
Mobil memasuki halaman Hotel yang luas.
Ara segera menghentikan aksinya. Dia merasa puas dan senang.
"Udah puas?" tanya Rafa melihat wajah istrinya yang bahagia. Sementara dia sangat tersiksa.
Ara mengangguk tersenyum menatap wajah tegang dan merah suaminya yang tersiksa.
"Sayang, kita pesan kamar ya? aku gak tahan nih. Hanya sejam saja...ya sayang yaaah?" membujuk memelas.
"Gak mau ah. Nanti kita akan ketinggalan acaranya keluarga Alkas. Dan bisa bisa malah nggak akan ikut." kata Ara. Dia tidak akan percaya kata suaminya yang hanya sejam.
Jika dia mengikuti ajakan suaminya sudah dapat di pastikan mereka akan menginap di hotel Alkas dan menghabiskan malam hingga subuh. Dia yang sudah sangat tahu kelakuan suaminya dalam berhubungan S**s. Nggak mau hanya melakukannya sesaat. Suaminya tidak akan puas dan tidak akan melepaskan dirinya begitu saja.
Ara segera mencium dan memeluk suaminya.
"Tahan ya kak..? aku janji, pulang dari acara ini aku bakal layani kakak sepuasnya. Tapi jangan sekarang. Ines udah nunggu aku di pintu masuk hotel, aku memintanya untuk menungguku." Ara membujuk dengan lembut di sertai kecupan dan ciuman yang malah membuat Rafa semakin horny.
"Suamiku sayang, paling tampan dan terbaik di seluruh dunia. Kekasih hatiku teeeercinta.... teeeersayang." menggesekkan hidungnya pada hidung Rafa, merayu membujuk terus.
Rafa membuang nafas berat.
Kalau sudah begini dia tidak bisa memaksa lagi. Hatinya meleleh, dia mengalah.
Dia mencium bibir Ara beberapa saat sebagai pengganti hasratnya yang tidak tersalurkan.
Dia menciumnya sangat lembut penuh kasih sayang. Lalu melepaskan melihat istrinya mulai sulit bernafas.
"Sayang, nanti di dalam sana jangan dekat dekat dengan lelaki ya... hindarilah tatapan mereka, jangan membalas. Kau sangat cantik sayang, Sudah pasti dirimu akan menjadi tatapan mata mereka." ucap Rafa seraya memperbaiki rambut istrinya. Ara tadi memperingatkan dirinya, Ara gak tahu justru dia yang lebih khawatir dan cemburu pada istrinya di tatapi pria lain. Karena di dalam sana ikut hadir pria pria tampan dan sekelas dirinya. Sudah pasti mereka akan melirik pada Ara yang begitu cantik anggun mempesona.
Ara mengangguk tersenyum.
Dia menoleh pada Wisnu.
"Sekertaris Wisnu, tolong ambilkan peralatan cupuku."
Wisnu segera mengambil apa yang di minta nona mudanya.
"Kau akan memakai itu?" tanya Rafa.
"Iya." Ara mengangguk.
Rafa memperhatikan istrinya memakai rambut palsu keritingnya. Dia senang dan lega dengan apa yang di lakukan Istrinya.
Dengan memakai atribut ini akan membuat Ara terhindar dari pandangan pria pria di dalam sana. Ara tersenyum dan membantu Ara memakaikan atribut kecupuan istrinya ini.
Tapi meski di tutupi dengan itu semua, kecantikan istrinya masih terlihat.
Ara selesai menggaris keningnya tebal dan asal dengan warna hitam, mengurai rambut keritingnya di depan. Juga mengurai poni keritingnya sampai di alisnya. Sesaat dia berkaca. Memperhatikan wajahnya yang sudah seperti seorang Betty La fea. Hanya saja dia tidak memakai behel.
"Kak, aku turun di parkiran. Gak usah di depan pintu hotel. Aku akan menghubungi Ines menunggu di parkiran saja." kata Ara seraya memakai tas selempangnya. Dia segera mengirim pesan pada Ines, lalu turun dari pangkuan Rafa, duduk di sebelah.
Dia tersenyum lebar merasakan milik suaminya yang masih tegang.
Rafa melihat hal itu.
"Dia masih tegang sayang." katanya menatap melas pada Ara. Masih tetap berharap istrinya mau di ajak menginap di hotel Alkas walau hanya sejam-dua jam.
"Ya tinggal di lemasin dong kak, susah amat sih," jawab Ara. Lalu tertawa kecil.
"Awas kamu ya___." Rafa kesal.
Dia langsung meraih tubuh Ara menarik kembali ke pangkuannya dan mencurahi ciuman dan kecupan di wajah dan leher istrinya. Sesekali tangannya menggelitik perut dan telinga istrinya.
Ara tertawa terbahak bahak merasa geli.
"Ampun kak___ampun. Dah cukup___aku sulit bernafas."
Rafa segera melepas pangutan bibirnya. Lalu memeluk tubuh istrinya penuh kasih sayang.
__ADS_1
Tak ada yang dapat menggambarkan perasaannya betapa cinta dan sayangnya dia pada wanita ini.
Mobil berhenti di parkiran. Wisnu segera turun memperhatikan sekelilingnya.
Dia melihat Florencia yang langsung menundukkan kepala begitu melihat dirinya.
Dan di arah lain dia melihat Ines. Ines yang melihat dirinya langsung melangkah menuju ke arahnya untuk menjemput Ara.
"Sekertaris Wisnu, apa Ara di dalam?" tanyanya begitu dekat. Jari telunjuknya menunjuk pada mobil di pinggir Wisnu.
Wisnu tak menjawab pertanyaannya.
Dia menatap Ines dari rambut hingga kaki. Memakai mini dress senada dengan high heels yang tidak terlalu tinggi. Wajahnya yang cantik dan manis di poles sedikit makeup tipis. Bibirnya yang berwarna pink diolesi lip balm. Bau wangi Aroma parfum stroberi tercium oleh hidungnya.
Wisnu teringat perkataan ibunya.
"Kedua anakmu menyukai Ines. Selama ini ibu dan Winda sudah mencarikan beberapa wanita baik sebagai pengganti Ayirin, tapi anak anakmu cuek dan tidak perduli pada mereka. Ibu sudah memberi kesempatan kepada mereka selama dua minggu untuk bisa mengambil hati Azham dan Azhar, tapi mereka tidak mampu mengambil hati anak anakmu. Kedua anakmu tetap tidak menyukai mereka.Tapi pada Ines? baru pertama kali mereka bertemu, anak anakmu langsung dekat dan menyukai dirinya. Nak, kamu harus memikirkan anak anakmu. Mereka butuh figur seorang ibu yang dapat memberikan cinta dan kasih sayang pada mereka. Dari kecil mereka tidak pernah merasakan kasih sayang dan perhatian seorang ibu. Dan ibu yakin... Ines adalah gadis yang baik dan tepat untuk menjadi ibu buat Azham Azhar. Ines juga bisa menjadi pendamping hidup yang baik untukmu." kata kata Rani... ibunya.
Semalam Azham dan Azhar meminjam ponselnya, kata mereka ingin menghubungi Ines, yang mereka sebut kakak cantik.
Anak anak itu merengek dan memaksa untuk bicara dengan Ines. Dan dia melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah anak anaknya saat berbicara dengan Ines dan tak bosan bicara.
"Sekretaris Wisnu..." panggil Ines membuyarkan lamunannya, dia melambaikan tangan di depan wajah Wisnu.
Wisnu kaget dan segera mengalihkan tatapannya dari gadis itu.
Dia melihat ke arah Florencia memberi isyarat untuk mendekat.
"Apa Ara ada di dalam?" tanya Ines kembali merasa heran dan canggung di tatapnya.
Wisnu tetap diam tak menjawab.
Ines menatapnya kesal, lalu menjauh dua meter darinya.
Di dalam mobil.
"Florencia? siapa dia?" tanya Ara.
"Seperti yang ku katakan orang yang akan menjagamu. Dia orang kepercayaan Wisnu." kata Rafa. Tidak mungkin dia akan mengatakan Florencia adalah anak buah Wisnu dan merupakan anggota topeng hitam. Selama ini dia menyembunyikan kelompok gengnya dari Ara, dan hingga kini Ara tidak mengetahui tentang keberadaan Mafia Gangnya tersebut.
Florencia sendiri adalah gadis bule yang pernah di selamatkan Wisnu 7 tahun lalu.
Lalu dia mengikuti Wisnu sejak saat itu dan mengabdikan diri pada Wisnu.
"Kalau kau butuh sesuatu dan mendesak, kau bisa memangilnya, dan jangan lupa untuk menghubungi aku atau Wisnu. Ingat pesanku baik baik."
"Iya kak...." Ara menggangguk mendengar banyak pesan dari suaminya yang sangat mengkhawatirkannya.
"Aku mencintaimu sayang." ucap Rafa tatapan penuh cinta.
"Aku juga mencintai kakak." balas Ara tersenyum manis
Rafa tersenyum, dia mengecup bibir dan kening istrinya sesaat, lalu mengetuk pintu.
Pintu di buka dari luar.
Ara segera keluar.
"Araa...," panggil Ines begitu melihatnya. Dia tersenyum senang melihat sahabatnya dan segera melangkah cepat mendekat.
Tapi naas kakinya tersandung batu.
Hilang keseimbangan tubuhnya.
Dengan gerakan cepat Wisnu menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke bawah.
Lagi lagi Wisnu menyelamatkan dirinya.
Jantung Ines berdetak cepat, hatinya di selimuti rasa takut.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" tanya Wisnu menatapnya.
Ines ikut menatapnya.
Lagi lagi sekretaris suami sahabatnya
ini menyelamatkan dirinya.
"A-aku baik baik saja, aku hanya takut." kata Ines terbata bata." Terima kasih, lagi lagi anda menyelamatkan aku."
Wisnu menggangguk, entah kenapa hatinya merasa cemas. Dia segera melepaskan pegangannya pada Ines. Lalu melihat kaki Ines.
Memeriksanya sesaat, melihat tak ada cidera, dia berdiri kembali.
Pergerakannya pada Ines tak luput dari perhatian Florencia.
Ines sendiri jadi canggung dengan apa yang lakukan Wisnu pada kakinya.
"Ines..kamu gak apa-apa?" tanya Ara cemas memegang kedua lengannya. Dia melihat kaki Ines.
"Gak apa-apa Ra..aku baik baik saja."
"Benar?"
"Iya Ra.. untung saja sekretaris Wisnu cepat menahanku tadi."
Ara menoleh pada Wisnu." Sekretaris Wisnu, terimakasih sudah menyelamatkan Ines."
Wisnu menundukkan kepalanya sesaat.
"Ayo Ra..kita masuk ke dalam. Cindy sudah dari tadi menunggu kita." ajak Ines.
"Nona ines, apakah aku bisa minta tolong? bisakah anda bisa menjaga nona muda Ara dengan baik?" ucap Wisnu menatap Ines.
Ines balik menatapnya.
"Kau tidak perlu memberitahukan hal itu sekretaris Wisnu, sudah pasti aku akan menjaga sahabatku dengan sebaik-baiknya. Terutama ke empat keponakan ku ini." kata Ines seraya mengelus perut Ara. Dia Tersenyum.
Ara tersenyum terharu mendengar ucapannya.
"Ayo Ra kita pergi..." ajak Ines kembali.
Ara mengangguk tersenyum "Ayo..."
Matanya melihat pada Florencia.
Dia memberikan senyuman.
Florencia langsung membalas dengan menundukkan kepala.
Ines segera menarik tangan Ara.
Keduanya berpegang tangan dan melangkah menuju pintu masuk hotel.
"Jaga nona muda dengan baik." perintah Wisnu pada Florencia.
"Baik tuan." Florencia segera mengikuti Ara dan Ines dari jarak 10 meter.
Wisnu memberikan kode pada dua mobil yang berada tidak jauh di belakang mobil mereka.
Keluarlah 6 orang pria bertubuh kekar memakai jas hitam mengikuti Florencia dari jarak 10 meter. Tugas mereka tentu saja untuk menjaga Ara di dalam sana. Wisnu tidak bisa menyerahkan keselamatan nona mudanya hanya pada Florencia saja, meski gadis itu memiliki kemampuan karate dan bela diri.
Sementara anak buahnya yang lainnya berjaga-jaga di luar, siap siaga di dalam mobil menunggu perintah.
*****
Jangan lupa like, rate, hadiah dan votenya
yaaaahhh π
__ADS_1