Rafa & Ara

Rafa & Ara
Episode 25


__ADS_3

Motor mang saleh berhenti di depan pintu gerbang tepat jam 9. Ara mengucapkan terima kasih dan membayar lebih jasa pria itu.


Saleh menolak tapi Ara memaksa.


Penjaga membuka pintu gerbang


"Selamat malam nona muda." ucap mereka sopan.


"Selamat malam." jawab Ara tersenyum


Penjaga yang lain ikut menyapa ketika Ara melewati mereka.


Pak Sam terlihat mondar mandir di depan pintu masuk utama.


Dia senang ketika melihat Ara datang,.tapi ada rasa kekhawatiran juga terlihat dari wajahnya.


"Pak Sam kok ada di luar? bapak ngapain di sini?" tanya Ara


"Saya menunggu nona pulang, mari masuk nona muda."


"Kenapa bapak menunggu saya?"


Sam tak menjawab. Sam segera membukakan pintu untuk Ara. Terlihat kekhawatiran di wajahnya yang tidak tenang.


Ara segera berjalan masuk, begitu tubuhnya sudah masuk ke dalam, terdengar suara agak keras menghentikan langkahnya.


"Dari mana saja kamu jam begini baru pulang ?" Maya mendekatinya dengan tatapan menakutkan.


Ara segera menyapa ibu mertuanya


Tapi yang di sapa kembali membentaknya.

__ADS_1


"Aku bertanya kau dari mana, jawab." tanyanya kembali dengan suara tinggi.


Ara tersentak, hatinya bergetar. Dia meremas remas ujung kausnya kuat.


"A anu ma, saya dari....."


"Di saat Raka sedang kerja di luar daerah, kamu seenaknya keluyuran gak jelas dan baru kembali jam begini ?"


"Aku gak keluyuran ma, tadi aku ke kampus dan..."


"Dan baru pulang jam segini? apa kamu kuliah sampai jam begini?" Maya memotong ucapannya cepat.


"Apa kamu bertemu dengan mantan pacarmu di luar sana? Hah .." Maya menatapnya tajam.


"Ma...," Ara tersentak. Bening kristal menggenangi kelopak matanya.


"Apa begini kelakukan mu saat berjauhan dengan Raka ?"


"Apa kamu selingkuh dengan mantanmu?"


Ara menutup mulutnya dengan sala satu tangannya untuk menahan tangisnya agar tidak terdengar. Sedangkan tangan nya yang satu semakin meremas ujung kausnya.


"Nyonya, kenapa anda menuduh nona muda seperti itu ?" Sam menyela, tidak tega melihat nona mudanya di tuduh berselingkuh.


"Diam kamu Sam, jangan ikut campur, kamu hanya kepala pelayan di sini. Cepat kembali kau ke belakang." kata Maya seraya menunjuk Sam "Pergi dari sini..." sentaknya keras.


Sam tidak bisa berbuat apa apa, dia segera pergi dari tempat itu. Dia tidak kuat melihat nona mudanya di perlakukan seperti itu.


Maya kembali menatap Ara.


"Kamu pikir aku tidak tau apa yang kau lakukan di luar sana, berjalan berduaan dengan seorang pria, duduk berdekatan tanpa jarak ! Cih, kau memang wanita rendah."

__ADS_1


Ara semakin menangis, air matanya semakin banyak membanjiri ke dua pipinya, tubuhnya gemetaran. Tubuhnya melorot ke bawah karena kakinya gemetar lemah.


"I- i tu tukang ojek ma..," jawabnya di sela sela tangisnya.


"Cih, kau pikir aku percaya? kau kira aku bodoh hah? kau pikir bisa membodohi ku? mana ada tukang ojek yang seharian mengantarmu, dari siang hingga malam begini terus bersamamu, bercanda tertawa sangat dekat denganmu." sentak Maya seraya menunjuk dan menekan dahi Ara kuat.


"A a ku bisa jelasin ma..," kata Ara menatap maya dengan wajah memelas dan air mata semakin banyak mengalir.


"Diam kau, jangan berani bicara lagi. Aku tidak mau mendengar apa pun dari mulut kotor mu itu ! aku peringatkan kau, jika kau sampai menyakiti anakku dan membuatnya menangis, akan ku buat hidupmu menderita selamanya." kata Maya menatap mata Ara dengan sorot mata yang menakutkan.


"Cepat naik ke atas sebelum si kembar bangun dan melihatmu seperti ini. Dasar wanita rendah dan murahan. Cih...," umpat Maya kembali, lalu dia segera pergi setelah mengatakan kata kata itu.


Ara memejamkan matanya, menelan ludah pahitnya mendengar ucapan itu. Air matanya terus jatuh, nafasnya turun naik tak beraturan menahan sesak di dada mendengar kata-kata itu, sungguh menyakitkan.


Kenapa mama tega menuduhku berselingkuh, apa mama melihat aku jalan dengan mang saleh? seorang pria tua yang seumuran dengan almarhum ayah, menganggap ku seperti anak sendiri. Kenapa mama tidak percaya dan tidak memberi aku kesempatan untuk bicara?


"Nona muda." panggil Sam pelan.


Ara tidak mengetahui kedatangan kepala pelayan itu, yang sudah tiba tiba berada di dekatnya, dia mengangkat wajahnya menatap siapa yang memanggilnya.


Begitu tau siapa yang ada di dekatnya,


Ara langsung memeluk kaki Sam dan menangis sejadi jadinya dengan suara tertahan. Dia menumpahkan semua kesedihannya di kaki Sam. Ara juga sudah menganggap Sam seperti ayahnya sendiri. Karena pria tua ini sangat perduli dan menyayanginya di rumah ini.


tak ada orang yang bisa di ajak berbagi kesediaannya saat ini, kecuali pak Sam.


Sam membungkukkan tubuhnya, sala satu tangannya memegang pundak kiri nona mudanya, dan satu lagi di gunakan mengusap usap kepala nona mudanya.


"Sabar non... sabar."


"Nona harus kuat, Ayo berdirilah, saya antar nona ke atas." Sam mengangkat kuat pundak Ara.

__ADS_1


Ara menyapu air matanya, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya untuk bisa berjalan dan naik ke atas. Sam mengikuti dari belakang.


*****


__ADS_2