
Rumah utama
Ara menggeliat di atas tempat tidur. Dia menguap berulangkali sambil menutupi mulutnya. Matanya melihat ke atas langit langit, lalu di alihkan kesebelahnya, tak ada suaminya di sampingnya.
Perlahan dia bangun dan duduk, melihat pakaiannya yang sudah terganti, semua terganti hingga pakaian dalamnya.
Dia kembali memperhatikan sekelilingnya,
apakah ini di rumah utama? ini kamar kakak ipar kan? gumannya bertanya pada diri sendiri.
Jadi aku di rumah utama sekarang? tersenyum senang.
Ara cepat turun dari ranjang dan berlari ke pintu untuk keluar, dia tidak sabar untuk ke makam almarhum suaminya, ke kamar dia dan Raka dulu.
Tapi pintu kamar tidak bisa di buka, karena terkunci. Ara memasukkan kode pin tanggal lahirnya, tapi tetap tidak bisa di buka, tiga kali dia mencoba tapi hasilnya sama.
"Apa kakak ipar sudah mengganti kode aksesnya?" gumannya.
Dengan perasaan kecewa dia berbalik menuju tempat tidur.
Matanya melihat hp di nakas, ada ponsel Rafa.
Dia ingat ponselnya rusak.
Dia melirik pada hp sudah jam 1 malam.
Gerah dan haus yang di rasakan saat ini.
Meski pakaiannya terganti, dia merasa tidak gerah karena tidak mandi.
Ara menuju lemari pendingin dan minum sepuasnya, kemudian segera ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya.
Setelah puas menyegarkan tubuh, dia kembali ke kamar, memilih pakaian di ruang ganti.
Keningnya terpaut melihat semua pakaiannya yang seperti kekurangan bahan, pakaian lamanya sudah tidak ada tersimpan di situ, sudah berganti dengan pakaian tidur tipis, sepaha, tak berlengan, bertali tali satu, bahkan ada yang tak bertali.
Semuanya pakaian tidur yang serba seksi.
Ara mengambil sala satunya karena tak ada pakaian lain yang bisa di pakai.
Dia melepaskan handuk dan segera memakainya.
Lalu duduk di depan cermin sambil mengerikan rambutnya menggunakan hair dryer.
Di rasa setengah kering, dia Kembali membaringkan tubuhnya.
Pikirannya melayang pada Dion dan kedua temannya, Cindy dan Ines.
"Bagaimana keadaan mereka sekarang? apa mereka baik baik saja?" gumannya kembali.
Dia meraih ponsel Rafa, mengetik nomor Cindy.
Berdering tapi tak di angkat.
Di cobanya lagi hingga ke tiga kali akhirnya tersambung.
Terlibat pembicaraan sejenak, lalu di matikan.
Ara lega kedua temannya baik baik saja, ternyata sopir kakak iparnya mengantar
mereka ke rumah masing-masing.
Sedangkan Dion di bawah oleh pak Toni dan pihak kepolisiannya ke rumah sakit, begitu kata Cindy.
Ara kembali membaringkan tubuhnya, menutupkan selimut ke tubuhnya.
Tapi dia kembali membuka selimutnya, meraih ponsel suaminya, mencari kontak Wisnu
Saat ini Rafa sedang berada di ruang bawah tanah yang berada di lorong rahasia.
Dia sedang mengintrogasi bos preman yang menyerang istrinya.
Wisnu membisikkan sesuatu di telinganya,
Rafa segera bangkit.
"Lanjutkan." katanya pada Wisnu.
Dia segera ke atas menerima telepon dari Ara.
"Assalamualaikum kak,"
"Waalaikumsalam sayang, kau sudah bangun?"
"Iya, kakak ipar di mana? kenapa pintu kamar di kunci? aku tidak bisa keluar."
"Tetaplah di kamar, sebentar lagi aku pulang."
"Kode aksesnya berapa? kakak sudah menggantinya?"
"Nggak, aku nggak menggantinya, ini sudah mau masuk pagi, tidurlah kembali, sebentar lagi aku pulang."
"Baiklah." Ara menutup telepon dengan wajah cemberut.
Dia segera menutupkan selimut ke seluruh tubuhnya dan kembali tidur.
Rafa tersenyum memperhatikannya dari jauh, melalui kamera cctv.
Rafa sengaja membawanya pulang ke rumah utama, karena kerinduannya pada rumah itu, terutama pada makam Raka.
Rafa marah setelah mengetahui ternyata mamanya penyebab Ara tidak pulang ke rumah utama, sewaktu mendengar perkataan Ara di toilet.
Hal itu memancing emosinya, dia menanyakan pada mamanya kenapa menyuruh Ara keluar dari rumah utama.
Jawaban Maya membuat dia melongo dan menyurutkan emosinya.
Untuk menebus kesalahan mamanya, dia membawa Ara pulang kerumah utama.
Dan dia sengaja mengunci pintu kamar, agar Ara tidak bisa keluar saat dia terbangun.
Karena dia sudah dapat memastikan istrinya
itu pasti akan pergi ke kamarnya yang dulu bersama Raka.
*****
Di sebuah kamar hotel.
Siska melempar sepatunya pada wajah orang suruhannya yang gagal mengerjakan perintah dari nya, darah nampak mengalir dari dahi orang itu karena terkena hak sepatunya.
"Percuma aku membayar mahal kalian, hanya untuk mengambil ponsel wanita lemah saja kalian tidak mampu." sentaknya geram.
Dia membayar beberapa orang preman untuk mengambil ponsel Ara. Terserah dengan cara apapun. Tujuannya dia ingin mencari tahu status Ara. Siapa mantan suaminya serta hubungannya dengan Dion melalui ponsel itu.
Sherly hanya mengatakan dia seorang janda, tapi Sherly tidak mengetahui siapa mantan suami Ara, karena Levina tidak mengatakan padanya, dan dia sedang mencari-cari Levina untuk menanyakan hal itu, tapi Levina entah kemana, menghilang tanpa kabar bagai
di telan bumi.
Siska semakin geram dan marah pada preman bayarannya karena mereka malah di tangkap polisi, dan yang lebih parah lagi bos mereka di bawah oleh segerombolan orang berpakaian hitam yang tidak di ketahuinya.
Dia tidak menyangka Dion ada di sana dan menyelamatkan Ara.
Siska semakin geram dan melempar apa yang di dekatnya.
Dia khawatir polisi akan mengetahui kalau dialah dalang dari penyerang pewaris DRA group itu.
Semuanya malah membuatnya mengalami masalah dan kesulitan. Dia berpikir keras mencari cara agar dirinya tidak terlibat dengan pihak berwajib, Dion dan juga gerombolan yang menyelamatkan Ara.
Siapa mereka? siapa yang telah menyelamatkan wanita cupu itu? batinnya.
****
Perlahan Rafa masuk ke dalam kamar,
melihat tubuh istrinya masih tertutup selimut.
Dia segera mengganti pakaiannya dengan piyama terbuka di depan dan hanya celana boxer, lalu segera naik ke tempat tidur.
Perlahan lahan dia menarik selimut yang
menutupi tubuh istrinya ke bawah.
Terdengar dengkuran halus.
Rafa memandangi tubuh istrinya yang memakai pakaian tidur tipis dan terbuka bagian atas dan bawahnya.
Terlihat setiap lekukan tubuhnya yang indah dan seksi.
Belahan dada hingga paha mulusnya yang putih, perutnya yang rata terlihat dari kain tipis membuat Rafa menelan salivanya berulangkali dan membuat miliknya menegang di bawah sana.
Rafa mendekat dan mengecup kening dan bibirnya sesaat, mencium aroma tubuh istrinya yang sangat wangi.
Dia segera membaringkan tubuhnya, membawa tubuh istrinya tidur di atas lengannya, lalu di hadapkan padanya secara pelan-pelan.
Ara bergerak sesaat dan memeluk dirinya.
Rafa tersenyum, menatap setiap bagian dari wajah istrinya.
__ADS_1
"Hari yang sangat melelahkan membuat dia tertidur nyenyak." gumannya membelai lembut wajah istrinya.
20 menit berlalu dia masih asyik memandangi wajah cantik istrinya.
Tubuh Ara bergerak gerak.
Rafa cepat memejamkan mata, pura pura tertidur.
Ara membuka matanya perlahan, mengucek matanya. Dan melihat tubuhnya berada dalam pelukan suaminya.
"Kakak sudah pulang?" gumannya pelan.
Dia menatap wajah suaminya yang sangat dekat dengan wajahnya, hidung mereka bahkan bersentuhan.
Ara Mengingat kejadian semalam saat suaminya datang menyelamatkan dirinya.
Ara membelai lembut menelusuri setiap bagian wajah suaminya dengan ibu jarinya.
"Terimakasih sudah menyelamatkan aku semalam." bisiknya pelan, lalu mengecup bibir suaminya pelan, menekan lama bibirnya dengan mata terpejam.
Rafa tersenyum melihat wajahnya, melihat bibir mereka yang saling menempel.
Ara menarik bibirnya, tapi tengkuknya tertahan. Dia membuka matanya dan melihat Rafa sedang menatapnya tersenyum.
"Kakak sudah bangun?"
Rafa hanya tersenyum, lalu segera mencium bibirnya, mencium atas bawah bergantian.
Ara menatap mata suaminya yang sedang terpejam menikmati ciuman yang di lakukan nya sendiri meski tanpa ada balasan darinya.
Perlahan Ara menangkup lembut pipi sebelah suaminya. Di belai lembut dengan ibu jarinya, lalu dia memejamkan mata dan tanpa sadar mulai merespon ciuman suaminya, membalas setiap gerakan bibir suaminya.
Rafa kaget merasakan hal itu, dia membuka matanya dan melihat mata istrinya terpejam sambil membalas ciumannya, mencium bibirnya atas bawah bergantian mengikuti gerakan bibirnya.
Rafa tersenyum dengan kening mengerut.
"Apa dia sudah membuka hatinya untukku? apa dia sudah menerima diriku di dalam hatinya?" batin Rafa di sela ciumannya.
Ara menghentikan ciumannya, dia membuka matanya, membuat mata mereka saling menatap. Dia dapat melihat tatapan yang di penuhi pertanyaan di mata suaminya.
Rafa membelai wajahnya lembut, menunggu dirinya memberi penjelasan atas balasan ciumannya tadi.
Tangan Ara ikut membelai wajahnya lembut, Rafa memegang tangan itu dan menciumnya.
Perlahan Ara naik di atas tubuh suaminya, dan duduk di atas perut.
Rafa terkejut dan membiarkan.
Ara menatap sejenak wajah suaminya, lalu mendekatkan wajahnya.
Perlahan mengecup lembut seluruh bagian wajah suaminya.
Dahi, kening, mata, pipi, hidung, dagu dan terakhir bibir.
Dia menekan bibirnya di bibir suaminya sesaat.
Lalu segera ****** bibir suaminya dengan pelan dan lembut.
Rafa terbelalak, pupil matanya membesar, aliran darahnya berdesir mengalir ke perut, otot otot tubuhnya menegang merasakan sentuhan di bibir ini.
Ara menarik wajahnya sesaat mengatur pernafasannya.
Keduanya saling menatap.
Tanpa di komando keduanya menautkan bibir mereka, melakukan ciuman lembut, tapi makin lama makin panas.
Lidah mereka saling berperang mengeksplor kehangatan dari bibir masing masing.
Ciuman Ara perpindahan ke leher suaminya, sambil tangannya membuka tali pengikat pakaian tidur suaminya.
Dia mencium dan mengecup ngecup lembut leher, tengkuk, dan tulang selangka suaminya dengan penuh gairah.
Rafa tak kuat menahan erangannya.
Dia meremas pelan rambut istrinya,
dan membiarkan apa yang di lakukan istrinya.
Tangannya tak tahan dan mulai meraba bagian dada istrinya, dia memposisikan tubuhnya duduk dan menaruh tubuh istrinya dia atas pangkuannya .
Kini gilirannya yang menjamah tubuh istrinya. Bibir dan lidahnya bermain main di leher, telinga dan dada istrinya dengan rakus.
Ara mendesah tertahan sambil meremas rambut suaminya, menekan wajah suaminya di dadanya, nafas Keduanya memburu cepat.
Rafa sangat suka bermain di bagian tubuh ini. Bulat dan kencang, sangat pas dalam genggamannya.
Ara mendesah membiarkan apa di lakukan Rafa.
"Apa dia sudah siap untuk menyerahkan bagian penting miliknya?" batin Rafa.
Ara mendesah dan kaget, dia langsung menahan tangan Rafa.
"Kakak..." ucapnya dengan bibir bergetar.
Dari tatapannya, Rafa sudah dapat melihat kalau istrinya meminta untuk berhenti.
Rafa segera menghentikan ciumannya dan menarik tangannya dari dalam sana.
Ara segera memeluk suaminya melihat kekecewaan di matanya.
"Maafkan aku." berbisik sendu sambil membelai rambut suaminya.
Rafa diam mendengarkan perkataannya.
"Maafkan aku kak. Aku juga merasa sangat bersalah dan berdosa padamu." lirih sendu.
Rafa segera memegang wajah istrinya.
"Aku tidak akan memaksamu, dari pertama aku sudah katakan aku tidak akan memaksamu." menyapu air mata Ara. Dia tidak tahan melihat air mata Ara.
"Aku akan menunggu sampai kau siap, aku tidak tau apa alasan yang membuat mu belum mu melakukannya, aku akan tetap menunggu waktu indah itu tiba." memenangkan Ara.
"Beri aku waktu kak, aku akan berusaha membuka hatiku untuk kakak."
Rafa kembali menyapu air matanya, dia mengangguk tersenyum
"Aku sudah sangat senang dan bahagia saat kau mulai menyentuhku, membalas ciumanku, aku akan menunggu sampai kau siap melakukannya. Jangan sedih dan merasa bersalah seperti itu."
Wajah Ara kembali sedih, dia memeluk kepala suaminya, mengecup puncak kepalanya.
"Terimakasih kak atas pengertiannya."
Rafa membelai punggungnya lembut.
"Sayang, aku ingin kau menenangkannya." membawa tangan Ara pada sesuatu yang mengeras
"Tapi aku tidak akan memaksa bila kau tak mau." kata Rafa kembali.
Ara melepaskan pelukannya.
Dia menangkup wajah suaminya dengan sala satu tangannya .
"Aku akan menenangkannya." katanya sambil memegang lembut milik suaminya membuat Rafa mendesah pelan dan ****** kembali bibir Ara dengan rakus.
Ara menarik wajahnya, segera melepaskan pakaian tidur suaminya, lalu membaringkannya.
Dia memperbaiki posisi duduknya di atas perut suaminya, perlahan mendekatkan wajahnya. Mulai menciumi setiap bagian wajah suaminya dan berakhir pada bibir.
Rafa tak tahan hingga akhirnya keduanya kembali terlibat ciuman panas yang menggairahkan
Ciumannya turun ke dada bidang suaminya, memberi kecupan lembut.
Rafa di buat mendesah menikmati setiap sentuhannya.
"Sayang..." desahnya Rafa menikmati permainan istrinya.
Ciuman Ara menjalar kebawah, ke perut suaminya.
Semakin turun kebawah sambil terus mengecup ngecup lembut hingga akhirnya berhenti pada bagian penting suaminya yang sangat butuh sentuhannya .
Ara menelan ludahnya dan memandangi dengan takjub tak bergeming.
Pertama kalinya dia melihat secara jelas dengan mata terbuka milik suaminya.
Dua kali dia menaklukan benda ini di kamar mandi dengan mata terpejam karena terlalu malu untuk melihat.
Dengan lembut, Ara mulai menyentuhnya membuat Rafa kembali mengerang.
"Sayang ...." ucapnya dengan nafas tak beraturan, memegang kepala istrinya.
"Aku akan memulainya kak " ucap Ara mulai menggenggam lembut benda itu dengan tangannya. Rafa kembali mengerang pelan.
Perlahan Ara melabuhkan wajahnya, memberikan ciuman, kecupan lembut dari berbagai sudut.
Rafa semakin kuat mendesah, meremas kuat rambut istrinya, tubuhnya bergetar seperti tekanan listrik.
Rafa semakin tak tahan, dia tidak mau hanya berdiam diri menikmati permainan Istrinya .
__ADS_1
Dia bangun dari tidurnya, memindahkan tubuh istrinya di atas tubuhnya. Posisi 69.
Ara mendesah.
Kukunya bahkan mencakar paha suaminya.
Keduanya semakin mempercepat permainan. Hingga akhirnya keduanya mengerang bersamaan, mencapai klimaks.
Untuk pertama kalinya bagi Ara merasakan kenikmatan seperti ini.
Tubuhnya langsung lemas gemetaran.
Dia tidak menyangka suaminya akan melakukan hal itu padanya.
Rafa segera bangun, merasakan jari jemari istrinya yang gemetaran di pahanya.
Dia segera membalikkan tubuh istrinya, didudukkan di atas pangkuannya.
"Sayang, kau kenapa?" memperhatikan wajah Ara yang berkeringat dan terlihat takut.
Dia memegangi jari jemari Ara yang gemetaran.
"Kau ketakutan, ada apa? apa kau marah aku karena menyentuh milikmu?"
Ara menggeleng lemah.
"Sayang, aku hanya menyentuh bagian permukaannya saja."
"Tidak kak, bukan karena itu. Mungkin karena ini pertama kalinya bagiku merasakan hal itu dari kakak jadi aku merasa sedikit takut, tolong jangan bahas ini lagi. Dan aku mohon jangan menyentuh milikku lagi." memeluk tubuh Rafa karena kepalanya terasa pusing, tubuhnya terasa lemah.
Rafa masih merasakan tubuh istrinya gemetaran, dia membalas memeluk tubuh istirnya, memegang erat kedua tangannya, karena bagian tubuh itu yang gemetar kuat.
"Kau kenapa sayang? tubuhmu gemetaran."
"Aku lemas dan pusing kak."
"Apa kau lapar?"
"Nggak, mungkin karena pengaruh sesuatu yang keluar dari tubuh ku tadi. Aku baru pertama kali mengalaminya jadi aku merasakan tubuhku sangat lemas." jawab Ara lemah.
"Maksudmu kamu baru merasakan ini untuk pertama kali?" dahi mengernyit.
"Nggak, maksudku bukan seperti itu...ah lupakan, jangan bahas ini lagi, aku mohon." Ara mengalihkan pembicaraan dan memeluk leher suaminya.
Rafa kaget mendengarnya.
"Apa yang kau rasakan sebenarnya? apa yang kau sembunyikan dariku," batin Rafa.
Jujur Rafa merasakan kejanggalan pada bagian sensitif istrinya sewaktu dia menyentuhnya.
Dia merasakan sesuatu yang sangat sempit
di sana.
Untuk orang menjalani kehidupan rumah tangga yang lama seperti Ara tidak mungkin masih memiliki kesempitan seperti itu.
Tapi apa yang di rasakan tadi seperti milik seseorang yang masih virgin.
Dia, meskipun belum pernah melakukan hubungan intim dengan wanita, tapi dia dapat mengetahui mana yang masih virgin dan tidak. Karena sewaktu mengenyam pendidikan, dia mendapatkan pelajaran umum tentang alat reproduksi pria dan wanita.
"Apa mungkin karena Ara sudah lama tidak melakukan hubungan intim membuat miliknya kembali sempit?" batinnya bertanya.
"Dan apa yang di katakan Ara tadi, untuk pertama kalinya dia merasakan hal ini?" batin Rafa kembali.
Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya.
"Kak..., aku ingin berbaring." suara Ara membuyarkan lamunannya.
"Baik sayang." dia segera membaringkan tubuh istrinya, lalu menyelimutinya.
Rafa segera memakai celana boxernya, lalu turun dari tempat tidur mengambil air minum,
dan meminumkannya pada istrinya.
Setelah Itu dia ikut berbaring di samping istrinya. Keduanya tidur miring saling berhadapan.
Ara membenamkan wajahnya di dada suaminya.
Rafa membelai rambutnya lembut.
"Tidurlah..."
10 menit berlalu
"Kak..," suara rendah dan pelan dari mulut Ara.
"Belum tidur?"
"Belum mengantuk, kakak sudah tidur?"
"Belum, ada apa?" sebenarnya Rafa sudah mau tertidur, tapi kaget mendengar panggilannya. Tangannya kembali mengelus ngelus punggung istrinya.
Ara mendongakkan kepalanya ke atas.
"Apa kakak mencintaiku ?"
Gerakan tangan Rafa terhenti, dia menatap wajah Ara.
Kenapa dia menanyakan hal ini? batinnya.
"Mengapa kakak mencintaiku?" pertanyaan lagi. Ara memegang tangan suaminya, menunggu jawaban.
Rafa tak menjawab, hanya memberikan kecupan lembut di keningnya, lalu kembali membelai rambutnya.
Ara menelan ludahnya.
"Di luar sana banyak gadis perawan, banyak wanita cantik, berpendidikan tinggi, sederajat dengan kakak, tapi mengapa malah mencintai aku wanita biasa, dari kalangan bawah yang tidak punya apa apa dan hanya seorang ....," ucapannya menggantung.
Dadanya bergemuruh kuat, sesak terasa.
"Hanya seorang apa?" ucap Rafa menunduk kan kepala menatapnya, melihat gelembung air mata yang menumpuk mata istrinya siap tumpah.
Ara tak menjawab, hanya menatap dengan wajah sedih.
Rafa melap air mata istrinya yang sudah tumpah.
"Aku tahu sambungan kalimat mu. Kau ingin mengatakan kalau dirimu hanya seorang janda?" berkata pelan dan lembut.
Ara mendesah sedih, memejamkan mata dan mengigit bibirnya, lalu mengangguk pelan.
Rafa membuang nafas panjang, dia mengecup kening dan bibir istrinya lembut.
"Apa itu salah satu alasanmu tidak bisa menerima diriku?"
Ara diam masih dengan mata terpejam.
Rafa kembali membelai lembut rambut dan punggung istrinya.
"Aku sudah bilang kalau aku jatuh cinta padamu saat kau masih seorang gadis.
Aku bahkan sampai tergila-gila padamu. Cintaku padamu tulus, sangat kuat dan dalam. Hingga meski kau sudah menjadi istri Raka, cinta itu tidak berkurang, malah semakin bertambah. Dan meski sakit aku tetap bertahan dan memendamnya."
"Dengan semua yang ku miliki, aku bisa saja mendapatkan banyak wanita yang sederajat denganku.Tapi apa gunanya bila mereka tidak dapat membuatku bahagia? aku menginginkan kebahagiaan hidup, bukan kesenangan semata yang hanya akan membuat diriku hancur."
"Sayang.. yang aku inginkan adalah cinta dan kebahagiaan. Dan Cinta itu hanya aku rasakan pada dirimu. Kebahagiaan hidupku hanya ada pada kamu. Itulah jawabanku dari semua pertanyaanmu." mengecup kening istrinya.
Ara mendesah sedih.
"Sayang ..." Rafa mengangkat wajahnya di hadapkan pada wajahnya.
"Kamu adalah cintaku, kekuatanku, semangat hidupku, kebahagiaanku. Aku mohon jangan sedih, aku paling tidak tahan melihat air matamu." kembali menyapu air mata istrinya.
"Aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik untuk kakak." ucap Ara sendu.
"Kamu wanita baik sayang. Kamu pernah menjadi istri yang baik bagi Raka, maka kau pun akan bisa menjadi istri terbaik untukku. Hanya saja kau belum bisa membuka hatimu untuk menerima dan mencintaiku."
"Tapi aku yakin, waktu yang akan menyatukan kita. Aku berharap kamu bisa membuka sedikit demi sedikit hatimu untuk menerimaku. Aku akan sabar menunggu."
Ara semakin sedih akan kesabaran dan pengorbanan suaminya.
"Semasa hidupnya Raka ingin selalu melihat mu bahagia, dia ingin bisa membuat mu bahagia selamanya. Tapi tuhan berkehendak lain dengan memanggilnya terlalu cepat. Aku yang akan menjadi pengganti dirinya untuk memberikan kebahagiaan dalam hidupmu. Untuk itu ijinkan aku menjagamu menggantikan Raka."
Rafa memegang dagu Ara.
"Sayang, Raka sengaja menitipkan mu padaku, meminta ku menjagamu sebelum dia ke mesjid, dan aku sudah berjanji padanya akan menjagamu. Kau pasti masih ingat kan perkataannya saat itu?"
Ara mengangguk pelan.
Rafa Kembali memeluknya.
"Aku sangat mencintaimu sayang, sangat ...!
Aku bahkan lebih mencintai dirimu dari pada diriku sendiri." mengecup puncak kepalanya.
"Jangan meragukan cintaku, jangan bersedih, jangan memikirkan apapun lagi, nanti kau sakit. Sekarang tidurlah." memeluk erat tubuh istrinya.
******
__ADS_1
Happy reading π
terimakasih yang masih setia mampir π