
...Happy reading....
Ara melepaskan mukenanya yang sedari tadi masih terpasang di tubuhnya, kemudian meletakkannya asal di atas tempat tidur. Dia berjalan ke balkon kamarnya. Mondar mandir ke sana kemari. Sesekali ia mengarahkan pandangannya melihat keadaan alam di sekitar rumah dan ke atas langit lepas. Hawa dingin malam menusuk ke pori pori kulitnya lewat angin yang berhembus.
15 menit berlalu. Ara menatap ponsel di tangannya, lalu mencari kontak yang bertuliskan sekretaris Wisnu. Telunjuk kanannya menekan tombol telepon warna hijau, lalu terdengar...
"Tuuuuuuuuut
"Tuuuuuuuuut
"Tuuuuuuuuut
Tersambung tapi tak ada suara.
Amerika
Wisnu saat itu sedang menyiapkan handuk kecil untuk di pakai mengeringkan rambut Rafa yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rafa meraih handuk kecil itu dan mulai menyapu air yang ada di rambutnya sambil menatap cermin di depannya. Lelehan air dari rambut jatuh di bahu dan punggungnya.
Ponsel Wisnu berdering, di lihatnya nomor baru.
"Nomor siapa ini?" batinnya dalam hati.
Panggilan ke tiga dia segera mengangkatnya tapi tidak menjawab. Dia khawatir itu adalah telpon dari Levina yang menelepon dengan menggunakan nomor baru. Dia ingin memastikan dulu suara dari seberang.
π"Assalamualaikum sekretaris Wisnu." terdengar suara dari seberang, tenang dan lembut. Wisnu terkejut setelah mengenali pemilik suara itu. Terdengar lembut dan menenangkan. Dia diam belum menjawab. Matanya beralih melihat kepada tuannya yang masih terus melap rambut sambil menatap ke cermin.
Wisnu segera menekan tombol speaker sehingga suara dari seberang terdengar keras dan di dengar oleh tuannya.
π"Saya Ara sekretaris Wisnu." kata Ara kembali dari seberang.
Gerakan tangan Rafa yang menyapu rambutnya terhenti.
"Ara????" menyebut nama itu ketika telinganya mendengar suara dari telpon Wisnu. Wajahnya mengernyit. Dia menatap Wisnu dari pantulan cermin.
Wisnu menganggukkan kepalanya. Membenarkan perkataan Rafa kalau Ara yang menelepon.
π"Halo....Apakah benar anda adalah sekretaris Wisnu? Maaf jika saya mengganggu. Saya mendapat nomor ini dari pak Sam. Saya Ara istrinya kak Raka." lanjut Ara kembali.
Tersambung tapi tak ada jawaban atau suara, membuat Ara kebingungan.
Rafa segera berbalik dan mengambil ponsel dari tangan Wisnu.
π"Halo, kok gak ada suaranya? Halo, apa anda masih di sana sekretaris Wisnu? Apa benar ini nomor anda? Tolong jawab saya." suara Ara lagi.
Rafa kelabakan, kemudian batuk batuk kecil.
Dahi Ara mengerut mendengar batuk kan itu. "Mungkin seperti ini cara sekertaris Wisnu menerima panggilan? Sungguh tidak sopan sekali. Sekretaris Wisnu saja begitu. Bagaimana dengan kak Rafa? pasti lebih tidak sopan lagi." batinnya.
π"Sekretaris Wisnu, sebenarnya saya menelepon ingin menyampaikan sesuatu pada kak Rafa." kata Ara.
Wajah Rafa mengernyit. Hal apa yang ingin di sampaikan Ara hingga menghubungi dirinya? batinnya.
π"Tapi kata pak Sam kakak ipar tidak menerima telpon dari siapapun. Jika ingin mengatakan sesuatu pada dirinya harus melalui anda, jadi saya menghubungi anda. Tolong sampaikan pesan saya ke pada kakak ipar ya?" sambung Ara kembali.
__ADS_1
π"Halo sekretaris Wisnu, apakah saya bisa menyampaikan pesan saya sekarang? Halo, kok gak ada suara sih?" ucap Ara bingung.
Rafa mendekatkan HP ke telinganya dan mematikan speaker. Sementara Wisnu sudah berdiri tidak jauh dari tuannya sambil membaca pesan masuk yang di kirim Sam. Yang mengatakan Kalau Ara ingin menghubungi Rafa. Pesan itu masuk 20 menit lalu, tapi baru di baca sekarang karena dia masih harus melayani tuannya.
π"Bicaralah." Jawab Rafa datar.
π"Akhirnya anda bicara juga sekretaris Wisnu." kata Ara lega mendengar suara itu.
Rafa tersenyum tipis.
π"Saya mulai ya, tolong di rekam."
Ara mengatur nafasnya sesaat sebelum bicara.
Rafa bisa mendengar nafas beratnya yang tidak beraturan.
π"Assalamualaikum kakak ipar." kata Ara.
Rafa menarik nafas pelan seraya memejamkan mata mendengar suara lemah lembut itu. Suara yang begitu menyejukkan, menenangkan sekaligus menggetarkan hatinya. Jantungnya berdegup tak beraturan.
π"Ini Ara kakak ipar, istri kak Raka! Maaf jika aku mengganggu kakak."
"Aku langsung saja Kak. Ini tentang hadiah pernikahan yang kakak kirimkan. Kami sangat berterima kasih. Hadiahnya sangat mewah. Kami sebenarnya ingin menikmatinya, tapi ada beberapa alasan yang membuat kami belum bisa menerimanya. Sala satunya karena ujian semester yang akan aku ikuti dalam waktu dekat ini." Ara berhenti sejenak.
π"Maaf, bukan tidak menghargai kebaikan kakak! Aku berharap kakak tidak kecewa dengan kami, sekali lagi maafkan kami."
Rafa membuang nafas berat. Sebenarnya dia kecewa dengan penolakan itu. Tapi dia tidak bisa memaksa Ara.
"Kakak ipar, aku mau jujur. Aku tidak mau berbohong. Sebenarnya Kak Raka menerima hadiah pernikahan itu. Tapi aku yang menolak dengan alasan ujian semester. Dan juga hadiahnya terlalu mewah. Hadiah honeymoon itu sangat mewah bagiku. Honeymoon di rumah saja sudah lebih dari cukup bagiku. Tanpa perlu pergi ke luar daerah dan juga luar negeri. Maaf kak, aku harap kakak tidak tersinggung, kecewa dan marah dengan penolakan ku." kata Ara. Dia diam sejenak mengatur nafasnya yang memburu cepat karena adanya rasa takut menyampaikan alasan penolakan itu. Takut Rafa akan tersinggung dan memarahinya.
"Aku hanya ingin menyampaikan hal ini. Aku berdoa, semoga kakak selalu sehat di luar negeri. Semoga selalu dalam lindungan Allah di mana pun kaki kakak melangkah." ucap Ara pelan.
"Sekretaris Wisnu, Hanya itu yang ingin aku katakan. Tolong sampaikan pada kakak ipar ya? Selamat malam, Assalamualaikum." Ara menutup teleponnya. Dadanya terasa plong, lega setelah menyampaikan keinginannya.
Rafa membuang nafas panjang, lalu memejamkan mata. Tanpa di katakan Ara pun dia sudah tahu alasan penolakan adik iparnya itu. Karena semua yang terjadi di rumah itu diketahuinya. Apalagi pembicaraan itu terjadi di ruang kerjanya.
Ara mengarahkan pandangannya ke depan. Hatinya lega telah menyampaikan penolakan dan juga permohonan maaf pada Rafa.
Kesedihan kembali menghiasi wajahnya, Tak kala kata kata kasar dan menyakitkan dari ibu mertuanya kembali muncul di pikirannya. Matanya kembali berair. Ara tidak menyangka mama mertuanya menuduh buruk seperti itu.
"Untung saja aku menolak hadiah pernikahan dari kakak ipar. Kalau mama sampai tahu tentang hadiah mewah itu, mama pasti akan semakin menghinaku." gumamnya sedih.
"Tuan." panggil Wisnu pelan.
Rafa membuka matanya. Apa yang sedang di bayangkan oleh kepalanya buyar seketika.
Wisnu menyerahkan ponsel tanpa melihat layar benda itu. Jangan sampai dia melihatnya kalau tidak ingin nyawanya melayang. Wisnu segera menjauh setelah tuannya mengambil benda pipih itu.
Rafa memperhatikan tayangan video yang sementara berlangsung di layar benda canggih ini. Seorang wanita cantik dengan kulit putihnya terlihat berdiri di balkon kamar memakai baju tidur tank top, celana pendek sepaha. Sedang menatap pemandangan alam yang gelap terpampang di depannya. Rambut panjangnya terurai beterbangan di permainkan angin malam. Kedua tangannya memeluk dadanya memberi rasa hangat pada tubuhnya karena udara malam yang dingin menusuk pori pori kulitnya. Sesekali tangan itu menyapu tengkuk lehernya yang putih jenjang.
Rafa menarik saliva. Dia segera meletakan benda itu ke meja. Tak ingin melihat sesuatu yang tak pantas ia lihat, karena itu bukan miliknya.
Rafa menunduk menopang dagu dengan mata terpejam, tenggelam dalam lamunannya sendiri dengan dada bergemuruh kuat, sesak dan sakit di rasakan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, telinganya menangkap suara isak dari benda pintar itu. Rafa segera meraihnya. Di lihatnya wanita itu sudah terduduk di lantai, menangis kecil sambil memeluk kedua lututnya. Sesekali dia menyebut nama Raka sambil menyapu air matanya yang tidak berhenti mengalir.
"Ara." satu kata keluar dari mulutnya membuatnya panik.
"Kenapa dia menangis?" katanya dengan suara agak keras, mengagetkan Wisnu.
"Tuan? ada apa?" Berlari cepat mendekati tuannya.
"Kenapa Ara menangis? Apa terjadi sesuatu pada dirinya?" menatap tajam.
Wisnu kelabakan mendengar pertanyaan tuannya.
"Maaf tuan, sejak tadi saya mendengar isak tangis nona muda, makanya saya memperlihatkan pada anda!" jawabnya segera.
"Menangis?" Rafa menatapnya tajam. Bangkit berdiri. Kembali menatap Ara di layar ponsel.
"Kenapa dia menangis? Aku sudah beri tahu kepadamu jangan sampai dia mengeluarkan air mata. Aku sangat tidak suka melihatnya sedih dan menangis." berkata keras karena mulai emosi.
"Apa kau melewatkan sesuatu Wisnu?" bentaknya.
"Cepat cari tahu alasan kenapa Ara
menangis." teriaknya keras.
"Baik tuan." Wisnu segera keluar, menghubungi seseorang. Sepertinya dia lengah dan melewatkan sesuatu yang terjadi di rumah utama. Dia mengambil sesuatu yang ada di laci meja, lalu di aktifkan. Karena sibuk seharian ini dia lupa memeriksa benda kecil ini, yang selalu memberikan laporan dan informasi dari rumah utama dan penghuninya.
Rafa kembali melihat Ara yang terisak-isak kecil, terus menerus melap pipinya yang terus basah.
Beberapa saat kemudian Wisnu masuk lagi.
Dia memperlihatkan rekaman video yang terjadi di rumah utama, juga pesan yang di kirimkan pak Sam.
Wajah Rafa berubah tegang, dan memerah setelah melihat rekaman video kejadian di rumah Utama tadi.
"Mama!" sentaknya geram penuh amarah. Kedua tangannya mengepal kuat di atas meja.
"Hubungi mama sekarang. Dan beri peringatan kepadanya." titahnya menatap tajam Wisnu.
"Dan hubungi pimpinan Raka. Katakan kepadanya untuk segera memulangkan Raka ke jakarta secepatnya! Ini perintah dariku." sambungnya kembali.
"Baik tuan." Wisnu segera melaksanakan perintah tuannya, jari jemarinya bergerak cepat pada benda pintarnya.
Sementara Rafa kembali memperhatikan Ara yang sudah berbaring miring di atas sofa yang berada di balkon sambil memeluk kedua kakinya yang di tekuk di perut. Wanita muda itu mulai tertidur pengaruh lelah menangis. Sesekali terdengar nama Raka keluar dari mulutnya. Angin malam mempermainkan rambutnya dan menerpa kulit putihnya.
"Hubungi pak Sam untuk ke kamar Raka. Suru dia memakaikan bantal dan selimut pada Ara." perintah Rafa kembali.
Wisnu kembali melaksanakan perintah tuannya dengan cepat.
Tidak berapa lama Sam tampak masuk di kamar tuan mudanya dengan menggunakan kunci serep. Dia segera memakaikan selimut ke tubuh Ara yang sudah tertidur, dan juga meletakkan bantal peluk di samping kiri kanan.
Penjagaan di perketat di luar bawah kamar Raka. Beberapa orang penjaga keamanan di tempatkan di situ. Sam tidur di depan pintu kamar. Dan Rafa menatap terus pada wanita itu tanpa tidur semalaman hingga pagi datang. Di temani Wisnu dengan setia yang ikut begadang bersama tuannya untuk menjaga Nona mudanya dari jauh.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan votenya ya βΊοΈ
Juga hadiah dan bintang lima biar author tambah semangat untuk update βΊοΈ