
...Happy Reading....
Mereka memilih makanan dan minuman yang berada dalam daftar menu.
"Maaf, permisi Nona." terdengar sapaan ramah dari samping mereka.
Ketiganya segera menoleh.
Di depan mereka sudah berdiri 4 orang memakai seragam dari cafe tersebut. Sala seorang di antaranya adalah Manager, di ketahui dari name tag di dadanya. Namanya Roy.
Manager kembali menyapa mereka dengan sopan. Ara, Ines dan Cindy saling berpandangan. Bingung dengan sikap pelayanan yang super wow. Berbeda dengan pelayanan mereka pada pelanggan lain.
"Saya pribadi yang akan melayani Nona bertiga. Silahkan di pilih menunya." kata Manager. Dia tak lepas menatap pada Ara sambil tersenyum ramah.
Antara bingung dan senang dengan pelayanan super prima ini, ketiganya segera memilih menu, lalu menyerahkan daftar pesanan.
Manajer dan ketiga pelayan segera kebelakang.
"Hey, aneh kan?" ucap Ines.
"Gue juga bingung." kata Ara.
"Mungkin trik biar semakin banyak pelanggan yang datang. Maklum pesaing bisnis di mana mana." Cindy menerka.
"Lo gak liat, ke pelanggan lain juga mereka ramah dan sopan, tapi pada kita udah kelewatan sopan dan keramahannya. Mereka sampai membungkuk begitu. Bahkan Manajernya yang langsung melayani kita." Ines menatap ke dua temannya bergantian.
"Buat apa di pikirkan, malah bagus kan dapat pelayanan terbaik begini." timpal Cindy.
Ara teringat sesuatu. Yaitu kejadian buruk yang di alaminya bersama si kembar di pusat perbelanjaan. Di perlakukan tidak baik oleh para pelayan toko. Hingga akhirnya sang Manajer datang dan meminta maaf kepadanya sambil berlutut.
30 menit kemudian Manajer datang bersama pelayan membawa pesanan mereka. Ara hanya memesan flavoured soda, Ines memesan fruit tea dan lava cake, dan Cindy memesan milk shake dan mozzarella cheese stick.
__ADS_1
"Silahkan di cicipi Nona, Semoga anda puas dengan menu cafe kami." kata sang Manajer dengan senyum ramah.
"Terimakasih." jawab Ara ikut tersenyum.
Ara segera menyesap minumannya setelah membaca bismillah. Terasa segar saat melewati tenggorokannya yang kering.
Begitu juga dengan Ines dan Cindy, keduanya segera menyantap menu pesanan mereka.
Ara menoleh pada Manajer yang masih berdiri di samping mereka.
"Bapak, boleh tinggal kan kami. Kalau butuh sesuatu, akan kami beri tahu." kata Ara ramah.
Terdengar gelak tawa agak keras dari arah belakang tempat duduk mereka. Ketiganya segera menengok ke belakang. Sekumpulan ibu ibu muda dengan barang barang branded yang melekat di tubuh mereka. Di meja tergelak beberapa tas branded.
Wajah Ara mengernyit melihat sala satu di antara mereka, kak Nesa?
Ara memperhatikan sejenak, sepertinya kakak iparnya menjadi bahan olokan dan ejekan dari wanita wanita itu.
"Nes, udah miskin lo sekarang?" sindir salah seorang dari mereka.
"Ya sudah __ kalau gitu mana kartu lo?Sekarang giliran lo yang traktir kita. Bayarin semua barang barang ini. Gak mahal kok hanya 4 M." jawab Riska lebih keras, seraya menunjuk beberapa tas branded dari merek berkelas dan termahal di dunia. Seperti hilde palladino, Louis Vuitton, Hermes dan Judith leiber.
"Seorang Nesa Saputry Artawijaya sungguh memalukan bila tidak mampu membayar ini semua. Cepat keluarkan kartu sakti mu yang selalu kau pamerkan pada kami, dan gesek ke sini." seorang wanita yang bernama Tiara ikut bicara. Dia menunjuk mesin ATM EDC di atas meja. Suaranya yang cukup keras menarik perhatian orang-orang yang berada di dekat meja mereka, termasuk sekumpulan sosialita lainnya yang berada di meja lain.
"Kecilkan suaramu Tiara, semua orang memandang pada kita." Nesa menatap geram pada Tiara.
Tiara tersenyum sinis mengejek, begitu juga dengan yang lainnya. Sebagian dari mereka tidak suka pada Nesa yang selalu berada di atas mereka dalam segala hal.
"Mereka menatap padamu, bukan pada kami. Lagi pula apa susahnya tinggal keluarkan kartu lo? Ribet amat sih kamu. Atau emang benar kata Riska, lo udah miskin sekarang? Apa adikmu yang tajir melintir itu sudah gak ngasih kamu duit lagi?" Tiara kembali mencibir.
Dulu mereka sangat segan dan menghormati Nesa, karena Nesa adalah kakak dari pemilik bangunan besar dan mewah ini. Tapi setelah mereka mendengar rumor kalau Mall ini bukan lagi kepunyaan Ravend Group, mereka mulai menjauhi dan memandang rendah pada Nesa.
__ADS_1
Nesa mendengus kesal, meremas hp yang di genggamannya. Dia memaki Rafa dalam hati karena telah mengambil kartu kreditnya. Nesa sungguh merasa terhina di permalukan seperti ini.
"Ra, bukannya itu kakak ipar lo?" bisik Ines.
Ara menghela nafas pelan, hatinya juga terasa sakit melihat Nesa di hina dan di permalukan di depan banyak orang. Ara ingin sekali mendekat ke meja Nesa, tapi dia ingat kata Nesa yang mengatakan "Kalau bertemu di luar, anggaplah kita tidak saling mengenal,"
Mendekat pun tak berguna, karena tidak bisa membantu menyelesaikan masalah Nesa. Dia tidak memili uang sebanyak seperti yang di sebutkan oleh wanita yang bernama Riska tadi. Hanya ada beberapa juta yang tersimpan di kartu kredit yang di berikan Raka, sisa uang yang telah di pakai untuk keperluan yayasan kemaren.
"Apa yang harus kulakukan untuk menolong kak Nesa?" batin Ara tak tega.
Ara teringat kartu kredit yang diberikan Rafa lalu untuk keperluan si kembar. Dia belum mengembalikannya. Tapi dia ragu untuk menggunakannya menolong Nesa. Kalau menggunakan kartu kredit ini harus meminta izin Rafa.
Ara mengambil ponselnya, dia mencari kontak Wisnu, lalu kontak Rafa. Bergantian melihat ke dua nomor itu. Bingung mau menelpon siapa? Jujur dia tidak berani. Beberapa saat setelah berpikir, Ara mengeluarkan kartu Black Card dari dompet kartunya.
Sementara sang Manajer yang bernama Roy sejak tadi memperlihatkan gerak geriknya yang gelisah, segera mendekat.
"Nona__" panggil Roy dengan suara pelan
"Ya?" Ara sedikit kaget. Dia mendongak sedikit melihat wajah Roy.
"Apa Anda ingin saya menyelesaikan masalah wanita yang di sebrang sana?" kata Roy sopan. Dia melirik ke meja Nesa.
Ara melongo mendengar perkataan Roy. Kok Roy bisa tau?
Sebenarnya Roy tahu tentang Nesa, karena Nesa sudah terbiasa datang ke tempat ini berkumpul bersama teman-teman nya.
Roy juga tahu Nesa adik dari Rafa Ravendro Artawijaya, pemilik Mall ini sebelumnya__sebelum di berikan pada Ara.
Roy sendiri heran kenapa Nesa tidak mampu membayar harga tas tersebut.
Karena biasanya harga 4 M tidak berarti apa apa bagi seorang Nesa, karena dia adalah kakak dari pengusaha sukses ternama yang mempunyai kekuasaan dan kekayaan yang tidak akan ada habisnya. Pebisnis muda yang sangat di kenali oleh para pengusaha terkenal di seluruh Asia.
__ADS_1
Dan mengenai Ara, Roy tahu dari Wisnu saat Ara menginjakkan kaki ke gedung ini saat masuk tadi.
Bersambung.