Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 120


__ADS_3

...Happy Reading....


Lalu kembali mendaratkan bibirnya di bibir suaminya dengan lembut.


Sosok Raka hendak menarik mundur kepalanya, menghindari ciuman Ara. Tapi Ara menahan kuat tengkuknya.


Ara faham suaminya menghindari ciumannya. Karena Raka menginginkan ciuman di depan orang dan di lihat oleh mereka. Bukan sembunyi sembunyi di dengan keadaan gelap begini. Tapi Ara terlalu malu untuk melakukannya di depan publik.


Ara kembali mengecup bibir yang masih tertutup ini.


Ara tidak mau menyerah


Dia menggoda dengan menyentuh bibir Raka dengan ujung lidahnya.


"Kakak, bukalah mulutmu, ayolah...." kata karena belum ada pergerakan apa pun dari bibir Raka."Meski gelap, setidaknya ini di tempat umum." kata Ara.


Karena tidak ada respon apapun, dia mengigit bibir Raka sedikit kuat. Bibir itu seketika terbuka.


Ara tersenyum dan gerakan cepat memasukkan lidahnya kedalam mulut Raka. Mengusapkan lidahnya pada lidah suaminya.


Terdengar lenguhan dari mulut Raka. Usapan liar benda Tak bertulang ini membangkitkan gairahnya.


Ara tersenyum mendengar lenguhan kecil itu, artinya suaminya mulai terbuai dengan permainan lidahnya. Ara semakin gencar menciumi dan memainkan lidahnya menyapu rongga mulut suaminya.


Tubuh Raka menegang, rasa bahagia itu semakin kuat menjalar merasuk hingga ke otaknya. Pertahanannya melemah. Tak kuat menahan diri lagi. Sosok Raka langsung mengi**p benda yang menjulur masuk ke dalam mulutnya, menyesap rasa manis. Dia


menautkan lidahnya dengan lidah Ara,


mengulum, menggigit, *******. Ara pun mengimbangi ciuman itu.

__ADS_1


Ciuman itu semakin panjang, semakin dalam dan panas


Sosok Raka mendorong mundur tubuh Ara dan menekannya pada tiang tembok besar tanpa menghentikan ciumannya. Perang lidah kembali terjadi.


Beberapa saat kemudian Ara menarik wajahnya karena kesulitan bernapas. Dia butuh oksigen.


Sosok Raka menatap wajah cantik dan manis yang sedang mengatur nafas yang tak beraturan. Dia semakin tersihir dengan wajah manis di depannya ini meski tertutup kacamata tebal.


Dia menyapu lembut wajah Ara, menyingkap rambut keriting ini kebelakang. Leher putih Ara terekspos. Terlihat beberapa tanda ungu di sana. Sosok Raka mendengus geram.


Tanpa pikir panjang dia segera melabuhkan wajahnya, menelusuri bagian tubuh putih jenjang itu agak kasar dengan bibirnya.


Menciumnya dengan kecupan kecupan lembut, dan terkadang agak kuat. Hingga meninggalkan tanda bercampur dengan tanda Kiss Mark yang ada.


"Akhh..." Ara mendesah merasa geli dan nikmat. Matanya terpejam, kedua tangan meremas Rambut Raka. Dia tidak menyangka ciuman ini menjadi panas.


"Kak, kita berada di tempat umum." bisik Ara mengingatkan keberadaan mereka. Tapi sosok Raka tak perduli.


"Akh akh....." meremas rambut dan tengkuk Raka."Cukup kak."


Raka tak mengindahkan ucapan Ara, malah semakin gencar menyentuh tulang selangka, dada dan leher jenjang indah dengan bibirnya. Gairahnya semakin menggebu mendengar lenguhan merdu dari bibir Ara.


Telinga Ara pun tak lepas dari bibir dan jilatan lidahnya. Bahkan karena gemas dia mengigit telinga itu.


Tanpa sadar Ara mengerang "Akhh!"


Sosok Raka langung membungkam mulut Ara dengan mulutnya. Dia semakin menekan tubuh Ara ke tembok dan menekan tubuhnya ke tubuh Ara.


Otaknya tidak bisa berpikir jernih sehingga lupa keberadaan mereka. Dia hanya mengikuti naluri yang ia rasakan, hasrat yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun, tak dapat di kendalikan.

__ADS_1


Lenguhan demi lenguhan lolos dari mulut Ara.


"Kakak cukup..." Ara tidak menyangka kalau ciuman ini berubah menjadi ciuman panas dan menggelora. Dia menarik kuat wajahnya."Nanti kita lanjutkan lagi, aku mohon." pinta Ara menatap wajah suaminya yang berada di balik topeng. Dia hendak bicara, tapi Sosok Raka menarik memegang wajahnya secara tak terduga dan kembali mencium bibirnya. Hasrat yang tak dapat di kendalikan.


Sosok Raka kembali menelusuri setiap sudut bibir itu dengan lembut, memasukkan lidahnya dan membelit bibir Ara, mengeksplor lidahnya ke rongga mulut Ara, bermain main di sana. Dia sangat ketagihan merasakan bibir Ara yang terasa manis dan memabukkan. Kedua tangannya menjalar pada tengkuk dan punggung Ara.


"Cukup kak! Nanti lampunya menyala." kata Ara mulai tidak tenang.


Sosok Raka tidak mengindahkan perkataanya dan terus melahap bibir, telinga dan lehernya.


Ara pasrah dengan apa yang di lakukan suaminya dengan hasratnya yang semakin menggila.


Dia sangat khawatir bagaimana jika lampu menyala dan suaminya masih terus menyerangnya.


Bunyi getaran berulang di saku celana Raka, menghentikan aksinya. Dia menarik mulutnya yang sementara mengh*s*p bibir bawah Ara.


Perlahan-lahan dia menarik wajahnya. Mengelap bibir Ara dari air liurnya yang membasahi sekitar mulut gadis itu. Tak lupa mengatur rambut keriting Ara yang berantakan, memperbaiki letak kacamata dan memasangkan topeng gadis itu.


Dia menatap wajah Ara yang di pegangnya. Ada rasa bersalah terselip di hatinya. Kemudian dia mengecup lembut kening dan bibir Ara bergantian.


Lalu segera beranjak pergi dengan senyuman bahagia mengembang di wajahnya.


Ponselnya kembali bergetar. Sosok itu segera mengambil benda pipih itu dari saku.


Sementara Ara yang masih tersandar pada tembok dengan mata terpejam dan nafas memburu tak beraturan, tersengal-sengal. Bibirnya terasa tebal dan sakit karena ciuman kuat dan gigitan kecil suaminya tadi. Juga rasa perih pada lehernya karena kecupan kuat. Sudah pasti tanda di lehernya bertambah. Untung suara getaran Ponsel masih bisa menyadarkan suaminya hingga menghentikan aksi gilanya yang tak melihat tempat.


Ara membuka matanya perlahan. Sosok suaminya sudah hilang dari hadapannya.


Ara menarik nafas lega, karena lampu masih padam, alunan musik dan tarian dansa masih berlangsung, hanya lagunya saja yang sudah berubah.

__ADS_1


Ara melangkah perlahan-lahan mencari letak minuman. Dia sangat haus, tenggorokan kering. Setelah dapat, dia langsung minum air putih sepuasnya.


Bersambung.


__ADS_2