Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 271


__ADS_3

Rafa keluar dari mobil, memperhatikan istrinya hingga hilang dari penglihatannya. Setelah itu dia masuk kembali.


Hatinya tidak tenang membiarkan istrinya masuk dalam acara tanpa dirinya. Apalagi saat ini Ara sedang hamil. Sungguh dia sangat khawatir dan tidak tenang.


Tapi dia tidak bisa memaksa keinginan Ara yang masih ingin menutupi diri sebagai istrinya dari publik.


Tidak susah bagi Ara dan Ines masuk ke dalam hotel, karena petugas keamanan hotel sudah di beri tahu Cindy tentang kedatangan mereka.


Mereka segera masuk dan di tuntun oleh seorang pelayan hotel yang di perintah Cindy menjemput mereka.


Pelayan membawa mereka menuju lift untuk membawa ke atas, ke tempat acara.


Wisnu segera menjalankan mobil dan berhenti di depan pintu masuk. Petugas keamanan langsung menyambut mereka dengan sopan.


Wisnu menyerahkan kunci mobil pada sala seorang di antara mereka, lalu segera mengikuti langkah tuannya.


Ara dan Ines memasuki ballroom hotel.


Sudah banyak tamu undangan yang hadir. Kebanyakan para pebisnis tanah air dan juga berasal dari luar negeri yang mempunyai hubungan kerja sama dengan DRA Group.


Turut hadir pejabat pejabat penting negri ini dan juga tamu penting lainnya.


"Lihat Ra...itu Cindy.." kata Ines menujuk ke depan. Ke arah Cindy yang tak lepas tersenyum mendampingi Dion menyalami para tamu yang memberi ucapan selamat pada mereka.


Di samping mereka juga turut serta Raymond dan Dinda. Lampu kamera menyorot terus ke arah mereka. Lainnya menyorot kepada tamu undangan yang duduk dan tamu yang datang.


"Ayo Ra, kita ke depan..."


Ara mengangguk tersenyum seraya memperbaiki kacamatanya.


Ines memegang tangannya kuat menjaga sahabatnya ini karena sedang hamil.


Mereka melangkah menuju ke tempat Cindy dan Dion.


Tiba tiba Ara menjerit kecil dan hampir saja terjatuh jika saja Ines tidak memegang tangannya. Saat dia hendak terjatuh Ines menarik kuat tangannya. Dia hampir saja terjatuh karena kakinya tersandung pada sesuatu. Yang di rasakan nya seperti sebuah kaki yang sengaja menghalangi jalannya.


"Ra..kamu baik baik saja?" Ines memegang kedua lengan Ara yang tampak gemetar


dan takut.


Ara memegang perutnya. Mengusap calon anak anaknya, berharap mereka baik baik saja di dalam rahimnya.


Dia berusaha menenangkan dirinya.


Menarik nafasnya pelan lalu mengeluarkan.


Florencia yang melihat itu langsung mendekat, tapi langkahnya berhenti karena mendapat isyarat tangan dari Ara.

__ADS_1


"Aku baik baik saja..." kata Ara cepat dengan gerakan bibir. Kejadian begitu tiba tiba sehingga Florencia tidak melihat kaki Ara tersandung pada apa. Dia memperhatikan ke bawah tak ada benda apapun di bawah nona mudanya.


Untung saja kejadian itu tidak menjadi pusat perhatian banyak orang. Hanya beberapa saja yang melihat ke arah mereka.


"Ra.. bagaimana kandungan mu?" tanya Ines kembali menatapnya khawatir. Dia ikut menyentuh perut Ara.


"Tidak apa-apa Nes, kamu menahanku


dengan cepat tadi, jadi aku gak sempat jatuh. Terimakasih ya.."


"Aduh Ra, gak perlu ngucapin makasih gitu deh...aku justru cemas nih... benaran kamu nggak apa-apa? nggak merasakan apa pun?" tanya Ines panik memastikan kembali keadaan sahabatnya.


Ara menggangguk "Iya Nes, aku udah baik kok." katanya sudah mulai tenang.


"Makanya kalau jalan tuh pakai mata, jangan pakai dengkul !!" Terdengar suara sinis dari samping mereka.


Keduanya segera mengalihkan pandangan ke arah suara.


Ines seperti mengenal suara itu, kata kata yang pernah di ucapkan oleh seorang padanya saat hendak jatuh kesandung sama seperti Ara.


Dia terkejut melihat siapa orangnya yang menegur mereka.


"Lo lagi...?" menatap tajam pada Bela yang tersenyum menyeringai menatap mereka berdua. Bela tak sendiri, ada juga kedua temannya Kyla dan Alin tersenyum mengejek pada mereka.


"Heh cupu, matamu ada empat tapi gak bisa lihat jalan?" sentak Bela menyorot tajam pada Ara. Dia pura pura meringis sakit sambil menyentuh kakinya.


"Udah Nes..gak usah di ladeni." Ara segera menarik tangannya." Maaf mbak, saya gak sengaja..maaf." kata Ara pada Bela.


"Ganti kaca mata Lo sama kaca mata kuda, biar lo lihatnya ke depan terus." kata Bela ketus .


Alin dan Kyla tertawa kecil mengejek. Lalu ketiganya segera melangkah meninggalkan Cindy dan Ara.


"Brengsek, selamat lagi dia...malah si cupu yang kena." batin Bela kesal.


Sebenarnya dia ingin membuat Ines jatuh setelah usahanya gagal mencelakai dan mempermalukan Ines di cafe.


Tapi malah Ara yang kesandung pada kakinya karena Ara dan Ines berpindah posisi tempat saat melangkah. Jadi Ara yang tersandung pada kakinya.


"Anjay tuh orang, pengen banget gue tonjok." gerutu Ines menatap kesal pada Bela dan komplotannya.


"Udah Nes, gak usah cari masalah. Jangan bikin kekacauan. Ingat kita lagi di mana, sabar... mending kita ke menemui Cindy saja. Dan jangan lagi memaki kayak gitu, gak baik ah mulut gadis ngucap kata kotor begitu." Ara mengelus dagu sahabatnya. Lalu di pegangnya tangan Ines mengajaknya melangkah kembali.


Mereka kembali berjalan menuju ke arah Cindy.


Ines mendengus pelan.


"Habisnya aku kesal Ra, emosi aku...dia udah pernah lakuin hal kayak gitu ke gue. Pengen banget gue tonjok wajahnya. Sengaja deh kayaknya tuh orang." gerutu Ines kembali menatap ke arah Bela yang berada jauh di depan mereka.

__ADS_1


"Pernah ngelakuin hal seperti padamu? Apa kau mengenalnya?"


"Gak juga sih, aku baru tahu dia sewaktu datang mengunjungi Cindy di rumah tante Dinda. Dia temannya Dwi. Dwi tuh keponakannya tante Dinda. Mereka dari Australia dan menginap di rumah tante Dinda."


"Ohh....!! ya udah..gak usah di balas. Mungkin saja dia gak sengaja. Lagian kita juga nggak kenapa kenapa kan?"


"Tapi Ra, gak boleh di biarkan terus. Nanti dia ngulang lagi. Besok besok entah siapa lagi yang akan di celakainya."


"Udah... entah dia sengaja atau tidak biar Allah saja yang balas. Gak usah emosi gitu. Sebaiknya pasang wajah senyum mu untuk menemui sahabat kita yang lagi tengah senang dan bahagia." Ara menarik ke dua ujung bibir Ines ke atas mengajak tersenyum.


Meski masih kesal, Ines segera memasang senyum di wajahnya. Dia memegang tangan Ara erat.


Ara melihat ke arah Bela yang berada jauh di depan mereka, mengambil tempat di meja depan bersama ke dua temannya.


Ara sebenarnya tahu kaki Bela yang membuatnya hampir terjatuh.


Tapi Ara tidak tahu apa itu sengaja dia lakukan untuk mencelakai mereka atau tanpa sengaja.


Yang jelas Ara tidak ingin mencari keributan yang nanti akan menarik perhatian orang orang suruhan suaminya yang menjaganya dari jauh. Jika sampai mereka sampai tahu, sudah pasti akan di laporkan pada suaminya.


Dia tidak ingin Bela dan kedua temannya mengalami hal buruk seperti yang terjadi pada Sophia. Dia berharap Florencia tidak akan melaporkan kejadian dirinya hampir jatuh dan celaka tadi pada suaminya dan Wisnu.


Bela menatap Dion tak bergeming dari tempatnya.


"Sangat tampan." gumannya pelan tersenyum.


Dia semakin menginginkan Dion, apalagi saat ini Dion sudah menjadi seorang Direktur utama.


"Lo udah yakin sama rencana lo?" tanya Alin.


"Tentu saja. Gue akan misahin mereka berdua...lihat saja nanti apa yang bakal gue lakuin." bela tersenyum sinis menatap wajah Cindy


"Gue bakal buat si dungu itu jadi seorang janda." katanya kembali menyorot tajam pada Cindy


Alin dan Kyla saling berpandangan mendegar ucapannya.


"Kalian tunggu di sini, gue kedepan dulu mau samperin mereka. Tunggu kode dari gue."


katanya lalu berjalan meninggalkan Alin dan Kyla. Dia membuka sedikit dress bagian depannya, sehingga sebagian buah dadanya terlihat. Dia melangkah menuju ke arah Dion dan Cindy.


*****


Dukung author terus ya 😘


Mampir juga dalam karya kedua author


Arley & Ana 😘

__ADS_1


__ADS_2