Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 302


__ADS_3

Ines merasa tidak tenang setelah berdebat dengan Wisnu tadi. Biar bagaimanapun Wisnu adalah suaminya. Dari kecil orang tuanya selalu mengajarkan sopan santun dan bertutur kata dengan baik saat berbicara dengan orang lain.


Bahkan sebelum pulang setelah pernikahan mereka, orang tuanya menitip pesan dan nasihat kepadanya agar berbicara dengan lembut pada suami, menghargai dan menghormatinya, mendengarkan perkataannya.


Harus sabar, mengingat keduanya menikah belum memahami sifat dan kepribadian masing-masing.


"Apa aku terlalu kurang ngajar ya tadi kepadanya? Seharusnya aku tidak membentaknya dan bicara kasar tadi. Ayah dan ibu tidak pernah bertengkar selama pernikahan mereka. Ibu selalu bicara lembut pada ayah dalam situasi apapun.Tapi aku? ya tuhan....aku bahkan meneriakinya." ucapnya merasa bersalah.


"Tapi semua juga salah dia yang selalu membuat ku kesal. Ah dasar brengsek.


Bisa gak sih hargai aku sedikit saja? Gak cuek dan dingin seperti itu?" keluhnya berbicara sendiri di meja kerja.


Wisnu yang masih melihatnya tentu mendengar perkataannya. Rasa bersalah dan penyesalannya itu membuat amarah Wisnu mereda.


Karena kepikiran terus, akhirnya Ines menelpon Rani, ibu mertuanya. Dia curhat tentang pertengkaran dirinya dengan Wisnu.


Sekalian meminta izin untuk pergi ke acara ulang tahun teman kantornya.


Bertanya pada Wisnu sudah pasti tidak akan di izinkan. Karena Wisnu sudah melarang dirinya pergi. Terlibat pembicaraan di antara mereka. Ines sangat bersyukur memiliki ibu mertua yang baik dan pengertian. Hati dan perasaannya sedikit tenang. Ines juga masih bicara dengan Azhar dan Azham. Anak anak itu mengizinkan dirinya ke acara ulang tahun Lisa dengan syarat cepat kembali dan hati hati di luar.


Taksi berhenti di sebuah rumah dua tingkat.


Rumah yang lumayan besar untuk kelas menengah. Yang merupakan rumah orang tua Lisa. Kebetulan orang tuanya sedang pergi ke luar kota. Lisa gunakan kesempatan itu untuk membuat acara ulang tahunnya bersama teman temannya.


Ines menolak ikut bersama Aldi. Dia memilih berangkat sendiri menggunakan taksi Mang saleh karena harus Magrib dan isya dulu. Dan yang lebih penting dari itu untuk menjaga statusnya yang sudah menikah berjalan berdua dengan pria itu.


Selama perjalanan mereka singgah di dua mesjid. Dan ternyata rumah Lisa memang jauh, harus di tempuh dengan waktu sejam lebih. Jam setengah 9 tepat dia tiba di depan rumah Lisa.


"Mang, boleh tungguin aku sebentar nggak?"


"Boleh Non, tapi jangan kelamaan ya? bukan apa-apa sih, hanya menghindari rawannya kejahatan di malam hari!" kata Saleh.


"Iya Mang, aku tahu kok. Aku nggak lama, hanya sejam saja!"


"Baik Non. Mang tungguin di parkiran sini ya. Non telpon saja atau ketuk kaca jendela. Mang tungguin di dalam mobil."


"Iya mang, bagusnya juga begitu. Selama nungguin aku, Mang bisa gunakan untuk istirahat sebentar! Aku kedalam dulu!"


Sopir taksi paruh baya itu mengangguk tersenyum. Ines meninggalkannya dan segera melangkah menuju pintu masuk dari rumah Lisa. Dari luar sudah tampak terlihat adanya tanda-tanda dari acara tersebut. Beberapa teman teman Lisa yang baru datang, dan juga alunan musik yang terdengar mengalun indah tidak terlalu keras dan hiasan aksesoris ultah seperti balon,kue ultah dan lainnya.


Ines berdiri tepat di pintu masuk. Dia merasa risih hanya memakai pakaian kantornya yang hitam putih.


"Hay Ines." panggil Aldi yang melihat kedatangannya.


Aldi melambaikan tangan.


Ines segera mendekat ke tempatnya.


Lisa juga ada di situ dan beberapa teman kantor. Mereka menyapa Ines dan mengajak bergabung.


Lisa tampak cantik dengan gaunnya. Wanita itu ikut melambaikan tangan kepada Ines. Dia berdiri tepat di meja yang terdapat kue ultahnya yang indah.


Ines jadi merasa minder dengan pakaian kantornya. Untung saja Aldi memakai pakaian kantor sama dengannya.


Setelah kedatangannya, acara inti di mulai.


Tamu undangan yang merupakan teman teman Lisa memberi ucapan kepadanya.


Mereka bernyanyi bersama. Tiup lilin dan pemotongan kue ultah. Kemudian Lisa memperkenalkan Ines sekaligus menyambut Ines sebagai teman dan juga karyawan baru di tempat mereka bekerja.


Mereka mengangkat gelas untuk penyambutan Ines.


Ines menyalami teman teman Lisa dan berterima kasih.


Selanjutnya acara foto foto, makan dan minum. Lalu terkahir acara bebas.


Lampu tiba tiba padam hingga suasana menjadi gelap. Terdengar kegaduhan para tamu di antara kegelapan. Beberapa saat kemudian lampu menyala berganti dengan kerlap kerlip lampu warna warni yang tidak terlalu terang. Semuanya kembali lega.


Meski suasana ruangan sedikit gelap tapi masih bisa mengenali wajah orang.


Sebagian para tamu turun ke lantai dansa menari, bergoyang di sana berpasang pasangan mengikuti hentakan irama alunan musik.


Ines hanya diam menatapi mereka dari tempatnya. Lisa mengajaknya turun ke lantai dansa, tapi dia menolak lebih memilih duduk sambil menikmati cemilannya.


Ines sebenarnya ingin pamit pulang pada Lisa, tapi wanita itu keburu turun ke lantai dansa karena di tarik pacarnya.


Di beberapa sudut ruangan ada beberapa kelompok tamu yang memilih duduk sambil menikmati minuman mereka sama seperti dirinya.


Aldi datang mengajaknya untuk dansa, tapi lagi lagi Ines menolak.


"Aku mau pulang Al....!"

__ADS_1


"Kok pulang sih? Baru aja datang. Tunggulah beberapa saat. Nikmati dulu pestanya!" kata Aldi mengeraskan suaranya di antara suara musik yang menggema. Di tangan Aldi memegang gelas minuman. Dapat di cium oleh hidung Ines Aroma bau alkohol dari mulutnya.


"Mau?" Aldi menawarkan beer nya.


Ines menolak mentah-mentah.


"Ya udah, aku mau turun sebentar. Kamu jangan pulang dulu, nanti Lisa kecewa." kata Aldi seraya menuju ke tempat dansa.


Dari sudut ruangan, beberapa pasang mata lelaki memperhatikan Ines. Mereka memperhatikan Ines sejak dia datang tadi.


Mereka duduk berkelompok sambil menikmati minuman yang mengandung alkohol.


"Lihat Jery, kakinya putih dan mulus tanpa noda. Bokongnya yang besar dan kencang. Tubuhnya bagus dan indah. Pokoknya bodinya aduhai. Tunggu apalagi, segera dekati dia. Bisa di jadikan penghangat ranjang lo malam ini. Sikat bro mumpung kekasih lo si Vina gak ada." kata seorang pria pada pria blasteran bermata biru. Namanya Jery sepupu Lisa.


Seringai kecil muncul di bibir pria yang bernama Jery mendengar ucapan temannya. Kedua matanya menatap nakal dan liar bagian tubuh Ines. Mulai dari kaki Ines yang jenjang putih terbuka. Karena Ines hanya memakai rok sampai selutut. Lalu tatapan liarnya beralih pada bokong Ines yang lumayan besar. Terus pada dada Ines. Dan terakhir pada wajah Ines yang terlihat manis dengan bibirnya yang berwarna pink menggoda.


Pria bernama Jery itu meneguk air liurnya.


Dia tersenyum licik, lalu meneguk minumannya sampai habis. Gelas kosongnya di isi kembali oleh wanita cantik bertubuh seksi yang duduk bergelayut manja di lengannya, bertugas melayani mereka.


Tangan Jery tampak meraba raba liar pada pahanya yang terekspos.


"Berikan aku serbuk mu. Aku akan datang kepadanya lebih dulu." kata Jery Seraya bangkit.


"Beres bro, pergilah." timpal teman temannya.


Pria bernama Jery itu segera melangkah ke tempat Ines sambil membawa gelas minumnya. Sedangkan sala seorang temannya segera memanggil pramusaji yang membawa minuman. Dia membisikkan sesuatu. Pria pembawa baki minuman itu mengerti dan segera pergi setelah menerima sesuatu yang di selipkan secara diam-diam di sala satu tangannya.


Di tempatnya, Ines sedang sibuk dengan ponselnya. Di depannya terdapat beberapa cemilan dan gelas jusnya yang tinggal sedikit.


Dia menatapi nomor kontak Wisnu. Masih dengan perasaan yang sama, tidak tenang dan merasa bersalah meski telah berkeluh-kesah pada Rani ibu mertuanya.


Seharusnya dia tidak membangkang perintah Wisnu yang melarangnya datang kesini.


Seharusnya di jam begini dan sebagai wanita yang sudah bersuami serta memiliki anak, dia sudah berada di rumah berkumpul bersama keluarga.


Ines mendesah sedih dan merasa bersalah.


"Maafkan aku__" ucapnya lirih merasa bersalah.


"Hay....!" sebuah sapaan mengagetkan Ines yang tengah memikirkan Wisnu.


Lalu mengangkat wajah melihat siapa yang menegurnya.


Di lihatnya, Pria blasteran yang tampak tersenyum manis padanya. Satu tangan memegang gelas, dan yang satunya berada di saku celana.


Ines mengulas senyuman membalas sapaannya.


"Hay, apa aku mengganggu?" tanya Jery.


"Oh__nggak," jawab Ines refleks.


"Boleh duduk?" tanya Jery kembali seraya menunjuk dengan dagunya tempat kosong di sebelah Ines.


"Oh__silahkan." jawab Ines seraya mengamati sosok yang tak di kenalnya ini.


Jery segera mendudukkan bokongnya. Ines menggeser posisinya karena Jery terlalu duduk dekat di sampingnya.


Senyum Jery mengembang melihatnya yang menjaga jarak darinya.


"Sebentar lagi kita akan menyatu tanpa penghalang." batinnya menatap wajah Ines dari samping.


"Oh ya, perkenalkan namaku Jery, aku sepupu Lisa." Jery memperkenalkan diri melihat Ines yang tampak kikuk dengan dirinya.


"Aku Ines, teman kantor Lisa." jawab Ines segera.


"Aku tahu, Lisa sudah memperkenalkan dirimu tadi pada kami semua. Aku melihat mu hanya sendiri dan bengong, makanya aku ke sini. Siapa tahu kamu butuh teman ngobrol."


"Aku tadi sama Aldi dan Lisa. Mereka lagi di lantai dansa. Aku nungguin mereka." jawab Ines.


"Kenapa kau tak ikut turun bersama mereka?" tanya Jery kembali lalu meneguk minumannya.


"Aku lebih suka duduk." jawab Ines sambil tersenyum.


"Manis.....!" kata Jery melihat senyumnya.


Dahi Ines mengerut mendengar ucapannya.


"Minuman ini!" kata Jery segera seraya mengangkat gelasnya.


"Ohhh...!" ucap Ines kembali tersenyum.

__ADS_1


"Oh ya, minuman mu sepertinya habis." kata Jery melihat gelas kosongnya.


"Aku telah meminumnya tadi!" jawab Ines.


Jery menengok ke kiri dan ke kanan. Tatapannya berhenti pada seorang pelayan pria yang membawa minuman. Pelayan itu sementara meletakkan minuman di meja tamu lain.


Jery memanggilnya, pria tersebut segera mendekat.


"Mau minuman tuan?" tanyanya sopan.


Jery melihat pada Ines yang sejak tadi memperhatikan dirinya memanggil pelayan tersebut. Lalu melihat gelas Ines.


"Jus lemon satu." katanya setelah melihat sisa minuman Ines.


Ines menolak tapi Jery memaksa. Pelayan tersebut segera meletakkan gelas jus lemon di depan Ines, lalu mengambil gelas Ines yang telah kosong.


Dia mengedipkan sebelah matanya secara diam-diam pada Jery sebelum meninggalkan mereka. Sala seorang teman Jery memberi isyarat oke dari jauh secara diam-diam.


"Ayo Nes di minum.....!" kata Jery seraya menyerahkan gelas Ines.


Ines segera menerimanya.


"Terima kasih!"


Tanpa ragu dan curiga dia segera minum sampai setengah.


Jery tersenyum menyeringai


"Ayo di habiskan." katanya.


"Nanti saja." tolak Ines halus.


Beberapa saat kemudian mereka terlibat obrolan ringan seputaran pekerjaan dan mengenai Ines sebagai karyawan yang baru masuk kerja hari ini. Jery memberi ucapan selamat secara pribadi kepadanya.


Ines sebenarnya canggung duduk hanya berdua dengan Jery, tapi tidak enak hati karena pria ini sepupunya Lisa. Dia tetap menjaga jarak duduknya dengan pria ini.


Terbayang wajah Wisnu dan bapaknya di benaknya saat berbicara bersama dengan pria blasteran ini..Sesekali dia menengok pada Lisa yang masih asik di lantai dansa bersama pacarnya. Niatnya ingin segera pamit dan berharap Lisa segera naik kembali.


Tapi Lisa masih asik dengan liukan gerakan tubuhnya yang tampak berkeringat dan kadang bergesekan dengan pacarnya bahkan pria lainnya.


Hingga beberapa menit kemudian Ines bangkit berdiri dari duduknya.


"Mau kemana Nes?" tanya Jery kaget.


"Mau ke tempat Lisa dan Aldi. Aku mau pamit pulang." jawabnya.Karena merasa sudah sejam berada di tempat ini.


Jery kaget.


"Nanti saja Nes, ini baru jam berapa?" mencoba menahan. Karena reaksi obat belum beraksi.


"Seharusnya ini sudah bereaksi. Tapi Kenapa dia hanya terlihat tenang?" batin Jery kesal.


"Hey, tunggulah sebentar! Kita baru saja ngobrol." katanya kembali menahan tangan Ines.


Ines segera menarik tangannya secara paksa.


"Maaf Jery, aku capek dan mengantuk. Aku permisi dulu. Sekali lagi maaf...!" kata Ines tersenyum sekilas, lalu segera melangkah menuju lantai dansa menemui Lisa dan Aldi untuk pamitan. Dia tidak perduli dengan panggilan Jery.


Jery mengumpat dan mendengus geram. Dia menatap kepergian Ines dengan kekesalan yang mendalam. Tapi Jery tidak mau menyerah. Baginya, apa yang sudah membuatnya tegang tidak akan di lepas begitu saja. Dia akan berusaha untuk mendapatkannya dan harus di nikmati sebagai pemuas hasrat dan nafsunya.


Jery mendekati ke empat temannya yang juga heran melihat keadaan Ines yang santai dan tenang. Jery duduk bergabung dan memarahi mereka mempertanyakan kenapa obatnya tidak bekerja.


Keempat temannya juga bingung. Karena mereka melihat pelayan itu telah mencampur serbuk itu ke dalam minuman Ines.


Jery terus memarahi dan mengumpat mereka. Dia tetap ingin mendapatkan Ines sebagai penghangat ranjangnya malam ini. Tanggung karena miliknya sudah tegang dan dia hanya ingin Ines yang harus di jadikan pelampiasan s*ksnya.


Ke empat kawannya tertawa mengejek melihat keadaan dirinya yang tersiksa dengan miliknya yang tampak mengembang dari balik celana.


Setelah pamit pada Lisa dan Aldi, Ines segera melangkah keluar menuju parkiran di mana taksi Mang saleh terparkir. Saat hendak berbelok, tangannya di tarik kuat oleh seseorang secara tiba-tiba.


Ines terkejut.


Selanjutnya kedua tangannya di pegang kuat di belakang tubuhnya dan mulutnya juga di bekap kuat. Ines tidak dapat melihat siapa yang menyerangnya karena wajah si penyerang tertutup cadar. Tubuhnya di putar secepatnya menghadap ke depan membelakangi sosok pria ini.


Bersambung.


Maaf ya karena baru bisa up setelah vakum dalam waktu yang lama πŸ™.


Author lagi berduka. Ortu author meninggal dunia. Author tak punya tenaga, sangat lemah dan tidak bersemangat dalam berpikir dan menulis. Sangat sedih dan kehilangan rasanya.


Author juga sangat di sibukkan dengan duka ini. Thank you so much untuk para reader yang masih setia dengan karya karya author 😍

__ADS_1


__ADS_2