
...Happy Reading....
Telpon yang ia terima dari Tito tadi pagi membuatnya gelisah. Tito mengatakan sekitar pukul 2 pagi, ada 9 anak datang ke Panti. Mereka memohon agar di terima tinggal di panti asuhan.
Setelah di tanyai Tito, mereka adalah anak-anak terlantar yang di culik dan berhasil melarikan diri. Seseorang telah menuntun mereka hingga sampai ke panti milik Ara.
"Beri mereka makan, dan pinjamkan pakaian adik adikmu. Kakak akan datang setelah selesai kuliah." itu yang di katakan Ara pada Tito tadi pagi.
Lamunan Ara buyar ketika sopir mengatakan
"Sudah sampai Non."
"Oh iya pak." Ara segera keluar dan memberikan ongkos.
"Terimakasih ya pak."
"Sama sama Non__"
Ara segera berlari menuju taman kampus di mana Cindy dan Ines sudah menunggunya.
__ADS_1
"Kamu harus segera mencari donatur untuk yayasan mu Ra." kata Ines begitu mendengar keluhan Ara mengenai anak anak itu. Bukan karena dia tidak menerima dan terbebani oleh anak anak itu, tapi karena dia kehabisan dana untuk menampung mereka. Belum lagi keadaan panti yang sempit.
"Atau kita lakukan penggalangan dana ke rumah orang orang kaya, dan di jalanan." sambung Ines kembali.
"Aku juga berpikir begitu, tapi dua hari lagi kan kita ujian." jawab Ara lemah.
"Kita akan lakukan setelah ujian selesai. Sementara siapkan dulu proposal nya dan mencari daftar perusahaan untuk donatur." kata Cindy.
"Ra, apa tidak sebaiknya kamu minta tolong sama suamimu? Aku yakin Kak Raka akan membantumu. Atau pakai saja kartu kredit yang di berikan kepada mu. Sejak kalian pacaran dan menikah, kamu gak pernah menggunakannya." ujar Ines.
Ara juga sebenarnya berpikir begitu, tapi dia khawatir jika mama mertuanya dan Nesa mengetahuinya. Mereka pasti akan
mencibirnya.
Ara menatap amplop di tangannya, lalu menatap kedua wajah sahabatnya itu bergantian.
"Gak usah, ini pasti uang tabungan kalian kan? Aku nggak akan terima. Kalian juga butuh uang untuk biaya kuliah dan makan sehari-hari." kata Ara menolak.
"Hey Nona Muda Artawijaya. Ini bukan kami kasih ke kamu, tapi kami pinjami. Kembalikan jika kau sudah punya uang banyak nanti." kata Cindy seraya mencubit hidung Ara. Meski dia dan Ines tak mengharap untuk di kembalikan. Sengaja mereka berkata begitu agar Ara tidak menolak.
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir, kita masih punya simpanan untuk kebutuhan sehari-hari dan keperluan kuliah." Cindy menambahkan.
Ara kembali menatap amplop warna coklat itu sejenak. Lalu menatap ke sahabatnya. Ketiganya tersenyum. Lalu berpelukan.
"Makasih ya, aku pasti akan mengembalikannya tabungan kalian." kata Ara. Dia tahu uang itu uang tabungan Cindy dan Ines yang mereka tabung sejak masuk kuliah. Dan kini di bongkar untuk membantu dirinya. Ara berdoa, semoga Allah memberi rezeki lebih kepadanya lagi agar dapat membalas kebaikan ke dua sahabatnya.
"Setelah selesai kuliah hari ini, aku akan ke panti. Uang ini akan aku belikan pakaian dan mukena buat anak anak yang baru masuk semalam." kata Ara terharu.
"Sepertinya kau harus menyediakan ruangan lagi. Jumlah anak anak bertambah, kau perlu bangunan yang besar untuk menjadi tempat naungan mereka." kata Cindy.
"Kau benar Cin, aku harus membuat Asrama buat mereka. Untuk laki dan perempuan secara terpisah. Semoga saja nanti ada dermawan yang murah hati mau menyumbangkan uangnya untuk membantu anak anak malang itu. Karena mereka bukan hanya butuh makan pakaian dan tempat tinggal saja, tapi juga pendidikan."
"Aamiin, semoga saja! Kami akan selalu mendukungmu." kata Cindy dan Ines bersamaan.
Ara tersenyum, meraih tangan ke dua sahabatnya itu
"Terima kasih." katanya terharu.
Ketiganya kembali saling berpelukan.
__ADS_1
Tidak lama kemudian mereka segera menuju kelas masing-masing karena MK pertama akan di mulai.
Bersambung.