
Hay Readers yang masih setia dengan karya author Rafa Dan Ara, terima kasih sudah mampir dan meninggalkan like, komentar dan vote. Ini merupakan karya author yang pertama, masih tahap pembelajaran sih β€οΈ
Dukung terus ya, jangan lupa dukungannya biar author tambah semangat untuk update terus π
Ara turun dari taksi online Narto langsung di sambut ustadz Arif, dan para pengurus yayasan lainnya. Tak ketinggalan juga mbok Imah, Tito dan dan beberapa anak panti.
Mereka tersenyum melihat kedatangan Ara.
Ara membalas senyuman mereka. Dia merasa sangat senang bisa berkunjung lagi ke rumah orangtuanya yang sekarang sudah berubah menjadi sebuah yayasan panti asuhan yang besar dan megah.
"Assalamualaikum." ucapnya sopan dan ramah.
"Waalaikumsalam," jawab mereka hampir bersamaan.
Anak anak panti yang ada di situ langsung menyerbu mencium tangannya.
Ara tersenyum haru sambil mengusap kepala mereka satu persatu.
"Mari silahkan masuk nona," ucap ustadz Arif.
"Terimakasih ustadz. Bagaimana kabar dan perkembangan anak anak ?"
"Alhamdulillah semuanya sehat Nona! Anak anak terus berlatih mengasah kemampuan dan keterampilan mereka dalam berkreativitas. Sesuai dengan ide kreatif yang Nona berikan. Setiap libur anak anak membuat berbagai macam jenis tata boga dan kreasi lainnya. Kami mencoba menjual di berbagai warung-warung sekitar panti,"
"Itu sangat bagus ustadz. Berikan terus pelatihan keterampilan untuk mereka. Ketrampilan yang mereka dapatkan di sini insyaallah akan jadi bekal mereka di masa depan nanti," ujar Ara senang.
Mereka terus berbincang di sela sela langkah mengelilingi setiap ruang dan sudut gedung panti Asuhan untuk sekedar menyapa anak anak, para pengurus yayasan, para guru, ustadz/ ustazah, serta para penghuni panti lainnya.
Tak lupa juga Ara menyambangi makam tempat peristirahatan abadi orang tuanya. Mengirim doa dan berbincang menyapa seperti biasa yang dia lakukan saat berkunjung.
Setelah berkeliling panti dan mengunjungi makam orang tuanya, Ara segera di antar oleh mbok Imah menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Kata mbok imah, sang donatur sengaja membuat kamar pribadi untuk Ara di lantai dua. Sebagai tempatnya untuk beristirahat setiap kali datang berkunjung.
Begitu yang di sampaikan mandor saat mendirikan bangunan ini.
Kamar yang cukup luas bagi Ara, ukuran 10x10 di lengkapi dengan furniture yang indah, fasilitas yang mewah.
"Nona Ara, siang ini mau makan apa? Nanti mbok siapkan!" tanya mbok Imah.
"Apa yang ada saja mbok. Saya akan bergabung dengan anak anak dan yang lainnya," kata Ara sambil melepaskan sepatunya.
Lalu menuju lemari pendingin mengambil air minum. Kemudian ke kamar mandi mengganti pakaiannya yang memang sudah tersedia di lemari kamar mandi. Jadi dia tidak perlu lagi membawa pakaian bila datang kemari.
Beberapa menit dia keluar sambil memakai pakaian rumah kesukaannya, yaitu daster selutut tanpa lengan.
Mbok Imah meletakkan sepatunya di rak sepatu.
"Anak anak sudah selesai makan siang. Makanan Nona nanti mbok antar ke sini ya?"
"Baiklah mbok, tapi sedikit aja."
Mbok Imah mengangguk.
"Nona mau istirahat ?"
"Iya mbok, setelah shalat Jum'at saya akan pulang. Hari ini kakak ipar akan menikah, jadi saya harus cepat balik," berbaring di atas tempat tidur sambil memejamkan mata.
Mbok Imah memperhatikannya dengan tersenyum, lalu segera turun untuk mengambil makanan siang majikannya ini.
Ponsel Ara berdering. Dia membuka mata, lalu segera meraih benda pipih itu di dekat bantal.
Panggilan video dari dokter Rizal.
Ara segera mengangkatnya.
"Halo adik ipar." suara Rizal dari seberang.
"Halo dokter, assalamualaikum." balasnya sambil mengucek mata.
"Waalaikumsalam, kamu lagi di mana Ra? Sepertinya kamu sedang tidur ya? Apa aku mengganggu?" Rizal memperhatikan latar di belakang Ara.
"Nggak kok dokter, hanya baring baring saja menunggu waktu shalat. Aku lagi di rumah orangtuaku! Ada apa dokter nelpon?"
"Aku ingin melihat wajah cantikmu. Sudah lama aku nggak ketemu kamu, kangen nih!" Rizal menggoda dari seberang.
Ara tertawa kecil.
"Dokter bisa aja deh!"
"Benar Ra, aku kangen banget nih. Mana wajahmu. Dekatkan sama kamera, aku pengen lihat full wajahmu." Rizal berseloroh sambil tersenyum kecil.
Ara kembali tertawa, lalu segera mendekatkan kamera di wajahnya.
Rizal memperhatikan wajahnya dengan cermat.
"Wajahmu sedikit pucat, mata panda mu juga
kelihatan, tapi cantikmu nggak ilang." kembali menggoda.
Ara terkekeh.
"Udah ah, dokter bercanda mulu. Aku mau mandi, bentar lagi tuh shalat Dzuhur."
"Baiklah nona manis, aku hanya ingin memastikan keadaanmu. Kata kakak ipar mu kau sakit. Dia menyuruhku datang ke rumah utama. Tapi saat aku ke sana, kau tidak ada. Bagaimana keadaan mu?"
"Aku hanya flu dok, dan sedikit hangat. Tadi sudah minum obat yang di beli temanku di apotik. Maaf ya telah merepotkan Anda." Ara bangun mengambil botol minumnya, lalu meneguknya pelan pelan.
"Aku bawakan obat untukmu, ku berikan pada pak Sam."
"Oh iya, terimakasih dokter. Aku akan balik setelah shalat jumat. Oh ya dokter, aku boleh nanya nggak?"
"Mau menanyakan apa sayang?"
"Apa dokter sudah tau hari ini kak Rafa akan menikah?"
"Ya aku sudah tau. Tadi dia menghubungi ku dan memintaku datang. Kenapa Ra? kamu sedih ya dia akan nikah?" mencoba menebak perasaan Ara pada Rafa.
"Lho kok sedih? Justru aku turut senang dan bahagia akhirnya kakak Rafa akan menikah. Dokter sendiri kan tahu sudah lama mama sangat ingin kak Rafa segera menikah dengan kak Levina. Dan akhirnya keinginan mama itu akan segera terlaksana hari ini."
"Terus kau mau nanya apa?"
"Aku hanya ingin menanyakan, pernikahan kakak ipar jam berapa? Soalnya aku belum di kasih kabar, sementara aku berada di kampung ku." kata Ara.
"Kalau nggak salah setelah magrib. Kamu santai saja dulu, jangan terburu-buru pulang. Nanti aku kabari kamu lagi."
"Oh iya dok, tolong kabari aku segera. Terimakasih sebelumnya."
"Oke Ra, aku tutup dulu telepon nya, kamu baik baik di sana ya?"
"Iya dokter. By..... assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam,"
Ara segera mematikan telepon.
Dia berpaling pada kado kecil yang terbungkus rapi dan indah, tergeletak di nakas. Kado ulang tahun pernikahan Rafa dan Levina
"Kakak ipar marah nggak ya aku pakai duitnya buat beli hadiah itu?" gumamnya cemas. Karena harga hadiah itu sangat mahal.
Ara meletakkan ponselnya, lalu masuk ke kamar mandi mengguyur tubuhnya membersihkan diri. Sebentar lagi waktu shalat jumat akan di mulai, karena sudah terdengar lantunan ayat suci Alquran dari mesjid Panti.
Di tempat lain.
Rizal membuang nafas berat, lalu menoleh ke sampingnya pada Rafa yang duduk disebelahnya.
"Ara baik baik saja. Sepertinya dia memang tidak ada perasaan padamu. Dia hanya menganggap mu sebagai kakak iparnya!"
"Aku benar-benar nggak nyangka bos, kamu bisa jatuh cinta pada istri adikmu sendiri. Bahkan saat dia sudah menjadi istri Raka pun kau tetap mencintainya? Apa kamu nggak merasa berdosa pada Raka karena selama ini mencintai istrinya dalam diam?!"
Wisnu mengangkat wajahnya menatap kearahnya.
"Maaf Dokter, aku sudah beritahu berulang kali pada anda, tuan Rafa tidak mengetahui kalau Nona Ara adalah calon istri tuan Raka saat itu.Tuan Rafa sudah terlanjur mencintai nona Ara jauh sebelum Nona Ara menjadi istri tuan Raka! Anda jangan terus terusan menyalahkan tuan Rafa." katanya tak senang.
"Ah diam kau, sekretaris sialan. Kalian berdua sama brengseknya menyembunyikan hal ini dariku. Padahal dulu aku sudah bertanya berulangkali, tapi kalian menutupinya dari aku!" kata Rizal ketus.
"Bagaimana hati Ara jika mengetahui hal ini?" ucapnya kembali menatap tajam pada mereka berdua.
Rafa membuang nafas kasar.
"Aku harus bagaimana? Aku pun merasa sangat berdosa pada Raka. Aku sudah berusaha sekuat hatiku untuk melupakan Ara, mengikhlaskan dirinya setelah aku tahu dia istri Raka. Tapi aku malah semakin mencintainya. Aku tidak bisa mengeluarkan dia dari hatiku. Aku kehilangan semangat hidupku. Aku semakin tersiksa dan menderita. Tidak bisa menerima kenyataan kalau dia adalah istri Raka!" menatap tajam Rizal dengan mata memerah karena sedih.
"Aku bahkan menyibukkan diri bekerja keras siang dan malam keluar negeri, agar bisa melupakannya. Tapi bayangan Ara selalu muncul di mataku, di lembaran kertas kerjaku. Dia tidak bisa hilang dari hati dan pikiranku. Rasa cintaku malah semakin bertambah padanya." Rafa menunduk sambil menekan matanya yang basah dengan jari jemarinya.
"Aku tidak pernah mencintai wanita seperti ini. Meskipun mencintainya membuatku sakit dan menderita." dada bergemuruh menahan tangis.
"Seharusnya kami tidak melakukan penyerangan malam itu. Seharusnya aku tidak melarikan diri ke taman malam itu. Sehingga tidak bertemu dengannya dan jatuh hati padanya. Aku bahkan telah merenggut ciuman pertamanya malam itu. Dia menangis dan memohon agar aku tidak menciumnya dan di lepas. Tapi aku malah semakin erat memeluknya tak ingin melepaskannya," kembali mendesah sedih.
Rizal yang kesal jadi sedih melihat penderitaan sahabat sekaligus bosnya ini.
"Kau masih ingat saat dia datang ke rumah sakit menemui mu malam itu untuk mendonorkan darahnya pada tante Mia?"
Rizal menatapnya dengan dahi mengerut.
Mengingat kejadian Ara datang bersama Ines untuk mendonorkan darah.
"Yah...aku ingat!" katanya kemudian.
"Malam itu adalah malam pertama aku bertemu dengannya di taman, merenggut ciuman pertamanya, dan jatuh hati padanya. Mungkin saat itu dia sedang menunggu Raka, tapi malah aku yang datang menemuinya lebih dulu." menatap Rizal.
"Tuan, anda jangan menyalahkan diri sendiri. Mungkin Allah sudah mengatur semuanya. Allah sudah mengatur pertemuan anda dengan Nona muda, dengan cara mempertemukan anda berdua malam itu. Mungkin Nona muda memang jodoh yang Allah pilihkan untuk anda. Saya sangat meyakini hal itu! Dengan kepergian tuan muda Raka, Allah memberikan kesempatan kepada anda untuk memiliki Nona muda!" ujar Wisnu.
"Tidakkah anda ingat saat tuan muda turun dari mobil untuk melaksanakan shalat Subuh, Tuan muda menitipkan Nona Ara kepada anda dan meminta anda untuk menjaganya?" sambung Wisnu kembali mengingatkan keinginan Raka dulu sebelum kematian menjemputnya.
"Apa benar seperti itu wisnu?" Rizal memastikan dengan menatap lekat wajah Wisnu.
"Benar dokter, sepertinya ini pertanda. Saat itu wajah tuan muda pucat. Nona muda sangat cemas dengan keadaannya. Sampai sampai nona muda memaksa untuk menemaninya di mesjid, tapi tuan muda melarang. Sepertinya tuan muda sudah merasakan tanda tanda kematiannya. Dia mungkin sudah tau kalau dia akan pergi selamanya. Makanya sebelum dia turun dari mobil untuk melaksanakan shalat, dia berpesan kepada tuan Rafa untuk menjaga nona Ara dengan baik." lanjut Wisnu kembali.
Rizal mencermati penjelasan Wisnu, dia mengerti perkataan sekretaris itu. Lalu memegang pundak Rafa.
"Sepertinya ini memang sudah takdir dan rencana Allah. Sekarang tinggal bagaimana cara dan usahamu untuk meyakinkan Ara untuk mau menikah denganmu! Kau sendiri kan tau Ara sangat mencintai Raka." ucapnya.
"Sekarang mari kita ke kampung halamannya, sebelum dia keburu balik ke sini. Tapi sebelumnya kita shalat Jumat dulu!" ujarnya kembali sambil bangkit.
.
.
Ara melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah di mesjid setelah para lelaki melaksanakan shalat Jumat. Selesai shalat Ara melihat ada kesibukan di ruang shalat laki laki. Terlihat ustadz Arif sedang berbicara serius dengan kepala desa dan beberapa orang bapak bapak yang tidak di kenal Ara.
"Mbok, pak ustadz dan kepala desa sedang berbicara dengan siapa? Sepertinya mereka sedang membicarakan hal penting." tanya Ara pada mbok Imah yang sedang melipat mukena.
"Bapak bapak itu adalah pegawai dari kantor KUA. Dan yang satunya adalah pemuka agama di sini." mbok Imah menjelaskan.
"Pegawai KUA?" dahi Ara mengerut
"Iya Nona."
"Apa ada yang akan menikah di mesjid ini?"
"Iya Nona, mbok dengar begitu! Untuk pertama kalinya Mesjid kita ini akan di gunakan untuk menyatukan sepasang manusia dalam ikatan suci pernikahan." kata mbok Imah tersenyum.
"Alhamdulillah mbok, Kita doakan semoga pernikahannya langgeng selamanya dan menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah! Aamiin." ujar Ara ikut tersenyum senang.
"Iya Nona, Aamiin "
"Emang siapa yang mau menikah mbok?" tanya Ara lagi.
"Kalau itu si mbok tidak tahu Non. Ustadz Arif tidak memberi tahu, rahasia sih katanya. karena permintaan dari pihak mempelai laki laki." kata mbok Imah masih dengan senyuman penuh arti di wajah.
Ara masih menatap ke arah Ustadz Arif dan tamu. Beberapa saat kemudian mereka segera turun keluar dari dalam mesjid menuju gedung asrama putri.
"Nona Ara nanti bisa melihat pernikahannya sebentar." ujar mbok Imah kembali.
"Memang jam berapa pernikahan akan di laksanakan?"
"Kalau nggak salah sih ijab kabulnya setelah shalat ashar."
"Sepertinya aku nggak sempat mbok. Karena aku akan segera balik ke jakarta. Aku sudah dapat info dari dokter Rizal kalau pernikahan kak Rafa akan di laksanakan setelah magrib. Jadi setelah shalat ashar aku akan kembali. Aku juga sudah menghubungi taksi kang Narto untuk menjemput ku pulang."
"Oh gitu ya Non, baiklah tidak apa apa." kata mbok Imah dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya.
"Aku sekarang ke kamar dulu ya mbok, mau tidur sebentar."
"Apa Nona sudah makan siang?"
"Belum lapar mbok. Nanti bangun tidur saja!"
"Ya Non. Mbok mau kebelakang dulu."
Ara mengangguk, lalu segera menaiki tangga menuju kamar tidurnya. Sungguh dia sangat mengantuk karena semalam kurang tidur. Di tambah lagi tubuhnya kurang fit. Setelah melepas mukena dia memasang alarm pukul 15.00, terus langsung naik ke tempat tidur dan merebahkan diri sambil menyumbat ke dua lubang telinganya dengan headset. Tidak butuh waktu lama dia langsung terlelap, di iringi lantunan ayat suci Al-Qur'an.
.
.
Levina terlihat sangat sibuk mencari kebaya dan juga jas Rafa yang akan di gunakan dalam pernikahan mereka.
Dia memaki Rafa karena mengajak menikah dengan tiba tiba seperti ini tanpa ada persiapan yang matang.
Beberapa butik telah memperlihatkan model kebaya bervariasi baik tradisional maupun modern, tapi tak ada satupun yang terlihat menarik di matanya. Dia ingin terlihat cantik dan anggun untuk mendampingi Rafa agar tak ada satupun mata manusia yang mengalihkan pandangannya dari dirinya.
Pernikahannya sudah tersebar di kalangan para model dan selebriti tanah air.
Banyak yang mengucapkan selamat dan doa sambil mengungkapkan rasa kekaguman pada dirinya karena beruntung akan menjadi istri sala satu pengusaha kaya raya yang sangat terkenal dan berpengaruh. Pengusaha tampan yang banyak di gilai dan di inginkan para model, artis dan gadis gadis cantik berkelas.
Tak banyak juga hanya menanggapi secara santai dan juga iri.
.
.
Dengan kecepatan tinggi yang di miliki kendaraan sport mewahnya, Rafa sampai di depan pintu masuk Yayasan Panti Asuhan Azahra hanya dalam waktu 1 jam.
Rizal baru pertama kalinya datang ke kampungnya Ara jadi belum tahu rumah Ara. Dia bingung.
"Bos, ini ngapain kita kesini?" tanyanya pada Rafa sambil menyapukan pandangannya ke bangunan panti yang cukup besar.
"Di sini tempat Nona muda tinggal dokter," jawab Wisnu mewakili tuannya menjawab pertanyaan Rizal.
"Di panti Asuhan ini Ara tinggal?" ujar Rizal kembali bertanya.
__ADS_1
"Dulunya ini adalah rumah orang tua Nona muda! Tapi Nona muda telah merubahnya menjadi yayasan panti Asuhan. Karena rasa kepedulian pada anak anak yatim-piatu, anak anak terlantar yang tinggal di jalanan, serta anak anak yang hidupnya tidak beruntung." kata Wisnu kembali menjelaskan.
"Coba anda baca tulisan di pintu gerbang masuk itu." Wisnu menunjuk ke arah pintu gerbang.
Rizal mengalihkan pandangannya ke arah yang di tunjuk wisnu.
"Yayasan Panti Asuhan Azahra" ucap Rizal membaca tulisan itu. Dia melongo kaget
"Jadi yayasan ini punya Ara?" mengingat nama panjang Ara adalah AZAHRA.
Wisnu mengangguk."Benar dokter."
Rizal berdecak kagum.
"Adik ipar ku kereeeen amat. Aku sudah yakin adik ipar ku yang cantik itu memang gadis baik berhati mulia." desisnya bangga.
"Tapi kok dia nggak pernah ngomong ke aku kalau punya yayasan panti asuhan se gede ini?"
"Anda sudah tau kan sifat dan karakter Nona muda? Apa harus saya jelaskan lagi dokter?"
"Ya yaaa, aku tahu, kau tidak perlu menjelaskan." ujar Rizal sambil mencibir.
Ustadz Arif bersama mbok Imah yang sudah mengetahui kedatangan Rafa tampak melangkah terburu-buru ke arah mereka. Keadaan pesantren sedang sepi, karena sebagian para penghuninya sedang istirahat siang.
"Assalamualaikum pak ustadz." sapa Rafa
"Waalaikumsalam tuan Rafa, mari kita
kedalam." jawab ustadz Arif sopan.
Mereka mengikuti langkah ustad Arif
"Silahkan masuk tuan Rafa." sambut ustad Arif begitu tiba di gedung khusus asrama putri. Mereka di persilahkan masuk ke ruang tamu.
"Terimakasih pak ustadz! Apa anda sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Rafa menanyakan kesiapan berkas pernikahannya dengan Ara.
"Sudah tuan, saya juga sudah menyampaikan kepada kepala KUA dan kepala desa."
"Bagus, terimakasih. Saya harus berbicara dulu dengan Ara untuk memberi tahukan pernikahan ini, karena dia belum tahu!"
"Baik tuan. Mbok Imah, tolong panggilkan nona Ara..," ustadz Arif menoleh pada mbok Imah.
"Nona sedang tidur, dia kecapean. Kelihatannya Nona sedang tidak enak badan. Selesai sholat Nona langsung tertidur pulas, saya tidak tega untuk membangunkannya," kata mbok Imah menjelaskan keadaan Ara yang tidak sehat.
"Kalau begitu tidak usah di bangunin mbok! Saya akan menunggunya sampai dia bangun." kata Rafa. Wajahnya langsung terlihat cemas mendengar perkataan mbok Imah yang mengatakan Ara tidak sehat.
"Mungkin tidak lama lagi Nona akan bangun. Karena dia telah memasang alarm jam tiga. Katanya setelah shalat ashar dia akan balik ke jakarta untuk menghadiri pernikahan tuan." jelas mbok Imah.
"Di mana kamar Ara, saya ingin melihatnya karena cemas dengan keadaannya." tanya Rafa.
"Tuan naik saja ke tangga itu, kamar Non Ara ada di atas."
"Terimakasih, saya ke atas dulu."
"Iya tuan, silahkan...," kata ustadz Arif dan mbok Imah bersamaan.
"Semoga kau bisa meyakinkannya. Bicaralah baik baik dari hati, semoga berhasil." kata Rizal menepuk pundaknya.
Rafa segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tangga.
"Pak ustadz, boleh kah anda mengantar saya untuk melihat lihat yayasan ini?"
"Tentu saja dokter, mari silahkan..!"
"Saya benar-benar tidak menyangka di usianya yang masih sangat muda sudah menjadi pendiri yayasan dan menjadi ibu asuh anak anak di panti ini." melirik Wisnu.
Wisnu bersikap acuh dan berpura pura tidak memperhatikannya
Rizal mendesis kesal dan segera mengikuti langkah ustad Arif.
Mbok Imah meninggalkan Wisnu karena dia punya pekerjaan di belakang.
Wisnu standby di tempatnya untuk menunggu perintah tuannya.
.
.
Perlahan Rafa memutar handle pintu, terbuka.
"Kenapa dia tidak mengunci pintu? bagaimana kalau ada orang yang masuk dan berbuat jahat?" gumamnya.
Dia membuka pintu secara perlahan, masuk dan membiarkan pintu terbuka sedikit.
Sesaat matanya menyapu sekeliling ruangan.
Ukuran dan bentuk kamar sesuai dengan apa yang perintahkan kepada sang mandor saat membuat kamar ini untuk Ara tempati.
Lalu dia mendekat ke tempat tidur, duduk perlahan di pinggir ranjang yang empuk.
Memperhatikan wajah Ara yang tertidur pulas di sertai dengkuran halus. Wajah itu sedikit pucat, bawa matanya sedikit gelap.
Rafa menurunkan pakaian Ara yang tersingkap ke atas.
Perlahan dia menyentuh pelan dahinya, sedikit hangat. Rafa merutuk dirinya karena menjadi penyebab Ara sakit begini. Rafa menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya, lalu menyentuh lembut wajah Ara. Dia tersenyum.
"Mama mengatakan banyak yang lebih baik dari kamu di luar sana. Tapi mereka tidak seperti kamu. Kamu wanita yang sangat sempurna bagiku. Kamu adalah segalanya yang ku inginkan, kamu sangat berarti untukku, aku benar-benar cinta padamu, aku tergila gila padamu ....I love you, l need you Azahra Radya Almira." ucapnya lembut.
Dia melepaskan headset yang berada di telinga Ara, mendengar sesaat lantunan surah Ar Rahman.
Matanya beralih pada benda kecil yang terbungkus rapi dan indah. Rafa meraih benda itu dan membaca kata yang tertera. Tertulis ucapan dan doa untuk pernikahannya bersama Levina.
Rafa mendengus geram, dirobeknya kertas tulisan itu dan di remas kuat, lalu di buang ke lantai.
"Aku hanya akan menikah denganmu, aku hanya butuh dirimu untuk mendampingiku selamanya hingga akhir waktu." katanya sembari melihat pada Ara. Rafa mendekatkan wajahnya, terus mengecup lembut bibir Ara, lalu beralih pada hidung mata dan kening.
"Aku hanya butuh dirimu di dunia ini, untuk melengkapi hidup ku, menjadi pendamping hidup ku selamanya." ucapnya lagi.
Perlahan Ara membuka matanya karena merasakan pergerakan dan sentuhan di wajahnya. Ara kaget saat melihat sebuah wajah yang sangat dekat dengan wajahnya. Dia langsung bangun.
"Kakak ipar?" kaget setelah melihat jelas wajah Rafa.
"Kau sudah bangun?"ucap Rafa sambil tersenyum, dia juga kaget dengan bangunnya Ara yang tiba tiba.
Ara menatap bingung."Kakak kok ada di sini?" katanya sembari turun dari ranjang.
"Kakak ipar pasti datang kesini karena sudah mengetahui aku memakai kartu kreditnya." batinnya mulai khawatir.
"Aku sudah setengah jam lalu berada di sini, memperhatikanmu tertidur nyenyak." Rafa ikut bangkit dari duduknya.
"Untuk apa kakak datang kemari? Kakak kok bisa tahu tempat tinggal ku?"
"Apa yang tidak ku ketahui tentang dirimu Ara?" mendekati Ara.
"Apa kamu tidak suka aku datang ke rumahmu?" menatap lekat.
Ara gugup menyadari pertanyaan nya yang membuat Rafa tidak senang. Dia segera mengulas senyum.
"Tidak seperti itu, kakak jangan tersinggung. Aku hanya kaget saja melihat kakak ada di sini. Seharusnya sekarang ini kakak sedang mempersiapkan acara pernikahan dengan kak Levina, tapi malah ada di sini."
"Aku datang kemari karena ingin bertemu dengan dirimu." kata Rafa.
"Tuh kan, pasti karena kartu kredit itu?" batin Ara kembali.
Rafa kembali mendekatinya. Ara gugup dan mundur, tapi Rafa terus melangkah mendekatinya.
"Sepertinya kak rafa benar benar marah." gumam Ara semakin takut
"Tolong jangan marah kak, aku janji akan mengembalikannya." pintanya memelas.
"Benarkah?" Rafa menatapnya lekat.
Ara mengangguk meski ragu.
"Aku mau secepatnya kau kembalikan uangku." terus maju mendekati.
Ara tercengang.
"Secepatnya? Tapi itu jumlah yang sangat banyak. Butuh waktu yang lama untuk mengembalikannya, aku hanya bisa menyicilnya sedikit demi sedikit."
"Aku punya solusi untuk mu, agar kau bisa mengembalikan uangku secepatnya." berhenti di depan Ara yang sudah tidak bisa mundur lagi karena ada tembok di belakangnya. Rafa mendekatkan wajahnya.
Ara semakin takut."Jangan dekat dekat." ucapnya mulai khawatir. Dia mendorong tubuh Rafa, tapi Rafa cepat menangkap tangannya, mendekat kan tubuh mereka.
"Kakak mau apa? Jangan dekat-dekat. Bicara saja dari jauh." melihat mata Rafa yang bergerak liar menatap wajahnya.
Ara secepatnya membalikkan tubuhnya membelakangi, Khawatir Rafa akan menciumnya.
Rafa tersenyum tipis.
"Berbalik lah Ara, jangan membelakangi ku. Tidak sopan namanya." bisiknya seraya mengalungkan ke dua tangan di perut Ara.
"Aku gak mau. Kakak mundur dulu, baru itu aku berbalik. Aku mohon mundur lah, jangan dekat-dekat seperti ini, nggak baik nanti ada orang masuk dan melihat." berusaha melepaskan tangan Rafa yang memeluk erat perutnya.
"Kalau begitu aku akan mengunci pintu, biar nggak ada yang bisa masuk." bisik Rafa kembali ditelinga Ara sambil tersenyum jahil.
Hah? Ara terperanjat.
"Kakak? ihhhh...." pekiknya kesal.
"Mau berbalik atau tidak?" kata Rafa
Ara kesal."Kenapa kakak selalu seperti ini padaku? Kakak suka seenaknya melakukan apa yang kakak inginkan."
"Melakukan apa?" wajah Rafa mengernyit.
"Kakak masih nanya juga?" Ara semakin kesal.
"Ya karena aku nggak ngerti apa maksudmu!" Rafa tersenyum pura pura tidak mengerti.
Ara terdiam, hanya nafasnya terdengar tak beraturan.
"Melakukan apa maksudmu? katakanlah? apa kau takut kita dekat begini?"
"Tentu saja aku takut. Kita nggak seharusnya dekat seperti ini. kita adalah kakak dan adik ipar. Ini sesuatu yang nggak baik. Mungkin kakak biasa melakukan hal seperti ini pada kak Levina dan juga pada wanita yang lain, tapi tolong jangan padaku. Aku adik ipar mu." suara mulai serak.
Dahi Rafa mengerut.
"Memangnya aku melakukan apa pada wanita di luar sana? Kamu berpikir buruk lagi tentang aku? Katakan apa maksudmu, aku melakukan apa pada Levina dan wanita wanita yang kau maksud itu Ara?"
Ara tidak menjawab, karena telah mengatakan hal buruk.
"Jawab Ara....!" kata Rafa sedikit keras karena Ara hanya diam, tidak menjawab.
Dada Ara semakin bergemuruh tak beraturan bercampur takut.
"Kakak suka seenaknya melakukan yang kakak inginkan. Dekat dekat, memeluk dan suka cium sembarangan pada perempuan
Seperti sekarang yang kakak lakukan padaku. Kakak nggak seharusnya seperti ini, kakak sudah punya kekasih, sebentar lagi mau nikah. Seharusnya jaga jarak dan tidak boleh dekat sama perempuan lain termasuk aku. Apa karena kakak punya banyak uang dan kekuasaan hingga bisa seenaknya melakukan apa yang kakak mau pada setiap wanita?" memberanikan diri bicara.
Rafa mengeram marah mendengar ucapannya. Sekuat tenaga dia membalikkan tubuh Ara menghadap ke arahnya, menekan dan mengurung tubuh wanita ini ke tembok.
Terus memegang wajah Ara yang ketakutan, mata tertutup karena takut melihat wajah Rafa.
"Aku melakukan apa? Hanya karena beberapa kali kamu melihatku bersama dengan wanita terus kamu mengecap aku rendah?" mendekatkan wajahnya tanpa celah.
Ara menunduk, gugup dan takut.
"A-aku tidak tidak bermaksud begitu...,"
"Lalu apa? Kamu pikir aku serendah itu?"
Ara tak menjawab, hanya geleng-geleng kepala dengan kepala tertunduk. Semakin mengigit bibir bawahnya untuk menekan ketakutannya.
"Ara, angkat kepalamu, buka matamu, tatap aku." Suara keras lagi.
"Nggak mau." geleng-geleng kepala.
"Apa perlu ku paksa? Angkat kepalamu, tatap aku, atau kucium," sentak Rafa.
Ara mendengus kesal mendengar ancaman itu. Ancaman yang selalu dipakai Rafa untuk memaksanya agar menurut.
Perlahan Ara mengangkat kepalanya. Membuat tatapan mata mereka saling bertemu.
Rafa menelan saliva menatap wajah di depannya.
Perlahan dia memegang lembut wajah Ara, menyingkap rambutnya dan menyelipkan ke belakang telinga, memperhatikan setiap bagian wajah gadis ini. Dan berhenti pada bibir yang merah seperti buah Cherry.
"Aku tidak seburuk apa yang ada dalam pikiranmu," katanya lembut.
"Aku tidak pernah melakukan sentuhan fisik dengan wanita di luar sana termasuk Levina. Aku hanya melakukan itu padamu, hanya kepadamu Ara.....hanya kepadamu seorang." katanya kembali meyakinkan Ara. Bibir Cherry itu begitu menggoda sehingga dia kembali menelan saliva.
"Ara, aku menyukaimu, aku mencintaimu. Sangat mencintai mu." katanya pelan dengan kesungguhan hati.
Ara tercengang. Mata bulat.
"Sungguh aku mencintaimu Ara, Aku sangat mencintaimu. Apakah kau mau menikah denganku?" ucap Rafa kembali tatapan penuh harap.
Ara kembali tercengang.
"A- apa? menikah?" antara percaya dan tidak dengan permintaan Rafa mengajak menikah.
Beberapa detik berlalu Ara tertawa. Menganggap Rafa sedang bercanda.
"Kalau bercanda jangan keterlaluan deh! Aku tahu kakak sudah biasa mengatakan hal ini pada wanita wanita kakak bukan? Tapi jangan kepadaku."
"Aku serius Ara, aku nggak bercanda. Aku serius, sangat serius. Aku benar benar mencintaimu. Aku hanya mengatakan ini padamu, hanya padamu seorang."
"Apa kakak masih waras? Udah deh, sebaiknya kakak pulang. Kak Levina pasti sangat membutuhkan kakak untuk persiapan pernikahan kalian!" masih tertawa kecil. Mendorong tubuh Rafa.
Tapi Rafa kembali menarik tubuhnya.
"Aku tidak butuh Levina atau wanita lain. Aku hanya butuh dirimu dalam hidupku. Aku ingin kau menikah denganku menjadi istriku!" menahan tangan Ara yang berusaha kembali mendorongnya.
"Aku ini istri dari adikmu, istri kak Raka, adik ipar mu. Jangan membuat lelucon yang tidak masuk di akal." kata Ara menatap datar.
"Raka sudah meninggal, dia sudah tidak ada dunia ini!"
"Lalu kenapa kalau suamiku sudah tidak ada di dunia ini? Apa kakak mau seenaknya padaku? hah?" mendorong kuat tubuh Rafa. Mulai kesal merasa dirinya di rendahkan seperti wanita lain.
"Ara ... dengarkan aku!"
__ADS_1
"Kakak benar benar keterlaluan, kakak sudah punya kekasih tapi masih juga merayuku?"
Mata Ara berkaca kaca.
"Aku tidak mencintai Levina...,"
Ara mendengus kesal.
"Kakak benar benar laki laki brengsek. Kalian sudah lama menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih. Tadi pagi kakak mengajaknya menikah, sekarang kakak mengatakan tidak mencintainya?" berkata dengan suara meninggi, tatapan tajam.
"Kakak benar benar brengsek, brengsek." kata Ara sembari memukul mukul dada Rafa.
Rafa membiarkannya dan menerima pukulan pukulan itu.
"Aku mencintaimu Ara, aku hanya mencintaimu. Aku tidak pernah mengajak Levina ataupun perempuan lain untuk menikah. Seumur hidupku aku hanya mengatakan ini kepadamu... kepadamu seorang! Aku hanya mencintaimu sayang."
"Nggak, diam!" teriak Ara keras.
"Jangan bilang begitu lagi padaku!" emosi.
"Aku tahu kakak sudah terbiasa mengatakan hal seperti ini pada wanita wanita-wanita lain. Dan kakak tega berkata seperti itu juga padaku? aku adik ipar mu. Kakak benar benar keterlaluan." terus memukul mulai terisak menangis.
"Kakak jahat, kakak brengsek. Kakak seenaknya memeluk ku, mencium ku, membawaku ketempat tidur, mencumbui ku tanpa memikirkan perasaan ku. Kakak memaksa, aku tak kuasa melawan. Aku seperti wanita rendah, yang berpelukan bercumbu dengan kakak ipar ku sendiri. Kakak menganggap aku seperti wanita murahan di luar sana yang bisa kakak pakai semau kakak?" kembali teriak dengan emosi. Tapi beberapa detik kemudian dia menangis.
Rafa terhenyak mendengar kata-katanya.
dia segera menangkap tangan Ara.
"Tidak Ara, aku tidak menganggap mu seperti itu! Kau tidak sama seperti mereka sayang. Dan percayalah padaku....aku hanya melakukan sentuhan fisik dengan mu, hanya padamu!"
"Tahukah Kakak dengan apa yang aku rasakan saat kita bersentuhan fisik?" menatap Rafa tajam." Aku merasa diriku sangat rendah dan tidak berharga. Aku sangat takut dan merasa berdosa pada kak Raka dan juga pada kak Levina! Sekarang tolong menjauh lah dariku, jangan menyentuh ku lagi. Jauhi aku. Biarkan aku hidup tenang tanpa tekanan dan perasaan bersalah." menangis tersedu-sedu.
Rafa kembali tercengang mendengar luapan kemarahan itu.
"Lepas...!" Ara berontak berusaha melepaskan diri.
"Lepaskan aku, lepas ...." semakin menangis.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu." cepat memeluk tubuh Ara kuat.
"Aku tidak akan melepaskan mu lagi sayang. Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dariku. Aku sudah cukup tersiksa dan menderita selama ini karena mu! Kali ini aku tidak akan membiarkan mu meninggalkanku lagi." semakin mempererat pelukannya, takut Ara akan pergi lagi darinya.
Di antara tangisnya, Ara sedikit terkejut mendengar perkataan Rafa.
"Kakak ipar bicara apa?" batinnya.
"Ara, menikahlah denganku. Aku mohon padamu. Aku benar benar sangat mencintaimu sayang." memegang wajah Ara lembut menatap penuh cinta dan penuh harap.
Ara menelan ludahnya.
"Berhentilah berkata seperti itu kak, sebaiknya kakak cepat pulang. Kak Levina pasti mencari kakak. Kalian akan segera menikah."
"Aku tidak akan menikah dengan Levina, aku hanya akan menikah denganmu."
"Kakak tega padanya? Kakak mengajaknya menikah tadi pagi, apa kakak lupa?"
"Aku tidak pernah mengajaknya menikah, aku tidak memintanya menikah denganku." melonggarkan pelukannya, menatap wajah Ara.
"Memang benar tadi pagi aku mengatakan ingin menikah dan meminta restu mama. Tapi bukan dengannya. Tapi aku ingin menikah dengan mu! Cobalah kau ingat apa yang ku katakan tadi pagi! Apakah aku menyebut namanya? Apa aku meminta dirinya untuk menikah denganku? tidak Ara..." Kata Rafa menjelaskan sambil geleng-geleng kepala.
Dahi Ara mengerut, dia mengingat perkataan Rafa di meja makan. Memang Rafa tidak menyebut nama Levina.
"Tapi kenapa kakak bertanya padanya untuk menikah?"
"Aku punya alasan untuk itu."
"Kakak tega sekali mempermainkan hati perempuan." Ara kembali kesal.
"Tidak Ara, itu kemauan mereka sendiri yang datang padaku. Aku sama sekali tidak pernah menanggapi mereka."
"Tapi kalian sudah berhubungan sejak lama. Kak Levina juga sudah terlalu lama menunggu kakak! Dia juga sangat mencintai kakak."
"Dia tidak mencintai ku! Aku menyesal pernah memilihnya menjadi kekasihku! Aku benar benar sangat menyesal pernah berhubungan dengannya."
"Itu karena kakak sudah mencintai perempuan lain kan? Itu sudah pasti.....karena kakak punya banyak wanita cantik selain kak Levina."
"Tidak Ara, bukan karena itu, percayalah, aku punya alasan sendiri."
"Baiklah, aku tidak ingin bertanya lagi alasannya. Itu urusan kakak. Sekarang tolong lepaskan aku. Silahkan keluar dan pulanglah....!" Ara tidak mau berdebat lagi.
"Tidak Ara, aku tidak akan pulang. Aku kesini karena kamu! Ara...tolong menikahlah denganku." pinta Rafa kembali.
"Jangan katakan itu lagi kak, aku mohon,"
kata Ara kesal lagi seraya menutup telinganya. Dia melepaskan pelukan Rafa yang longgar dan berjalan cepat menuju pintu.
"Keluarlah....." katanya kembali tanpa memandang Rafa, lalu membuka pintu.
"Tolong keluarlah dari kamarku sekarang juga." berkata kembali sedikit keras.
Sementara di bawah, Ustadz Arif, Rizal dan Wisnu yang mendengar perdebatan mereka sejak tadi tampak kecewa mendengar penolakan Ara.
Rafa menatap Ara tak bergeming. Sedih kecewa campur jadi satu. Dia bingung bagaimana cara menyakinkan Ara agar mau menikah dengannya.
Tapi dia tidak mau menyerah. Dia tidak mau kehilangan Ara lagi.
"Cepat keluar." kata Ara lagi dengan tatapan tajam.
Rafa segera melangkah cepat menuju pintu.
Begitu dekat pintu, dia langsung memegang tengkuk Ara kuat dan mengecup bibirnya dengan cepat, menekan kuat bibirnya pada bibir Ara.
Ara terperanjat mendapat serangan tiba-tiba.
Rafa menggunakan kesempatan itu menutup pintu dan menguncinya, lalu kembali menciumi Ara dan memeluknya erat.
"Aku tidak akan keluar dari sini, aku juga tidak akan melepaskan mu. Kita berdua akan mengurung diri di kamar ini selamanya. Berpelukan, berciuman, mandi dan tidur bersama seperti semalam." ucap Rafa menatap tajam menakut nakuti.
Ara kembali terperanjat.
"Jangan seperti ini kak, kenapa kakak selalu memaksakan kemauan kakak? Lepas, atau aku akan berteriak?"
"Kamu ingin berteriak? Ayo teriak lah...." kata Rafa seraya membuka kancing kemejanya sampai perut, hingga terlihat dada bidangnya yang putih kekar, perutnya yang six-pack.
"A-apa yang kakak lakukan?" Ara terkejut dan membuang pandangannya ke arah lain. Kemudian segera berbalik membelakangi.
"Kenapa kau tak berani menatapku? Bukankah kau sering melihat tubuhku telanjang seperti ini? bahkan kau berani menyentuhnya," ucap Rafa tersenyum menggoda sambil melipat kemejanya. Lalu dia cepat memeluk tubuh Ara dari belakang,
menyingkap rambut Ara dan mengecup tengkuk dan lehernya kuat.
Ara mengerang dengan tubuhnya merinding.
"Bahkan kau sudah banyak kali mengecup dan menciumnya sayang." bisik Rafa kembali di telinga Ara. Menjilati sesaat daun telinga Ara sambil tertawa dalam hati. Dia dapat merasakan dada Ara yang bergemuruh tak beraturan, jantungnya berdegup kencang.
"Jangan kak," desah Ara tertahan. Tubuh merinding.
Dia mendengus kesal mendengar ucapan Rafa.
"Siapa yang menyentuh? Kakak sendiri yang tidak mau melepas ku. Kakak selalu memaksaku." ucapnya agak keras
"Lepas, keluarlah dari kamar ini, kalau tidak aku akan berteriak." sambungnya kembali dengan kesal.
"Kau ingin berteriak? Ayo teriak lah, teriak lah dengan keras. Aku malah suka kau teriak, biar semua orang akan datang kesini, melihat kita dekat begini, berpelukan, berciuman. Dengan begitu mereka akan menikahkan kita." kata Rafa malah menantangnya. Dia tersenyum menyeringai dan kembali mengecup kuat leher Ara hingga berbekas. Membuat koleksi karya bibirnya semakin bertambah di tubuh Ara.
Ara mendengus kesal seraya menyentuh lehernya yang terasa sakit.
"Sakit kak, jangan mencium ku terus. Jangan seperti ini. Kakak membuat aku takut. Kakak tega selalu memperlakukan aku seperti ini, kakak suka seenaknya memeluk dan mencium ku." kata Ara serak mulai menangis.
Hati Rafa luluh melemah mendengar isakan tangisnya.
"Maafkan aku." memeluk.
"Kakak selalu meminta maaf, tapi lagi lagi terus melakukannya." sesenggukan.
Rafa membalikkan tubuh Ara menghadap kepadanya. Memegang Wajah lembut Ara yang basah oleh air mata.
"Itu hanya caraku untuk memperlihatkan rasa cintaku padamu sayang.... sungguh!"
"Itu bukan cinta, tapi karena kasihan. Kakak kasihan padaku karena melihat ku terus bersedih meratapi kematian kak Raka."
"Tidak Ara, bukan karena aku kasihan padamu. Tapi karena aku memang mencintaimu sayang. Sudah sangat lama aku mencintaimu jauh sebelum kau menjadi istri Raka." kata Rafa menatap lembut wajah yang sedih dan terisak menunduk.
Tangis Ara terhenti mendengar ucapan itu. Perlahan dia mengangkat wajahnya, menatap mata Rafa.
"Kakak bilang apa?"
Rafa menelan ludahnya.
"Iya Ara, aku sudah lama mencintaimu, jauh sebelum kau menjadi istri Raka, sebelum kau menjadi adik ipar ku. Dan selama ini aku sangat menderita karena memendam rasa cintaku padamu."
Ara tercengang.
"Mencintai ku? Bagaimana mungkin? Sementara kita tidak pernah bertemu sebelum aku menjadi istri kak Raka. Aku tidak mengenal kakak sama sekali." Ara mundur selangkah melepaskan pegangan Rafa.
"Kamu memang tidak mengenal aku Ara, hanya aku yang mengenal kamu." Rafa meraih kembali tangannya, di genggamannya.
"Apa kamu ingat kejadian buruk yang terjadi padamu malam itu di taman kota?"
"Kejadian buruk di taman kota malam hari?" dahi Ara mengerut.
"Iya, kejadiannya sudah sangat lama, dua tahun lalu. Apa kau masih ingat siapa yang telah merenggut ciuman pertama mu? Saat itu kau sedang sendirian di taman sambil menanti seseorang, berjalan mondar mandir memegangi jaket, lalu tiba tiba datang seorang pria misterius brewokan, memakai kacamata hitam merebut jaket mu, memelukmu, lalu merenggut ciuman pertama mu dan mencium mu paksa untuk mengelabui preman preman yang mengejar dirinya malam itu!"
Ara berusaha mengingat apa yang di katakan Rafa, perlahan Ingatan Ara mulai terbuka dan mengingat kejadian itu. Kejadian yang telah membuat ciuman pertamanya direnggut paksa oleh seorang pria yang tidak di kenalnya.
Dia menatap Rafa Lekat, dadanya naik turun tak beraturan. Sekarang dia ingat jelas kejadian malam itu, dan juga pria yang telah mengambil ciuman pertamanya.
"Jadi....pria misterius yang mengambil ciuman pertama ku itu adalah kakak?" menatap mata Rafa lekat.
"Iya Ara, pria itu adalah aku. Aku yang telah merenggut ciuman pertamamu, memaksa mencium mu, memeluk mu untuk mengalihkan perhatian musuhku." Rafa menyambung kalimatnya.
Ara kembali tercengang. Tanpa sadar menyentuh bibirnya seakan akan merasakan kembali ciuman panjang malam itu, saling berpelukan tanpa celah untuk menghindari para musuh.
Pria itu terus menciumnya hangat dan dalam. Memeluknya memberi perlindungan.
Ara mengeluh sedih sambil menggigit bibir bawahnya.
Dia tidak menyangka kalau pria misterius itu adalah kakak iparnya.
Rafa meraih kedua tangannya.
"Aku langsung terpesona dan jatuh hati padamu Ara. Hatiku bergetar, jantungku berdebar kencang! Aku jatuh cinta padamu saat itu juga. Cinta yang tidak pernah kurasakan sebelumnya."
Ara terperangah, diam membisu, bibirnya terasa kelu. Hanya nafasnya yang semakin menderu tak beraturan dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kau masih ingat perkataan yang aku ucapkan sebelum pergi meninggalkanmu? Ara apa kau ingat?" Rafa menyentuh pundaknya.
"Kakak akan bertanggung jawab atas ciuman yang kakak lakukan padaku. Kakak akan bertanggung jawab." ucap Ara pelan. Dia masih ingat perkataan Rafa dulu sebelum pergi meninggalkannya saat itu.
Ara kembali mengeluh sedih.
"Kau benar. Hanya saja malam itu aku langsung terbang ke singapura untuk menghindari kejaran musuhku dan mengobati luka ku. Aku masih sempat melihatmu berlari ke jalan raya mencari taksi."
Rafa kembali memegang wajahnya.
"Mulai malam itu aku mulai menghayalkan dirimu, wajah manismu, mata teduh mu, ketakutanmu, teriakan dan tangis mu. Aku mulai susah tidur dan susah makan karena terus memikirkan mu. Aku tak fokus bekerja karena melihat wajahmu berada di setiap lembaran kertas kerjaku! Kamu membuat duniaku terpusat terus kepadamu Ara. Di mana mana selalu ada dirimu. Di manapun atau apapun yang kulakukan dan bahkan di saat kita belum saling mengenal, di pastikan aku masih memikirkan mu tanpa henti, aku terus memikirkan mu,"
"Ara.. kau membuat hidup ku penuh warna dan berbunga! Aku tak pernah sebahagia ini dalam hidupku, aku tak pernah merasakan cinta seperti ini dalam hidupku! Aku mulai mengikuti mu secara diam-diam, memantau segala aktivitasmu! Aku sangat senang saat ku tahu kau kuliah di universitas milikku. Dan aku semakin bahagia setelah tahu statusmu yang masih lajang dari pihak kampus. Aku bolak balik luar negeri seharian hanya untuk melihat dan melepas rinduku padamu tanpa berani menunjukkan diriku."
"Dan hingga akhirnya, aku mulai mempersiapkan kepindahan ku ke Indonesia, karena selama dua tahun itu aku tinggal di luar negeri. Aku semakin bersemangat pulang untuk segera menemui mu, mengatakan cinta ku padamu, ingin melamar mu, dan akan segera menikahi mu menjadikan dirimu istriku. Aku sudah tidak sabar dan tidak tahan memendam rasaku untuk memiliki mu secepatnya!"
Ara kembali tercengang, menatap lekat tanpa berkedip wajah tampan yang sangat mirip dengan almarhum suaminya ini. Wajah yang terlihat sangat serius.
"Tapi ternyata aku menelan pil pahit, menahan rasa kecewa dan harus mengubur dalam-dalam keinginan ku untuk hidup bahagia bersama denganmu. Setelah aku tau ternyata kau adalah kekasih Raka! Aku tidak sanggup melihat kalian menikah. Hatiku terlalu sakit dan hancur. Aku terjatuh dan tak bisa bangkit untuk menyaksikan kalian menikah dan memberi restu, makanya aku batal datang ke pernikahan Raka. Aku balik lagi ke Amerika membawa kehancuran dan luka dalam hatiku."
Ara mendesah sedih dengan air mata yang mengalir.
Rafa memegang wajahnya lembut, menatap dalam dalam penuh cinta.
"Tapi kali ini aku tidak akan melepaskan kamu lagi sayang, aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi dariku, aku tidak akan membiarkan mu di miliki lagi oleh laki laki lain, kau hanya milikku, milikku. Aku tidak akan sanggup hidup tanpa dirimu." kata Rafa dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, menikahlah denganku. Tolong jangan menolak ku! Jangan buat hatiku hancur, terluka dan menderita lagi. Aku tidak akan sanggup hidup tanpa dirimu. Aku mohon jadilah wanitaku selamanya, menikahlah denganku,. menjadi istri mu." memelas dengan wajah sedih.
Ara menelan ludah. Air matanya semakin banyak mengalir.
"Aku tak bisa kak, aku masih sangat mencintai suamiku meski dia tak lagi bersamaku. Lagi pula aku tidak mencintai kakak, sungguh." menangis terisak.
Hati Rafa sangat sakit mendengar ucapan
jujur ini.
"Kau tidak perlu mencintaiku, cukup menikah saja denganku! Aku tidak akan meminta mu untuk melupakan Raka, karena aku tahu kau sangat mencintainya. Aku juga tidak akan memaksamu untuk mencintaiku. Aku hanya ingin kau menikah dengan ku untuk memastikan kau adalah milikku selamanya. Karena aku tidak mau kau di miliki oleh orang lain! Aku mohon Ra, menikahlah denganku, aku mohon dengan sangat." Rafa melorotkan tubuhnya kebawah, berlutut di kaki Ara.
Ara tercengang.
"Apa yang kakak lakukan?" berusaha menarik tubuh Rafa berdiri.
"Bangunlah kak, jangan seperti ini! Kakak tidak pantas melakukan ini," Ara tidak menyangka kakak iparnya sampai berlutut memohon melakukan hal rendah seperti ini pada dirinya.
"Tolong berdiri, aku mohon."
Rafa tetap pada posisinya, berlutut memeluk kedua kaki Ara dan terus memohon.
"Aku hanya mencintaimu sayang, hanya kamu wanita yang aku cintai di dunia ini. Hanya kamu yang aku inginkan di dunia ini. Menikahlah denganku," pintanya dengan kedua mata yang telah basah.
Ara mendesah sedih, air matanya semakin banyak mengalir. Perlahan dia segera menjatuhkan tubuhnya, ikut berlutut di depan Rafa.
Mereka saling bertatapan dengan mata yang di penuhi air mata.
Rafa memegang wajahnya lembut.
"Aku tidak mau lagi kehilangan dirimu. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Hanya kamu yang ku inginkan dalam hidupku! Menikahlah denganku, jadilah istriku. Aku mohon sayang." meminta kembali dengan menghiba.
Air mata Ara kembali jatuh di kedua pipinya.
Rafa menyapu pipinya lembut, tapi basah lagi.
Keduanya saling menatap dalam kesedihan.
Beberapa detik kemudian terdengar suara adzan shalat Ashar berkumandang dari mesjid panti.
*****
__ADS_1
Maaf baru bisa up ππ
Tinggalkan jejak dukungan ya.....