini, membuat sebagian tubuhnya terlihat.
"Cindy....!" ucapnya seraya melepaskan tangan Bela dan mendekati layar tersebut.
Dia meraba raba Cindy dalam layar tersebut.
Tubuh kurus istrinya begitu memprihatinkan dan tersiksa. Dion mengeluh sedih dengan mata berkaca-kaca.
"Kak Dion..... tolong aku....tolong anak kita kak, kakak.....!" rintih Cindy terdengar memilukan di telinganya.
Semakin menambah kesedihan dan kemurkaannya.
"Apa yang kau lakukan pada istriku." teriaknya keras. Dia berbalik dan mencekik leher Bela yang sedang tersenyum mengejeknya.
Bela kesulitan bernapas. Sambil memukul-mukul lengannya.
"Di mana istriku? atau aku akan membunuhmu!" teriaknya geram.
"Lakukan saja. Aku tahu kau tidak akan bisa melakukannya karena kau butuh istrimu dalam keadaan baik. Dan hanya aku yang bisa memberi tahu di mana wanita bodoh itu berada." kata Bela tertawa kecil.
"Wanita iblis.... cepat katakan di mana kau sembunyikan istriku?" Dion menatapnya seram.
"Kau pikir semudah itu mendapatkan istri bodohmu itu?" kata Bela tertawa mengejek.
"Sebentar lagi istrimu itu akan menjadi santapan binatang berbisa Dionel Alkas!" katanya sinis.
Bela kembali menunjuk layar monitor di ikuti mata Dion.
Terlihat Cindy tergeletak di dekat sebuah kandang yang berisi ular kobra berbisa. Cindy berteriak teriak ketakutan melihat binatang melata itu. Istrinya itu memanggil manggil namanya meminta tolong.
"Iblis kau Bela!" teriaknya keras.
Dia semakin mencekik kuat leher Bela hingga wanita itu semakin kesulitan bernapas.
Bela tertawa keras di sela sesak nafasnya.
__ADS_1
"Cukup satu perintah dariku makan ular ular itu akan keluar dari sarangnya dan melahap istri dan anakmu! Kecuali.... kalau kau mau memenuhi keinginan ku. Maka istrimu akan baik baik saja Dionel Alkas!" katanya tersenyum menatap genit. Dia menyentuh dada kekar Dion lembut dengan telunjuknya.
Dion menepis kasar tangannya.
"Menjijikkan..... kau memakai cara rendah untuk memenuhi nafsumu! kau memang wanita menjijikkan tak punya urat malu." umpat Dion.
Bela kembali tertawa.
Dia balik menepis kuat tangan Dion di lehernya.
"Semua karena tubuh kekarmu yang membuat ku bergairah sayang!"
"Tapi aku tidak akan memaksa. Terserah dirimu! Keselamatan istri dan anakmu ada pada dirimu!" menatap tajam menyeringai.
"Lihatlah ini Dionel Alkas... lihat apa yang akan terjadi pada istrimu." Dia menepuk tangannya tiga kali seraya melihat ke arah cermin.
Perlahan kurungan kandang ular itu terbuka.
Cindy berteriak teriak ketakutan melihat seekor ular cobra keluar merayap ke arahnya. Cindy menangis nangis histeris dan mundur dengan tangannya yang terikat.
"Hentikan Bela.... hentikan!" teriak Dion keras, panik dan ketakutan melihat Cindy.
Tawa Bela kembali pecah melihat kepanikannya. Dia tertawa sangat senang.
"Cepat berikan keputusan mu Dionel Alkas, sebelum ular itu mematuk dan menyebar kan bisa beracun yang akan membunuh wanita bodoh itu serta anak anakmu!"
"Laknat, berhenti Bela...aku akan menuruti keinginan mu, cepat....jauhkan binatang itu dari istriku!" teriak Dion keras tak tega melihat ketakutan istrinya.
Ular itu semakin dekat dengan Cindy.
Saat hendak mematuk, sebilah pedang menebas lehernya. Binatang itu menggelepar mati di depan Cindy yang ketakutan.
Cindy pingsan dengan tubuh pucat pasi.
"Cindy...." keluh Dion sedih melihat istrinya pingsan karena ketakutan. Air matanya menetes di kedua ujung matanya.
"Maafkan kakak Cindy, maafkan kakak karena gagal menjaga kalian!" ucapnya terisak kecil.
Sepasang tangan memeluk lembut perutnya dari belakang.
Dion terkejut. Dia segera melepaskan tangan itu kasar.
Bela kembali tersenyum manis.
Dia kembali memeluk lengan Dion.
Mengecup lengan kekar itu lembut.
"Bersikaplah lembut padaku Dion, jika kau tidak ingin ular ular itu kembali mendekati istrimu!" kata Bela cepat saat Dion hendak melepaskan pelukannya.
Dion mendengus geram.
"Seharusnya kau nurut dan jangan melawanku. Semua terjadi karena ulah mu sendiri yang menolakku!"
"Jika kau ingin istrimu selamat dari maut, Jadilah milikku malam ini....Make love to me ! sekali saja.....aku sangat menginginkan mu sayang. Setelah itu semuanya akan berakhir dengan baik!" bisiknya lembut di belakang telinga Dion.
Dion mengumpat kasar. Dia melepas tangan Bela kasar.
"Jadi hanya karena alasan itu kau menyakiti orang orang tidak bersalah? hanya karena demi nafsu bejatmu itu?" menatap tajam.
"Baik Bela, ku penuhi keinginan mu....mari kita bercinta!" Dia membuka dua kancing kemejanya.
Bela terkejut tapi juga senang.
Melihat sebagian atas dada kekar Dion.
Dia tidak menyangka akan bercinta dengan pria pujaannya. Bela tertawa senang. Tak sabar ingin menikmati keperkasaan tubuh kekar berotot ini.
Dia memeluk leher Dion dan hendak mencium, tapi Dion langsung mengangkat tubuhnya hingga ciumannya gagal.
Bela melonjak senang saat Dion mengangkat tubuhnya ala bridal style.
Dion berjalan ke dekat ranjang dan mematikan lampu hingga suasana ruangan gelap.
Dia sengaja mematikan lampu, Karena dia tahu orang orang Bela memantau perintah Bela lewat kaca cermin. Kalau keadaan gelap, mereka tidak akan melihat Bela dan juga apa yang terjadi padanya.
"Oh sayang.... ternyata kau ingin bercinta dalam gelap ya?" kata Bela manja.
Dion tersenyum sinis.
Dalam gelap dia membawa tubuh Bela keluar dari kamar.
Bela kaget, dia mengira Dion akan membawanya ke atas ranjang.
"Dion sayang, kau mau bawa aku kemana?"
Dion terus melangkah tanpa menjawab.
Dia membawa Bela ke dekat tangga.
"Kita mau kemana sayang? apa kau ingin kamar yang lain?"
"Diam.... tutup mulut busukmu itu!" bentak Dion kasar.
"Kau ingin bercinta bukan?" Dion mendekat ke railing tangga. Seraya melirik ke bawah, ke arah pertempuran.
"Tuan Ravendro!" teriaknya keras.
Rafa dan Wisnu mendongak ke atas, mendengar suara kerasnya.
"Apa yang kau lakukan Dion? turunkan aku!" Bela berontak dalam gendongan Dion yang ingin melemparnya ke bawah.
Dion tersenyum menyeringai.
Dia menahan kuat tubuh wanita ini.
"Kau ingin sekali bercinta bukan? Bercintalah dengan para iblis di neraka!" bisiknya di depan wajah Bela dengan seringai sinis. Lalu melempar kuat tubuh wanita itu ke bawah.
"Aaaaaa .....Dioonn...!" teriak Bela keras di antara tubuhnya yang melayang ke bawah.
Beberapa detik berlalu terdengar benturan keras di bawah. Tubuh Bela retak remuk,
kepalanya pecah.
Sebuah bayangan panjang tampak bergerak cepat ke arahnya dan langsung menerkam memangsa dirinya......
Kesempatan itu di gunakan Wisnu dan anak buahnya membuka paksa ruangan yang di pakai Tania bersembunyi. Mereka menembak berulang kali ke gagang pintu, mendobrak mendorong dengan kekuatan penuh.
Setelah terbuka, Wisnu memukul mukul kuat daun pintu yang terbuat dari besi tersebut hingga menimbulkan suara gaduh yang membuat perhatian sang ular yang sedang menikmati tubuh Bela beralih pada mereka.
Binatang tersebut langsung bergerak cepat merayap meliuk-liuk ke arah mereka.
Rafa dan Wisnu segera masuk setelah memberi isyarat pada anak buahnya untuk menjauh.
Mereka terus memancing sang ular mengikuti mereka sambil berlari cepat.
Saat tiba di ruang tempat Tania bersembunyi, keduanya mendobrak kuat daun pintu hingga terbuka. Secepatnya keduanya langsung melompat ke atas menghindari terkaman sang ular yang mematuk tiba tiba.
Keduanya selamat, binatang itu langsung meluncur masuk ke dalam ruang Tania yang belum menyadari keberadaan sang ular.
Rafa dan Wisnu secepatnya keluar, menutup pintu dan mengunci, mengurung Tania dan anak buahnya bersama sang ular yang menerkam memangsa mereka.
Terdengar teriakan histeris, jeritan dan pekikan dari dalam.
Rafa dan Wisnu segera meninggalkan tempat itu melangkah cepat ke tempat istri mereka.
Terlihat Dion yang sudah berada di tempat itu sambil menggendong tubuh Cindy yang pingsan.
Keduanya segera mengeluarkan Ara dan Ines dari kurungan, Lalu meninggalkan tempat itu secepatnya di ikuti anggota geng topeng hitam.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, Wisnu mengirim pesan pada ketua geng king kobra untuk segera datang mengamankan piaraannya yang sementara menikmati tubuh Tania dan anak buahnya.
******